
“Kalila ... Ada satu hal yang perlu kau tau, tentang pekerjaan yang ditawarkan A' Ibra di PT. Adi Putra Group,” ucap Dimas. Kali ini pria itu sudah menampilkan senyumannya untuk Kalila. “Aku tidak tau, yang akan aku beritahu ini, akan menjadi sebuah pertimbangan atau tidak,” lanjut Dimas.
“Bahan pertimbangan?”
Dimas menganggukkan kepalanya. Sengaja membuat Kalila penasaran, pria itu melangkahkan kakinya menuju kulkas dan mengambil satu kotak jus kemasan, kemudian menuangkan jus tersebut ke dalam gelas.
“Bang Dim mau memberitahukan perihal apa?”
Dimas menaikkan salah satu sudut bibirnya, dan menatap remeh pada gadis yang ada di layar ponselnya. “Ih, Bang Dim, ngeselin!” cebik Kalila.
Dimas tak menghiraukan ucapan Kalila. Pria itu bahkan memutuskan untuk duduk pada kursi mini bar dan menikmati segelas jus apel dengan elegan. Kalila sampai kesal dibuatnya.
“Kalau tidak mau menjelaskan, Lila akhiri nih panggilan videonya!”
Dimas berusaha menahan senyumnya. Pria itu hanya menatap gemas pada gadis yang ada di layar ponselnya itu. Gadis itu memang selalu dipenuhi rasa penasaran.
“Terserah saja. Kalau kau tidak mau informasi yang aku berikan, sudahi saja panggilan video ini,” ancam Dimas. Pria itu bahkan mengatakannya dengan santai. Kalila yang selalu dipenuhi oleh rasa penasaran, mana bisa membiarkannya begitu saja. Gadis itu hanya bisa menatap Dimas dengan raut wajah kesalnya. Berusaha sabar, menunggu Dimas menghabiskan segelas jus apel dalam genggamannya.
“Kenapa jus apel malam ini, terasa begitu nikmat ya ...,” seloroh Dimas. Pria itu berusaha menahan senyumnya. “Jus ini segar sekali rasanya,” lanjutnya lagi. Kalila hanya bisa menghela napas panjang. Masih dengan wajah kesalnya, gadis itu menatap tajam layar ponselnya.
“Bagaimana kalau kita akhiri saja panggilan video ini? Sehabis minum jus itu, aku mengantuk sekali.”
“Bang Dimaassss!” pekik Kalila. Gadis itu benar-benar kesal sekarang. Sudah menunggu hampir sepuluh menit, sekarang pria itu seenaknya saja ingin mengakhiri panggilan video mereka. Kalila berang.
Sementara Dimas di seberang sana, tengah tertawa terbahak-bahak. “Kau tau tidak Kalila, kalau kau itu menggemaskan sekali.”
Tidak mempan dengan rayuan yang dilontarkan oleh Dimas, Kalila masih memasang wajah kesalnya. Gadis itu masih menatap Dimas dengan tajam.
__ADS_1
“Baiklah ... kau kesal sekali kelihatannya.” Kalila bergeming. Ekspresi gadis itu bahkan masih sama.
“Divisi desain dan perencanaan konstruksi bangunan. Aa' Ibra mengatakan, kau akan bekerja di Divisi itu kan?” Kali ini Kalila menganggukkan kepalanya. Wajah kesalnya berubah menjadi wajah penasaran. Tentu saja Kalila sangat ingin tau, kelanjutan ucapan pria yang kini terpampang pada layar ponselnya itu.
“Perkenalkan, Aku—Dimas Adi Putra— calon manager, divisi Desain dan Perencanaan Konstruksi Bangunan,” ucap Dimas. Pria itu menatap layar ponselnya sembari tersenyum sumringah.
Sementara Kalila, gadis itu tidak dapat menahan rasa keterkejutannya mendengar ucapan Dimas. “Yang benar Bang Dim?!” tanyanya tidak percaya. Dimas yang dicintai seluruh readers itu pun menganggukkan kepalanya.
“Readers pasti senang jika kita bekerja di divisi yang sama?!” pekik Kalila.
