
WARNING!!
MOHON DIBACA SETELAH BERBUKA YA 😂
Dimas seketika sumringah. Pria itu menepuk-nepuk ranjang, agar Kalila duduk di sampingnya. Kalila ... tentu saja gadis itu mengikuti instruksi suaminya.
Melangkah dengan jantung berdebar kencang, akhirnya Kalila berhasil naik ke ranjang dan duduk di samping Dimas.
Pria itu membuka handuk yang menggelung di atas kepala Kalila. Memainkan rambut basah Kalila sejenak, Dimas pun mencium aroma rambut gadis itu, kemudian beringsut dan membenamkan kepalanya pada ceruk leher Kalila.
Dimas menyesapi aroma segar tubuh Kalila, hingga membuat gadis itu meremang. Entah bagaimana, kini Kalila berada di pangkuan Dimas. Pria itu pun mulai menyesapi bibir kemerahan Kalila.
Dimas mulai mengulumnya dengan lembut. Jemari pria itu bahkan sudah bergerilya ke balik piyama yang dikenakan Kalila serta memberikan pijatan lembut di salah satu gundukan itu. Kalila bahkan mulai membalas setiap pagutan Dimas dengan penuh semangat.
Namun, pria itu hanya sebentar melakukan aksinya.
Dimas melepaskan bibir dan jemarinya dari tubuh gadis itu, kala Kalila mengharapkan hal lebih. Kalila menatap Dimas dengan sendu. Gadis itu rupanya sudah terbuai dengan permainan sekejap yang dilakukan oleh Dimas.
“Kau pasti lelah. Malam ini kita istirahat dulu ya,” ucap Dimas.
Mendengar setiap kata yang terlontar, Kalila mendadak kesal dengan pria yang baru beberapa jam menjadi suaminya itu.
Dimas seperti sengaja melakukan hal itu. Menghentikan aksi saat dirinya benar-benar mendamba pria itu. Dengan wajah cemberut, Kalila seketika beringsut, masuk ke dalam selimut dan memunggungi Dimas.
Pria itu hanya menyaksikannya dengan senyum terkembang. Dimas ikut beringsut ke dalam selimut, lalu memeluk tubuh istrinya dari belakang. Pria itu bahkan mendaratkan wajahnya pada ceruk leher Kalila. Dimas menggesekkan hidungnya di sana, lalu mengecup cuping gadis itu.
“Sabar lah Kalila, aku akan memberikan kau nafkah batin, besok,” bisik Dimas. Kalila mengernyitkan dahinya.
“Aku tidak menyangka, kalau kau begitu sangat menginginkannya.”
Brukk!!
Seketika Dimas terguling dari sisi Kalila. Gadis itu mendorong suaminya sekuat tenaga.
“Siapa yang menginginkannya?!” sungut Kalila. Dimas berusaha menahan tawanya. Kalila tetaplah Kalila. Gadis dengan gengsi setinggi langit. Padahal sudah sangat jelas jika gadis itu menginginkannya. Namun, ternyata Kalila masih menyangkalnya.
“Bang Dim tidurnya jauh-jauh sana! Jangan dekat-dekat!”
__ADS_1
“Kenapa? Kau takut tidak bisa menahan diri jika dekat-dekat denganku?” goda Dimas. Mata Kalila seketika membulat.
“Jangan mimpi!!”
Kalila kembali memunggungi Dimas, gadis itu menarik selimut hingga menutupi sebagian kepalanya.
“Si*al, sudah bikin baper dibiarkan gitu aja. Dasar gak bertanggung jawab!” benak Kalila.
Dimas berusaha sekuat tenaga menahan tawanya.
“Lihat saja Kalila, aku pastikan, besok kau akan mengiba padaku. Kau pasti akan melupakan gengsi kau itu, besok,” gumam Dimas.
Pria itu seketika teringat dengan buku yang dipinjamkan oleh Junior Faresta, satu Minggu sebelum pernikahan Dimas dan Kalila berlangsung. Saat itu, Dimas dan Junior serta Pak Sanjaya sedang mengadakan pertemuan bisnis. Kedua konglomerat itu, ingin Dimas menangani proyek pembangunan sebuah taman bunga.
Saat tau Dimas akan menikah, Junior sengaja meminjamkan kitab keramat dari mertuanya—Yohan Erlangga.
Saat membuka halaman pertama kitab itu, Dimas tercengang. Namun, Dimas dengan cepat menguasai isi kitab itu, demi membuat Kalila bahagia lahir dan batin.
Dan, malam pertama Dimas dan Kalila, dilalui mereka dengan beristirahat total.
***
Sejak bangun dari tidurnya, Kalila mendiamkan Dimas. Rasa kesalnya tadi malam, masih terasa hingga pagi ini. Bahkan, saat menyantap hidangan yang tersaji pagi ini, Kalila masih saja diam.
