Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 63


__ADS_3

“Sepertinya jodoh Abang sudah dekat. Kalian jangan lupa menyiapkan kado untuk Abang dan Anneke,” ucap Kairav. Pria itu kembali seperti orang yang tengah mabuk. Tatapan matanya kembali kosong, bibirnya kembali menyengir, pria itu bahkan sesekali tersenyum geli.


Kalila dan Dimas bergidik melihatnya. Sepasang manusia yang berikrar menjadi sahabat selamanya itu, memutuskan untuk mengakhiri panggilan video mereka. Tanpa memberitahukan kepada Kairav, sepasang sahabat itu menekan tombol merah pada layar ponsel mereka masing-masing. Panggilan video itu pun berakhir.


Namun Kairav di ujung sana, masih melamunkan seorang gadis. Gadis yang begitu cantik nan anggun itu.


“Sepertinya, Abang harus secepatnya ke Bogor. Gadis menawan seperti itu, kalau tidak buru-buru dilamar, keburu disabet orang. Bagaimana menurut kalian?” tanya Kairav.


Pria itu heran. Mengapa Kalila dan Dimas tidak menjawab pertanyaannya? Bahkan tidak terdengar respon apapun dari sepasang sahabat itu.


Kairav yang sedari tadi sibuk menatap langit-langit kamarnya, kini beralih menatap layar ponsel. Hendak memberi makian kepada Kalila dan Dimas yang tidak merespon dirinya.


Namun, betapa terkejutnya Kairav, ketika mengetahui panggilan video mereka telah berakhir. Sejak kapan panggilan vide ini berakhir? Mengapa dia tidak mengetahuinya? Mengapa tidak ada ucapan perpisahan dan ciuman jarak jauh seperti biasanya?


Kairav pun mengetikkan sebuah pesan, kemudian mengirimkannya kepada Kalila.


“Centang satu? Si kuntet itu sudah tidur? Sudah berapa lama panggilan video itu berakhir?” gumam Kairav. Pria itu pun meneruskan pertanyaannya tadi kepada Dimas.


“Sudah lima belas menit yang lalu, Bang.”


Jawaban Dimas membuat Kairav terhenyak. Lima belas menit? Dirinya melamun hampir lima belas menit lamanya. Yang benar saja.


Belum bertemu dengan gadis yang bernama Anneke itu saja, Kairav sudah hampir gila. Bagaimana jika mereka bertemu. Bisa-bisa Kairav terus melamunkan gadis itu selama lima belas jam.


***


Hari kedua bekerja, Kalila masih begitu antusias. Kalila bahkan terlihat semakin akrab dengan Anneke. Mereka sudah bertukar nomor ponsel, dan saling mengikuti di salah satu sosial media. Tidak lupa Kalila memberitahukannya kepada Kairav.

__ADS_1


Tak menunggu lama, Kairav langsung meluncur ke sosial media gadis itu. Bahkan selama jam makan siang, Kairav terus berselancar di dunia maya. Mencari info sebanyak-banyaknya mengenai gadis cantik nan anggun itu. Melihat semua kegiatan gadis itu.


Kairav bahkan mencari tau, hingga kiriman pertama di laman sosial media milik gadis itu. Kairav lantas menekan tulisan ikuti. Pria itu sengaja memasang fotonya dan Kalila sebagai foto profilnya. Hingga tak butuh waktu yang lama bagi Anneke untuk mengikuti kembali, akun milik Kairav.


Kairav berjingkrak ketika mengetahui hal itu. “Yessss! di Follback!” pekik Kairav. Pria itu langsung memberitahukannya kepada Kalila.


Kairav tidak tau, jika kini Kalila tengah makan siang bersama dengan Anneke. Gadis cantik nan anggun, yang menggoda pandangan Kairav.


Aku senang sekali, jika wanita cantik dan baik hati seperti Kak Ane menjadi kakak ipar ku.


Kalila tersenyum geli ketika membaca pesan yang dikirimkan oleh kakak lelakinya itu. Pandangan gadis itu pun kini teralih kepada Anneke yang tengah menyeruput soto Betawi di hadapannya.


Tapi kasihan juga Kak Ane. Wajah secantik bidadari, penuh welas asih seperti Dewi Kwan Im, sial sekali nasibnya, jika mendapatkan pasangan sakit jiwa seperti Bang Rav.


Kalila terkikik dengan monolognya sendiri. Membayangkan jika Anneke menjadi pendamping Kairav— kakak lelaki yang sering disebutnya sebagai manusia tak ada akhlak.


