Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 112


__ADS_3

Mendengar keberhasilan Dimas memenangkan tender, Adi Putra merasa geram. Pria itu merasa ada yang membantu Dimas hingga bisa memenangkan tender itu. Gilang Adi Putra—anak sulungnya— adalah orang yang dicurigai oleh Adi Putra.


Pasalnya, sejak dulu, ayahnya Ibrahim itu selalu membantu kehidupan Ghita dan Dimas. Bahkan Gilang lah yang memohon agar Dimas mendapatkan pendidikan yang sama dengan Ibrahim. Adi Putra pun akhirnya menyetujui hal itu dengan satu syarat, Ghita—anak bungsunya— harus datang dan memohon padanya. Itulah alasan mengapa Adi Putra memberikan kepada Dimas, fasilitas pendidikan yang sama dengan Ibrahim. Karena sesungguhnya, pria lanjut usia itu, ingin bertegur sapa kembali dengan anak perempuan kesayangannya.


Namun, Gilang tentu saja bersikukuh, karena dia memang tidak pernah memberikan bantuan sama sekali kepada Dimas dan tim-nya.


“Coba Papi lihat di video ini,” ucap Gilang. Pria itu menyalakan ponsel yang sudah dia hubungkan ke perangkat televisi. Adi Putra dan Gilang pun menyaksikan video itu. Video presentasi Dimas dan tim-nya, kemarin.


“Papi lihat sendiri, mereka begitu menguasai isi proposal itu. Mereka bertiga mengerjakan sendiri tanpa ada yang membantu. Papi juga sudah memata-matai mereka kan? Papi sama sekali tidak menemukan kecurangan kan?”


Adi Putra hanya diam. Pria lanjut usia itu benar-benar tidak bisa menerima kenyataan, bahwa Dimas berhasil memenangkan tender besar itu.


“Dan asal Papi tau, Pak Sanjaya secara pribadi menghubungi aku. Beliau ingin lahannya di Bali, digarap oleh Dimas dan tim-nya!”


Mata Adi Putra seketika membulat. Bagaimana mungkin Sanjaya begitu yakin pada Dimas?


“Minta Ibrahim untuk membuat proposal itu. Jangan beri proyek dari Pak Sanjaya, kepada ank haram itu!”


“Tapi, Pak Sanjaya meminta Dimas yang mengerjakannya, Pi”


“Itu karena dia belum tau hasil kerja Ibra. Kau kerjakan saja apa yang Papi perintahkan!”


Dengan langkah berat, Gilang melangkah meninggalkan kediaman orang tuanya. Menyalakan kendaraan roda empatnya, kini Gilang membelah jalanan kota Bogor yang cukup ramai malam itu.


Pria paruh baya itu segera memberitahukan kepada Ibrahim mengenai tugas yang harus dikerjakannya sendiri. Ternyata Ibrahim sudah mengetahui hal itu dari Adi Putra. Ibrahim pun bersedia mengerjakan proposal itu sendiri.


Melihat keberhasilan Dimas memenangkan tender itu, sedikit banyak telah melukai harga diri Ibrahim. Apalagi tadi siang dirinya membaca sendiri, email yang dikirimkan oleh Pak Sanjaya. Salah satu orang terkaya di Indonesia itu, meminta secara langsung agar Dimas yang menggarap lahan miliknya di Bali.

__ADS_1


Ibrahim ingin memberitahukan kepada Pak Sanjaya, jika bukan hanya Dimas yang mampu mengerjakan proyek semacam itu. Dirinya lebih dari mampu untuk mengerjakannya.


Malam itu juga, Ibrahim mempelajari lahan milik Pak Sanjaya yang akan digarapnya. Dengan semangat Ibrahim mengerjakannya, hingga ponselnya berbunyi. Ada sebuah pesan yang masuk. Pesan dari seseorang yang sudah ditunggu-tunggu olehnya.


Gadis impiannya, membalas pesan yang sejak sore tadi dikirimkannya. Jika biasanya, mereka bertemu di kediaman gadis itu. Besok, untuk pertama kalinya, Ibrahim dan gadis impiannya, akan menghabiskan waktu berdua di sebuah mall. Agar mereka lebih saling mengenal satu sama lain. Bukan hanya Ibrahim. Gadis impiannya itu juga sangat senang dengan janji temu mereka. Dua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu, rencananya akan membicarakan kelanjutan hubungan mereka.


***


Sementara itu, gadis lainnya di sudut mall yang sama, tengah meratapi hatinya yang remuk.


“Kenapa Bang Ibra makan bersama Kak Anne, Bang? Dan mereka terlihat ... mesra,” ucap Kalila tersedu. Tak ada yang bisa Dimas lakukan selain mengelus-elus punggung atas gadis yang sedang menangis sembari menunduk itu. Berusaha memberikan kekuatan untuk Kalila. Walaupun Dimas ingin sekali merengkuhnya, mengambil gadis itu ke dalam pelukannya.


