Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 114


__ADS_3

Ibrahim Adi Putra Point of View


Suara ketukan terdengar dari balik pintu ruang kerjaku. Mungkin itu Dimas. Asistenku—Indra— sudah memberitahukan perihal Dimas yang akan memberikan sendiri, laporan-laporan divisi desain dan perencanaan yang membutuhkan tanda tanganku.


Mungkin ada hal yang ingin dibicarakan olehnya. Atau ... Mungkinkah Dimas mengetahui, mengenai project dari Pak Sanjaya yang aku ambil alih? Karena biasanya, Indra yang aku suruh untuk mengambil laporan di ruang kerja Dimas.


Aku memersilakan orang yang mengetuk pintu itu untuk masuk. Suara derit pintu terdengar. Aku melirik sekilas. Ternyata bukan Dimas, tapi seorang gadis. Gadis itu pun mulai melangkahkan kakinya masuk ke ruanganku. Aku tak percaya dengan pandanganku. Aku mengarahkan pandanganku sekali lagi padanya. Memastikan jika penglihatanku tak salah.


Kutatap gadis itu lekat, mulai dari ujung kepalanya yang tertutup hijab, sampai kakinya yang tertutup oleh gamis. Sangat anggun sekali.


Cantik?


Tentu saja dia cantik. Jika tidak, tak mungkin dulu aku tertarik padanya. Tapi aku tak menyangka, jika dirinya akan menutup auratnya. Dia benar-benar terlihat anggun.


Aku masih menatapnya lekat, kala gadis itu perlahan mendekat. Keterkejutan pasti terlihat jelas di kedua netraku. Bukan hanya terkejut, aku seperti tersihir oleh gadis itu.


Kalila Nasution, cinta pertamaku.


Aku masih terpaku. Menatap wanita yang namanya tak sepenuhnya terhapus dari hati ini. Mungkin benar apa yang dikatakan orang, kalau cinta pertama itu, sulit terlupa.


“Pagi menjelang siang Bang ... Eh, Pak.”


Aku tersenyum mendengar ucapannya. Sudah tiga bulan dia bekerja di sini, tapi kami belum pernah saling bertegur sapa. Sejujurnya, selama ini aku memang sengaja menghindarinya. Karena aku tak mau hatiku goyah karenanya.


Aku juga tak mengerti, sebenarnya apa yang aku rasakan terhadap gadis anggun yang berdiri di hadapanku kini.


Jelas, aku menginginkan Anneke yang menjadi pendampingku kelak. Aku sudah tersihir oleh pesona seorang Anneke. Gadis pertama yang berhasil mengalahkanku. Sejak saat itu, bukan hanya prestasiku yang berhasil dikalahkannya, tapi juga hatiku. Aku sudah mengaguminya sejak pertama bertemu di Singapura.


Tapi, melihat kedekatan Kalila dan Dimas, ada rasa tak rela. Terlebih ketika menyaksikan Kalila mempresentasikan proposal mereka. Aku terpukau. Gadis itu sungguh luar biasa. Aku bisa membayangkan jika aku dan dia membangun perusahaan ini bersama, tentu akan sangat luar biasa.


Namun, malah Dimas yang mendapatkan kesempatan itu. Bahkan, mereka mendapatkan proyek langsung dari Pak Sanjaya—salah satu orang terkaya di Indonesia. Aku tak rela, jika Dimas mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku. Tender itu, ucapan bangga dari orang-orang di perusahaan, dan juga ... Kalila. Harusnya itu semua hanya menjadi milikku.

__ADS_1


“Pak, saya mau minta tanda tangannya.” Lagi-lagi gadis itu menyadarkanku dari lamunan. Dengan bibir mengembang, aku memersilakan Kalila untuk duduk. Gadis itu pun menyerahkan berkas yang ada di tangannya. Aku menerimanya, masih dengan senyum yang terkembang.


Aku fokuskan pikiran pada laporan yang kini ada di hadapanku, lalu membubuhkan tanda tanganku pada lembaran-lembaran itu. Aku kembali menengadahkan kepala, menatap gadis yang kini telah duduk di depan meja kerjaku.


“Sejak kapan kau pakai hijab?”


“Ini hari pertama, Pak,” jawabnya. Sungguh canggung sekali mendengar dirinya memanggilku dengan sebutan Pak.


“Kalau kita hanya berdua, panggil saja aku 'abang,' seperti biasanya.”


