
“Bang Dim mau ke mana?” tanya Kalila. Wanita itu berusaha mengejar laju sang suami. Namun, Dimas tak memedulikannya.
Kalila menahan pintu yang hampir tertutup. Wanita itu masih berusaha meminta Dimas agar tak meninggalkannya. “Ini sudah pukul delapan, Bang. Sudah malam.”
Rasa kesal Dimas pada istrinya, membuat pria itu mengacuhkannya. Gegas, Dimas menjauh dan menaiki elevator pribadi mereka. Kalila masih berusaha menahan Dimas. Dengan berlari kecil Kalila mencegah Dimas menaiki elevator.
Namun, saat Kalila tepat berdiri di depan elevator, pintunya pun tertutup bersamaan dengan lelehan air yang keluar dari sudut mata Kalila.
Kalila berjalan mondar-mandir di dalam ruang apartemennya. Wanita itu terus memikirkan ke mana Dimas akan berlabuh. Kalila berharap suaminya itu hanya pergi sebentar saja. Namun nyatanya, sudah hampir dua jam, tapi Dimas belum kembali.
Tangis Kalila semakin pecah. Wanita itu takut jika Dimas meninggalkan dirinya. Kalila tak lagi bisa berpikir jernih. Wanita itu berusaha menghubungi sang mertua, namun ternyata Dimas sudah beranjak dari rumah ibu kandungnya sedari tadi.
“Dimas sudah kembali setengah jam yang lalu.”
Harusnya Dimas sudah sampai saat ini. Karena jarak kediaman Bu Ghita dengan kediaman mereka, hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit. Namun, hingga saat ini, Dimas masih juga belum kembali.
Kalila yang takut tinggal sendiri di kediamannya, kemudian menghubungi Khalid. Dengan suara terisak, Kalila menghubungi kakak sulungnya.
“Bang Dim pergi meninggalkan Lila, Bang. Sekarang Lila sendirian di apartemen.”
Begitulah rengekan Kalila. Khalid mengepalkan tangannya. Pria itu lantas bersiap untuk menghampiri adiknya. Khalid bahkan bertekad akan membawa pulang Kalila. Dirinya benar-benar geram dengan Dimas. Padahal pria itu tau betul jika Kalila pengecut karena tak berani jika harus tinggal sendiri, namun suami adiknya itu masih tetap meninggalkan Kalila. Bahkan di tengah malam seperti ini.
***
Sementara itu, Dimas tengah asik menegak kopi yang tadi di pesannya. Pria itu tengah duduk bersantai di salah satu restoran cepat saji yang buka dua puluh empat jam. Menyesapi kopi perlahan, pria itu teringat akan ucapan sang ibunda.
“Perilaku kau itu sangat tidak baik. Kau meninggalkan istri kau tengah malam seperti ini. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Kalila?!”
Mendengar ocehan sang ibunda, Dimas merasa khawatir dengan keadaan istrinya. Namun rasa kesal dan amarah masih menguasai hati pria itu. Pria itu masih enggan untuk kembali.
Tak lama, Bu Ghita menghubungi Dimas. Wanita paruh baya itu memberitahukan perihal Kalila yang menghubunginya.
Ibu kandung Dimas itu pun meminta sang anak untuk segera pulang menemui Kalila.
“Kau tau kan jika Kalila itu tidak peka. Kau harus mengungkapkan perasaan cemburu kau itu. Kau juga harus menjelaskan alasan kau cemburu seperti ini. Bukannya malah lari dan meninggalkan Kalila. Bagaimana jika Kalila kembali ke rumah keluarganya. Apa kau siap menghadapi abangnya?!”
Dimas mengembuskan napas kasar. Dirinya benar-benar tak mau berurusan dengan Khalid.
__ADS_1
Kembali pria itu menyesapi kopi di hadapannya. Gegas pria itu menyeret langkah menuju tempat kendaraannya terparkir. Membelah kota hujan itu di malam hari, Dimas pun tiba di kediamannya.
Menempelkan kartu hingga pintu apartemennya terbuka, Dimas segera masuk setelahnya.
Di dapatinya Kalila tengah tertidur sambil meringkuk di atas sofa. Rasa sakit seketika terasa saat Dimas menyaksikan istrinya tertidur di sana. Melangkah pelan, Dimas menghampiri Kalila. Masih terdapat air menggenang di sudut mata wanita itu. Dimas mengusapnya perlahan.
Merasakan ada yang menyentuh wajahnya, seketika Kalila terbangun. Menyaksikan Dimas tengah duduk di sisinya, Kalila segera menghambur ke pelukan pria itu.
