
“Kita jual kepada keluarga, Dad. Setidaknya mereka pasti akan membantu kita dengan memberikan harga yang tinggi. Atau kita biarkan mereka yang mengelola perusahaan,” usul Gilang.
“Saudara-saudaraku tidak ada yang bisa dipercaya. Kau tau kan, sejak dulu, Daddy selalu bersaing dengan mereka. Menjual saham kepada mereka, sama saja dengan menyatakan jika perusahaan kita bangkrut. Dan mereka akan dengan luas menertawai kita semua.”
“Ada satu orang yang pasti akan dengan tulus membantu kita, Dad.”
“Kakak-kakakku beserta anak cucunya, tidak ada yang tulus!” pekik Adi Putra. Dan Gilang memang mengakui hal itu. Karena sejak dulu, mereka tidak pernah akur dan saling memamerkan kejayaan setiap bertemu.
“Ada satu orang, Dad. Dan aku yakin, dia bisa membantu kita.”
“Siapa?”
“Dimas,” jawab Gilang. Adi Putra bergeming.
Adi Putra tidak bisa menerimanya. Dimas adalah orang yang sangat tidak ingin dilihat oleh Adi Putra, saat ini. Pria itu pasti akan menertawakan dirinya habis-habisan, jika tau perusahaannya pailit.
Begitulah pikir Adi Putra.
Namun, pria lanjut usia itu tidak bisa memungkiri kemampuan Dimas dalam menjalankan perusahaan. Terbukti dengan perusahaan Dimas yang mampu bangkit dari keterpurukan hanya dalam waktu beberapa bulan saja.
“Kita bisa minta bantuan kepada Dimas untuk menjalankan perusahaan. Atau kita bisa bekerjasama dengan Dimas. Sebagai imbalan, kita serahkan seluruh saham milik Ibra untuk Dimas,” usul Gilang.
“Enak saja menyerahkan saham milik Ibra! Dia sudah aku sekolahkan, sudah seharusnya dia membantu kita di saat seperti ini!”
“Dad ... tolong turunkan ego Daddy. Kita ini sedang meminta tolong kepada Dimas. Kalau Gilang masih memiliki saham di perusahaan kita, sudah pasti akan Gilang serahkan semuanya kepada Dimas. Lagian, ini semua karena ulah Ibra, sudah sepantasnya dia menyerahkan seluruh sahamnya!”
Adi Putra dan Gilang terus bersitegang selama perjalanan menuju kediaman mereka. Adi Putra masih kekeuh dengan pendapatnya. Dirinya tidak mau memberikan satu lembar saham pun kepada Dimas. Terlebih itu adalah saham milik Ibrahim, cucu kesayangannya. Pria lanjut usia itu bahkan sudah membuat wasiat untuk menyerahkan perusahaan miliknya kepada Ibrahim kalau ia wafat nanti.
“Besok, katakan kepada anak haram itu untuk datang ke sini. Aku akan meminta balas Budi padanya.”
Seperti itulah titah Adi Putra kepada putranya. Gilang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap arogan sang ayah. Padahal perusahaan mereka dalam kondisi yang hampir bangkrut, tapi sang ayah masih mengedepankan egonya.
__ADS_1
Karena kondisi perusahaan keluarganya, Gilang pun menghubungi Dimas. Meminta keponakannya itu untuk datang ke rumah besar Adi Putra. Namun, Dimas menolaknya. pria itu tidak mau lagi menginjakkan kakinya ke sana.
Gilang akhirnya mengajak Dimas bertemu di salah satu restoran di sudut kota Bogor. Gilang bahkan langsung memesan ruang VIP, agar mereka bisa berdiskusi dengan nyaman dan tetap privasi.
Gilang sama sekali tidak memberitahukan kepada Dimas, mengenai hal yang apa yang akan mereka bicarakan. Dimas baru mengetahuinya saat dirinya bertemu dengan Gilang dan Adi Putra.
Dimas terperangah saat mendengarkan penuturan Gilang. PT Adi Putra Group dinyatakan pailit. Tidak hanya Dimas, Kalila yang duduk di samping Dimas pun, sangat terkejut dengan kenyataan itu.
Bagaimana mungkin, perusahaan sebesar PT Adi Putra Group bisa pailit? Bagaimana mungkin mereka bisa memiliki banyak tunggakan dengan supplier dan juga kepada pihak bank?
Dimas bergeming.
Dimas semakin terperangah saat mendengarkan penuturan Gilang selanjutnya. Jika semua hal yang kini dialami oleh PT Adi Putra Group adalah karena mereka berusaha mengambil customer milik perusahaannya dengan memberikan harga yang jauh di bawah standar.
Dimas sedikit terguncang.
