Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 71


__ADS_3

Dimas tertegun di kamarnya. Pria itu masih ingat betul, binar pada manik kehitaman Kalila. Gadis itu terlihat resah, namun tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Kalila bercerita, jika Ibrahim menghubunginya. Sepupunya itu bahkan mengajak Kalila bertemu. Besok, gadis pujaannya itu akan bertemu dengan Ibrahim. Ibrahim Adi Putra, yang begitu dipuja Kalila.


Apakah benar, sepupunya itu akan segera melamar Kalila?


Siapkah dia melihat Kalila bersanding dengan Ibrahim?


Siapkah dia kehilangan harapan, menjadikan Kalila sebagai makmumnya?


Entah mengapa, tubuh pria itu bergetar. Dimas takut. Sejatinya dia sangat takut. Ungkapan bahwa dia akan merasa bahagia jika Kalila bahagia walau bersama pria lain, semuanya sekaan menjadi bualan. Semuanya bohong! Hoax!


Nyatanya dia tidak rela. Nyatanya dia tidak siap. Dia tidak mau Kalila menjadi milik pria lain. Dia ingin memiliki gadis itu.


Tapi ...


Dimas tidak bisa berbuat apa-apa. Janjinya—janji mereka—untuk menjadi sahabat selamanya, menghalangi Dimas. Menghalangi pria itu memperjuangkan cintanya.


Bukankah seorang pria sejati tak boleh ingkar janji?


Entah karena janjinya, atau karena Dimas memang sepengecut itu, hingga berlindung dibalik janji yang dibuatnya bersama Kalila.


Yang jelas, Dimas tidak berusaha untuk membuat gadis itu jatuh hati padanya. Dimas tidak berencana untuk merebut gadis itu dari Ibrahim— sepupunya. Pria itu akan benar-benar mencoba bergembira, ketika melihat senyum bahagia terukir di wajah Kalila, saat gadis itu bersanding dengan Ibrahim, kelak.


“Haruskah aku menyimpan rasa ini selamanya, Kalila?”


***


Sementara Kalila, selepas melakukan panggilan video dengan Dimas, akhirnya bisa merasa sedikit lega. Saran-saran yang diucapkan oleh Dimas, mampu membuat perasaan gadis itu, sedikit lebih tenang.


“Ikuti kata hati kau, Kalila. Jika kau benar-benar menginginkan dia menjadi pendamping kau ... Terimalah dia. Lupakan setiap kesalahan yang pernah dia perbuat, lupakan. Terima dia, dan berbahagialah, Kalila.”


Kalila menghela napas panjang. Walau gejolak hatinya sudah sedikit tenang, gadis itu masih belum bisa terlelap. Walau kini, waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari.

__ADS_1


Menjadi pendamping Ibrahim memang keinginan Kalila sejak dulu. Bahkan sejak pertama kali mereka bertemu. Namun sikap Ibrahim yang tidak pernah memberikan kabar kepada Kalila— padahal mereka berada di kota yang sama— membuat Kalila merasa kesal, dan mulai mencoba untuk melupakan pria itu.


Namun takdir berkata lain. Ketika Kalila memutuskan untuk belajar melupakan Ibrahim, ketika Kalila mencari seseorang untuk menjadi pelarian cintanya, Ibrahim malah menghubunginya dan mengajaknya bertemu, esok.


[Tidurlah Kalila, kau tidak mau terlihat pucat ketika bertemu dengan A' Ibra, besok kan?]


Begitulah isi pesan singkat yang dikirimkan oleh Dimas, ketika Kalila mengeluhkan dirinya masih belum bisa terlelap.


Tidak mau terlihat kacau ketika bertemu Ibrahim esok, Kalila berusaha untuk terlelap. Gadis itu memejamkan matanya, menyingkirkan pikiran-pikiran yang terus melintas di benaknya.


***


Saat ini waktu menunjukkan pukul dua siang. Matahari terlihat malu-malu di balik awan. Kota Bogor terlihat sejuk siang itu. Semilir angin pun menambah kesejukan kota yang juga dikenal sebagai kota petir itu.