Senyum gadis itu semakin lebar. Dia pun mengangguk dengan antusias. Sejak dulu, aku paling suka dengan ekspresi antusias Kalila. Mungkin itu yang membuatku menyukainya, dulu.


“Kau terlihat lebih cantik dan anggun dengan pakaian seperti ini,” ucapku. Bukan bermaksud gombal. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya kepada Kalila. Ku lihat pipinya yang putih bersemu merah. Membuat kecantikannya bertambah. Sejujurnya, aku merasa gemas melihatnya seperti itu.


Melihat gadis yang kini duduk di hadapanku tengah tersipu, aku pun bertambah yakin. Jika hubunganku dengan Anneke tidak berjalan mulus, aku akan langsung melamar dan menikahi Kalila.


“Aku belum mengucapkan selamat secara pribadi, atas keberhasilan kalian memenangkan tender kemarin.” Gadis itu pun mengucapkan terima kasih atas ucapan selamat yang ku berikan.


“Aku melihat videonya. Kau benar-benar terlihat luar biasa, Kalila.”


“Sudah pukul sebelas. Kau berikan kembali laporan ini kepada Dimas, kemudian bersiaplah. Kita pergi makan siang sekarang saja.”


Kalila pun beranjak keluar dari ruang kerjaku.


***


Dimas Adi Putra Point of View


Wajah Kalila terlihat begitu sumringah, ketika kembali dari ruang kerja A' Ibra. Aku tau, gadis itu pasti bahagia karena bisa berbincang dengan pria pujaan hatinya.


“Baaaang ... Terima kasih yaa ... Bang Dimas memang yang terbaik,” ucapnya, seraya memberikan laporan yang tadi ku titipkan padanya. Gadis itu menunjukkan lembaran-lembaran laporan yang sudah dibubuhi tanda tangan A' Ibra.

__ADS_1


“Kau terlihat bahagia sekali.”


Gadis itu menatapku lekat. Jemarinya bahkan menggapai jemariku, hingga kini kami saling menggenggam tangan. Gadis itu mengguncang-guncang pelan, tanganku. “Terima kasih banyak Bang Dimas,” ucapnya sekali lagi. Aku pun tertawa kecil. Begitu bahagianya Kalila. Tindakanku yang memintanya ke ruangan A' Ibra, ternyat tidak salah.


“Sepertinya, Bang Ibra kembali menatap Lila, Bang.”


“Maksudnya?”


“Bang Ibra sepertinya terpesona melihat Lila memakai hijab!” pekiknya riang. Tentu saja A' Ibra terpesona. Siapa yang tidak terpesona melihat gadis secantik dirinya? Bahkan cuma menyematkan kata cantik saja, tidak cukup menunjukkan penampilan Kalila sekarang. Gadis itu terlihat spektakuler. Sungguh.


“Bang Ibra mengajakku makan siang bersama, Bang!”


Kaki ini Kalila mengguncang tanganku lebih kencang. Jemarinya bahkan menggenggam lebih erat. Gadis itu benar-benar terlihat sangat sangat bahagia. Wajahnya berseri. Senyumnya merekah lebar. Matanya bercahaya.


Aku hanya bisa tersenyum tipis, menahan rasa sakit di hati ini. Tapi tak apa. Sakit di hati ini tidak terlalu dalam. Aku masih sanggup mengatasinya. Tapi, ketika melihat Kalila tersedu-sedu seperti tadi malam, rasanya aku tak kuat.


Kini kau sudah bahagia kan, Kalila?


“Lila siap-siap dulu ya Bang.”


Aku hanya bisa menganggukkan kepala, sembari menatap punggung gadis itu, yang perlahan menghilang di balik pintu.


Ku putuskan untuk mengikuti Kalila, menuju meja kerjanya. Sudah ada A' Ibra berdiri di sana, dan Kalila pun sudah menyandang tas miliknya.


“See you, Bang Dim,” ucap Kalila. Wajah sumringahnya berhasil membuatku tersenyum. Sakit ini, siapa yang peduli? Biarlah ku tanggung sendiri. Karena aku sudah memilih kebahagiaan Kalila, dibandingkan diriku sendiri.


A' Ibra hanya tersenyum tipis menatapku. Mereka pun berlalu, meninggalkanku di antara tatapan dari para staff yang sulit aku artikan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2