Mengapa Ibrahim dan Adi Putra, bisa begitu kejam padanya. Padahal selama ini, dirinya tidak pernah sekalipun mengusik kehidupan mereka? Dimas bahkan dengan suka rela keluar dari perusahaan milik kakeknya itu, saat Adi Putra mengusirnya. Tapi, mengapa setelah dirinya keluar dari PT Adi Putra Group, mereka masih mengusiknya?
“Kau harus membalas semua jasa-jasaku!”
“Aku sudah membiayai pendidikan kau. Kini, saatnya kau membalas atas semua hal yang telah ku berikan!”
Kalila geram. Rasanya wanita itu ingin membalas ucapan kakek mertuanya itu. Namun, Kalila berusaha menahan amarahnya. Itu semua karena Dimas sudah memperingatkan dirinya sebelum mereka pergi bertemu dengan Adi Putra dan Gilang.
“Tidak, tidak, Dim. Tidak ada jasa yang harus kau balas. Malahan kami akan menyerahkan seluruh saham milik Ibra jika kau berhasil menangani masalah di perusahaan,” jelas Gilang. Pria itu benar-benar tidak habis pikir dengan sang ayah. Di saat kondisi mereka terjepit seperti ini pun, pria lanjut usia itu tetap saja angkuh di hadapan Dimas. Padahal Dimas adalah harapan satu-satunya, agar mereka tidak kehilangan perusahaan.
Namun, Adi Putra seketika membantah ucapan Gilang. Pria lanjut usia itu tidak akan pernah mengalihkan kepemilikan saham Ibrahim.
Kali ini Kalila tak lagi bisa menahan amarahnya.
“Kami tidak butuh saham dari perusahaan yang sedang pailit. Saya tau, jika kalian menjual lembar-lembar saham itu kepada pihak lain, harganya pasti sangat rendah. Bahkan jika kalian menjual seluruh Adi Putra Group, itu tidak akan cukup untuk membayar tunggakan kalian.”
__ADS_1
Dimas menggenggam jemari sang istri, meminta Kalila untuk berusaha menahan sedikit emosinya. Walau Adi Putra bertindak begitu arogan, namun ada Gilang di sana. Pria itu sudah banyak membantu Dimas. Bahkan, pria paruh baya itu yang membantunya untuk melamar Kalila. Dimas sangat menghormati uwaknya itu.
Sementara itu, Adi Putra begitu kesal dengan pernyataan Kalila. Pria lanjut usia itu tertawa dan menatap Kalila dengan pandangan yang begitu meremehkan. Adi Putra bahkan melabeli Kalila dengan orang kaya baru yang sombong.
“Kalian itu bukan tidak butuh lembar saham Adi Putra Group, tapi memang kalian saja yang tidak mampu! Perusahaan kecil seperti milik kalian itu, tidak lebih berharga dari Adi Putra Group yang pailit!” ungkap Adi Putra dengan sombong.
“Kemampuan kalian juga pasti tidak lebih baik dibandingkan Ibra!” lanjut Adi Putra.
“Kalau begitu, suruh saja cucu kesayangan anda itu untuk menangani perusahaan kalian. Jangan malah merepotkan suami saya. Atau ... Anda minta tolong seperti ini, karena cucu anda itu tidak mampu, iya kan?”
Dimas berusaha menenangkan sang istri yang kini telah menegakkan tubuhnya.
“Sudahlah sayang,” bisik Dimas, sembari mengusap-usap kedua pundak Kalila. Namun, wanita itu malah mengajak sang suami untuk meninggalkan Gilang dan Adi Putra. Dimas pun menurutinya dan berpamitan dengan Gilang. Adi Putra? Dimas bahkan tak menyapa pria lanjut usia itu sejak tadi.
Menyandang tas miliknya, Kalila dan Dimas hendak meninggalkan Gilang dan Adi Putra. Tapi, Kalila membalik badannya dan menatap tajam ke arah Adi Putra.
“Kami akan membantu perusahaan kalian tanpa meminta imbalan apapun. Tapi dengan satu syarat,” tegas Kalila.
“Anda datang ke hadapan suami saya, minta maaf padanya atas perbuatan anda selama ini. Dan, satu lagi, meminta tolonglah dengan layak. Kalau perlu memohon sambil berlutut di hadapan suami saya.”
Kalila menarik lengan Dimas dan meninggalkan ruang makan private itu. Meninggalkan Gilang dan Adi Putra. Tentu saja Adi Putra begitu kesal dengan ucapan Kalila.
Meminta maaf?
Memohon sambil berlutut?
“Memang pasangan yang cocok. Suaminya seorang anak haram, dan istrinya adalah seorang wanita brengs3k dan arogan!”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...