
Namun dari mobil itu keluar seorang wanita yang sangat anggun. “Sayang ... masih lama tidak?” ucapnya pada Dimas. Kalila terdiam, gadis itu melihat ke asal suara. Seorang wanita paruh baya yang sangat anggun, berdiri memanggil Dimas. Kalila pun beralih menatap pria yang dipanggil itu.
“Itu bunda,” jelas Dimas. Padahal Kalila tidak bertanya apapun kepadanya, tapi seolah Dimas bisa mengartikan tatapan Kalila padanya. Tatapan penuh tanda tanya dan meminta kejelasan.
“Yuk aku kenalkan, sekalian kita makan siang bersama,” lanjut Dimas. Kalila pun mengangguk. Gadis itu kemudian menoleh dan berpamitan pada Andri masih berdiri di sana. Andri hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Pria itu bahkan masih terus berdiri di sana, menatap Kalila yang tengah berjalan beriringan dengan Dimas.
“Apa pria itu yang bernama Ibra? Yang menghubungi Kalila sewaktu kami makan malam bersama?” gumam Andri. Pria itu masih menatap lekat punggung Kalila.
“Huft .... Siapapun pria itu, penolakan sudah cukup jelas, wahai Andri. Saatnya move on!” ucap Andri pada dirinya sendiri. Pria itupun berbalik arah dan berjalan menuju sepeda motornya yang terparkir.
Sembari memeluk boneka yang telah diberikan oleh Dimas, Kalila pun berjalan beriringan dengan pria itu, menghampiri Ghita Adi Putra yang tak lain adalah ibunya Dimas. Wanita yang telah membesarkan Dimas seorang diri.
Bukan hanya membesarkan seorang diri, wanita itu bahkan menikmati ngidam, menjalani masa-masa kehamilan seorang diri. Hanya sang kakak lah yang sering membantunya.
Sesekali kakak kandungnya— Gilang Adi Putra— menanyakan keinginan Ghita ketika wanita itu tengah mengandung. Bahkan Gilang juga membayar seorang asisten rumah tangga untuk membantu Ghita mengurus rumah yang sekaligus butik. Butik yang diberikan oleh orang tuanya sewaktu dirinya menikah dulu. Namun Ghita tau, jika dirinya tidak bisa terus mengandalkan sang kakak lelaki.
Beruntung setelah Dimas dilahirkan, butik milik Ghita maju pesat. Wanita itu bahkan sudah bisa membeli sebuah rumah sederhana untuk dia tinggali bersama anak dan seorang asisten rumah tangga, ketika Dimas berusia lima tahun.
Namun, walaupun tidak memberikan harta warisan sepeserpun kepada Ghita, seluruh biaya pendidikan Dimas sejak taman kanak-kanak hingga meraih gelas master, seluruhnya dibiayai oleh Pak Adi Putra. Namun tentu saja Dimas harus mengikuti semua aturan main sang kakek. Dirinya harus bersekolah di tempat yang ditunjuk oleh kakeknya. Jurusan yang dirinya ambil pun harus sesuai dengan pilihan kakeknya.
Di luar hal pendidikan, Ghita sendiri yang memenuhi kebutuhan anaknya. Karena itu, Dimas sering membantu pekerjaan Ghita di butik, sejak pria itu duduk di bangku sekolah menengah atas. Dimas lah yang membukukan keuangan butik ibunya.
***
__ADS_1
“Halo cantik ... ini pasti yang bernama Kalila ya,” ucap Bu Ghita. Wanita itu meminta Dimas untuk memegang boneka beruang yang sudah menjadi milik Kalila itu. Bu Ghita pun membawa Kalila ke dalam pelukannya. Bu Ghita sudah tau perihal Kalila dari Dimas. Bahkan ibu kandungnya Dimas itu juga tau, jika cinta anaknya bertepuk sebelah tangan. Namun, seperti halnya Dimas yang yakin jika Kalila akan menjadi calon makmumnya kelak, Bu Ghita juga yakin, jika gadis yang kini ada di hadapannya, kelak akan menjadi menantunya.
“Kau pasti lelah setelah bekerja. Kita makan siang dulu ya, cantik,” ucap Bu Ghita. Dengan wajah sumringah, Kalila mengangguk cepat.