Seorang pria yang kini memakai kaos berwarna biru navy, tengah berada di balik kemudi saat ini. Membelah jalanan kota Bogor yang cukup padat saat akhir pekan seperti ini. Menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, akhirnya pria itu tiba di depan sebuah rumah dengan pagar yang dicat berwarna hitam.


“Assalamualaikum,” ucap Ibrahim, setelah pria itu memarkirkan kendaraannya. Khalid yang sudah tau akan kedatangan Ibrahim, sudah menunggu di teras rumahnya. Pria itu pun bergegas membuka pagar dan memersilakan Ibrahim masuk.


Khalid pun menyambut hangat, sahabat lamanya itu. Berbincang di teras rumah, kedua pria itu tersenyum, ketika melihat Kalila membawa nampan berisikan dua gelas teh manis hangat dan camilan buatan Feni.


Setelah menyuguhkan minuman dan camilan, Kalila langsung menarik diri, dari dua pria yang tengah asik mengobrol itu.


Tiga puluh menit berlalu, Khalid melangkah masuk dan memanggil Kalila. Meminta gadis itu untuk menemani Ibrahim.


“Bang Ibra mau membicarakan apa sih, Bang?” tanya Kalila, ketika Khalid menghampirinya.


“Kau temui saja dia. Kau tanyakan secara langsung,” ucap Khalid. Wajah kakak sulung Kalila itu begitu bersinar. Dirinya begitu gembira, karena Ibrahim menemui Kalila.


Harapan masih ada.


Kalimat itu terus-menerus dilafazkan oleh Khalid. Mata pria itu berbinar. Membayangkan jika adiknya itu akan kembali dekat dengan Ibrahim.

__ADS_1


“Abang senang sekali, karena akhirnya mereka berdua kembali bertemu,” ucap Khalid kepada istrinya. Sepasang suami istri itu, bahkan mengungsi di kamar mereka, karena tidak mau mengganggu waktu Ibrahim dan Kalila.


“Bahkan Ibra yang mengajak Lila bertemu. Tidak pernah dalam sejarah, seorang Ibrahim Adi Putra, mengajak wanita bertemu!” Feni hanya menggelengkan kepala, melihat tingkah suaminya.


Berbeda dengan Khalid, Feni tidak menyukai pertemuan antara Kalila dengan Ibrahim. Wanita itu tidak terlalu menyukai Ibrahim. Pasalnya, pria itu sudah membuat sahabatnya menunggu. Bahkan membuat sahabatnya itu terlihat menyedihkan, dengan selalu berharap sesuatu yang tak pasti.


***


“Apa kabar, La?” sapa Ibrahim, begitu Kalila duduk pada kursi yang terdapat di sampingnya. Meja kecil menjadi penghalang kedua muda mudi itu.


Setelah empat tahun tidak bertemu, inilah kali pertama mereka kembali saling tatap. Semilir angin di teras rumah, menambah kesejukan di hati Kalila.


“Alhamdulillah, sehat Bang.”


Ibrahim hanya mengangguk dan tersenyum. Kalila membalas Ibrahim dengan pertanyaan yang sama. Dan pria itu juga membalas dengan jawaban yang sama pula.


Tidak ada pembicaraan lebih lanjut setelahnya. Entah kenapa, suasana menjadi kaku. Ibrahim dan Kalila terlihat kikuk. Sepasang muda-mudi itu saling diam beberapa saat, hingga Kalila memberanikan diri untuk bertanya.


“Bang Ibra, mau membicarakan perihal apa?” tanya Kalila. Gadis itu benar-benar penasaran. Bahkan Kalila susah terlelap tadi malam, karena terlalu penasaran. Gadis itu hanya tidur selama tiga jam, malam tadi.


Ibrahim menoleh, menatap gadis yang kini duduk persis di sebelahnya. Ibrahim memberikan senyuman mautnya terlebih dulu.


“Perusahaan kami sedang membuka lowongan pekerjaan di bagian desain dan perencanaan konstruksi bangunan. Aku rasa kau cocok dengan posisi itu. Tepat di bawah naunganku sebagai direktur perencanaan.”


Harapan Kalila tentang Ibrahim yang akan melamarnya, pupus sudah. Nyatanya, pria itu datang untuk membicarakan mengenai pekerjaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...

__ADS_1


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2