
Ibrahim menegakkan badannya, dan bersandar pada headboard (sandaran ranjang). Menghela napas berat, Ibrahim pun tertunduk.
Menyeritakan masa lalu yang begitu buruk, masa lalu yang sebenarnya tak ingin kau ingat lagi, adalah hal yang sangat berat. Ibrahim bahkan hingga menangis sesenggukan.
Dhea menatap tak percaya. Bagaimana mungkin, pria yang telah menyelamatkan kehormatannya itu bisa meraung meratapi masa lalunya? Mengapa pria yang sangat dicintainya itu, terlihat begitu lemah?
Dengan perlahan, Dhea yang duduk persis di samping Ibrahim, menggeser tubuhnya agar lebih dekat pada suaminya dan memeluknya pria itu dengan susah payah, karena perutnya yang membuncit.
“Apapun masa lalu Kang Ibra, insyaallah tidak mengurangi rasa cinta dan sayang Dhea. Lagian, sejak pertama kita bertemu, Dhea tau, kalau Kang Ibra itu memang pria yang baik. Jika Kang Ibra bukan pria baik, mana mungkin Kang Ibra membahayakan diri untuk menolong Dhea waktu itu.” ucap Dhea yang kini sudah melepaskan pelukannya. Kini Dhea menggenggam kedua telapak tangan Ibrahim. Menatap lekat pada pria yang masih menunduk itu.
“Setiap orang punya masa lalu, Kang. Jika Kang Ibra bukan orang yang baik, mana mungkin Kang Ibra mau bertanggung jawab atas janin yang bukan anaknya Akang? Bagaimana mungkin Dhea tidak jatuh cinta, jika Akang begitu baik pada Dhea? Malahan Dhea yang kotor ini, merasa tak layak mendapatkan cinta dari pria sebaik Akang.”
Ibrahim mengangkat wajahnya. Menatap wanita yang kini duduk di hadapannya. Bergerak perlahan, Ibrahim pun mengecup lama dahi Dhea.
“Kau bukan wanita kotor, Dhe. Kau itu wanita yang baik. Hanya saja, nasib mempertemukan kau dengan dua makhluk tak beradab itu!”
Kini, Dhea yang menundukkan wajahnya. Mengingat kenangan pahit itu, membuat dirinya kembali merasa kotor.
“Kau wanita terhormat. Kau istri dari Ibrahim Adi Putra. Kau juga kini tengah mengandung anak dari Ibrahim Adi Putra. Jangan pernah lagi, kau katakan jika kau adalah wanita kotor. Aku sangat mencintai kau, Dhe ... Apa kau mau, menghabiskan waktu hingga tua bersamaku, Dhe?”
Dhea menganggukkan kepalanya dengan cepat. Air matanya kembali meleleh. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata penuh kebahagiaan. Menghabiskan waktu hingga tua bersama sang pujaan hati? Tentu, tentu saja dia ingin menghabiskan seumur hidupnya bersama Ibrahim. Wanita itu telah jatuh pada pesona Ibrahim Adi Putra, bahkan saat pertama kali mereka bertemu.
Bahkan, Dhea seakan begitu mensyukuri kejadian pahit yang dialami itu. Jika dirinya tak mengalami kejadian pahit itu, tentu dia tidak akan bisa mengenal pria sebaik Ibrahim. Tentu dia tidak akan bisa menjadi istri dari pria luar biasa yang ada di hadapannya kini.
Ibrahim memegang dagu istrinya dan mengangkatnya. “Kau bertambah cantik setiap hari,” ucapnya. Wajah Dhea seketika berubah menjadi merah, mendengar pujian sang suami. Bibir Dhea pun merekah, terlebih sang suami memberikan banyak sekali kecupan di wajahnya. kedua matanya, hidung, kedua pipi, dagu, dan kini pria itu bahkan sudah berlabuh di bibir Dhea.
Memberikan kecupan-kecupan kecil, pria itu melanjutkan aksinya dengan mengulum bibir ranum Dhea. Ibrahim bahkan melesakkan lidahnya dan menyapu rongga mulut wanita itu,.hingga membuat Dhea terbelalak.
