Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 135


__ADS_3

Setelah dua malam berbulan madu di sebuah kamar termewah, di salah satu hotel berbintang di Ibukota, Dimas dan Kalila kembali ke kota Bogor. Dengan kendaraan mewah dari pihak hotel, Dimas dan Kalila meluncur ke sebuah apartemen yang tak jauh dari tempat kerja Kalila sekaligus butik Bu Ghita.


“Surprise!!”


Suara teriakan beberapa anggota keluarga, menyambut Dimas dan Kalila. Gilang, kedua ibu Dimas, Feni dan kedua anaknya, Bu Alinah dan Kairav berkumpul di sana. Bukan hanya mereka, Ibrahim dan Anneke juga turut hadir di sana.


Sebenarnya Ibrahim enggan untuk berkunjung ke kediaman Dimas dan Kalila. Tapi dia tidak bisa membiarkan Anneke pergi seorang diri ke sana. Selain itu, Ibrahim juga ingin tau ekspresi Kalila saat melihat dirinya.


Pria itu bahkan ingin unjuk kemesraan di hadapan Kalila dan Dimas. Ibrahim ingin membuat Kalila iri, bahkan menyesal karena menikah dengan Dimas. Karena Ibrahim sangat yakin, jika Kalila masih mencintai dirinya.


Namun apa yang didapat Ibrahim tak seperti inginnya.


Faktanya, begitu tiba di sana, Kalila terus bergelayut manja di lengan Dimas. Bahkan wajah wanita itu terlihat begitu cerah.


“Kok pada kumpul di sini?” tanya Kalila heran. Wanita itu benar-benar terkejut dengan hadirnya seluruh keluarga di sana. Dimas hanya menjawab pertanyaan istrinya itu dengan mengecup mesra pucuk kepala Kalila.


Keterkejutan Kalila bertambah, kala seluruh rekan kerjanya ikut hadir di sana. Harry bahkan berusaha memisahkan antara Kalila dan Dimas.


“Har!!” pekik Kalila, ketika Harry berhasil melepaskan lengan Dimas dari dekapan Kalila.


Gegas Kalila memeluk Dimas. Sontak saja hal itu mengundang kericuhan. Seluruh rekan kerja Kalila, yang juga mantan anak buah Dimas, menyoraki sikap wanita itu.


“Nempel teruuus, seperti perangko!”


“Biarin!” pekik Kalila. Seluruh tamu di ruangan itu terkekeh-kekeh melihat aksi Kalila. Wanita itu benar-benar ingin terus menempel dengan Dimas.


“Tolong hargai yang jomlo!” pekik Kairav. Ucapan Kairav diikuti anggukan kepala oleh Harry.


Namun Kalila malah acuh, “salah sendiri kenapa jomlo!”


Wanita itu semakin menenggelamkan kepalanya pada dada bidang milik Dimas. Kalila memeluk pria itu lebih erat. Senyum Dimas pun semakin merekah karena aksi Kalila.


Ibrahim merasakan nyeri di dadanya. Pria itu rasanya ingin berteriak. Ibrahim benar-benar kesal. Pria itu bahkan ingin segera melepaskan Kalila dari dekapan Dimas.


Kenapa?


Kenapa Kalila tidak berpaling sedikit pun ke arahnya? Kenapa Kalila ingin terus menempel pada Dimas, padahal ada dirinya di sana?


Tidak mungkin rasanya jika Kalila tidak melihatnya. Karena dirinya berdiri tepat di hadapan wanita itu.


Apakah gadis itu sengaja ingin membuatnya kesal?


Pria itu ...


Marah.


Kecewa.

__ADS_1


Benci.


Bahkan ada sedikit rasa menyesal di hatinya.


Harusnya Kalila hanya menatapnya. Harusnya wanita itu hanya mencintai dirinya. Harusnya Kalila tak berpaling darinya.


Ibrahim terus menatap lekat Kalila. Wanita itu bahkan terlihat lebih bersinar dari biasanya.


Ibrahim terus sibuk memikirkan Kalila. Menatap wanita yang dulu begitu memujanya. Ibrahim benar-benar tak melepaskan pandangannya dari Kalila, bahkan hanya untuk satu detik.


Pria itu tidak menyadari, jika sang istri menatapnya dengan perasan terluka. Ternyata masih ada nama wanita lain di hati suaminya. Atau mungkin, sejak dulu hanya ada nama Kalila di hati suaminya.


Anneke kembali teringat akan malam menyedihkan itu.


...*Flashback On*...


Hari itu mereka baru saja kembali dari pesta pernikahan Kalila dan Dimas. Wajah Ibrahim terlihat seperti orang yang tengah frustasi. Pria itu terlihat resah dan sangat lelah.


Anneke berusaha mengobati rasa lelah sang suami dengan menyuguhi teh hijau hangat. Konon katanya, kandungan asam amino L-theanine dalam teh hijau dapat memberikan efek relaksasi.


“Diminum Kang, tehnya,” ucap Anneke, saat Ibrahim baru saja selesai membersihkan tubuhnya. Pria itu hanya mengangguk pelan. Bayang-bayang wajah sumringah Kalila terus menghantuinya.


