
Ibrahim selalu berderai air mata setiap kali konseling dilakukan. Pria itu benar-benar mengungkap semua, apa yang selama ini dia simpan rapat. Tekanan demi tekanan yang secara tak langsung diterimanya dari keluarga, membuat pria itu tumbuh menjadi manusia sok sempurna.
Pujian demi pujian yang terlontar dari bibir Adi Putra terhadap cucu kesayangannya itu, diserap Ibrahim sebagai tekanan baginya. Pujian demi pujian itu, membuat Ibrahim selalu menekan dirinya, untuk terus menjadi yang terbaik di segala hal. Pujian demi pujian itu, membuat Ibrahim meninggalkan apa-apa yang disenanginya dan beralih mencari hal-hal yang membuat dia selalu dipuja karena sempurna.
Seperti cita-citanya menjadi guru yang dia tinggalkan demi menjadi kebanggaan sang kakek. Karena Adi Putra akan merasa sangat bangga jika cucu kesayangannya itu mengurusi perusahaan miliknya. Adi Putra akan terus mengelu-elukan Ibrahim, jika cucu kesayangannya itu bisa membuat perusahaan miliknya berkembang pesat. Jadilah Ibrahim menarik diri dari pergaulan dan sibuk dengan akademisnya.
Ibrahim juga meninggalkan Kalila dan memilih Anneke, karena merasa jika Anneke lah wanita yang lebih sepadan dengannya. Karena Ibrahim merasa dirinya adalah pria sempurna— seperti yang diungkap oleh sang kakek. Maka dia akan memilah sesuatu yang juga sempurna untuk dirinya.
Konseling Ibrahim dengan Arya sudah berlangsung satu bulan lamanya. Pria itu sudah sepenuhnya terlepas dari jerat alkohol. Ibrahim benar-benar tak lagi menginginkan minuman keras.
Namun, Arya memberikan diagnosis jika Ibrahim terkena gangguan mental. Luka batin yang dialaminya sejak kecil, ditambah dengan kecanduan alkohol, membuat mental Ibrahim terganggu. Lepas dari candu alkohol adalah satu tahap penyembuhan bagi pria itu.
Kini Ibrahim harus berusaha 'sembuh' dari sakit mental yang dideritanya.
Sebagai psikiater, Arya menerapkan terapi perilaku kognitif untuk Ibrahim. Psikoterapi ini bertujuan mengubah pola pikir dan respons respon Ibrahim dari negatif menjadi positif.
“Pak Ibra harus berusaha untuk memaafkan orang-orang sekitar, yang bapak anggap sebagai penyebab dari banyaknya masalah di kehidupan Pak Ibra,” ucap Arya.
Ibrahim yang awalnya menolak keadaan, sekarang pria itu sudah bisa menerima diagnosis yang Arya labelkan padanya. Penyakit mental. Tahap awal sudah dilewatinya. Kini Ibrahim harus berusaha untuk memaafkan orang-orang sekitar yang menjadi penyebab luka batinnya sejak kecil.
Ayahnya yang selalu mendahulukan Dimas dari pada dirinya. Sang kakek yang selalu ingin membuat dirinya menjadi sosok pria sempurna tanpa cela. Sang ibu yang tak berbuat apapun untuknya. Bahkan saat dirinya merasa tercekik akan keadaan, Ibrahim mengatasinya sendiri. Karena dirinya selalu membangun citra pria tangguh yang sempurna, hingga pelukan sang ibu tak pernah didapatkan olehnya.
Arya kembali memberikan afirmasi positif kepada Ibrahim, agar pria itu bisa memaafkan orang sekitarnya. Dan yang paling penting, Ibrahim bisa memaafkan dirinya sendiri. Dan itu adalah hal terberat bagi Ibrahim.
__ADS_1
Memaafkan diri sendiri begitu berat bagi pria itu. Menurutnya, selama ini dirinya telah membuat banyak kesalahan dalam menentukan pilihan.
Selama ini, Ibrahim selalu sibuk menyalahkan orang lain atas apa yang menimpa hidupnya. Hal itu sebenarnya adalah rasa protes akan dirinya sendiri. Karena dia tak mampu menyalahkan dirinya. Hingga sulit bagi Ibrahim untuk menerima apa yang telah dia lakukan atas hidupnya sendiri.
Minggu demi Minggu, kesehatan mental Ibrahim mulai membaik. Arya memang seorang psikiater yang handal. Selain memberikan banyak afirmasi positif dan meresepkan sejumlah obat antidepresan, gaya hidup Ibrahim pun perlahan dirubahnya.
