Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 17


__ADS_3

Sudah tiga malam Kalila berada di kota hujan itu. Kini gadis itu hanya berdiam saja di rumah bersama seluruh keluarganya. Sesuai rencana, mereka akan kembali ke kota Medan, tiga hari kemudian, tepat di hari Sabtu.


Saat ini Kalila hanya bersantai di dalam kamar, melihat-lihat sosial media, dan membalas pesan yang terus dikirimkan oleh kekasihnya dari Medan. Hingga ada sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya.


^^^Dimas : Hari ini, kalian liburan ke mana, Kalila sahabatku, calon makmumku?^^^


Kalila tersenyum geli membaca isi pesan singkat yang dikirimkan oleh Dimas. Tanpa disadari, gadis itu tidak lagi merasa kesal dengan panggilan yang disematkan oleh Dimas untuknya.


Sejak berlibur bersama di Kebun Raya Bogor— kemarin, membuat Kalila dan Dimas menjadi dekat. Walaupun kehadiran Ibrahim di tengah mereka, membuat Dimas sedikit merasa kesal. Tapi, setidaknya dia masih bisa bercengkrama dan bertambah dekat dengan Kalila dan keluarganya. Bahkan kini mereka sudah bertukar nomor ponsel.


Punya sahabat yang berada di luar kota, terlihat keren bukan?


Setidaknya itu yang ada di pikiran Kalila saat itu.


Sementara pria itu berpikir lain. Ucapan adalah do’a. Itu yang dipercayainya. Terus menerus memanggil Kalila dengan sebutan calon makmum, pria itu berharap, kelak Kalila benar-benar menjadi pendamping hidupnya.


Dengan tersenyum geli, Kalila pun membalas pesan singkat dari sahabat barunya itu.


^^^Kalila : Sepertinya sampai kembali ke Medan nanti, kita tidak ada rencana rekreasi lagi, Bang Dim. Karena tujuan kita ke sini kan mau melihat wisuda Bang Alid.^^^


Kalila sadar betul dengan keterbatasan dana yang dimiliki oleh ibunya. Mereka tidak mungkin terus menerus berwisata di kota hujan itu. Sedari awal, mereka memang hanya berencana mengunjungi Kebun Raya Bogor. Selain jaraknya yang tidak terlalu jauh dari kontrakan Khalid, biaya masuk ke kebun botani itu juga relatif murah.


Cukup lama Dimas membalas pesan dari Kalila. Pria itu tengah mencari cara agar dia bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama Kalila.


Tak lama, ponsel milik Kalila berdering. Kalila menatap layar ponsel miliknya.


“Bang Dimas?” gumamnya. Gadis itu pun menggeser tombol hijau ke atas, menjawab panggilan telepon dari Dimas.


“Nanti sore aku jemput ya. Kita ke Puncak Pass. Menginap di villa.”


Dahi Kalila berkerut. Tanpa mengucapkan salam, bahkan tanpa menyapa, Dimas malah langsung mengajaknya menginap di Villa.


Hening.

__ADS_1


Dimas pun merasa heran. Pria itu menatap layar ponselnya, memastikan bahwa dia tidak salah menghubungi seseorang.


“Benar Kalila, kok,” gumamnya bingung.


“Halo ... Lila?”


“Iya, halo Bang Dim,” balas Kalila. Dimas tersenyum. Bahkan pria itu menghela napas panjang. Lega. Karena suara itu benar milik sang gadis.


“Kebetulan aku dapat voucher menginap di villa. Kalau kau mau, kita bisa menginap dua malam di sana.” Lagi-lagi Dimas membicarakan mengenai menginap di Villa.


“Nanti kita akan pergi ke Kebun Raya Cibodas. Kau ingat, saat aku menyeritakan ada bunga bangkai raksasa setinggi 3,5 meter? Bunga itu ada di kebun raya Cibodas.”


Kalila hampir saja tergelak mendengar celotehan Dimas. Dirinya tidak semaniak itu dengan bunga bangkai raksasa, hingga harus menyetujui ajakan Dimas. Bisa-bisanya Dimas mengimingi dirinya dengan bunga bangkai raksasa. Kalila terlebih dahulu mengatur napasnya sebelum menjawab ajakan Dimas.


“Sepertinya mamak juga tidak akan setuju dengan rencana itu, Bang. Terlebih harus menginap di villa. Pasti mahal kan?”


