Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 65


__ADS_3

Pria itu akhirnya menemukan sebuah cara yang bagus.


“Assalamualaikum Bu Anneke. Perkenalkan, saya— Kairav Nasution, Abangnya Kalila.”


Begitulah pesan yang dikirimkan oleh Kairav, pada laman sosial media milik Anneke. Jantung Kairav berdebar kencang, menunggu balasan dari Anneke. Sepuluh menit berlalu, namun gadis itu belum membalas pesannya. Jangankan membalas, membaca pesan yang dikirimkan oleh Kairav pun, tidak.


Kairav terus menunggu. Pria itu bahkan terus menatap layar ponsel, berharap sang gadis pujaan yang cantiknya seperti bidadari itu, membalas pesannya. Kairav sangat berharap.


Satu jam berselang. Kairav berulangkali menatap layar ponselnya, masih menunggu balasan dari Anneke. Kairav melirik jam digital yang tertera pada layar ponselnya. Sudah hampir tengah malam ternyata. Pria itu pun memutuskan untuk beristirahat.


Malam itu, Kairav terlelap dengan rasa kecewa.


***


^^^Assalamualaikum, Mas Kairav. Senang bisa berkenalan dengan kakaknya Kalila. Saya kira, perbedaan usia kita tidak terlalu jauh. Mas, boleh kok memanggil saya dengan sebutan Anne, saja. Sekali lagi, salam kenal ya, Mas Kairav.^^^


Kairav berteriak girang. Pria itu bahkan hampir terjatuh dari ranjang, karena sibuk berguling ke sana ke mari. Balasan dari Anneke, benar-benar membuatnya senang bukan kepalang. Pria itu pun langsung membalasnya.


^^^Wa'alaikumussalam...^^^


^^^Terimakasih karena mau berkenalan dengan pria yang tidak seberapa ini. Semoga hari ini, menjadi hari yang menyenangkan buatmu, Anne.^^^


Tak berselang lama, Anne kembali membalas pesan Kairav.


^^^Semoga hari Mas Kairav, juga sama menyenangkannya.^^^


Kairav berteriak heboh. Bu Alinah bahkan harus menggedor kamar putranya itu, barulah Kairav menghentikan aksinya. Pria itu bergegas keluar, mengambil wudhu dan mendirikan sholat subuh.


Setelah itu, Kairav melangkahkan kakinya, menuju kamar Bu Alinah. Mengetok pintu kamar sang ibunda beberapa kali, hingga Bu Alinah muncul dari balik pintu kamarnya. “Ada apa Rav?”


Kairav yang masih menggunakan baju koko dan sarung, seketika mengambil tangan Bu Alinah dan mengecupnya. Bu Alinah sedikit terkejut melihat sikap anak bujangnya itu. Terlebih, setelah mencium telapak tangan sang ibunda, Kairav menunjukkan senyumannya. Senyum sembari menunjukkan deretan gigi putihnya.


“Sehat kau, Rav?” tanya Bu Alinah. Wanita paruh baya itu semakin heran melihat tingkah Kairav yang terlihat aneh. Masih dengan cengirannya, Kairav mengangguk cepat.

__ADS_1


“Mak ...,” ucap pria itu— tentu saja masih dengan cengirannya itu.


“Apa?”


“Doakan Rav, ya,” pintanya. Bu Alinah tersenyum. Wanita paruh baya itu, membelai rambut anak lelakinya yang masih melajang itu.


“Mamak selalu mendoakan kau, Rav.”


“Mak ....”


“Iya Rav,” jawab Bu Alinah.


“Sepertinya, sebentar lagi, menantu Mamak akan bertambah satu,” ucap Kairav. Kali ini pria itu mengatakannya sembari tersenyum malu-malu. Alis Bu Alinah bertaut. Tambah menantu?


“Apa Ibrahim sudah siap, untuk melamar Lila?!” Senyum Kairav mendadak luntur, mendengar pertanyaan ibunya. Pria itu heran, kenapa sang ibunda berpikir seperti itu. Bisa-bisanya teringat akan pria itu. Pria yang membuat adiknya menunggu tanpa kepastian yang jelas. Pria yang tidak pernah sedikitpun memberi perhatian pada adiknya itu.


“Kenapa Mamak menyebutkan nama dia sih?!” ucap Kairav malas. Bahkan menyebutkan nama Ibrahim saja, Kairav tak rela.