“Anne? Kau mengenal wanita itu?” tanya Dimas. Pria itu memang seperti familiar dengan wanita yang tadi duduk di depan Ibrahim. Namun pria itu tidak ingat, di mana dan kapan mereka bertemu.


Kalila menganggukkan kepalanya, “itu Kak Anne. Kepala sekolah tempat Lila di taman kanak-kanak, tempat Lila bekerja dulu,” jawab Kalila. Gadis itu masih tersedu.


“Anne yang disukai Bang Rav?” tanya Dimas tak percaya. Lagi, Lila menganggukkan kepalanya. Dimas sedikit terperanjat. Dimas memang pernah satu kali bertemu dengan Anneke. Saat hari terakhir Kalila bekerja di taman kanak-kanak itu.


“Mungkin, mereka hanya bertemu dan mengobrol biasa, La. Kau jangan berpikir yang macam-macam.”


Dimas hanya ingin menenangkan Kalila. Dimas tidak ingin Kalila merasa bersedih dengan apa yang dia lihat tadi. Seorang pria yang begitu digilainya, terlihat tengah mengusap lembut bibir wanita lain. Mungkin ada sisa makanan yang menempel di bibir Anneke, hingga Ibrahim mengusap sudut bibir wanita itu.


“Bang Ibra tidak pernah sedekat itu dengan seorang wanita, Bang. Dengan Lila saja dia tidak pernah seperti itu.”


Lagi, Kalila sesenggukan. Dimas terdiam. Memang benar apa yang diucapkan oleh Kalila. Sepengetahuan Dimas, Ibrahim memang tidak pernah sedekat itu dengan wanita.


Ada hubungan apa antara Ibrahim dengan Anneke?

__ADS_1


“Kurangnya Lila, apa Bang? Lila selama ini sudah menunggu Bang Ibra, sesuai ucapannya dulu. Tapi ... tapi, kenapa Bang Ibra berpaling ke wanita lain?” Kini Kalila menangis sesenggukan. Gadis itu bahkan berjongkok dan membenamkan kepala pada kedua lengannya yang berlipat di atas lutut. Hati Dimas sangat sakit melihat Kalila menangis sesenggukan seperti itu.


Namun, Dimas juga berharap, agar Kalila segera melupakan sepupunya itu. Dimas ingin, Kalila segera membuka pintu hati untuk dirinya.


Dimas ikut berjongkok di depan Kalila, lalu mengelus lembut rambut gadis itu. “Ayo, aku antarkan pulang.” Kalila menggelengkan kepalanya, “Lila tidak mau pulang Bang,” jawab Kalila sembari terisak.


“Kalau begitu, kita bergabung dengan yang lainnya.” Lagi-lagi Kalila menggelengkan kepalanya. “Lila tidak mau bertemu teman-teman lainnya dengan mata sembab seperti ini.”


“Makan malam di rumah, bersama bunda dan ibu, bagaimana?”


Lagi, lagi, dan lagi, Kalila menggelengkan kepalanya. “Lila tidak mau bertemu dengan siapapun dulu,” jawabnya kemudian.


“Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan malam di angkringan dekat perempatan kantor?”


Kali ini Kalila menganggukkan kepalanya. Tangis gadis itu bahkan sudah reda. Usapan lembut yang diberikan Dimas pada rambutnya, sedikit banyak mampu membuat Kalila merasa tenang.


Dimas mengulurkan tangannya dan Kalila menyambut tangan pria itu. Hingga kini mereka berjalan sembari bergandengan tangan. Ini bukan pertama kali tangan mereka saling menggenggam. Hal ini pernah mereka lakukan sewaktu bermain bersama di taman hiburan, sewaktu Dimas berlibur ke tanah kelahiran Kalila. Namun, jantung Dimas tetap saja berdetak sangat kencang ketika jemarinya menggenggam erat jemari Kalila.


Kini, Dimas mengendarai kendaraannya dan membawa Kalila ke tempat yang telah mereka sepakati bersama. Angkringan nasi kucing.


Penerangan yang agak redup membuat Kalila merasa nyaman, karena dia tidak perlu menyembunyikan matanya yang sembab. Tujuh bungkus nasi kucing dengan aneka isian di pesan Dimas, nasi kucing sambel teri ijo, nasi kucing kikil, nasi bakso cabe ijo, nasi goreng, nasi bandeng, nasi tempe orek, nasi rica ayam. Dimas juga memesan sate usus, sate kerang dan sate telur puyuh untuk melengkapi hidangan nasi kucing yang telah mereka pesan. Tempe mendoan dan wedang jahe juga menemani santap malam Dimas dan Kalila.


“Makan yang banyak, Lila. Biar kuat menghadapi kenyataan,” bisik Dimas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2