
Kami akan membuat taman kelinci, di mana anak-anak yang menginap, bisa merawat kelinci, memberi makan kelinci, bermain bersama kelinci. Juga beberapa permainan outdoor untuk anak dan dewasa, Seperti spiderweb, line bridge, ayunan berantai, jaring merayap, flying fox, permainan lumpur dan arena paint ball. Kami optimis, akan banyak perusahaan melakukan gathering bersama para karyawannya di glamping ini. Juga banyak keluarga yang merasa nyaman dengan fasilitas-fasilitas yang kami gagas.
“Mata Lila benar-benar bisa bersinar seperti itu ya Bun,” ucap Dimas, saat menyaksikan video yang ada di ponsel milik Bu Ghita, video yang dikirimkan oleh Gilang Adi Putra, siang tadi. Bu Ghita mengacak-acak gemas rambut Dimas. Walau anaknya telah dewasa dan sudah pantas untuk menikah, namun di mata Bu Ghita, Dimas tetaplah lelaki kecilnya yang selalu menggemaskan.
“Bunda, tau tidak, kenapa mata Kalila bisa bersinar cemerlang seperti itu?”
“Itu karena kau menatap Lila dengan penuh cinta!” jawab Bu Ghita. Namun Dimas menggelengkan kepalanya. “Bukan Bun,” jawab Dimas yang masih serius menyaksikan video yang ada di ponsel ibunya. Dimas berjanji akan mengajak Kalila dan Harry untuk menyaksikan video ini bersama-sama.
“Terus, kenapa mata Kalila bisa bersinar?” tanya Bu Ghita penasaran.
“Kata Almarhumah Nek Laila—neneknya Lila— sewaktu mamak mengandung Lila, mamak mengidam mencium aroma sabun pencuci piring. Setiap hari mamaknya Lila mencium aroma sabun pencuci piring. Makanya Lila selalu terlihat bercahaya.”
Sontak Bu Ghita tertawa terbahak-bahak mendengar ocehan anaknya yang tak tentu arah itu. Namun, Dimas sama sekali tidak merasa jika hal yang diceritakan olehnya itu begitu lucu. Karena Dimas terus mengulang-ulang bagian video yang menampilkan Kalila. Memerhatikan wajah antusias Kalila, menatap mata berkilau gadis itu, menata bibir yang terus bergerak sembari tersenyum itu. Jantung Dimas berdebar kencang.
Aku jatuh terlalu dalam Lila. aku tak tau, apa yang akan terjadi denganku, jika nantinya kau bersanding dengan pria lain?”
Pria itu terus menerus menyaksikan video Kalila. Bahkan sudah hampir tiga puluh menit hal itu dilakukannya. Bu Ghita bahkan sudah tidak lagi menemani anak lelakinya itu. Karena wanita paruh baya itu sudah merasa bosan hanya duduk diam dan menemani Dimas yang sangat serius menyaksikan video pada ponsel miliknya.
Dimas masih terus menyaksikan video gadis yang sangat dicintainya itu. Dirinya tidak tau, mengapa dia bisa mencintai gadis itu sampai segila ini? Yang jelas, hanya dengan menyaksikan gadis itu walau hanya melalui sebuah video, Dimas sudah merasa bahagia.
Suara dering ponsel, dari nomor yang tidak dikenal, membuat Dimas harus menghentikan kegiatannya. Dengan malas, Dimas menjeda video yang sedari tadi disaksikannya, kemudian meraih ponselnya.
“Iya, dengan saya sendiri,” jawab Dimas, ketika seorang pria di ujung sana, menyebutkan nama lengkapnya.
Dimas terperangah, dirinya tak percaya dengan apa yang didengarnya kini. Seorang crazy rich Indonesia menghubunginya. Pak Sanjaya, pemilik perusahaan jam internasional. Orang yang akan membangun akomodasi berupa glamping di lahan seluas lima hektar— proyek yang baru saja dikerjakannya.
__ADS_1
[Ada yang masih ingat, Pak Sanjaya kakeknya siapa, di novel Lunara?]
“Pengumuman resmi pemenang tender, akan tim kami kabari via email ke perusahaan kalian. Saya menghubungi secara pribadi, karena ingin kalian mengerjakan proyek yang sama, di lahan milik saya di pulau Bali.”
