Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 36


__ADS_3

“Jadi rencananya, kau akan berkuliah di mana, Lila?” tanya Ibrahim. Kalila yang tengah menyeruput mie instan, langsung tersedak hingga terbatuk-batuk. Gadis itu benar-benar sedang tidak ingin membahas masalah itu.


Kalila meminum air yang disodorkan oleh Dimas. “Masih belum tau, Bang. Lila pikir akan lulus di salah satu dari tiga universitas yang Lila pilih. Jadinya Lila tidak punya rencana cadangan, akan berkuliah di mana kalau-kalau tidak lulus seperti sekarang.”


Ibrahim tersentak. Pria itu hanya mengangguk kecil sembari mengucapkan huruf O tanpa suara.


“Sudahlah, lupakan sebentar tentang perkuliahan. Yang harus kau pikirkan, mengajak calon makmum mu ini untuk berlibur. Setelah itu kita pikirkan bersama, apa yang menjadi impian mu.”


Bibir Kairav melengkung membentuk sebuah senyuman. Perkataan Dimas benar-benar membuatnya tambah menyukai pria itu. Memikirkan impian Kalila. Hal itu yang tidak pernah didapatkan oleh Kalila sejak dulu. Mengejar impiannya sendiri. Selama ini, gadis itu hanya berkutat dengan kata membahagiakan sekelilingnya.


“Mungkin kau bisa memikirkan untuk masuk di jurusan yang sama di universitas swasta. Atau mengulang ujian tahun depan, jika ingin berkuliah di tempat yang menjadi pilihan mu,” lanjut Ibrahim. Kalila hanya tersenyum dan mengangguk.


“Terimakasih sarannya Bang Ibra. Lila akan memikirkannya malam ini,” jawab Kalila. Ibrahim pun senang dengan jawaban yang dilontarkan oleh Kalila.


Terus terang Ibrahim juga merasa sedikit kecewa dengan hasil ujian Kalila. Dirinya berpikir jika gadis itu sama cemerlangnya dengan Khalid. Dia juga berpikir gadis itu bisa berkuliah di tempat yang sama dengannya dulu. Hingga dia bisa menyeritakan mengenai Kalila dengan bangga kepada kedua orang tuanya.


Waktu menunjukkan pukul 23:30 WIB. Ibrahim dan Dimas berpamitan dan kembali ke hotel tempat mereka menginap. Karena keesokan paginya, Ibrahim harus kembali ke Singapura.


***


Seperti janjinya, Dimas menjemput Kalila terlebih dahulu sebelum berangkat menuju bandara untuk mengantarkan sepupunya— Ibrahim. Sesampainya di kediaman Kalila, Ibrahim sekalian berpamitan dengan Bu Alinah dan Nek Laila. Tidak ada Kairav di sana, karena pria itu tengah dalam perjalanan menuju gelanggang olahraga. Karena petang ini, Kairav akan mengikuti kompetisi basket.


Setelah berpamitan dengan keluarga Kalila, dengan berbekal instruksi Kalila dan peta digital, Dimas pun membelah jalanan, membawa mereka menuju Bandar Udara Internasional Kualanamu.


“Ini perpisahan ketiga kita. Sampai bertemu lagi Kalila.”


Dimas terus menatap Kalila yang sedikit redup. Melihat bagaimana gadis itu tersenyum, berusaha menyembunyikan perasaan sedihnya. “Lila masih menunggu, Bang,” ucap Kalila.

__ADS_1


Ada anak panah yang melesat ke jantung Dimas, mendengar ungkapan hati Kalila. Ungkapan mengenai Kalila yang terus setia menunggu Ibrahim.


Lambaian tangan dari ketiga manusia itu, menjadi akhir pertemuan mereka kali ini. Kalila masih menatap lurus ke depan, walau bayang Ibrahim sudah tak lagi tampak di sana. Rasanya dia belum puas bersama pria itu. Hanya dua malam waktu yang dimilikinya untuk bertemu Ibrahim. Sungguh sangat tidak cukup untuk menghilangkan rasa rindunya, setelah hampir delapan bulan mereka tidak bertemu.


“Kau jadi mengajakku jalan-jalan tidak. Hei, calon makmum ku.”


Kalila menoleh, menatap kesal pada Dimas— sahabat kesayangannya. “Tidak bisa kah berempati sedikit saja. Bang Dim harusnya tau jika aku sedang bersedih karena ditinggal Bang Ibra!” ungkap Kalila kesal. Dimas terkekeh mendengar umpatan Kalila. Sementara gadis itu menghela napas berat. “Andai kami berpelukan lebih dulu sebelum berpisah ... haaah ...,” ungkap Kalila. Gadis itu hanya berceloteh sembarangan. Karena dia tau betul, Ibrahim tidak akan pernah memeluk wanita yang bukan mahramnya.


