Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 41


__ADS_3

Obrolan santai di ruang keluarga rumah Kalila, mendadak serius. Ketika Dimas kembali mengajak Kalila berkeliling kota Medan.


“Kau jangan terlalu asyik bermain, jadi melupakan masalah pendidikan,” ucap Khalid. Pria itu jelas sekali tidak menyukai Dimas yang terus bersama Kalila. Dimas pun menyadari hal itu. Namun, bukan Dimas namanya, jika terlalu ambil pusing dengan sikap tak ramah orang lain. Terlebih orang itu adalah kakak sulung dari wanita yang dicintainya.


“Kalau begitu, kita jalan-jalan keliling kota Medan, mencari kampus terbaik untuk Lila, bagaimana?”


Senyum Kairav melebar. Dimas benar-benar pintar memanfaatkan situasi. Khalid bahkan tidak punya alasan lagi untuk melarang Kalila pergi bersama Dimas.


Selesai makan siang bersama, Kalila mengajak Feni— sahabatnya, berbincang di kamar. Sementara Khalid, sibuk merapikan pakaian miliknya yang tertinggal di sana, karena besok Khalid dan Feni harus terbang ke Jakarta. Masa cuti Khalid sudah hampir habis. Dua hari lagi, pria itu harus kembali bekerja.


“Bagaimana?” tanya Kalila, begitu dirinya dan Feni telah duduk di kasur.


“Bagaimana apanya?”


“Malam pertama,” ucap Kalila sembari menaik-turunkan alisnya. Feni reflek memukul lengan Kalila, hingga gadis bersinar itu mengaduh.


“Kau belajar saja yang benar! Jangan tanya perihal seperti itu! Kau itu belum cukup umur!”


“Hei ... Apa perlu aku mengingatkan kau, jika kita seumuran!” ucap Kalila tak senang. Namun Feni tetap dengan pendiriannya. Gadis yang sudah menjelma menjadi seorang wanita itu, tidak akan pernah menyeritakan perihal urusan ranjangnya kepada siapapun.


“Dasar pelit!” sungut Kalila. Feni pun tertawa mendengar ungkapan kekesalan sahabatnya itu.


Sementara itu, di kamar Kairav, dua orang pria jomblo juga penasaran dengan malam pertama yang dilalui Khalid bersama Feni.


“Kawin itu tidak enak ternyata,” ungkap Khalid. Dimas dan Kairav saling pandang. Mereka tidak percaya dengan apa yang barusan terlontar dari mulut Kairav.


“Tidak mungkin tidak enak!” pekik Kairav


“Kenapa kau yang ngotot? Kan aku yang merasakan!” cebik Khalid.

__ADS_1


“Orang-orang saja rela berzina, Bang. Jika itu tidak enak, tidak mungkin mereka suka melakukannya!” cecar Dimas kali ini. Khalid pun tertawa geli.


“Memang tidak enak. Abang tidak berbohong pada kalian.”


Lagi-lagi Kairav dan Dimas berdecak. Khalid pun kembali terkekeh-kekeh. “Tidak enak sedikit. Tapi enak sekali, woi!” ucap Khalid sembari terkekeh. Mata Dimas dan Kairav langsung menyala. Siap akan cerita Khalid selanjutnya.


..._Flashback On_...


Sesuai acara resepsi pernikahan, Khalid dan Feni melakukan sholat Maghrib berjamaah di kamar pengantin. Untuk pertama kalinya Khalid menjadi imam dengan Feni sebagai makmumnya. Mereka sholat dengan khusyuk. Di kamar yang penuh dengan ornamen berwarna emas.


Selesai sholat berjamaah, Khalid berbalik arah menghadap Feni. Pria itu menyodorkan tangannya dan Feni menyambutnya. Feni mencium telapak tangan Khalid dengan takzim. Pria itu mendekat dan mencium puncak kepala Feni yang masih terbungkus oleh mukena.


Selesai mengecup puncak kepala Feni, Khalid beralih mencium dahi, hidung dan kedua pipi Feni— kiri dan kanan. Wajah Feni bersemu merah dengan perlakuan Khalid. Kini Khalid menatap Feni yang tengah menunduk. Khalid memegang dagu Feni dan mengangkat wajah gadis itu, hingga kini mereka saling menatap lekat satu sama lain. Khalid mendekatkan wajahnya ke wajah Feni.


