
“Bukan itu ... Aku ... Aku sudah mengajukan surat pengunduran diri satu Minggu yang lalu. Dan tiga Minggu ke depan, aku sudah bekerja di perusahaan lain,” jelas Kalila. Andri terdiam, menatap tidak percaya atas apa yang didengarnya.
Bukankah Kalila baru satu bulan bekerja di yayasan ini? Mengapa gadis itu sudah mengundurkan diri? Apakah ada yang membuatnya merasa tidak nyaman bekerja di sini?
“Apa kau kurang nyaman bekerja di sini? Dari segi pekerjaan mungkin?” Kalila menggelengkan kepalanya. “Atau ... perihal gaji?” ucap Andri pelan. Kalila tersenyum geli dan menggelengkan kepalanya.
“Apakah ada orang yang membuat kau tidak nyaman bekerja di sini? Apa karena aku? Apa ada perbuatanku membuat kau merasa tidak nyaman, Kalila?” Kalila sontak menggelengkan kepalanya dengan cepat. Bahkan kedua tangan gadis itu ikut melambai cepat, ke kiri dan ke kanan, menandakan jika apa yang diucapkan oleh Andri adalah hal yang tidak benar.
“Aku nyaman, sangat nyaman bekerja di sini. Semua hal di sini membuatku nyaman. Lingkungan, atasan, rekan kerja, murid-murid, semuanya baik, membuatku nyaman.
“Tapi, kemarin ada lowongan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikanku. Jadi aku mencoba melamar di sana. Seperti yang Kak Anne katakan, karena ini sesuai dengan pendidikan yang aku tempuh, bekerja di sana akan membuat ilmuku semakin berkembang. Yaa ... Walaupun belum pasti diterima, sih. Pengumuman diterima atau tidaknya, baru akan diketahui dalam Minggu ini,” jelas Kalila.
Andri mengulas senyum tipis. Baru saja dia dekat dengan Kalila, dan sekarang gadis itu sudah harus pergi. Mereka harus berpisah. Pria itu menatap lekat manik kehitaman Kalila.
“Aku pasti akan merindukanmu, Kalila.”
Kalila tersenyum tipis, “Aku juga pasti akan sangat merindukan semua hal yang ada di yayasan. Insyaallah, aku akan datang saat acara kelulusan.”
Andri tersenyum lembut, pria itu meminta Kalila untuk berjanji, agar datang saat acara kelulusan murid-murid di sana.
“Iya ... Aku janji akan datang,” ucap gadis itu. Tentu saja Kalila akan menghadiri acara kelulusan itu. Murid-murid yang lulus itu, juga termasuk anak didiknya. Beberapa kali Kalila mengajar mereka.
Merekalah murid pertama Kalila.
Makhluk-makhluk kecil itulah yang membuat mimpinya sedari kecil menjadi nyata.
“Aku pasti datang!” ucap Kalila dengan penuh semangat. Andri pun tersenyum sumringah menatap Kalila yang berjanji dengan penuh semangat.
***
Hari ini, tepat 12 hari setelah Kalila melakukan wawancara di PT. Adi Putra Group.
__ADS_1
Kini Kalila sedang asyik mengajar para muridnya. Ponsel gadis itu berdering. Namun Kalila mengabaikannya. Bukan sengaja mengabaikannya, itu semua karena Kalila terlalu fokus bermain sembari belajar bersama malaikat-malaikat kecil itu. Hingga dering ponsel pun tak tertangkap indranya. Suara riuh para murid di kelas itu, membuat siapapun tidak akan ada yang menyadari, jika ponsel Kalila berdering. Terlebih dering ponsel itu tidak terlalu kencang.
Lima belas menit berlalu ...
Tugas Kalila di kelas itu selesai. Gadis itu dan dua orang guru yang mengajar di kelas yang sama dengannya tadi, mengikuti langkah kecil murid mereka, memastikan murid-murid itu menaiki bus antar jemput sekolah.
Seolah tau situasi, ponsel gadis itu kembali berdering, kini tak ada lagi alasan bagi Kalila untuk tidak mendengar panggilan telepon itu, dan Kalila pun menyadari jika ponselnya berdering. Gadis itu bisa mendengar suara dering dan merasakan getaran dari ponselnya.