“Tenang saja Kalila, semua gratis. Aku kan sudah katakan, aku dapat voucher menginap di villa itu. Di sana juga sudah dipenuhi dengan bahan masakan. Kita hanya tinggal berlibur.”


“Gratis? Semuanya gratis, Bang?”


“Besok kita bisa jalan-jalan ke kebun raya Cibodas, dan melihat matahari terbenam dari puncak pass. Bagaimana, kau mau, Kalila?”


Kalila terdiam. Ajakan Dimas sedikit menarik. Pasti indah menikmati matahari terbenam. Namun, menikmati matahari terbenam tidak harus di puncak pass, bukan?


Bahkan petang kemarin, langit kota Bogor sudah begitu indah. Terlebih Kalila menikmatinya bersama dengan seluruh keluarga dan pria yang dikaguminya, sembari menikmati roti unyil— kudapan khas kota Bogor.


Dimas hampir kehabisan akal. Namun pria itu teringat akan info yang dibacanya kemarin. Bibir pria itu melengkung sempurna. Dimas kembali sumringah. “Bunga sakura di Kebun Raya Cibodas baru saja mekar. Dan itu hanya mekar selama tiga hingga empat hari saja. Kau tidak mau melihatnya, Kalila?”


Kalila terdiam. Bunga Sakura? Bunga Sakura seperti yang ada di Jepang? Tentu saja gadis itu sangat penasaran. Apakah bunga sakura seindah yang disaksikannya di televisi?


“Kau tidak suka bunga sakura, Kalila?” Terdengar suara Dimas yang hampir kembali putus asa.


“Suka! Tentu saja aku suka, Bang!”

__ADS_1


“Kalau begitu bersiaplah. Dua jam lagi aku akan menjemput kalian. Bagaimana?”


Dimas benar-benar berharap. Hanya tinggal beberapa hari lagi dia dapat bertemu Kalila. Dan pria itu ingin terus bertemu Kalila setiap hari, sebelum gadis itu kembali ke kota asalnya.


“Lila bicarakan dengan mamak dan Bang Alid lebih dulu ya Bang.”


“Aku akan mengirimkan foto temanku yang baru dari sana, kemarin. Aku pastikan kau pasti akan menyukainya, Kalila.”


Kalila hanya mengangguk. Dia hanya punya waktu kurang dari dua jam untuk membujuk ibu dan kakak lelakinya. Penasaran dengan rupa kebun bunga sakura, membuat gadis itu bersemangat membujuk Bu Alinah dan Khalid.



^^^Dimas : Kau tau Kalila, bunga ini hanya mekar dua kali dalam setahun. Kau hanya bisa menikmati keindahannya antara bulan Januari – Februari atau Juli-Agustus. Kesempatan kau melihat tinggal esok hari. Atau kau harus menunggu bunga itu kembali mekar di Bulan Juli-Agustus.^^^


Pesan berikut foto yang dikirimkan oleh Dimas, menambah rasa penasaran Kalila untuk mengunjungi Kebun Raya Cibodas. Kalila terus membujuk Khalid yang masih tidak menyetujui ajakan Dimas untuk menginap di sebuah villa.


“Tidak perlu menginap, besok saja langsung pergi ke Kebun Raya Cibodas. Pergi pagi-pagi sekali dan pulang siang hari,” sela Khalid.


Pria itu benar-benar mengantisipasi agar Dimas tidak terlalu dekat dengan adiknya. Terlebih Dimas mempunyai banyak wanita di sekelilingnya. Khalid hanya menginginkan Ibrahim yang menjadi adik iparnya kelak. Kalila Nasution hanya pantas berdampingan dengan pria sesempurna Ibrahim Adi Putra.


Kairav melihat raut kecewa di wajah adiknya. Sejak dulu Khalid memang begitu, selalu otoriter. Dan Kalila selalu menuruti keinginan kakak lelakinya itu— tanpa membantah.


Absennya sosok Khalid di tengah mereka selama empat tahun, membuat Kairav lebih berani menentang Khalid.


“Bang, kita ke sini bukan setiap tahun. Biarkanlah Kalila menikmati waktunya di kota Bogor sebelum kembali ke Medan. Belum tentu Kalila bisa kembali lagi ke kota ini,” ujar Kairav.


“Kau sudah tau, Abang mendapatkan beasiswa S2 di sini. Jadi kemungkinan, Abang akan berkarir di sini. Dan sudah Abang putuskan, Kalila juga akan berkuliah di sini setelah lulus SMA.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...

__ADS_1


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....


__ADS_2