
Dua Minggu berlalu, sejak pertama kali Ibrahim memulai sesi ceritanya. Namun, belum terlihat perubahan yang signifikan dari pria itu. Ibrahim terus bercerita hal-hal yang tidak penting. Tujuannya hanya satu, untuk dapat menenggak minuman keras itu.
Berulangkali Arya meminta pada Ibrahim untuk menyeritakan hal-hal penting dalam hidupnya, namun pria itu hanya menyeritakan hal-hal yang remeh. Ibrahim seperti orang yang tidak mempunyai keinginan untuk lepas dari ketergantungannya terhadap alkohol. Karena minuman-minuman keras itu adalah satu-satunya yang menemani Ibrahim kala dirinya merasa terpuruk.
Adi Putra pun sudah kehilangan semangat. Melihat sang cucu yang tidak terlalu banyak berubah, membuat pria lanjut usia itu sering sakit-sakitan memikirkan perusahaannya yang semakin lama semakin terpuruk.
“Apa tidak ada, hal yang bisa memotivasi Pak Ibra untuk sembuh?” tanya Arya saat dirinya tengah mendiskusikan perihal kesehatan mental Ibrahim.
“Pak Ibra sepertinya butuh motivasi lain. Karena bagi Pak Ibra yang sekarang, alkohol adalah sumber kebahagiaannya.”
Gilang bergeming. Sementara Adi Putra yang tengah terbaring lemah, seketika meminta sang anak menyiapkan kursi roda. Dirinya akan menemui cucunya.
“Untuk apa Papi menemui Ibra? Psikiater saja tidak bisa menangani dia?!”
Gilang tidak mau mengorbankan kesehatan sang ayah. Kondisi Adi Putra, kini benar-benar lemah. Pria lanjut usia itu baru saja terkena serangan jantung beberapa hari yang lalu. Itu semua karena Gilang kembali memohon kepada Dimas, untuk membantu perusahaan miliknya yang hampir bangkrut. Terjadi perdebatan yang cukup sengit antara Gilang dan Adi Putra, kala itu.
“Siapkan mobil!” tegas Adi Putra sekali lagi. Dan Gilang tentu saja menuruti keinginan ayahnya itu. Sejak dulu selalu seperti itu, tak boleh ada penolakan atas titah yang diberikan oleh seorang Adi Putra. Semua orang wajib untuk mematuhinya.
Setelah menyiapkan segala hal yang dibutuhkan oleh sang pemilik PT Adi Putra Group, mereka pun mengabulkan permintaan Adi Putra untuk mengunjungi Ibrahim.
Di atas kursi roda, dengan bantuan Arya, kini Adi Putra menuju kamar Ibrahim. Terlihat cucu kesayangannya itu tengah tertidur pulas dengan botol minuman keras di tangannya.
“Pak, ini airnya,” ucap salah satu asisten rumah tangga yang sudah dua Minggu ini bekerja di kediaman Ibrahim.
Secepat kilat Gilang mengambil segelas air itu dan menyiramkannya ke wajah Ibrahim. Seketika pria itu membuka matanya. Ditatapnya Gilang dan Adi Putra bergantian. Dengan malas, Ibrahim menegakkan badannya.
Jika saja tidak ada Arya di antara ayah dan kakeknya, Ibrahim pasti akan melanjutkan tidurnya. Tapi, jika hal itu dilakukannya di hadapan Arya, sudah pasti psikiater itu akan mengurangi jatah minuman kerasnya. Tentu saja Ibrahim tak akan membiarkan itu terjadi.
“Kalian berdua keluar lah,” titah Adi Putra.
__ADS_1
Arya dan Gilang saling bertukar pandang. Ibrahim adalah seorang pecandu alkohol yang cukup berat. Jika membiarkan Adi Putra hanya berdua saja dengan cucunya itu, bukan tidak mungkin bisa membahayakan keselamatan Adi Putra. Sejauh ini, hanya Arya yang bisa mengendalikan Ibrahim karena pria yang berprofesi sebagai psikiater itu punya ilmu bela diri yang sangat mumpuni, hingga Ibrahim selalu tak berkutik jika berhadapan dengan Arya.
“Biar saya temani, Pak,” ucap Arya.
“Saya ingin berdua saja dengan cucu saya. Saya kakeknya, saya lah yang sangat mengerti semua hal tentang Ibra. Tolong tinggalkan saya di sini bersama Ibra!”