“Sayang ... Masa pengantin baru saling diam seperti ini sih,” keluh Dimas. Namun Kalila tetap diam. Gadis itu terus menatap televisi dan tak memedulikan Dimas.
“Apa kau tidak merindukan aku? Dua bulan loh kita tidak bertemu?”
Tak ada jawaban dari Kalila. Walau gadis itu sangat merindukan Dimas, tapi Kalila masih enggan berbicara. Dimas bahkan belum mengucapkan kata maaf saat memperoloknya tadi malam. Kalila benar-benar kesal.
Dimas hanya berpura-pura menghela napas berat. Semua ini memang sudah direncanakan oleh Dimas. Namun, Dimas tidak menyangka jika Kalila benar-benar terbuai dengan aksinya tadi malam. Hingga reaksi Kalila melebihi ekspektasinya. Rencananya akan sangat berhasil kali ini.
Sebenarnya Dimas ingin sekali merengkuh Kalila. Membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Rasa rindunya sangat membuncah. Namun, semua itu dia tahan demi satu tujuan. Kini, Dimas hanya menatap kalila sembari memilin rambut gadis itu.
“Sebentar lagi akan ada yang datang” ucap Dimas kemudian. Seketika Kalila menoleh.
“Siapa?”
__ADS_1
Baru saja Kalila bertanya tentang siapa yang akan menjemputnya seperti kata Dimas, seseorang di luar kamar tengah memencet bel. Dimas pun berlalu meninggalkan Kalila. Pria itu membuka pintu kemudian memanggil istrinya.
“Kau tau kan di kamar ini ada ruangan khusus untuk spa? Jadi, nikmati waktu kau, sayang. Aku tau kau pasti lelah,” ucap Dimas.
“Lila tidak terlalu lelah, Bang!” ketus gadis itu.
“Aku sudah mengeluarkan biaya untuk memesan semua ini. Sayang kalau kita tidak mengambil fasilitas yang ditawarkan. Laginya, Mba-mba ini juga sudah tiba di sini.”
Ucapan sang suami ada benarnya. Memesan kamar semewah ini, pasti tidak murah. Rugi rasanya jika tidak menikmati seluruh layanan yang diberikan. Bukankah layanan itu juga termasuk harga yang ditawarkan?
Akhirnya Kalila mengangguk setuju. Hampir dua setengah jam Kalila menikmati perawatan di seluruh tubuhnya. Kini, Kalila merasa segar dan harum mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Terima kasih ya Mba,” ucap Kalila saat mengantarkan ketiga wanita yang tadi merawat tubuhnya. Kalila masih menggunakan jubah mandi saat keluar dari ruangan spa mewah itu. Bahkan tidak ada sehelai benangpun yang menempel di balik jubah mandi itu. Dimas, tentu saja sudah mengetahui hal itu.
Dimas menyergap Kalila, saat gadis itu sudah menutup pintu kamar yang mereka tempati. Memeluk gadis itu dari belakang, Dimas langsung mendaratkan wajahnya di ceruk leher Kalila.
“Harum,” bisik Dimas. Kalila yang masih merasa kesal, tentu saja ingin segera melepaskan diri dari dekapan suaminya itu.
Kalila hendak mendorong wajah Dimas, agar segera menjauh dari lehernya. Namun, Kalila mendadak beku. Jemari pria itu sudah berada di titik paling sensitif miliknya. Kalila tak kuasa mendorong pria itu agar menjauh darinya.
Lutut Kalila melemas, saat jemari Dimas menari di bawah sana. Leher jenjang Kalila juga tak luput dari sapuan bibir Dimas. Sembari memeluk erat Kalila dengan sebelah tangannya, Dimas mengarahkan gadis itu hingga ke ranjang mereka.
Si*alnya kamar mewah itu terlalu luas, hingga jarak pintu ke ranjang mereka cukup jauh. Lambat laun Kalila melangkah dengan tertatih. Langkah kakinya dan gesekan jemari Dimas di bagian sensitifnya, membuat seluruh tubuh Kalila meremang, lututnya bahkan bertambah lemas. Kalila mendesis menahan rasa menggelitik sekaligus nikmat yang di bawah sana.
Kalila hampir limbung sewaktu Dimas melepaskan pelukannya. Beruntung Dimas menangkap kembali tubuh gadis itu. Jemarinya yang sejak tadi sibuk di bawah sana, seketika terlepas. Kalila menoleh, menatap dalam netra kecoklatan milik Dimas. Gadis itu menginginkan jemari Dimas kembali tertaut di sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Masih pemanasan ya 😂
Lanjut besok 🤭
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
__ADS_1