Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 117


__ADS_3

Surat pengunduran diri, langsung diberikan Dimas kepada Adi Putra di kediaman pria lanjut usia itu. Dimas bahkan melewatkan makan siang karena harus mengunjungi rumah kakeknya.


“Satu bulan setelah surat pengunduran diri ini, Dimas tidak akan bergabung lagi dengan perusahaan Kakek,” ucap Dimas. Lagi, Adi Putra menatap sinis kepada Dimas sembari tersenyum mengejek.


“Tidak perlu menunggu hingga satu bulan. Mulai detik ini, kau boleh mengemasi barang-barang kau di kantor. Segera pergi dari perusahaan saya. Urusan dengan HRD, itu bisa saya atur. Gaji kau bulan ini dan bulan depan, serta Binus sepuluh kali gaji yang kau dapatkan kemarin, akan saya berikan. Pergi kau sekarang. Kemasi barang-barang kau!”


Dimas terperangah mendengar ucapan kasar sang kakek yang mengusir dirinya. Apakah ibunya juga diusir seperti ini, dua puluh empat tahun yang lalu?


Tanpa berpamitan, ataupun menoleh, Dimas meninggalkan rumah itu. Rumah yang bagi Dimas, hanya dipenuhi oleh kenangan buruk.


Perasaan Dimas benar-benar kacau saat ini. Pria itu membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Beruntung siang itu jalanan kota Bogor tak terlalu ramai. Mobil yang dikendarai oleh Dimas, hampir saja menyenggol seorang penjual batagor yang tengah menyebrang sembari mendorong gerobaknya.


Dimas segera menepi kan kendaraannya dan meminta maaf pada penjual batagor itu. Dimas bahkan memberikan sedikit yang sebagai permintaan maaf. Pria itu pun kembali melanjutkan perjalanannya.


Tanpa membalas sapaan orang yang berlalu lalang di sekitarnya, Dimas segera masuk ruangan dan mengemasi barangnya.


Kalila dan seluruh staff divisi desain dan perencanaan heran melihat Dimas keluar dari ruangannya dengan membawa banyak perlengkapan. “Mau ke mana Boss?” tanya Harry.


Dimas yang tadinya ingin pergi tanpa berpamitan— terlebih kepada Kalila— mengurungkan niatnya. Pria itu meletakkan barang-barang yang dibawa olehnya.


“Hari ini, adalah hari terakhir saya bekerja. Mulai besok, saya tidak lagi menjadi karyawan di sini. Tidak lagi menjadi manajer kalian.”


Semua staff terperangah. Baru empat bulan bekerja, Dimas sudah berhenti. Bukankah ini perusahaan milik kakeknya?

__ADS_1


“Jangan bercanda Bang Dim. Gak lucu!” cebik Kalila. Gadis itu pun kembali menatap layar komputer dan kembali bekerja. Bagi Kalila, ucapan yang terlontar dari mulut Dimas adalah sebuah lelucon. Keluar dari perusahaan? Bagaimana mungkin Dimas melakukannya? Terlebih Kalila tidak mengetahui hal ini sebelumnya. Bukankah mereka sudah berjanji, jika tak ada rahasia di antara mereka? Jika Dimas akan mengundurkan diri dari perusahaan, harusnya pria itu sudah memberitahukannya satu bulan yang lalu, sebelum pria itu pergi sekarang.


Ini lelucon. Ini pasti hanya leluconnya Dimas.


Namun, kedatangan Ibrahim ke ruangan itu, membuat Kalila, mau tidak mau harus memercayainya.


“Kau benar-benar akan langsung pergi sekarang?” tanya Ibrahim. Dimas menganggukkan kepalanya, “iya. Kakek sendiri yang mengusirku. Tolong jaga Lila,” ucap Dimas. Seketika Kalila menghentikan aktivitasnya. Jantungnya berdebar cepat.


Dimas menoleh sebentar, menatap Kalila yang masih menatap layar komputernya. “See you guys." Pria itu pun berlalu. Kalila tidak mengidap asma, tapi entah mengapa gadis itu merasakan dadanya sedikit sesak. Kalila masih mencerna semua yang terjadi.


Apa Dimas benar-benar akan meninggalkan perusahaan?