Cucu kebanggaan Adi Putra itu, kini menjalani gaya hidup sehat. Mengurangi asupan gula dalam makanan, memperbanyak makan buah dan sayur dan melakukan olahraga secara rutin. Arya juga melakukan pendekatan agama kepada Ibrahim. Hingga pria itu kembali dekat dengan sang pencipta. Namun, kali ini Ibrahim melakukannya bukan karena ingin dicap sebagai pria soleh.
Sudah tiga bulan sejak Ibrahim melakukan konseling intensif. Kini pria itu sudah jauh lebih baik. Tak ada lagi alkohol yang menemani harinya. Arya pun kini sudah tak lagi menemani hari-harinya. Ibrahim hanya perlu konsultasi satu bulan sekali.
Ibrahim bahkan kembali mempelajari bahan-bahan perkuliahannya dulu.
Kedua orang tuanya juga semakin sering mengunjungi Ibrahim. Bahkan terkadang mereka menginap di sana setiap akhir pekan.
“Papi rasa kau sudah siap untuk kembali bekerja di perusahaan,” ucap Gilang. Namun, Ibrahim masih tak menyetujuinya. Selama hampir empat bulan lamanya Dimas sudah membantu Adi Putra Group melewati masa-masa kelam. Kini perusahaan itu sudah hampir stabil di bawah pimpinan Dimas Adi Putra.
Sebenarnya bukan hanya itu alasan Ibrahim takut kembali ke perusahaan. Pria itu masih belum mampu menghadapi Dimas. Terlalu banyak perbuatan buruknya terhadap Dimas. Pria itu beberapa kali berusaha untuk menghancurkan perusahaan milik Dimas. Ibrahim bahkan berulangkali bersikap kurang ajar kepada Kalila. Ibrahim benar-benar belum sanggup untuk bertemu dengan Dimas. Padahal dari lubuk hatinya, pria itu ingin sekali meminta maaf, bahkan bersujud di kaki Dimas dan Kalila.
“Papi sudah katakan kepada Dimas, kalau kau sudah membaik. Dimas pun tetap bersedia membantu perusahaan hingga benar-benar stabil, walau kau sudah kembali ke perusahaan.”
Ucapan Gilang, tanpa sadar membuat Ibrahim menarik garis tipis di bibirnya. Ibrahim bahkan hampir meneteskan air mata. Pria itu bersyukur memiliki Dimas sebagai saudara. Dimas bersedia membereskan kekacauan yang dibuatnya di perusahaan. Dimas bahkan tak menyimpan dendam padanya.
Sementara Adi Putra, sejak Dimas mengelola perusahaan miliknya, pria lanjut usia itu terus sakit-sakitan. Adi Putra benar-benar tidak rela, jika Dimas mengelola perusahaan miliknya.
__ADS_1
Namun, seiring berjalannya waktu. Ketika perusahaan semakin membaik setelah ditangani oleh Dimas, hati pria lanjut usia itu melunak. Adi Putra bahkan sudah mengucapkan rasa maaf dan terima kasihnya kepada Dimas.
Dimas tentu saja memaafkan sang kakek. Dan kini, Adi Putra bahkan sering menginap di kediaman putri kesayangannya— Ghita Adi Putra.
Hampir empat bulan Ibrahim menjalani penyembuhan, selama itu pula, perlahan-lahan hubungan keluarga besar Adi Putra, membaik dan semakin erat.
Dan kini, Ibrahim tengah berada di rumah besar Adi Putra. Sang kakek dan nenek benar-benar merasa bahagia melihat kondisi fisik dan mental Ibrahim telah kembali pulih. Mereka kini sedang menunggu Dimas dan Kalila tiba. Inilah pertama kalinya keluarga besar mereka kembali berkumpul setelah insiden Ibrahim yang hendak mencium perut Kalila.
Ibrahim benar-benar sudah tidak sabar, untuk bertemu dengan Dimas dan Kalila. Mengucapkan kata maaf dan terima kasih kepada sepasang suami-istri itu.
***
Sementara itu, sejak kemarin, Kalila masih belum bersedia untuk bertemu Ibrahim. Dimas tak mau terlalu memaksa istrinya itu. Trauma yang dirasakan Kalila masih begitu membekas di pikiran wanita itu.
Kalila masih ingat betul, saat Anneke bercerita mengenai Ibrahim yang selalu membayangkan dirinya saat sepasang suami-istri itu tengah bergumul.
Masih membekas dalam ingatan Kalila, saat Ibrahim menatap dadanya yang basah.
Wanita itu trauma. Tak berani walau hanya sekedar berada di satu ruangan yang sama dengannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...