“Jadi Dimas yang akan melamar Kalila? Apa Kalila sudah menerima Dimas? Tuh kan, apa Mamak bilang. Lila itu, sebenarnya mencintai Dimas. Hanya saja, dia tidak menyadarinya. Beruntungnya Mamak, bisa punya menantu yang baik seperti Dimas.”


“Sepertinya aku hanya butiran debu di keluarga ini!” gumamnya kesal. Kairav kembali masuk ke kamarnya, menghempaskan tubuhnya ke kasur. Pria itu benar-benar kesal.


Sementara itu, Bu Alinah langsung mengambil ponsel miliknya. wanita paruh baya itu, terlihat sedang menghubungi seseorang. Dua kali nada tunggu terdengar di indra Bu Alinah.


“Assalamualaikum, Mak. Ada apa? Tumben telepon pagi-pagi sekali. Mamak sehat kan? Bang Rav sehat?”


Bukannya menjawab pertanyaan beruntun dari Kalila, Bu Alinah malah melontarkan pertanyaan dan pernyataan beruntun kepada putrinya itu.


“Kapan keluarga Dimas akan datang? Datangnya ke rumah Bang Alid atau ke Medan? Kalau ke rumah Bang Alid, Mamak akan berangkat nanti sore ke sana? Tuh kan, benar ucapan mamak tempo hari. Akhirnya kau menyadarinya juga. Mamak senang, akhirnya kau menerima Dimas. Mamak sangat menyukai Dimas. Kalian berdua cocok sekali.”


[Sekarang, kalian tau kan, kebawelan Kalila itu berasal dari mana?]


“Lila ...,” panggil Bu Alinah. Wanita paruh baya itu merasa heran, karena suara Kalila tidak terdengar sedari tadi. “Kalila Nasution?!” panggil Bu Alinah sekali lagi.

__ADS_1


“Iya Mak,” jawab Kalila.


“Kenapa kau hanya diam saja dari tadi?”


“Mamak saja tidak memberikan kesempatan Kalila untuk berbicara. Terus saja Mamak mengomel!” Bu Alinah terbahak mendengar ucapan Kalila. “Lagian, Kalila tidak mengerti dengan yang Mamak maksud. Keluarga Bang Dim? Mamak mau ke sini? Menerima Dimas? Mamak mau membicarakan apa sih?”


“Kata Rav, kau menerima lamaran Dimas? Benar itu?”


Mata Kalila terbelalak. Menerima lamaran Dimas? Hal yang tidak akan mungkin pernah terjadi, menurut Kalila. Karena mereka sudah berjanji untuk menjadi sahabat selamanya. Lagian, baik Kalila maupun Dimas, tidak menyimpan rasa cinta di hati mereka masing-masing— masih menurut Kalila. Gadis itu pun terkekeh-kekeh, hingga membuat Bu Alinah menjadi bingung.


“Kenapa kau tertawa?” tanya Bu Alinah heran. “Sekarang jawab pertanyaan Mamak. Lamarannya di Bogor atau di Medan?”


lagi-lagi Kalila terbahak-bahak mendengar ucapan yang terlontar dari mulut sang ibunda. “Siapa yang mau lamaran sih, Mak?”


“Apa maksud kau?”


“Maksud Lila, Mamak sudah dikerjai oleh Bang Rav. Bang Dimas tidak akan pernah melamar Lila. Dan Lila pastinya tidak akan menerima lamaran itu, jika itu benar-benar terjadi,” ucap Kalila mantap.


“Jadi Rav berbohong? Rav mengerjai Mamak?”


“Iya Mak. Mamak sudah dibohongi Bang Rav,” ucap Kalila terkekeh. Bu Alinah memutuskan panggilan telepon itu seketika. Wanita paruh baya yang masih menggunakan mukena, keluar dari kamarnya.


Bu Alinah melangkahkan kakinya dengan laju, menuju kamar Kairav. Tanpa mengetok pintu terlebih dahulu, Bu Alinah pun masuk ke kamar Kairav. Wanita paruh baya itu, mengambil sebuah guling yang terdapat di ranjang milik Kairav. Bu Alinah pun memukul wajah Kairav, hingga pria itu terlonjak kaget, dan terbangun dari tidurnya.


“Mamak, kenapa sih?! Rav terkejut, Mak!”


“Dasar anak durhaka! Bisa-bisanya kau membohongi Mamak, subuh-subuh begini!”


Bersambung ....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2