
“Lila apa selalu malas-malasan seperti ini, Mak?” tanya Khalid. Pria itu kesal, lantaran sang adik tertidur setelah subuh. Bu Alinah menggelengkan kepalanya. Sejak dulu, Lila tidak pernah tidur setelah menunaikan sholat subuh.
“Mungkin dia kelelahan, Bang,” ucap Feni membela sahabatnya. Namun Khalid tampaknya masih tidak suka akan alasan yang diungkap oleh istrinya itu. Saat ini, Khalid, Feni, Nissa dan Bu Alinah, tengah berada di ruang makan. Menyantap sarapan yang telah tersaji di meja.
“Pintar kau memasak, Fen,” ucap Bu Alinah. Pagi itu Feni menyajikan bubur ayam, lengkap dengan kuah soto, buat keluarganya. Wanita itu memang sudah mahir memasak. Bahkan sedari gadis, Feni sudah bisa memasak beberapa menu sederhana. Wanita yang tengah berbadan dua itu, memang sering membantu ibunya memasak, sejak kecil. Berbeda sekali dengan Kalila.
“Feni memang pintar memasak, Mak,” puji Khalid. Wajah Feni bersemu, mendengar pujian suaminya. Khalid bahkan membandingkan Feni dengan Kalila. Namun, tampaknya, sikap Khalid itu membuat Bu Alinah sedikit geram. Seolah menyalahkan dirinya yang tidak bisa mendidik Kalila dengan benar.
“Kalila tidak bisa memasak, itu sepenuhnya bukan karena salah mamak. Kau juga turut andil di dalamnya. Kalian kan juga memanjakan Lila. Bahkan Lila sampai tidak bisa naik sepeda, karena kau larang. Takut dia jatuh lah, takut Kalila terluka lah. Sewaktu mamak hendak mengajarkan Kalila, cara memotong tempe, siapa yang melarangnya? Itu kau sendiri. Kau takut jari Kalila teriris pisau.”
Feni hanya bisa tersenyum menahan rasa geli. Gadis itu memutuskan diam. Sungguh, Feni tidak terlalu menyukai sifat suaminya yang seperti itu. Selalu membanggakan diri, selalu merasa dirinyalah yang terbaik.
Khalid pun hanya diam, mendengar ocehan sang ibunda. Terlebih baru kali ini, ibunya itu menyanggah ucapannya. Dan apa yang diucapkan sang ibunda benar adanya. Mereka semua memang memanjakan Kalila. Sangat memanjakannya. Bahkan sekedar menyapu pekarangan rumah saja, gadis itu tidak pernah melakukannya.
Tidak lagi membahas perihal Kalila, mereka semua memutuskan untuk lanjut menyantap bubur ayam yang tersaji.
Kalila baru keluar dari kamarnya, ketika waktu menunjukkan pukul sembilan pagi. Gadis itu langsung melangkahkan kakinya, menuju kamar mandi yang terdapat di sisi belakang rumah. Berjalan melewati ruang keluarga, Khalid langsung mengoceh.
“Jam segini baru bangun, gimana nanti kau mau pergi bekerja. Sepertinya kau terlalu lama menganggur,” cebik Khalid. Kalila menghentikan langkahnya, menoleh pada Khalid yang saat itu tengah duduk santai bersama ibunya.
“Tadi malam Lila gak bisa tidur Bang,” aku gadis itu. Dahi Khalid berkerut mendengar pengakuan adiknya. “Kurang nyaman apalagi kamar kau itu?”
Kalila terdiam seketika. Wajah gadis itu mendadak sendu. Bukan maksud Kalila menyinggung perasaan Khalid. Tapi gadis itu memang benar-benar tidak bisa terlelap tadi malam.
“Bukan gitu, Bang. Lila tuh—”
__ADS_1
“Mungkin Lila masih dalam penyesuaian, Bang. Biasalah itu. Sewaktu pertama kali pindah ke rumah ini, aku juga begitu kan, tidak bisa tidur,” ungkap Feni. Bu Alinah mengangguk, membenarkan ucapan Feni. Kalila hanya terdiam, tak lagi berusaha membela diri. Ucapan Feni tak sepenuhnya salah. Namun, pikirannya lah yang membuat gadis itu tidak bisa terlelap.
Feni melangkah menghampiri Kalila, tersenyum kepada sahabat yang kini telah menjadi adik iparnya itu, “yasudah, mandi sana. Kau belum sarapan kan,” ucap Feni. Kalila mengangguk, gadis itu kembali melangkah menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya.