Ibrahim meneguk perlahan teh hijau itu. Tak juga hilang cemas yang dirasa pria itu, Ibrahim pun meminta Anneke untuk melayani kebutuhan biologisnya.


Tanpa memedulikan keinginan Anneke, Ibrahim sibuk mengejar nikmatnya sendiri. Bahkan permainan itu terkesan tergesa-gesa. Ibrahim seolah menumpahkan seluruh rasa kesalnya pada tubuh Anneke.


Erangan pria itu saling bersahutan dengan suara tubuh mereka yang beradu. Hingga akhirnya pria itu mencapai puncaknya dan menggumam sesuatu.


...*Flashback off*...


Waktu itu Anneke tidak yakin dengan apa yang didengarnya. Pasalnya Ibrahim bergumam sangat pelan. Tapi kini Anneke yakin, jika saat itu, saat Ibrahim mencapai puncaknya, pria itu menyebut nama Lila— Kalila Nasution.


Anneke merasa seolah langit akan runtuh saat itu. Namun Anneke tak dapat menumpahkan jerit tangisnya saat ini. Wanita itu tidak mau merusak suasana yang ada. Semua orang tengah bersuka cita, kini.


Saat seluruh muda-mudi berkumpul dengan Dimas dan Kalila di ruang tamu. Anneke memilih untuk membantu Bu Ghita, Bu Alinah dan Bu Asih, menyiapkan makan siang di dapur.


Namun kedatangan wanita itu ditolak oleh ketiga wanita paruh baya itu. Terpaksa Anneke ikut bergabung dengan Feni, Kairav dan Pak Gilang, bermain bersama Nissa dan adiknya, di ruang tengah— ruang pemisah antara dapur dan ruang tamu.


Sesekali netra Kairav menangkap basah wajah sendu Anneke. Rasanya pria itu ingin merengkuh wanita di hadapannya. Andai saja wanita itu bukan milik orang lain, Kairav pasti sudah memeluknya erat.


Entah apa yang terjadi. Padahal sejak tadi wajah Anneke masih ceria. Namun, sejak kedatangan Kalila dan Dimas, wanita itu mendadak terlihat sendu.


Tidak mau terlarut akan perasaan yang tak seharusnya ia miliki, Kairav pun menjauh. Pria itu Melangkahkan kakinya, menghampiri Dimas, Kalila dan teman-teman mereka.


“Jadi bagaimana, La? Boss Dimas memuaskan tidak?” celetuk Harry. Kalila hanya diam. Wanita itu enggan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan kehidupan ranjang mereka.


Namun, ternyata Dimas tidak seperti itu. Mungkin pria itu terlalu bangga dengan performanya, hingga dia bisa menyombongkan diri di hadapan teman-temannya.

__ADS_1


“Beeuh .... Lila kelepek-kelepek dong!” pekik pria itu sembari menoel dagu sang istri.


Semua orang kini bersorak-sorai. Hanya Ibrahim yang terlihat kesal dengan apa yang terjadi di sana.


“Bang Dim!”


“Kenapa sayang ... Ucapanku benar kan?”


Kali ini Dimas menggoda Kalila sembari mengedipkan sebelah matanya. Kalila membalasnya dengan melayangkan sebuah kepalan tangan pada lengan pria itu.


“Di permainan pertama kita saja, kau memohon-mohon padaku.”


Kali ini bukan hanya kepalan tangan saja yang mendarat di lengan pria itu. Jurus piranha Kalila pun beraksi. Wanita itu menggigit lengan suaminya sekuat tenaga.


“Aarrghh!”


Dimas berteriak menahan rasa sakit akibat gigitan Kalila pada lengannya. Pria itu bahkan berlari menjauh dari Kalila, saat gigitan wanita itu terlepas dari lengannya.


“Bahkan di permainan kedua kita, kau yang membuka bajuku dengan antusias!”


Sorak sorai di ruang tamu itu semakin ricuh. Kalila kini berlari mengejar Dimas yang terus berusaha menghindari gigitan istrinya.


Namun, Kalila yang merasa lelah, menghentikan langkahnya. Wanita itu menatap tajam pada pria yang baru tiga hari menjadi suaminya itu.


Seketika Kalila berjongkok dan menenggelamkan wajahnya di atas lututnya yang menekuk.


Melihat itu Dimas segera menghampiri istrinya dan meminta maaf.


“Lila tidak suka Bang Dim membahas perihal seperti itu dengan orang lain.”


Dimas membawa gadis itu dalam pelukannya. Pria itu pun berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya yang sama.


“Tapi aku sangat senang karena di setiap permainan kita, kau begitu agresif,” bisik Dimas. Kalila mencubit perut pria itu dengan kencang, hingga Dimas meringis.


Padahal Dimas sengaja mengucapkannya dengan berbisik. Agar hanya Kalila yang mendengar pujiannya itu.


Namun, Dimas tidak menyadari, jika mereka tengah berjongkok persis di samping Ibrahim. Tentu saja pria itu mendengar dengan jelas semua pembicaraan sepasang pengantin baru itu.


“Andai saja Anneke bisa agresif sedikit saja.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...

__ADS_1


__ADS_2