Kedua wanita itu pun masuk ke mobil, dan Dimas yang kini menjadi supir keduanya. “Dimas sudah benar-benar seperti supir! Lila duduk di depan sini!” cebik Dimas. Kalila pun menganggukkan kepalanya dan hendak berpindah ke depan dan duduk di samping Dimas. Namun, Bu Ghita menahannya.
“Enak saja! Lila duduk di sini saja dengan bunda. Bunda kan juga mau pendekatan dengan calon mantu bunda yang cantik ini!”
Kalila seketika menganga mendengar penuturan Bu Ghita. Netranya kemudian beralih kepada Dimas, dan menatap tajam kepada pria yang kini berada di balik kemudi. Dimas membalas tatapan Kalila itu dengan tersenyum lebar.
“Bunda, coba lihat wajah Kalila. Sepertinya dia ingin makan orang sekarang!” cebik Dimas. Sebuah pukulan pun melayang ke lengan atas Dimas, hingga pria itu meringis.
“Berani-beraninya kau memukuliku! Kau tidak takut ada bundaku di sini!” Kalila seketika menoleh pada Bu Ghita. Namun ibu kandungnya Dimas itu malah mencubit gemas pipi Kalila.
“Hajar saja dia, Lila. Bunda tidak akan marah kok. Demi calon menantu bunda,” jelas Bu Ghita. Dimas hanya bisa menahan tawa mendengar ucapan ibunya itu. Sementara Kalila terlihat salah tingkah.
“Sebenarnya ... Hubungan Lila dengan Bang Dim, tidak seperti yang Tante pikirkan. Lila dan Bang Dim hanya bersahabat,” jelas gadis itu. Dimas kembali menahan tawanya. Kalila yang melihat itu menjadi kesal dan kembali melayangkan sebuah pukulan tajam di lengan atas Dimas.
Sementara Bu Ghita tersenyum lembut dan menatap dalam manik kehitaman milik Kalila. “Bunda mau menyampaikan dua hal. Pertama, jangan pernah panggil Bunda dengan sebutan Tante. Bunda mau, Lila juga memanggil dengan sebutan Bunda. Sama seperti Dimas.” jelas Bu Ghita.
“Bagaimana? Apa kau bersedia?” Kalila menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, “iya Bunda.” Dimas tersenyum tipis mendengar Kalila memanggil ibunya dengan sebutan Bunda.
“Yang kedua, tentang hubungan kalian. Bunda sudah tau semua, mengenai persahabatan selamanya itu, bunda juga sudah tau. Tapi biarlah Bunda menyebut Lila dengan sebutan calon mantu, siapa tau itu bisa menjadi kenyataan,” ucap Bu Ghita sembari menaik-turunkan alisnya.
__ADS_1
Kalila akhirnya tau, darimana tingkah aneh Dimas berasal. Kalau di pertemuan pertama Dimas memanggil gadis itu dengan sebutan calon makmum ku, kini Bu Ghita— ibu kandungnya Dimas— di pertemuan pertamanya dengan Kalila, memanggil gadis itu dengan sebutan calon mantu.
Kalila hanya bisa menyeringai mendengar penuturan Bu Ghita. Sementara Dimas ... Pria itu dengan lantang mengucapkan kata 'Aamiin,' setelah itu tertawa terbahak-bahak karena mendapat tatapan tajam dari Kalila.
Mereka berbincang di sepanjang perjalanan.
Siang itu kota Bogor tidak terlalu padat. Dimas mengendarai kendaraannya, membelah jalan selama hampir tiga puluh menit, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah rumah makan di daerah Sentul. “Ini salah satu restoran favorite aku dan Bunda, La,” jelas Dimas, begitu mereka tiba di sana.
Memilih untuk duduk lesehan, Dimas pun memesan menu-menu masakan yang disukainya.
“Kau wajib mencoba ini, La. Ini menu andalan di restoran ini. Patin bakar dalam bambu.”
Kalila menganggukkan kepalanya dan ikut menyantap makanan kesukaan Dimas dan Bu Ghita. Ternyata Kalila juga menyukai cita rasanya. Ketiga orang itu pun makan dengan sangat lahap.
“Dimas sangat merindukan ikan patin bakar ini,” gumam pria itu sembari makan dengan lahap.
“Lagian kau, selama dua tahun kuliah, tidak pernah sekalipun ingin pulang. Malah lebih memilih ke Medan, menghampiri Kalila!”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...