“Maafkan Lila, Bang. Maafkan Lila,” ucap wanita itu sambil menangis sesenggukan. Hati Dimas bertambah sakit mendengar suara tangis Kalila. Dirinya benar-benar merasa bersalah telah meninggalkan Kalila.
“Aku yang minta maaf, Sayang. Maafkan aku.”
Kalila menegakkan badannya. Dengan masih terisak-isak, wanita itu mengucapkan janji pada suaminya.
“Besok, Lila akan mengajukan surat pengunduran diri. Lila akan di rumah saja. Lila akan belajar menjadi istri yang baik. Lila akan berusaha mengurus Bang Dim dengan baik. Lila juga akan membantu di perusahaan. Lila janji,” ucap Kalila terisak.
Pilu.
Itu yang dirasakan oleh Dimas. Dirinya sungguh tak tega melihat Kalila tersedu seperti itu. Dimas kembali membawa Kalila dalam pelukannya. Berkali-kali pria itu mengucapkan kata maaf.
Kalila terus terisak di pelukan Dimas.
“Kau tau kenapa aku memintamu berhenti bekerja?”
Kalila mengangguk, “karena Bang Dim ingin Lila membantu perusahaan Bang Dim.”
Dimas tersenyum, pria itu merapikan rambut sang istri yang terlihat berantakan. “Itu hanya alasan yang ku buat-buat,” jawab Dimas. Kalila mengernyitkan dahi.
“Maksudnya?”
“Aku cemburu karena kau setiap hari bertemu dengan A' Ibra.”
Kalila terperangah. Bukan kah mereka sudah menikah? Bahkan Ibrahim juga sudah menikah dengan wanita lain. Tapi kenapa sang suami masih mengaitkan dirinya dengan pria itu?
“Bang Dim tidak percaya dengan Lila?” Dimas terdiam. Bukannya tidak percaya, tapi pria itu takut. Takut jika istrinya kembali membuka perasaan pada cinta pertamanya itu.
“Pria yang kini Lila cintai, hanya Bang Dim.”
__ADS_1
Dimas menganggukkan kepalanya dan meminta maaf pada sang istri.
“Aku tak suka dia terus menatap kau, La. Apa kau tak perhatikan sikapnya akhir-akhir ini. Dia selalu menunggu kau di lobby. Kemudian kalian naik ke atas bersama.”
Penjelasan Dimas membuat Kalila terperangah. Wanita itu sama sekali tidak memerhatikan hal itu. Dia pikir, selama ini mereka hanya kebetulan saja bertemu di lobby.
“Itu buka kebetulan, Sayang. Dia menunggu kau.”
“Besok, Lila akan mengundurkan diri.”
“Tidak perlu, Sayang. Aku akan berusaha menangani kecemburuanku ini. Kau tidak perlu mengorbankan cita-cita kau,” ucap Dimas. Kali ini Dimas berusaha ikhlas dengan apapun yang menjadi pilihan Kalila. Jika itu berarti, istrinya akan terus bertemu dengan cinta pertamanya setiap hari.
Kalila hanya tersenyum menanggapinya. Dimas pun hendak mendaratkan bibirnya ke bibir merekah istrinya.
Namun, suara bel menghentikan aksinya.
“Siapa yang bertamu malam-malam?” tanya Dimas dengan dahi berkerut. Pria itu meminta Kalila untuk menunggunya di ruang tamu.
Gegas Dimas melangkah menuju pintu. Alangkah terkejutnya Dimas, saat mengetahui jika Khalid lah yang berada di balik pintu itu.
Sedang apa Abang iparnya datang tengah malam seperti ini?
Dimas pun membuka pintu. Khalid geram melihat Dimas yang kini berdiri di depannya. Kakak sulung Kalila itu, langsung menerobos masuk dan mencari adiknya.
“Bang Alid?”
Khalid yang melihat mata bengkak sang adik, seketika melayangkan tinjunya ke wajah Dimas. Suami Kalila tersungkur. Khalid menarik lengan Kalila. Wanita itu hanya bisa berteriak.
“Bang, mau bawa Lila ke mana, Bang?”
Langkah Khalid terhenti. Pria itu menatap tajam kepada Dimas. Sementara Kalila berusaha melepaskan genggaman tangan Khalid, namun tak berhasil.
“Apa kau lupa dengan perjanjian kita? Jika kau membuat air mata Kalila menetes, maka akan ku bawa pulang adikku!”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...