
Satu Minggu berlalu.
Tenggat waktu yang diberikan oleh Khalid habis sudah. Perusahaan tempat Kalila melamar pekerjaan pun, masih belum memberikan jawaban. Kalila terpaksa mengemas seluruh barang miliknya. Bersiap untuk pindah ke kota Bogor. Menetap di sana. Entah sampai kapan.
Perihal kepindahannya ke kota Bogor, juga disampaikan oleh Kalila, kepada Dimas. Pria itu tentu saja antusias. Membayangkan bisa bertemu dengan Kalila sesering yang dia inginkan, sungguh membuat Dimas bahagia.
Namun, melihat wajah Kalila tidak bersinar seperti biasa, pria itu hanya tersenyum tipis menanggapi rencana kepindahan Kalila ke Bogor.
Melihat Dimas bereaksi sesantai itu, entah kenapa Kalila mendadak kesal. “Bang Dim, tidak senang kalau aku pindah ke Bogor?! Takut aku akan terus merepotkan Abang ya!” pekik Kalila. Dimas terperangah. Bisa-bisanya Kalila berpikir seperti itu.
“Hei ... Kenapa kau berpikiran seperti itu? Walau kau merepotkanku selama 24 jam penuh pun, tidak masalah bagiku,” ujar Dimas. Namun, wajah Kalila masih memberengut.
“Bukannya kau, yang tidak terlalu senang dengan keputusan ini? Aku harus bersikap bagaimana, Kalila? Kau saja tidak terlihat bersinar, ketika mengatakan akan pindah ke Bogor.” Kalila terdiam, menghela napas panjang.
“Apa kau lupa menghirup aroma sabun pencuci piring, Kalila? Kau sama sekali tak bersinar hari ini,” lanjut Dimas. Kalila menatap tajam pada pria yang kini ada pada layar ponselnya. Dimas pun tertawa geli.
“Kalila ... Pegang janjiku, jika kau membutuhkan sesuatu, aku— Dimas Adi Putra, akan selalu ada untuk kau. Mungkin sekarang aku hanya hadir secara virtual. Tapi nanti, jika kita sudah tinggal di kota yang sama, aku akan datang, mengetuk pintu rumah bang Alid, kemudian melakukannya apapun yang kau inginkan. Memberikan apapun yang kau butuhkan. Kau hanya tinggal mengatakannya saja,” ucap Dimas yakin. Bibir Kalila mengembang, kali ini gadis itu menatap Dimas seraya tersenyum lembut.
“Terimakasih Bang Dim. Bang Dim memang sahabat terbaik,” ucap Kalila. Kalila merasa sangat beruntung karena bisa bertemu dengan Dimas. Pria itu benar-benar selalu ada untuknya. Sesibuk apapun Dimas, pria itu pasti bisa menyisihkan waktu untuk Kalila.
Kalila bahkan pernah berandai-andai. Andai saja dia tidak bertemu sosok Ibrahim, andai saja sejak awal hatinya tidak tertambat nama Ibrahim, mungkin dirinya telah menjalin hubungan asmara dengan Dimas. Mungkin dia akan mengejar-ngejar cintanya Dimas.
Namun, semua itu hanya seandainya. Nyatanya, di hatinya masih terukir jelas nama Ibrahim Adi Putra. Dirinya dan Dimas pun sudah bersepakat untuk menamakan hubungan mereka sebagai sahabat.
Setelah panggilan video dengan Dimas berakhir, gadis itu pun memejamkan matanya. Mengistirahatkan tubuhnya. Karena besok pagi-pagi sekali, gadis itu dan ibunya harus berangkat ke bandara. Memeluk gulingnya erat-erat, mungkin ini yang terakhir kali.
__ADS_1
Sesaat sebelum Kalila memejamkan matanya, terdengar suara ketukan pintu. Ada Kairav berdiri di balik sana, ketika Kalila membuka pintu itu. Pria itu menerobos masuk begitu saja, Kairav bahkan menabrak pundak Kalila, hingga gadis itu hampir terjatuh. Namun Kalila tidak merasa kesal ataupun marah, gadis itu malah menatap Kairav sembari tersenyum tipis.
Melangkah menghampiri Kairav yang kini tengah terbaring di kasur miliknya, Kalila duduk persis di sebelah kakak lelakinya. Melipat kakinya, memeluk guling kesayangan sembari menatap Dimas. “Mulai besok kau bebas Bang. Tidak perlu menjagaku lagi. Tidak perlu mendengarkan ocehanku lagi setiap pagi,” ucap Kalila. Namun Kairav tak menghiraukannya. Pria itu masih memejamkan mata.
Lima menit berlalu dan Kairav hanya terbaring sembari memejamkan mata di sana— di kasur milik Kalila. Kalila yang merasa bosan karena mereka hanya saling diam di sana, mengguncang-guncang pundak Kairav. Pria itu bergeming, masih memejamkan matanya. Namun, beberapa detik setelah tubuhnya berhenti berguncang, pria itu akhirnya mengeluarkan suara.