Adi Putra terus memaksa Gilang dan Arya untuk keluar dari ruangan itu. Dengan terpaksa, Gilang dan Arya keluar dari sana. Ibrahim hanya menatapnya dengan tersenyum sinis. Berdua dengan sang kakek, tentu membuat Ibrahim sedikit bernapas lega. Tanpa kehadiran Arya di dekatnya, Ibrahim tentu saja bebas melakukan apa saja. Terlebih itu adalah kakeknya. Orang yang selalu mendukungnya. Orang yang selalu berada di garis terdepan.
“Kek, tolong bawa pergi pria brengs*k itu! Asal kakek tau, si Arya itu benar-benar membuat Ibra tersiksa!” pekik Ibrahim.
“Kau pikir, kakek mau mengeluarkan banyak biaya untuk membayar psikiater itu?!” balas Adi Putra.
“Kau tau, kondisi perusahaan sedang tidak baik-baik saja. Adi Putra Group pailit! Satu-satunya harapan kakek adalah kau.”
“Aku malas,” Jawa Ibrahim. Pria itu bahkan seketika merebahkan tubuh dan menutup matanya. Baginya, sangat membosankan sekali jika harus mendengarkan ceramah sang kakek mengenai perusahaan. Harus balik mengurusi perusahaan, terlebih perusahaan itu tengah dalam masa paceklik, tentu saja Ibrahim sangat enggan. Hidupnya sudah sangat bahagia hanya dengan ditemani oleh botol-botol yang berisi berbagai macam minuman keras.
Melihat sikap acuh Ibrahim, Adi Putra menghela napas berat. Cucu yang begitu dibanggakannya, sekarang menjelma menjadi manusia sampah yang tak lagi bisa diharapkan.
Mata Ibrahim seketika membelalak.
“Kau tau, siapa yang menggantikan kau di perusahaan?” Mata Ibrahim semakin melebar, karena dia tau betul siapa yang dimaksud oleh sang kakek.
“Mulai awal bulan, anak haram itu bahkan menjadi pemilik saham terbesar Adi Putra Group!”
Adi Putra menekan tombol pada kursi roda yang dinaikinya, hingga membawa pria lanjut usia itu menuju pintu kamar.
“Perbaiki diri. Dengarkanlah semua perintah psikiater itu. Jika tidak, bersiaplah melihat anak haram itu menjadi konglomerat. Dan Kalila, tertawa terbahak-bahak karena memilih pria yang benar sebagai suaminya.”
Menekan handle pintu kamar, Adi Putra pun keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Ibrahim dengan amarahnya. Arya dan Gilang membatu Adi Putra hingga benar-benar keluar dari ruangan itu. Arya juga menanyakan mengenai pembicaraan yang terjadi di ruang itu. Namun, Adi Putra hanya diam.
__ADS_1
“Kita pulang sekarang, Lang.”
Hanya itu kalimat yang keluar dari bibir Adi Putra. Dan pria lanjut usia itu bersama anaknya, pergi dari kediaman Ibrahim.
Sementara itu, Ibrahim Adi Putra, masih dengan posisi yang sama. Berbaring di ranjang dengan menahan gejolak dalam dirinya. Kata demi kata yang meluncur dari mulut kakeknya tadi, membuat dada pria itu bergemuruh.
Kini, Dimas Adi Putra yang menggantikan dirinya di perusahaan. Dimas menjadi pemegang saham terbesar di sana.
Bagaimana semua itu bisa terjadi?
Mengapa Dimas bisa menguasai perusahaan yang seharusnya menjadi miliknya?
Apa yang Dimas perbuat hingga bisa berkuasa di Adi Putra Group?
Pertanyaan demi pertanyaan silih berganti dalam benak Ibrahim. Dirinya marah. Pria pemabuk itu tak bisa membiarkan hal itu. Dirinya tak mungkin membiarkan Dimas berkuasa akan perusahaan itu. Adi Putra Group, adalah miliknya.
“Anak haram brengs3k!”
Berusaha menahan amarah yang membuncah, Ibrahim bertekad untuk keluar dari jerat alkohol.
Terdengar suara pintu terbuka. Sosok Arya kini sudah berada tepat di samping ranjang Ibrahim.
“Butuh waktu berapa lama, hingga saya lepas dari candu ini?” tanya Ibrahim. Wajah Arya berbinar. Dan sesi konseling yang sebenarnya baru saja dimulai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mohon maaf banget ya, karena baru bisa Update 🙏🙏🙏
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...