
Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka, semua mata tertuju ke sana. Dimas bahkan seketika berdiri dan hendak menghampiri Kalila. Namun dia ingat dengan sosok sang kakek yang juga berada di sana. Dimas urung melakukannya. Pria itu hanya berdiri sembari menatap Kalila.
Kenapa kau terlihat murung, Kalila? Apa yang diucapkan kakek?
Melihat Kalila yang murung, Dimas perlahan menghampiri gadis itu. “Are you okay?” bisik Dimas. Kalila menoleh, menatap Dimas. Rasa penuh iba menyeruak di dada Kalila. Gadis itu sengaja menarik bibir, agar membuat Dimas tak mengkhawatirkan dirinya.
Dahi Dimas berkerut melihat tatapan yang ditujukan Kalila padanya. Bersahabat selama hampir tujuh tahun, tidak pernah sekalipun Dimas melihat tatapan seperti itu dari manik kehitaman Kalila. Tatapan penuh rasa kasihan.
“Indra, kirimkan data proyek yang baru saja masuk kemarin, kepada dia!” perintah Adi Putra, dengan jarinya yang terarah kepada Dimas. Pria yang diperintah oleh Adi Putra pun segera mengambilkan data yang diminta oleh pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
Gilang dan Ibrahim terkejut mendengar permintaan Adi Putra. Pasalnya proyek yang dimaksud oleh pemilik PT. Adi Putra Group itu, adalah salah satu proyek besar. Menyerahkan proyek sebesar itu kepada karyawan baru, adalah tindakan gegabah menurut Gilang dan Ibrahim. Jika pria lanjut usia itu begitu membenci Dimas, tak seharusnya mengorbankan perusahaan seperti ini. Cukup dengan tidak menerima Dimas bekerja di perusahaannya.
Namun keputusan sudah dibuat oleh Adi Putra. Dimas dan Kalila harus menerima tantangan pria lanjut usia itu. Indra meminta Dimas untuk mengecek email yang dikirimkan olehnya.
Mengambil ponsel yang terdapat di saku celana, Dimas langsung membaca email yang dikirimkan oleh indra.
Manik kecoklatan milik Dimas, seketika melebar ketika membaca isi dari email tersebut. Sebuah proyek besar, dari salah satu crazy rich Indonesia. Melihat Dimas terpaku menatap layar ponselnya, Adi Putra menarik salah satu sudut bibirnya. Pria lanjut usia itu memang sangat meremehkan Dimas.
“Silakan kalian kerjakan proyek itu!” seru Adi Putra.
__ADS_1
“Papi yakin akan memberikan proyek itu kepada Dimas? Itu proyek besar Pi. Mereka baru bergabung selama satu bulan. Tidak bijak rasanya, jika memberikan proyek itu kepada Dimas,” ujar Gilang.
“Kalau dia berkuliah dengan benar. Dia pasti bisa mengerjakannya. Bukankah di bangku kuliah mereka sudah sering berlatih mengerjakan proyek?! Proyek itu tidak tergantung besar atau kecil, cara kerjanya semua sama. Jadi jangan banyak berdalih!”
“Mereka tidak akan bisa Kek. Client kita yang satu ini juga sedikit sulit untuk ditangani. Yang ikut tender juga banyak dan semua dari perusahaan yang namanya juga besar. Proyek itu pasti dikerjakan oleh karyawan yang paling berpengalaman. Kita akan kehilangan sepuluh juta Dollar, Kek,” jelas Ibrahim panjang lebar.
Adi Putra sependapat dengan cucu kebanggaannya. Dimas dan Kalila pasti tidak akan bisa memenangkan tender proyek itu. Namun, itulah yang diharapkan oleh Adi Putra, hingga dirinya bisa memaki Dimas selaku ketua proyek di depan semua staff.
Adi Putra juga tau betul apa yang dipertaruhkan. Sepuluh juta Dollar bukan angka yang kecil, itu nominal yang cukup besar. Namun, Adi Putra rela kehilangan keuntungan sepuluh juta Dollar itu, asal dia bisa puas memaki Dimas di muka umum.
