Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 127


__ADS_3

Kairav yang hendak mengambil minum, seketika langkahnya terhenti kala Dimas mulai membelai wajah Kalila. Kairav sengaja tidak langsung menegur mereka. Pria itu membiarkan aksi Dimas. Kairav bahkan merogoh saku, mengambil ponsel dan merekam aksi itu.


Kairav langsung bertindak, ketika wajah Dimas mulai semakin dekat dengan Kalila.


“Woy! Ngapain tuh!” pekik Kairav. Kalila yang merasa terkejut sekaligus takut, seketika bangun dari duduknya dan menyundul wajah Dimas. Pria itu pun meringis kesakitan.


“Maaf ... Maaf Bang Dim,” ucap Kalila. Dimas hanya mengangguk. Pria itu meringis, menahan sakit. Kepala Kalila benar-benar keras seperti batu.


Sementara Kairav ... Pria itu tertawa terbahak-bahak dan terus merekam aksi Kalila dan Dimas. Kalila yang mengetahui perbuatan Kairav, lantas bergegas menghampiri Kairav dan mengambil ponsel itu. Kalila harus menghapus rekaman video yang dibuat oleh kakak lelakinya yang tidak ada akhlak itu.


Namun, jangan harap Kalila bisa mendapatkannya dengan mudah. Karena Kairav tidak akan pernah membiarkannya.


“Sudah lah... Kau tidak akan bisa mendapatkan video ini. Lumayan nih video, bisa untuk dilihat anak cucu kalian nanti,” seru Kairav. Kalila semakin bertambah kesal mendengarnya. Adegan kejar mengejar pun tak bisa dielakkan. Kalila terus berteriak memanggil nama Kairav.


Sementara Dimas hanya tersenyum melihat kelakuan kakak beradik itu. Sejak dulu mereka memang tidak pernah berubah.


Feni dan Bu Alinah bergegas karena mendengar kehebohan dari ruang makan. Menyaksikan Kalila dan Kairav saling mengejar, Bu Alinah langsung buka suara. Kali ini Kairav yang menjadi sasaran empuk Bu Alinah.


“Sudah tau adiknya baru keluar dari rumah sakit, masih juga digoda!”


Jemari Bu Alinah langsung mendarat di telinga Kairav, hingga pria itu mengaduh. Kalila langsung merampas ponsel milih kakak lelakinya itu.


Gadis itu langsung menghapus rekaman video tadi. Tapi, tanpa Kalila tau, rekaman video itu sudah berhasil ditransfer oleh Kairav, kepada Dimas.


“Nih, sudah Lila hapus videonya!” ucap Kalila, seraya menyerahkan ponsel Kairav kepada si empunya. Feni yang penasaran dengan video yang diperebutkan oleh kedua adik iparnya itu, memaksa ingin melihatnya.


“Sudah aku hapus permanen!” cebik Kalila. Beruntung Kairav tidak membocorkan mengenai aksi Dimas di video itu. Jika tidak, Feni pasti akan kembali memberikan ceramah pagi kepada Kalila.


***


Hari demi hari berlalu. Tanpa terasa, Minggu depan adalah hari pertunangan Kalila dengan Dimas. Semenjak berpamitan di kediaman Kalila, tiga Minggu yang lalu, Dimas sama sekali belum pernah kembali ke kota Bogor.


Bahkan di hari pertunangan Ibrahim, Dimas pun tidak menghadirinya. Kalila pun tidak berangkat ke acara itu. Bukan karena Kalila patah hati dengan acara pertunangan itu, tapi Khalid yang melarangnya untuk datang. Karena Khalid pun tidak ingin menghadirinya.

__ADS_1


Feni dan Kalila, bahkan sampai berulang kali meminta maaf kepada Bu Baskoro, karena mereka benar-benar tidak bisa datang tanpa izin dari Khalid.


Kalila sama sekali tidak merasa sedih dengan pertunangan itu Sepertinya Kalila benar-benar sudah menghapus nama Ibrahim Adi Putra dari harinya.


Keseharian Kalila hanya diisi dengan bekerja dan bekerja. Jika pada malam hari, tentu saja dirinya akan melepas rindu pada calon imamnya— Dimas Adi Putra.


Kalila tidak akan bisa konsentrasi bekerja jika Dimas telat membalas pesan singkatnya. Dimas bahkan harus menunggui Kalila hingga tertidur, sebelum mengakhiri panggilan video itu secara sepihak, karena Kalila sudah terbuai ke alam mimpi.


Dimas benar-benar tidak sabar menunggu saat dirinya saling bertukar cerita dengan Kalila, di ranjang mereka, sambil berpelukan mesra. Ah ... sungguh indah, walau hanya sekedar membayangkannya.


Kalila sudah mulai terbiasa, saat Dimas memanggilnya dengan sebutan sayang. Namun, gadis itu masih canggung jika harus memanggil Dimas dengan sebutan yang sama.