***
Malam harinya, Kalila berupaya agar bisa terlelap. Dirinya tidak mau terus menjadi bulan-bulanan Khalid kembali. Terlebih, besok Khalid harus bekerja dan berangkat pagi-pagi sekali. Kalila benar-benar tidak mau, terlihat Seperti gadis pemalas yang selalu bangun di siang hari. Padahal hal itu sangat jarang sekali dilakukannya. Gadis itu selalu bangun subuh dan tidak pernah terlelap kembali setelahnya.
Seperti biasa, Kalila melakukan panggilan video dengan Dimas sebelum beranjak tidur.
Gadis itu baru saja selesai melakukan ibadah sholat isya. Merapikan mukena dan sajadah yang dipergunakannya, Kalila langsung mengambil ponsel setelahnya. Melangkahkan kaki menuju ranjang, gadis itu pun menghempaskan tubuhnya yang cukup penat, setelah seharian bermain bersama Nissa.
Dengan posisi tengkurap, Kalila menyangga ponsel dengan bantal guling miliknya. Terdengar beberapa kali nada panggilan. Namun, tidak ada jawaban dari seseorang di sana.
Ada apa dengan Dimas? kenapa pria itu tidak menjawab panggilan video darinya? Padahal, biasanya pria itu selalu cepat menjawabnya. Apa pria itu sangat sibuk?
Ini yang pertama bagi Kalila menunggu jawaban dari Dimas. Karena biasanya, begitu nada sambungan telepon terdengar dua kali, wajah Dimas sudah langsung pada layar ponselnya. Tapi kali ini, sudah dua kali Kalila melakukan panggilan video pada pria itu, namun belum ada tampilan wajah Dimas di ponselnya.
“Apa jangan-jangan Bang Dim, sakit?” gumamnya pelan. Bu Alinah menoleh, menatap putrinya yang tengah resah. Gadis itu bahkan menegakkan tubuhnya, duduk sembari bersandar. Kalila kembali mencoba menghubungi Dimas. Pada nada sambung ketiga, wajah Dimas pun muncul. Menatapnya sembari tersenyum tipis.
“Hai calon makmum ku, maaf menunggu lama. Aku habis dari toilet. Sepertinya aku kebanyakan makan sambal,” ucap Dimas, begitu dirinya menatap wajah Kalila.
“Lila pikir Bang Dim sedang sibuk,” jawab gadis itu. Kalila bahkan sedikit cemberut sekarang. Sementara Dimas, menyaksikannya dengan tersenyum lembut.
“Kalau aku sedang sibuk dan tidak bisa dihubungi, aku pasti akan memberitahukan kepada kau— Kalila Nasution,” ucap Dimas. “Lagian, sesibuk-sibuknya aku, aku pasti akan menyempatkan untuk berbicara dengan kau,” lanjutnya. Kalila terlihat sumringah sekarang.
__ADS_1
Diam-diam, Bu Alinah terus menatap putri kesayangannya itu. Memerhatikan ekspresi-ekspresi yang terlihat dari wajah putrinya.
“Jangan lupa banyak minum air putih Bang Dim. Biar tidak dehidrasi karena terus menerus buang air,” pesan Kalila. Dimas pun mengangguk dan menunjukkan satu liter air mineral botol, yang kini ada di samping ranjangnya.
“Aku sudah menyiapkannya sejak tadi siang. Karena aku teringat pesan kau waktu itu. Jika sedang diare, jangan lupa banyak minum biar tidak dehidrasi, begitu kan?” Mendengarnya, Kalila mengangguk sembari tertawa kecil. Kalila tidak menyangka jika Dimas mengingat pesan yang pernah diucapkannya sekelebat.
Tidak lama mereka melakukan panggilan video itu. Hanya sekitar sepuluh menit, karena Kalila merasa tidak leluasa berbicara dengan sahabatnya itu. Terlebih, Bu Alinah terus menatap dirinya.
“Titip peluk gemas buat Nissa, ya. Video yang kau kirimkan tadi lucu sekali. Kalau aku ada di sana, sudah ku gigit pipi bulatnya itu,” ucap Dimas tersenyum geli. Nissa memang menggemaskan, terlebih di video yang dikirimkan oleh Kalila kepada Dimas. Gadis berusia dua tahun itu tengah menari dengan lucunya. Sungguh menggemaskan.
Kalila tertawa kecil mendengar permintaan Dimas. “Besok akan aku sampaikan pelukan gemas dari Om Dim, untuk Nissa,” ucap Kalila yang kini sudah terkekeh.
Mereka pun mengakhiri panggilan video itu tepat di menit ke sepuluh dan detik ke tujuh belas. Kalila tersenyum, kemudian menyimpan ponsel, pada rak yang terdapat di samping ranjangnya.
“Apa kau mencintai Dimas?”
Bersambung ....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
__ADS_1