Mengapa pria itu tidak memberitahukan hal itu padanya?


“Dimas sudah menyerahkan surat pengunduran diri kepada kakek, tadi pagi,” ucap Ibrahim yang ternyata mengikuti langkah Kalila. “Harusnya, Dimas keluar dari perusahaan satu bulan setelah surat pengunduran dirinya diterima. Tapi sepertinya ada ucapan Dimas yang menyinggung kakek. Jadi, Dimas pergi se—”


Kalila tidak mendengar ucapan Ibrahim selanjutnya. Terlebih pria itu menyinggung tentang pemilik perusahaan itu. Kalila berlari keluar dari ruangan Dimas, meninggalkan Ibrahim yang berdiri di sana. Kalila berlari menuju elevator. Gadis itu berharap Dimas masih ada di lantai basement, tempat di mana mobil pria itu selalu terparkir.


Begitu elevator tiba di lantai basement, Kalila berlari, mencari keberadaan Dimas. Ternyata pria itu sudah menyalakan kendaraannya. Namun, berdirinya Kalila tepat di depan mobil pria itu, Dimas pun terdiam. Menatap gadis yang sangat dicintainya itu berdiri dengan napas terengah.


Dimas sebenarnya tidak ingin bertemu Kalila. Pria itu tidak ingin mengucapkan kata perpisahan pada gadis itu. Rasanya dia tak sanggup. Tapi, Kalila tak lagi membutuhkannya. Pergi dan menetap di Bali, adalah hal yang dipilih Dimas, untuk menghindari gadis itu.


“Kenapa Bang Dim tidak memberitahu Lila?! Bang Dim anggap Lila ini apa?!” ucap gadis itu kesal. Dimas hanya tersenyum menanggapinya.

__ADS_1


“Kenapa Bang Dim mengajukan surat pengunduran diri? Apa yang Bang Dim rahasiakan? Kenapa tidak bercerita apapun? Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak ada rahasia di antara kita? Bukankah kita sahabat selamanya? Apa Bang Dim lupa?”


Dimas tersenyum dan melangkah lebih dekat pada gadis yang tengah menangis itu. Dimas mengusap lembut pipi Kalila yang basah karena air mata. Pria itu membawa Kalila dalam dekapannya. Tangis Kalila seketika reda. Rasa amarah, rasa takut dan rasa sedih yang bercokol di hati Kalila, seketika lenyap ketika Dimas memeluknya erat. Ini yang pertama kali bagi mereka berdua berpelukan seperti itu. Kalila sedikit salah tingkah dibuatnya. Tapi tak bisa dipungkiri, Kalila pun merasa nyaman dengan dekapan itu. Kalila bahkan membalas pelukan itu.


“Apa aku harus menyeritakan semuanya pada kau, Kalila? Kau bahkan sudah tidak membutuhkan aku lagi. Kemarin kau pulang kerja dengan A' Ibra tanpa berpamitan denganku. Tadi pagi pun begitu. Kau berangkat kerja bersama A' Ibra tanpa memberitahuku. Aku sudah tiba di rumahkau, tapi ada mobil A' Ibra di sana.”


Kalila menangis sesenggukan mendengar kalimat-kalimat yang dilemparkan oleh Dimas. “Maaf Bang. Lila ... Lila...—”


“Sudahlah La. Aku sadar di mana posisiku,” ucap Dimas. Kalila hendak melepaskan diri dari pelukan Dimas dan mengucapkan kata maaf sembari menatap mata pria itu. Agar Dimas tau jika dirinya benar-benar merasa bersalah.


Namun, Dimas tak ingin melepaskan gadis itu saat ini. Setidaknya, ini kali terakhir mereka bertemu, sebelum dirinya bertolak ke pulau Dewata. Sembari memeluk Kalila, Dimas menggiring gadis itu hingga ke tepi, agar nanti tak menghalangi laju kendaraannya.


“Aku pergi ya. Aku harap kau bisa selalu bahagia.”


Dimas pun melepaskan pelukannya dan berlalu begitu saja, meninggalkan gadis yang masih terisak itu. Tanpa menoleh pada Kalila, gegas Dimas masuk ke mobil dan melajukan kendaraannya. Kalila hanya terpaku menatap kepergian Dimas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...

__ADS_1


__ADS_2