Dimas pun tidak mau memaksanya. Membiarkan semua berjalan perlahan. Dimas mengerti akan kondisi hati Kalila. Gadis itu pasti masih menyimpan nama Ibrahim di hatinya. Terlebih Kalila masih bekerja di perusahaan yang sama dengan sepupunya itu. Mereka pasti masih sering bertemu. Kalila pasti berat untuk melupakan Ibrahim. Begitulah pikir Dimas.


**


Harusnya Dimas kembali ke kota Bogor, satu hari sebelum acara pertunangan. Namun, dua hari sebelum pesta pertunangannya di gelar, Dimas sudah kembali ke kota Bogor. Pria itu tak langsung mengunjungi Kalila. Karena ada sesuatu yang harus diurusnya terlebih dulu.


Dimas dan Kalila baru bertemu saat acara pertunangan mereka. Acara pertunangan itu diselenggarakan cukup sederhana. Berbeda dengan pertunangan antara Ibrahim dengan Anneke yang dilangsungkan di hotel bintang lima, pertunangan Kalila dengan Dimas dilangsungkan di kediaman gadis itu.


Sementara Dimas, dari pihak keluarga hanya di dampingi oleh kedua ibu dan pamannya. Ibrahim tidak hadir. Mungkin sebagai balasan karena Kalila dan Dimas tidak hadir di pesta pertunangannya.


Beberapa sahabat Dimas saat perkuliahan juga turut hadir di sana.


Sebenarnya pesta pertunangan itu dilangsungkan cukup meriah. Karena pekarangan rumah Khalid cukup luas.


Pandangan Dimas tak lepas dari Kalila, sejak pria itu tiba di sana. Bahkan setelah acara tukar cincin, Dimas terus menggenggam jemari Kalila. Ke mana Kalila melangkah, Dimas selalu di sisinya. Begitupun sebaliknya. Pria itu tidak mau melepas Kalila.


Namun, tiba-tiba pria itu melepaskan jemari Kalila. Dimas melangkahkan kakinya ke sebuah meja, dan mengambil microphone yang tergeletak di sana.


Tatapan Kalila tak lepas dari Dimas, sejak pria itu melepas jemarinya hingga sekarang berdiri tepat menghadap dirinya.


Dimas terlihat berdehem. Semua mata pun tertuju pada pria itu.

__ADS_1


“Sebelumnya saya minta maaf. Mungkin apa yang saya ungkap akan sedikit mengejutkan. Terutama buat Kalila dan keluarganya,” ucap Dimas.


Ucapan yang dilontarkan oleh Dimas, membuat semua mata kini mengarah pada Kalila. Bahkan Ibu dan kedua kakak lelaki Kalila, turut memandang gadis itu dengan heran. Padahal, Kalila sendiri pun tidak tau apa yang akan diucapkan oleh Dimas. Gadis itu juga bingung. Apa yang akan diungkapkan oleh pria itu sebenarnya?


Dibandingkan orang lain, justru Kalila lah yang paling merasa bingung. Terlebih, Dimas menatapnya dengan senyum yang sulit diartikan. Kalila membalas tatapan pria itu.


“Mamak, Bang Alid, Bang Rav dan ... Kalila, aku ingin mengutarakan sesuatu,” ucap Dimas. Pria itu terlihat menghela napas panjang. Melihat sikap Dimas, Kalila semakin bertanya-tanya.


“Aku ... ingin menikahi Kalila, saat ini juga.”


Kalila tertegun. Gadis itu sama sekali tak menyangka dengan apa yang diutarakan oleh Dimas. Sementara rekan-rekan kerja mereka sangat antusias hingga berteriak dengan heboh.


“Mungkin sekarang hanya akad nikahnya saja. Resepsi diselenggarakan sesuai jadwal,” lanjut Dimas.


Kairav berteriak setuju. Feni mengikuti. Bu Alinah juga menganggukkan kepalanya. Begitu juga dengan pihak keluarga Dimas, mereka setuju dengan apa yang diinginkan oleh pria itu.


Senyum Dimas merekah. “Bagaimana Lila? Apa kau mau, menikah denganku, saat ini juga? Aku sudah menyiapkan penghulu yang bersedia menikahkan kita.”


Kalila kembali tertegun.


“Aku tidak bisa jika kembali menjalin hubungan jarak jauh dengan kau, La. Aku ingin benar-benar mengikat kau. Please ...”


Melihat wajah memelas Dimas, tentu saja Kalila tidak tega. Kalila mengangguk ragu, “Lila terserah Bang Dim saja.”


Dimas bertambah sumringah mendengarnya, begitu juga dengan kedua keluarga dan seluruh tamu undangan yang masih berada di sana.


Namun, kegembiraan itu seketika sirna, ketika sebuah suara menggema.


“SAYA TIDAK SETUJU!”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2