Sementara itu, Kalila yang mendengar nominal sepuluh juta Dollar, seketika membelalak tak percaya. Gadis itu sedikit takut untuk menangani proyek itu. Bagaimana jika mereka gagal memenangkan tender tersebut? Bahkan gajinya selama satu tahun ditambah tunjangan hari raya dan juga bonus, hanya satu per seribu dari keuntungan tender itu.
“Kalau kalian bertiga bisa memenangkan tender itu, masing-masing dari kalian akan mendapatkan bonus sepuluh kali lipat gaji. Tapi, kalau gagal ... kau, harus melepaskan jabatan manager dan menjadi staff biasa!” ucap Adi Putra dengan jari yang terarah kepada Dimas.
Dimas dan Kalila hanya diam. Terlebih Kalila, gadis itu tidak mau kalau Dimas harus turun jabatan. Bukan kah sahabatnya itu adalah cucu dari pemilik perusahaan? Bagaimana mungkin hanya menjadi staff biasa? Kalila tidak akan membiarkan hal itu.
“Boleh kah jika kami menolak mengerjakan tender itu, Pak?” tanya Kalila. Adi Putra tertawa, tatapan meremehkan terus dia tujukan kepada Dimas.
“Berikan surat pengunduran diri kalian, jika tidak mau mengerjakan tugas yang saya berikan!” Kalila dan Dimas tercengang mendengar penuturan pria lanjut usia itu. Dimas sendiri tidak merasa keberatan jika harus menyerahkan surat pengunduran diri. Tapi pria itu tidak akan membiarkan Kalila dan Harry kehilangan pekerjaan baru mereka. Terlebih Kalila, bekerja di perusahaan Adi Putra adalah impian gadis itu, agar bisa dekat dengan pria pujaan hatinya. Walaupun impian Kalila itu menyakiti hati Dimas, tapi pria itu tidak akan membuat Kalila kembali kehilangan impiannya.
__ADS_1
“Kapan tenggat waktu pengajuan proposalnya?” Kali ini Dimas buka suara. Keberanian Dimas untuk bertanya, dijawab Adi Putra dengan tertawa. Pria lanjut usia itu merasa lucu, melihat Dimas dengan berani bertanya padanya, seolah dirinya mampu memenangkan tender itu.
Tidak mau menjawab pertanyaan Dimas, Adi Putra menepuk pundak Gilang. Ayah dari Ibrahim Adi Putra itu pun memberitahu tenggat waktu pengajuan proposal proyek besar itu.
Tak menjadi masalah buat Dimas jika harus melepaskan jabatan dan menjadi staff biasa. Namun, Dimas akan berusaha keras untuk memenangkan tender itu demi harga dirinya. Dimas hanya ingin menunjukkan kepada sang kakek, jika dirinya bukan manusia rendahan. Dirinya juga mampu memenangkan proyek besar seperti Ibrahim. Dimas sudah mempersiapkan kedatangan hari ini sejak lama.
Kalila juga akan berusaha keras memenangkan tender itu. Bukan hanya demi bonus sepuluh kali lipat gaji, ya ... walaupun bonus sepuluh kali lipat gaji, sangat menggiurkan. Bayangan akan mendapatkan uang enam puluh juta rupiah memang sangat menggiurkan. Tapi alasan kuat untuk Kalila bekerja keras memenangkan tender tersebut adalah, agar Dimas tetap berada di posisinya sebagai manager.
Jangka waktu dua bulan, mereka dapatkan untuk mengerjakan proyek tersebut. Mereka bertiga mendapat keuntungan, karena tidak lagi mengerjakan proyek lain dan hanya berfokus pada proyek milik salah satu crazy rich Indonesia itu.
Dimas dan Kalila diminta untuk kembali ke ruangan mereka dan mulai mempelajari proyek itu.
“Jangan ada yang membantu mereka. Jika saya mendapat laporan ada yang membantu mereka saya tidak segan-segan memecat mereka bertiga sekaligus!” ucap Adi Putra, ketika Dimas dan Kalila sudah tak lagi berada di ruangan tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...