“Kau masih bisa merubah keputusan, jika kau mau,” ucap Kairav. Kalila tertegun, menatap dekat pada Kairav yang kini tengah menatap langit-langit kamar Kalila.
“Kau berhak menentukan garis hidupmu sendiri. Kau berhak atas hidupmu sendiri. Jalankan sesuai keinginan kau, Kalila,” ucap Kairav. Kali ini pria itu membalas tatapan Kalila. Gadis itu menampilkan sebuah senyuman tipis, ketika Kairav balas menatapnya.
“Ini juga salah satu keinginan Lila kok, Bang. Walau tidak sepenuhnya. Tapi Lila juga ingin bekerja di kantor yang sama dengan Bang Ibra. Pasti menyenangkan bisa bertemu Bang Ibra setiap hari. Apalagi Bang Dim juga akan bekerja di sana. Pasti double menyenangkan!”
“Cita-cita kau berubah ya, Dek,” ungkap Kairav. Pria itu kini kembali menatap langit-langit kamar. “Padahal Abang ingat betul saat kau menginginkan menjadi seorang guru TK. Bukannya kau sangat mencintai anak-anak, Kalila?”
“Lila tetap akan menjadi guru, Bang. Setidaknya untuk anak-anak Lila nanti.”
Kalila mengangguk, gadis itu sebenarnya merasa haru mendengar ucapan Kairav. Tapi dirinya sungguh tidak ingin menangis saat ini. Kalila hanya ingin memberikan sebuah senyuman untuk Kairav. Agar kakak lelakinya itu tidak terlalu merasa khawatir terhadapnya.
Kalila tidak ingin menjadi beban pikiran buat kedua saudara kandungnya itu. Mengikuti segala keinginan Khalid, selalu berpura-pura jika dirinya baik-baik saja di hadapan Kairav. Begitulah cara Kalila, membahagiakan mereka. Hanya cara itu yang terpikir oleh gadis itu.
“Ingat Kalila, Abang kau bukan cuma satu. Jika kau tidak betah di sana dan ingin pulang, katakan. Abang yang akan menjemputmu.”
Kalila menganggukkan kepalanya. Gadis itu berusaha memberi senyum termanisnya kepada Kairav. “Terimakasih Bang. Bang Rav benar-benar sudah menjadi Abang yang sangat baik. Abang yang selalu mengerti Lila. Kalila bahagia menjadi adiknya Abang,” ucap gadis itu.
“Bisa saja kau,” ucap Kairav. Pria itu kini menegakkan tubuhnya. Beringsut duduk di pinggir kasur. Kairav kini menatap sang adik dengan lembut. Ini malam terakhir Kairav bisa melihat Kalila setiap hari. Karena esok, sang adik kesayangannya itu harus pindah ke luar kota. Mungkin mereka baru akan bertemu beberapa bulan ke depan. Tidak mungkin kan, salah satu dari mereka melakukan perjalanan Medan - Bogor setiap Minggu, ataupun setiap bulan?
__ADS_1
“Kalila ...,” panggil Kairav lembut. Gadis itu pun menatap Kairav. Mereka saling menatap dan melemparkan senyuman lembut. Kini, dua pasang mata itu saling menatap dalam.
“Kalila ... Sebenarnya, ada satu hal yang ingin Abang sampaikan kepada kau, sejak dulu,” lanjut Kairav. Kalila yang penasaran menatap Kairav semakin lekat.
Apa yang akan disampaikan oleh kakak lelakinya itu sejak dulu?
Mengapa baru kali ini Kairav ingin menyampaikannya? Apa mengenai ayah mereka? Apakah Kalila sebenarnya bukan adik kandung kedua kakak lelakinya itu? Ataukah ... sebenarnya dirinya adalah anak pungut?
Bermacam-macam pertanyaan yang ada di benak Kalila. Penyakit gila nomor 123 itu aktif kembali. Gadis itu semakin penasaran, karena Kairav seketika diam, dan tidak melanjutkan ucapannya. Pria itu bahkan sudah diam selama tiga menit tujuh belas detik.
“Bang Rav mau bilang apa sih?!”
Kairav masih diam. Pria itu bahkan menunduk sembari memijat kepalanya. Membuat rasa penasaran Kalila semakin menjadi-jadi. Gadis itu pun melontarkan salah satu pertanyaan yang ada di benaknya tadi.
“Apa Lila bukan anak kandung mamak? Apa Lila bukan adik kandung Bang Rav dan Bang Alid?!”
Kairav seketika mendongakkan kepalanya, menatap sang adik dengan ekspresi terkejut.
“Bagaimana kau —”
Bersambung ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...