“Yaudah, biar aku saja yang memeluk kau, Kalila,” ucap Dimas. Pria itu benar-benar menautkan kedua tangannya, dan mengambil kepala Kalila untuk diletakkan pada dadanya. Mata Kalila melebar. Kalila spontan mendorong Dimas dan menjauh dari pria itu.


“Dimas adukan dengan Bang Khalid ya!” pekik Kalila. Lagi-lagi Dimas terkekeh. Pria itu kembali merentangkan kedua tangannya. “Masuklah ke dalam pelukanku, Kalila,” ungkap Dimas. Paria itu berjalan mendekati Kalila. Sementara gadis itu berjalan mundur dengan mata melebar, menjauhi Dimas. Dimas semakin mendekati Kalila. Pria itu bahkan berlari kecil menghampiri Kalila. Maka terjadilah kekar mengejar antara Dimas dan Kalila.


“Kalila ... Calon makmum ku ... Sini, biar Abang peluk, sayang,” ucap Dimas sembari berlari kecil mengejar Kalila.


“OGAH!”


Kalila berlari menuju tempat mobil mereka terparkir. Gadis itu berlari tanpa melihat jika ada mobil yang mendekat ke arahnya. Dimas mempercepat langkahnya dan menarik kencang lengan Kalila, hingga gadis itu terhempas ke dalam pelukan Dimas. Beberapa detik Kalila di dalam dekapan pria itu. Dimas bahkan memeluk Kalila dengan erat. Jantungnya juga berdetak kencang. Pasalnya, jika dia terlambat satu detik saja, Kalila pasti sudah tersenggol oleh mobil yang melaju kencang tadi.


“Akhirnya kau masuk juga ke dalam pelukanku, Kalila— calon makmum ku.”


Ucapan Dimas dan cengiran yang ditampilkan oleh Dimas, membuat Kalila kesal. Gadis itu itu langsung mengigit lengan Dimas.


“Aaawww ...,” Dimas menjerit. Akhirnya dia bisa merasakan gigitan ikan piranha yang dimaksudkan oleh Kairav kala itu. Dimas adalah pria pertama, selain Khalid dan Kairav, yang merasakan gigitan ikan piranha itu. Dimas langsung mengusap-usap lengannya, setelah Kalila melepas gigitannya.


Sementara Kalila, melipat kedua lengan di atas dadanya dan menatap tajam pada Dimas. “Makanya jadi cowok jangan genit! Peluk-peluk anak gadis orang sembarangan!” Dimas terkekeh mendengar ungkapan kekesalan Kalila. Dan mendengar tawa Dimas, tentu saja membuat gadis itu bertambah kesal.


“Hei, Kalila, aku sudah menyelamatkan mu. Kalau tidak kau pasti sudah mencium aspal itu,” cebik Dimas, masih dengan tawa renyahnya.

__ADS_1


“Menyelamatkan sekalian modus!”


“Modus apaan?” tanya Dimas. Pria itu terus tertawa. Melihat Kalila yang tengah kesal, entah mengapa membuat Dimas menjadi gemas pada gadis itu.


“Bang Dim kan bisa saja hanya menarik lenganku. Kenapa harus memeluk segala. Ayo ngaku!”


“Ngaku apa?!”


“Pelukan itu. Itu modus kan?!” Kali ini Kalila sudah berkacak pinggang. Tawa Dimas semakin meledak. Kalila pun semakin kesal. Andai Kalila tau, jika Dimas begitu ketakutan saat gadis itu hampir terserempet oleh mobil tadi, tentu Kalila tidak akan merasa kesal seperti ini.


“Tuh kan tidak bisa menjawab. Modus kan? Dasar Playboy! Bang Dim sering ya, modusin cewek-cewek seperti itu. Peluk cewek-cewek seperti itu!”


Dimas menghentikan tawanya. Menatap lekat manik mata Kalila yang berdiri tepat di hadapannya. “Asal kau tau, Kalila. Sudah dua tahun belakangan, tidak ada wanita yang aku modusin. Tidak ada wanita yang aku peluk selain ibuku. Kau tau kenapa?”


Kalila hanya diam. Tidak menjawab pertanyaan Dimas. Gadis itu hanya terpaku menatap Dimas yang tiba-tiba menjadi sangat serius.


“Karena aku sudah mempunyai calon makmum. Untuk apa aku modusin cewek lain. Mending aku modusin calon makmum yang ada di depanku ini,” ucap Dimas seraya menaik turunkan alisnya. Kalila pun kembali merasa kesal.


“Mending Lila pulang naik bus! Bang Dim jalan-jalan sendiri saja sana!”


Kalila berbalik arah dan melangkahkan kakinya, meninggalkan Dimas yang masih terkekeh-kekeh di sana.


“Hei ... Kalila Nasution ... Calon makmum ku ...!”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....


__ADS_2