Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 98


__ADS_3

Hari ini, hari pertama bagi Kalila dan Dimas bekerja di perusahaan milik keluarga Adi Putra— PT. Adi Putra Group. Tadi malam kalo agak kesulitan terlelap. Membayangkan akan bekerja di kantor dan divisi yang sama dengan Ibra, membuat gadis itu bersemangat hingga sulit terlelap. Hingga pagi ini Kalila sedikit mengantuk.


Bahkan Kalila terus mengungkapkan rasa antusiasnya kepada Dimas, ketika melakukan panggilan video tadi malam. Kalila sudah menyiapkan pakaian terbarunya, yang kemarin dia beli di Bogor supermall, pusat perbelanjaan milik keluarga Adi Putra. Gadis itu akan berusaha membuat Ibrahim terpesona setiap hari. Entah itu dengan penampilannya ataupun juga kinerjanya di perusahaan.


Bukan hanya Kalila. Bahkan Khalid pun merasakan hal yang sama. Dia ingin Ibrahim terpukau setiap hari melihat penampilan adiknya. Sengaja Khalid membelikan beberapa potong baju bermerk untuk dipakai Kalila ketika bekerja. Khalid ingin Ibrahim segera melamar Kalila. Setidaknya bertunangan terlebih dahulu.


“Kau pesan taksi online saja. Untuk hari pertama, kau harus terlihat memukau. Jangan sampai rambut kau acak-acakan karena harus pakai helm dan naik ojek,” ucap Khalid. Saat ini Khalid, Feni, Kalila dan Nissa, tengah menikmati sarapan bersama.


“Nanti kalau sudah beberapa Minggu bekerja, mungkin Khalid bisa mengantar dan menjemput kau bekerja. Itu semua tergantung bagaimana kau bisa menarik perhatian Ibra,” ucap Khalid.


Sejak tadi malam, bahkan hingga dirinya hendak berangkat bekerja pada pukul enam pagi, Khalid terus mengingatkan Kalila, untuk naik taksi ketika berangkat bekerja. Khalid bahkan memberikan uang seratus ribu rupiah, untuk ongkos naik taksi. Kalila tentu saja mengambil uang itu dengan sumringah. Karena tanpa Khalid dan Feni tau, Dimas sudah berjanji untuk menjemputnya pagi ini. Mereka akan berangkat bersama di hari kerja pertama mereka.


Kalila melambai-lambaikan satu lembar uang seratus ribu, yang diberikan Khalid padanya tadi. Kalila mengayunkan langkahnya dengan hati riang. Bukan karena hari ini adalah hari pertamanya bekerja. Bukan pula karena mulai hari ini, dia akan bertemu ibrahim setiap harinya. Melainkan karena uang seratus ribu rupiah yang diberikan oleh Khalid tadi. Sudah berpenghasilan, namun masih diberikan uang saku oleh kakak sulungnya, tentu saja Kalila senang. Selain itu, uang yang diberikan Khalid, sudah pasti akan utuh, karena hari ini Dimas berjanji akan berangkat kerja bersama.


“Sesenang itu kau disuruh naik taksi?” Kalila tersenyum dan menggeleng cepat. Gadis itu pun beranjak menuju kamar dan bersiap-siap, karena dalam waktu lima belas menit lagi, Dimas akan tiba di sana.


Kalila memoleskan sedikit make up pada wajahnya. Gadis itu pun membuka roll rambut yang sudah sedari tadi digunakannya. Kalila kembali menata rambutnya. Ketika penampilannya sudah dirasa oke, Kalila bergegas memakai sepatu dan menanti Dimas di teras rumahnya.


Kalila sengaja menanti Dimas dengan ditemani secangkir teh manis hangat. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk Dimas. Pria itu pun meminum habis teh buatan Kalila, ketika tiba di sana.


“Terima kasih tehnya, calon makmumku. Tapi teh itu sepertinya terlalu manis,” ucap Dimas, setelah pria itu menghabiskan tehnya.


“Masa sih Bang? Menurut Lila, manisnya sudah pas tadi.”

__ADS_1


“Apa mungkin karena aku meminumnya, sambil memandangi wajah kau?”


Seketika Kalila tergelak, mendengar kata-kata gombal dari bibir Dimas. Pria itu pun ikut tertawa bersama Kalila.