Setelah memastikan seluruh murid duduk dengan baik, Kalila merogoh tas dan mengambil ponselnya.
Kalila hampir saja berjingkrak-jingkrak kegirangan saat menerima panggilan telepon itu. Namun ternyata gadis itu masih sadar, jika dirinya masih berada di lingkungan sekolah. Bahkan seluruh muridnya masih berada di sana, tak jauh darinya.
Kalila pun berusaha mengontrol emosinya. Walau dia begitu senang saat ini. Namun, Kalila berusaha untuk tidak bersikap tak lazim di depan makhluk-makhluk kecil itu. Dirinya tidak mau, jika murid-murid itu akan mengikuti gaya nyelenehnya.
Gadis yang biasa ekspresif itu, kini hanya bisa tersenyum dan menahan diri agar tidak melompat. Melambaikan tangan pada murid-muridnya yang perlahan menjauh, karena bus sekolah itu telah bergerak meninggalkan sekolah.
Bus sekolah itu sudah tidak tampak lagi, rekan-rekan kerja Kalila bersiap kembali ke ruang kerja masing-masing. Panggilan telepon dari seorang wanita di seberang sana, juga sudah selesai. Wanita itu sudah mengungkapkan apa saja yang hendak disampaikannya.
“Yesss!!” pekik Kalila, setelah panggilan telepon itu terputus. Anneke yang kebetulan melintas mendengar pekikan Kalila. Tentu saja dia mendengar, karena Kalila mengucapkannya dengan cukup lantang.
“Kau kelihatannya lagi senang.”
Kalila seketika berbalik badan. Gadis itu tak menyangka jika ada orang di sekitarnya. Kalila terlihat salah tingkah. Gadis itu menyengir dan menatap Anneke, “hehehe ... iya Kak,” jawabnya.
“Baguslah kalau kau sedang senang. Dan semoga kau selalu merasa senang setiap hari, Kalila.” Jika Kalila menunjukkan cengiran kepada Anneke, anak dari pemilik yayasan itu, malah memberikan senyum lembutnya buat Kalila.
“Aku kembali ke ruangan dulu ya,” ucap Anneke sembari melambaikan tangan kepada Kalila. Kalila tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “iya Kak, silakan,” ucapnya. Anneke tersenyum hingga matanya menyipit. Gadis itu menatap Kalila. Sungguh, dia benar-benar menyukai semangat gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri itu. Jika Kalila meninggalkan yayasan, dirinya pasti merasa kesepian. Karena, hampir setiap pagi, Anneke dan Kalila mengobrol lebih dulu sebelum bel tanda masuk berbunyi.
“Kak Anne ...,” panggil Kalila. Gadis cantik nan anggun itu menghentikan langkahnya, menoleh dan menatap ke arah Kalila.
“Barusan ... Lila dapat kabar dari HRD tempat melamar kerja kemarin. Alhamdulillah Lila diterima,” ucap gadis itu. Seketika wajah Anneke berbinar. Gadis itu menghampiri Kalila dan memeluknya erat.
__ADS_1
“Selamat ya Lila,” ucapnya antusias. Gadis itu benar-benar turut bahagia atas pencapaian Kalila.
“Terima kasih Kak Anne.” Kalila membalas pelukan gadis itu tak kalah erat.
“Eemm ... Kak.”
Anneke melepaskan Kalila dari pelukannya. Kini gadis itu tengah menatap Kalila yang terlihat meragu. “Katakan saja Lila. Ada apa?”
Kalila masih diam. gadis itu sibuk merangkai kata-kata yang tepat untuk disampaikan.
“Aku ini kakakmu, 'kan? Ayo katakan saja apa yang ingin kau katakan.”
Menghembuskan napas panjang terlebih dulu, Kalila akhirnya menyampaikan keinginannya. Gadis itu meminta izin untuk tidak masuk bekerja esok hari karena Kalila akan pergi ke PT. Adi Putra Group untuk mengambil surat pengantar pemeriksaan kesehatan.
“Boleh, tapi dengan satu syarat,” ucap Anneke. Tapi gadis cantik nan anggun itu mengatakannya dengan mimik serius.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mohon maaf ya readers,
mungkin seminggu ini, cuma bisa Up 1 Eps. aja
soalnya lagi pemulihan 🙏
***
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
__ADS_1