“Kalau begitu akan ku pastikan, kalau aku—Kalila Nasution— akan diterima di PT. Adi Putra Group,” ucap Kalila dengan lantang. Dimas tersenyum tipis mendengarnya. Membayangkan jika Kalila akan terus bertemu Ibrahim, sebenarnya membuat dirinya sedikit gusar. Terlebih dia harus menyaksikannya setiap hari. Karena mereka bertiga akan berada di divisi yang sama.
“Bagaimana dengan yayasan tempat kau bekerja? Bukan kah mengajar anak-anak kecil itu, adalah impianmu sejak dulu. Kau rela mengorbankannya?”
“Bang ... Keduanya adalah impianku. Mengajar anak-anak kecil itu mimpiku sejak dulu. Namun, semakin beranjak dewasa, aku menemukan mimpiku satu lagi. Menjadi pendamping sepupu kau.
“Saat dihadapkan dengan dua pilihan itu, aku sangat bingung sekali. Karena keduanya adalah mimpiku. Tapi, karena Bang Dimas akan berada di salah satu sisinya. Aku akan memilih sisi itu. Aku akan mengikuti wawancara itu, Senin nanti.”
“Haruskah aku menggunakan kuasaku sebagai cucu Adi Putra, untuk membiarkan kau lolos begitu saja, pada tes wawancara itu?”
Kalila menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Lila juga mau mengukur kemampuan Lila sendiri, Bang.”
Kalila Nasution sudah membuat keputusan. Dirinya memilih untuk bergabung di perusahaan milik keluarga Adi Putra.
Malam itu, Kalila dapat tidur dengan nyenyak.
***
__ADS_1
Pagi ini, Kalila terlihat menghubungi seseorang. Mereka berbicara cukup lama. Hampir tiga puluh menit.
“Terimakasih atas pengertiannya, Kak. Lila benar-benar minta maaf, tidak bisa memberikan kontribusi yang baik di sana.”
“Hidup itu pilihan, Kalila. Kau berhak memilih, apa yang menurut kau, baik. Aku tentu tidak akan menghalanginya. Pekerjaan yang kau bilang itu, tentu akan membuat ilmu yang kau pelajari semakin berkembang. Aku mendukungmu.”
Kalila benar-benar harus selalu bersyukur. Bagaimana mungkin dirinya bisa selalu dikelilingi oleh orang-orang baik, teramat baik?
Kalila merasa sedikit lega mendengar penuturan Anneke. Kini, Kalila tengah merangkai kata-kata pada surat pengunduran dirinya. Senin nanti, rencananya, Kalila akan memberikan surat itu langsung ke tangan Anneke. Dan Kalila resmi berhenti bekerja, satu bulan setelah surat tersebut di terima oleh Anneke.
Tadinya, Kalila ragu, apakah Ibrahim akan menyetujui hal itu. Jika Kalila di terima di perusahaan keluarga Adi Putra, gadis itu baru akan bekerja di sana, setelah masa kerjanya resmi terputus. Namun jawaban Ibrahim membuat Kalila merasa lega.
“Kau tenang saja, Kalila. Hasil wawancara itu, akan diumumkan dua Minggu setelahnya. Dan kemungkinan baru mulai bekerja setelah semua berkas terpenuhi, seperti hasil tes kesehatan dan penandatanganan kontrak. Dan mungkin itu semua memakan waktu hingga empat minggu.”
Kalila merasa lega. Sekarang Kalila hanya perlu mempersiapkan diri untuk tes wawancara besok. Gadis itu kembali membuka buku perkuliahannya. Dirinya harus lulus tes wawancara itu.
Di terima di perusahaan milik keluarga Adi Putra. Selalu bertemu sang pujaan hati setiap hari. Membayangkan hubungan mereka akan semakin dekat, Kalila menjadi bersemangat. Terlebih sahabatnya— Dimas Adi Putra— juga akan berkerja di divisi yang sama.
“Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan, Kalila. Kau akan bertemu dengan pria pujaan dan sahabat terbaik kau, setiap hari! Kau bayangkan itu Kalila. Setiap hari! Kau akan bertemu mereka setiap hari!” ucap gadis itu pada dirinya sendiri.
Kalila mengunci kamarnya sejak pagi. Gadis itu ingin fokus. Mempelajari ilmu-ilmu yang diterimanya saat perkuliahan. Kalila bahkan membawa makan siangnya ke dalam kamar. Dia bahkan tidak bermain bersama Nissa hari ini.
Gadis itu mempersiapkan dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...