Permainan bibir Ibrahim benar-benar membuat Dhea mabuk kepayang. Terlebih jemari pria itu dengan perlahan mengabsen setiap jengkal tubuh Dhea. Bahkan kini, bibir sang suami pun sudah turun hingga ke leher jenjangnya.
__ADS_1
Ssshhh ...
Dhea mendesis, saat jemari pria itu mulai membelai di bawah sana.
“Dhe ... Mau kah kau melayaniku sekali lagi?”
Dhea pun menganggukkan kepalanya dengan mata sayu. Karena dia pun ingin segera dimasuki oleh pria itu.
Dan siang ini, mereka melakukannya sekali lagi.
Dan sejak saat itu, Dhea tidur di kamar utama bersama Ibrahim. Dhea benar-benar bahagia, karena ternyata, cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Pria yang tujuh bulan lalu, diam-diam menelusup dalam hatinya, kini mendekapnya setiap malam. Ibrahim bahkan semakin perhatian terhadap Dhea. Pria itu semakin romantis dari hari ke hari.
Ibrahim pun akhirnya merasa bahagia, karena ada wanita yang bisa menerimanya. Menerima masa lalunya. Bahkan wanita itu kini tengah mengandung buah hati mereka. Anak yang akan melengkapi kehidupan rumah tangga mereka. Dhea benar-benar sumber kebahagiaan buat pria itu.
Sejak pergumulan itu, Ibrahim membuat Dhea bak ratu sejagad. Pria itu membelikan Dhea sebuah rumah mewah lengkap dengan para pelayan. Hingga wanitanya tak perlu lagi merasa lelah membersihkan rumah dan memasak.
***
Dua bulan pun berlalu sejak pernyataan cinta Ibrahim dan Dhea berkumandang.
Dan kini, Ibrahim berada di salah satu ruangan di rumah sakit. Pria itu tengah menemani sang istri di ruang bersalin. Setelah pergumulan malam tadi, saat subuh, Dhea merasakan perutnya sangat mulas. Wanita itu juga mendapatkan bercak darah di pakaian dalam yang dikenakannya.
Dengan panik Dhea membangunkan sang suami. Dengan secepat kilat, Ibrahim pun membawa sang istri ke rumah sakit.
“Sudah pembukaan empat, Bu,” ucap seorang bidan, ketika mereka baru saja tiba di rumah sakit dan melakukan pemeriksaan.
Dan kini, Ibrahim tengah memberikan semangat kepada sang istri, hingga suara tangis bayi menggema di sana.
“Alhamdulilaaah.”
__ADS_1
Berulangkali Ibrahim memberikan kecupan lembut pada wajah wanita itu. Semua orang yang menyaksikan pun tersenyum haru. Menyaksikan seorang suami yang begitu mencintai istrinya. Seorang suami yang begitu memuliakan sang istri.
Hari ini benar-benar hari yang membahagiakan bagi seorang Ibrahim Adi Putra. Tak henti-hentinya pria itu berucap syukur. Setelah apa yang diperbuatnya selama ini, Tuhan masih memberikan banyak kebahagiaan untuknya.
Dirinya divonis tak subur, tapi Tuhan memberikannya seorang wanita baik hati, dan bisa membersamai perempuan itu selama masa kehamilannya.
Dirinya divonis tidak bisa mempunyai keturunan, tapi Tuhan memberikannya seorang bayi, dari rahim wanita baik yang begitu dicintainya.
Dirinya divonis mandul, tapi Tuhan mengizinkannya untuk merawat seorang anak laki-laki, sejak anak itu masih berupa segumpal darah hingga dia bertumbuh dewasa.
***
Dan saat ini, Ibrahim tengah menjadi saksi pernikahan sang anak dengan wanita yang dicintainya. Ibrahim tergugu. Menangis tersedu-sedu, ketika Satya Adi Putra mengajak sang istri, bersimpuh di hadapannya dan Dhea, saat prosesi sungkeman dilakukan.
Entah harus malu atau terharu?
Saat Allah tetap mengabulkan doaku, seperti tidak peduli dengan beribu-ribu dosa yang aku lakukan — Anonim.
BONCHAP IBRAHIM SELESAI SAMPAI DI SINI.
SELANJUTNYA SILAKAN MEMBACA SPESIAL EPISODE KAIRAV DAN ANNEKE 💕
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
__ADS_1