Mulutnya sedikit menganga dan melahap dagu Feni beberapa kali. Mata Feni mengerjap-ngerjap di buatnya. Dagu gadis itu menjadi basah karena perbuatan suaminya. Mulut Feni bahkan sedikit menganga, karena terkaget-kaget dengan tindakan Khalid.


Melihat itu, Khalid berpindah. Lidahnya langsung menelusuri rongga mulut Feni, hingga gadis itu terbelalak. Khalid menarik mundur tubuhnya. Dan kini dia bisa menatap wajah terkejut Feni. Pria itu pun tersenyum geli.


Khalid kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Feni.


Cup!


Kali ini kecupan itu mendarat indah di bibir istrinya. Khalid menyesapinya perlahan, bergantian atas dan bawah. Khalid melakukannya dengan sangat lembut, hingga Feni begitu menikmatinya. Gadis itu bahkan mulai membalas dengan gerakan yang lembut pula.


Saling bertukar saliva, kini Khalid mulai melahapnya. Feni sampai kewalahan membalas serangan dari pria yang beberapa jam lalu, resmi menjadi suaminya. Jemari Khalid bahkan sudah menelusup ke balik mukena yang digunakan oleh Feni. Gadis itu masih memakai gaun pesta di baliknya. Membuat jemari Khalid harus puas walau harus menjelajah di atas gaun pengantin itu.


Feni menggeliat setiap jemari Khalid memberikan pijatan-pijatan lembut pada dadanya. Khalid menyeimbangkan ritme bibir dan jemarinya. Semakin cepat gerakan bibir Khalid melahap bibir istrinya, semakin cepat pula ritme pijatan itu di dada Feni. Dan Feni semakin menggeliat. Rintihan-rintihan halus pun mulai terdengar samar.


Feni terlihat menginginkan lebih dari itu. Kedua lengan gadis itu bahkan sudah mencengkram erat rambut Khalid. Feni juga mulai membalas pagutan suaminya dengan intens. Panggulnya juga sudah mulai bergerak-gerak mencari rasa nikmat. Begitu pula dengan Khalid. Gerakan panggul Feni di atas miliknya, membuat celananya terasa semakin sempit.

__ADS_1


Khalid menarik mundur wajahnya. Membiarkan mereka menghirup napas sejenak setelah pertempuran panjang. Napas mereka terengah-engah. Sepasang pengantin baru itu berusaha menghirup oksigen banyak-banyaknya sebelum kembali bertukar saliva.


Sebelum kembali menempelkan bibirnya dan mulai melakukan pertukaran saliva. Jemari Khalid beranjak turun ke titik paling sensitif milik istrinya. Melakukan pijatan lembut di sana. Feni menatap suaminya dengan mata sayu. Khalid melakukan pijatan lembut beberapa saat, sebelum akhirnya mulai melakukan pertukaran saliva kembali. Bahkan Feni yang lebih dulu mencapai bibir Khalid dan langsung melahapnya. Khalid pun membalas dengan gerakan cepat.


Rintihan Feni semakin menjadi. Gerakan bibir mereka pun semakin cepat. Semakin cepat pula ritme jemari Khalid di bawah sana. Hingga tubuh Feni bergetar menahan rasa nikmat yang membuncah.


Dan ...


Akhirnya tubuh gadis itu menegang.


Khalid pun merasa jemarinya sedikit hangat di bawah sana. Khalid terus memijat titik sensitif itu. Hingga tubuh istrinya yang tadi menegang, kini terlihat melemas. Khalid melepas pagutannya. Dan kini mereka saling menatap dengan napas terengah.


“Mandilah lebih dulu. Selepas isya, aku akan menunaikan kewajibanku,” ucap Khalid. Feni yang kini wajahnya semerah kepiting rebus, mengangguk lemah di pelukan Khalid.


Feni menegakkan tubuhnya.


Ketika dirinya ingin turun dari pangkuan sang suami, Feni tersadar, jika jemari suaminya masih mencengkram di bawah sana.


Feni menatap suaminya. Sepertinya pria itu tak mau melepaskan mangsanya. Khalid bahkan kembali memijat di bawah sana. Feni tertunduk malu. Khalid pun semakin gemas dengan istrinya. Sepertinya pria itu tidak tahan untuk menunggu.


Namun, suara ketukan pintu, membuat mereka harus menundanya.


“Feni ... Kalila dan yang lainnya mau pulang tuh!”


Bersambung ....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....


__ADS_2