“Yuk berangkat,” ajak Dimas. Kalila pun menganggukkan kepalanya. Sebelumnya, gadis itu membawa cangkir bekas teh yang diminum Dimas tadi, ke dapur dan mencucinya.


Begitu Kalila ingin bergegas menghampiri Dimas. Feni menghalangi jalan gadis itu. Kalila menatap sahabat yang juga kakak iparnya itu dengan tajam. “Apa?!” ketus Kalila.


Feni pun membalas tatapan sahabatnya itu dengan tidak kalah tajam. “Kenapa kau dijemput Bang Dimas?”


“Memang dari kemarin, Bang Dimas berjanji akan menjemputku,” jawab kalila santai.


“Kesinikan uang yang diberikan Bang Alid. Kau kan tidak jadi naik taksi!” Kalila menyengir. Sementara Feni masih menatap tajam gadis itu. Namun dengan gesit, Kalila berhasil lolos dari Feni. Gadis itu dengan cepat melangkahkan kakinya, hendak menghampiri Dimas.


Kalila seketika menghentikan langkahnya, menghela napas kasar dan membalikkan badannya hingga kini menatap Feni yang tengah tersenyum penuh kemenangan.


“Beri aku lima puluh persen, maka rahasia kau akan aman. Kau dapat lima puluh persen, aku dapat lima puluh persen. Win win solution bukan?” ucap Feni santai.


Kalila kembali melangkah menuju teras rumahnya, mengambil satu lembar yang lima puluh ribu dari dompetnya, dan hendak kembali menghampiri Feni. Namun wanita itu ternyata sudah berada di ambang pintu dengan wajah sumringah.


Menatap tajam Feni, Kalila secara tidak ikhlas menyerahkan uang yang baru saja dikeluarkannya dari dompet tadi, kepada Feni. “Ini bukan win win solution seperti yang kau katakan tadi. Ini pemerasan!” ucap gadis itu.


Kalila kemudian mengambil tas kerja dan menyampaikan di pundaknya. “Yuk Bang, kita berangkat sekarang!”

__ADS_1


Dimas menatap Feni seraya menaikkan kedua alisnya, seolah bertanya, 'mengapa sikap Kalila seperti itu?' Dan Feni hanya menjawab dengan menaikkan kedua pundaknya bersamaan. Seolah gadis itu tidak tau menahu, alasan mengapa Kalila terlihat sewot seperti itu. Dimas tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Pria itu lalu berpamitan kepada Feni.


“Sudah cantik begini, jangan memulai hari dengan cemberut. Itu akan memengaruhi mood kau seharian,” ucap Dimas, begitu pria itu sudah melajukan kendaraannya. Kalila menghela napas kasar, kemudian menyeritakan hal yang terjadi antara dirinya dan juga Feni.


Dimas terkekeh-kekeh mendengar penuturan Kalila. Melihat reaksi Dimas, Kalila semakin bertambah kesal. Namun Dimas tak menghiraukannya. Pria itu tetap fokus menyetir. Tidak terlalu lama mereka berkendara, karena kediaman Kalila cukup dekat dengan kantor mereka.


Memasuki areal kantor, Dimas pun menuju basemen, tempat mobil-mobil terparkir. Melepas seat belt, Dimas kemudian menekan sebuah tombol, hingga pintu mobilnya bisa dibuka. Kalila mengeluarkan bedak, dan memerhatikan wajahnya, serta merapikan rambutnya.


“Mempunyai kakak ipar yang juga sahabat kau, pasti seru sekali ya,” ucap Dimas sembari memerhatikan kegiatan Kalila. Gadis itu menatap Dimas dan tersenyum lembut pada pria itu.


“Tentu saja seru sekali. Punya teman berbagi dan bertengkar setiap hari!” jawab Kalila antusias. Gadis itu lantas menyimpan kembali bedaknya, dan membuka pintu mobil.


“Punya kakak ipar yang juga sahabat sendiri saja, sudah seru. Bagaimana kalau mempunyai suami, yang juga sahabat sendiri?” ucap Dimas. Mendengar pernyataan Dimas, Kalila tak jadi keluar dari kendaraan itu. Kalila menoleh. Kini gadis itu itu menatap Dimas yang tengah tersenyum lembut padanya.


“Maksud Bang Dim?” tanya Kalila.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...

__ADS_1


__ADS_2