Lagi, Dimas terperangah. Mulutnya menganga. Hingga Bu Ghita yang baru saja berjalan melewati sang anak, menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Anakku semakin aneh saja,” gumam Bu Ghita pelan. Wanita paruh baya itu pun membiarkan sang anak yang masih menganga sembari menempelkan ponsel di telinganya.
“Apa kalian bersedia mengerjakan proyek itu?”
“Tentu saja, Pak! Apakah kami mengerjakan atas nama pribadi, atau perusahaan?”
“Kalau kalian sanggup mengerjakannya atas nama pribadi silakan. Kalian kan harus mengecek lokasi proyek, dan sebagainya. Kalau kalian bisa mengerjakan secara mandiri, why not? Malah kalian bisa berkembang kan? Tapi, jangan sampai terjadi perselisihan dengan perusahaan.”
Setelah mencapai kesepakatan, panggilan telepon itupun berakhir. Rasanya Dimas ingin segera memberitahukan kepada Kalila mengenai berita gembira ini. Tapi pria itu menahannya. Biarlah Kalila dan Harry mengetahuinya dari perusahaan tempat mereka bekerja. Karena Dimas takut, jika orang yang menghubunginya tadi, bukan Pak Sanjaya yang sebenarnya. Dimas takut, orang tersebut hanya sedang iseng mengerjai dirinya.
Namun, Dimas sudah memiliki rencana. Jika besok perusahaan mereka akan mengumumkan mengenai kemenangan tender tim-nya, maka Dimas akan mengajak seluruh staff divisi desain dan perencanaan untuk menikmati makan malam bersama.
Dimas pun menyeritakan hal ini kepada kedua ibunya.
“Atau, makan malam di rumah ini saja ya, Bun. Tenang saja, Dimas akan memesan makanan kok, jadi Ibu dan Bunda tidak perlu repot-repot memasak. Mungkin hanya menyiapkan perlengkapan makan saja,” ujar Dimas. Namun Bu Ghita dengan keras menolak ide Dimas. Bukan perkara menyiapkan peralatan makan. Karena tamu yang datang mungkin hanya delapan orang. Tapi, karena ide Dimas yang lainnya, Bu Ghita tidak menyukainya.
“Bunda tidak mau, Lila salah paham dengan Bunda. Kalau kamu mau mengundang si Mawar Mawar itu, jangan libatkan Bunda!”
Dimas melengos, kecewa. Pria itu pikir, Bu Ghita mau membantunya untuk membuat Kalila cemburu. Karena Dimas benar-benar menyukai sikap cemburu gadis itu.
__ADS_1
“Jangan bermain api, nanti terbakar sendiri loh,” nasihat Bu Asih.
“Dimas hanya ingin melihat reaksi Lila, itu saja kok,” sungut Dimas.
Walaupun kedua ibunya tidak menyetujui ide itu. Dimas tetap melaksanakan.
Setelah Gilang Adi Putra secara langsung mengumumkan kemenangan tender yang ikuti oleh Dimas dan tim-nya, pria itu segera mengirimkan pesan singkat kepada Mawar. Meminta gadis itu untuk bersedia ikut acara syukuran atas keberhasilannya meraih tender besar. Mawar tentu saja sangat senang dan bersedia.
Sore itu, sepulang bekerja, seluruh tim divisi desain dan perencanaan begitu semangat membereskan meja kerja mereka. Karena, Dimas akan membawa mereka untuk makan malam bersama di restoran all you can eat dengan menu yakiniku dan shabu-shabu.
Saat mereka baru saja keluar dari elevator, sudah ada Mawar yang menunggu di sana. Dimas memang meminta Mawar untuk menunggunya di sana.
“Sudah lama, War?” tanya Dimas, begitu bertatap muka dengan gadis berambut panjang itu. “Lumayan lah,” jawabnya. Wajah Kalila yang tadi sumringah, seketika muram.
Karena restoran yang dimaksud berada di mall yang cukup jauh dari tempat mereka bekerja, Harry memutuskan untuk ikut dengan mobil Dimas. Dengan ikutnya Harry bersama Dimas, Pria itu hendak duduk di belakang bersama Kalila. Karena Mawar sudah bersiap untuk duduk di samping Dimas.
Mata Dimas seketika membulat, ketika Harry membukakan pintu mobil untuk Kalila. “Kita berdua duduk di belakang ya, La.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
__ADS_1