Anneke menoleh, menatap heran pada gadis penyuka warna lavender yang tengah terkikik itu. “Kenapa La?” tanya Anneke. Suara lembut Anneke, membuat Kalila kembali teringat akan Kairav. Membayangkan jika Anneke bertemu dengan Kairav, wanita bersuara lemah lembut itu, pasti akan terkena serangan jantung jika mendengar suara Kairav berteriak.


Kalila terheran ketika Anneke memesan soto tanpa nasi. Gadis itu bahkan bertanya alasan Anneke tidak memesan nasi. “Apa kenyang, makan tanpa nasi?”


“Karbohidrat kan bukan hanya nasi, La. Di dalam soto Betawi ini, ada kentang. Lagian, seporsi soto Betawi ini, banyak sekali.”


Begitulah jawaban Anneke pada Kalila. Gadis itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya, mendengar jawaban Anneke.


Dan kini, kedua gadis cantik itu, telah menyelesaikan makan siang mereka. Kalila dan Anneke, melangkah kembali ke tempat kerja mereka. Bukan kembali bekerja, melainkan melangkah menuju tempat mobil Anneke, terparkir. Karena sebenarnya, pekerjaan mereka sudah usai sejak pukul 13:00 WIB.


Ikut naik ke mobil Anneke, Kalila pun langsung memasang seat belt karena duduk di samping Anneke yang akan mengemudi. Hari ini, Anneke bersikeras ingin mengantarkan Kalila. Bahkan, makan siang itu, Anneke lah yang membayar pesanan makan siang Kalila.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, mereka terus bercerita. Mengenai makanan kesukaan masing-masing, mengenai hobi mereka, bahkan mengenai cita-cita mereka yang ternyata sama— menjadi seorang guru taman kanak-kanak. Kedua gadis itu memang mencintai anak-anak.


“Kak Ane harus berkenalan dengan Nissa. Kakak pasti menyukainya!” ujar Kalila antusias. Anneke tentu saja mengangguk, setuju. “Tapi, aku tidak bisa mampir lama-lama ya.” Kalila mengangguk dan tersenyum sumringah.


Sungguh, Anneke itu bagai bidadari yang turun dari kayangan. Cantik, anggun, ramah, cerdas dan santun. Sungguh sempurna sebagai seorang wanita.


Dan kini, wanita bak bidadari itu, tengah bermain bersama Nissa, di teras rumah Khalid. Nissa yang baru bertemu dengan Anneke, bahkan langsung jatuh hati dan dekat dengan wanita itu.


Feni datang menghampiri Kalila, Anneke dan Nissa di teras rumahnya. Wanita yang tengah mengandung itu, membawa sebuah nampan yang berisikan makanan ringan dan minuman buat Anneke. “Silakan Ane, dinikmati. Maaf ya, hanya ada ibu di rumah. Habisnya Lila tidak bilang, kalau anak pemilik yayasan mau datang,” ucap Feni sembari menghidangkan makanan yang dibawanya.


Anneke tersenyum lembut. Gadis itu bahkan membantu Deni menghidangkan minuman untuknya sendiri. “Tidak apa-apa Moms, ini juga dadakan kok. Kebetulan sewaktu saya mau pulang, Kalila tengah bersiap pulang juga. Jadi saya berinisiatif mengantarkannya. Lalu Kalila menawarkan untuk mampir dan berkenalan dengan Nissa.”


Feni mengangguk dan mengucapkan huruf O. Wanita itu kemudian tersenyum menatap Anneke yang terlihat begitu dekat dengan Nissa, padahal ini pertemuan pertama mereka.


“Oh iya Kak. Kak Ane dapat salam dari Abangnya Lila,” ucap gadis itu. Feni menoleh, menatap tajam pada Kalila, “apa?!” pekik Feni.


Abangnya Kalila. Suaminya adalah abang dari gadis itu. Khalid memang sudah pernah bertemu Anneke, sewaktu Nissa berumur tujuh hari. Saat itu, acara aqiqah Nissa. Anneke merupakan salah satu tamu undangan. Karena Bu Baskoro tidak dapat hadir ke acara itu, Anneke lah yang mewakili sang ibu, memberikan ucapan selamat dan bingkisan kepada Feni.


Feni masih ingat betul, sewaktu Anneke selesai bersalaman dengan dirinya dan Khalid. Suaminya itu langsung menanyakan siapa Anneke.


Masa iya, Bang Alid tertarik dengan Ane? Apa Bang Alid ingin berpoligami? Tapi, siapa yang tidak tertarik dengan Anneke Baskoro. Cantik, anggun, pintar dan kaya. Sempurna.


Apa karena aku sedang hamil dan menjadi sedikit gemuk, hingga Bang Alid melirik wanita lain?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2