
“Woiii ... Dasar adik tidak tau malu. Ada calon suami datang, malah disambut dengan rambut berantakan!” celetuk Kairav. Kalila menoleh. Ada Kairav yang tengah duduk bersama Dimas dan Nissa di sofa ruang keluarga, persis di depan kamar Kalila.
Wajah Kalila seketika memerah, saat beradu pandang dengan Dimas. Namun, gadis itu cepat menguasai situasi. Dengan angkuh, Kalila berjalan menuju kamar mandi.
“Cuek,.dia Bang,” ucap Dimas.
“Aku kenal betul Kalila Nasution. Gengsinya gede. Pasti dia lagi menahan malu itu!”
Teriakan Khalid mengiringi langkah kaki Kalila. Gadis itu semakin mempercepat langkahnya. Dan menutup pintu kamar mandi dengan cepat.
Kalila lantas berjongkok dan menutup wajahnya.
“Lilaaa ... Dasar bodoh kau!! Bisa-bisanya keluar dengan rambut acak-acakan di depan Bang Dim!!” ucap Kalila, dengan suara teriak yang tertahan. “Bang Dim itu calon suami kau, Lilaaa ...! Dasar tidak tau malu!”
Aaah .... Kalila benar-benar ingin berteriak karena malu. Tapi tentu saja itu tidak mungkin dilakukannya. Karena hal itu tentu akan membuatnya semakin kehilangan muka di hadapan Dimas.
Baru kali ini Kalila peduli dengan penampilannya di hadapan orang lain. Terlebih orang itu adalah Dimas. Padahal dirinya sudah beberapa kali mereka menginap bersama. Dimas tentu saja sudah sering melihat wajah bangun tidur Kalila. Mereka bahkan sudah beberapa kali menginap di kamar yang sama.
“Ini semua karena Bang Rav! Coba kalau Bang Rav tidak mengejekku, pasti aku akan biasa saja dan tidak kikuk seperti sekarang. Dasar Abang tidak ada akhlak!” umpat Kalila.
Hampir setengah jam Kalila di kamar mandi. Padahal gadis itu hanya buang air kecil serta mencuci wajah sekaligus menyikat giginya. Harusnya, waktu lima belas menit, lebih dari cukup untuk mengerjakan itu semua.
Sebenarnya, tidak sampai lima belas menit Kalila mengerjakan hal itu. Tapi gadis itu masih belum berani menunjukkan wajahnya ke hadapan Dimas. Lima belas menit berikutnya, Kalila sibuk mempersiapkan mentalnya.
“Kau lama sekali di dalam. B*rak ya?!” pekik Kairav.
Abangnya yang satu itu memang minim akhlak. Bisa-bisanya Kairav mengucapkan hal itu, ketika ada calon adik iparnya di sana. Kalila tentu saja merasa malu.
Gadis itu pun bergegas masuk ke kamar. Namun, saat jemari Kalila hendak meraih handle pintu kamar, Dimas mencekalnya.
“Sarapan bersama yuk,” ajak Dimas. Kalila melirik pria itu sekilas. Entah mengapa Kalila tidak sanggup memandang wajah Dimas. Debar jantung tak karuan saat Dimas sangat dekat dengannya.
“Kau mau sarapan apa?”
__ADS_1
Belum sempat Kalila menjawab, Bu Alinah muncul di samping mereka. “Mamak sudah masak kok. Kalian sarapan di rumah saja. Lila kan belum bisa makan sembarangan.” Kalila dan Dimas serempak mengangguk.
“Tadi sudah mamak siapkan di meja makan. Ayo Lila, ajak Dimas sarapan,” lanjut Bu Alinah. Sepasang muda-mudi itupun melangkah menuju ruang makan.
Dimas langsung mengambil sebuah piring dan mengisinya dengan nasi. “Segini sudah cukup belum?”
Kalila yang sedang memerhatikan Dimas sejak tadi, terperangah. Gadis itu pikir, Dimas benar-benar merasa lapar, hingga langsung mengambil piring saat mereka tiba di meja makan.
“Itu buat Lila?”
“Iya ... Kau kan sedang sakit, biar aku yang ambilkan makanan. Atau, mau aku suapi juga?”
Kalila menggelengkan kepalanya. “Itu buat Bang Dim saja. Biar nanti, Lila ambil makanan sendiri.”
Namun, Dimas tak menggubris ucapan Kalila. Pria itu kemudian mengisi piring tersebut dengan lauk pauk yang tersedia. Dimas lalu meletakkan piring yang sudah terisi penuh ke hadapan Kalila.
“Ini terlalu banyak Bang. Lila lagi tak selera makan.”
Lagi, Dimas tak menggubrisnya. Pria itu menarik kursi di samping Kalila, dan duduk di sana. Dimas mengambil potong yang ada di hadapan Kalila dan mulai menyendokkan nasi beserta lauknya, kemudian diarahkan kepada Kalila.
Dimas pun menyuapi gadis itu dengan telaten. Sesekali Dimas menyeka ujung bibir Kalila. Kini, Dimas dan Kalila makan dari piring dan sendok yang sama.
“Mau nambah tidak?” tanya Dimas. Kalila menggelengkan kepalanya. Gadis itu memang masih belum berselera makan. Dimas lalu mengambilkan minum dan mengarahkannya kepada bibir Kalila.
“Terima kasih Bang Dim,” ucap Kalila.
“Kembali kasih, sayang.”
Kalila kembali salah tingkah. Ini pertama kali Dimas memanggilnya sayang secara langsung. Kalila merasa kerongkongannya kembali kering setelah mendengar ucapan Dimas. Gadis itu mengambil gelas yang berisikan air putih tadi.
“Apa sih Bang Dim, panggil-panggil sayang!” sungut Kalila. Gadis itu pun menenggak air putih yang sudah dipegangnya.
“Itu karena aku menyayangimu, Kalila. Aku cinta kau sejak pertama kita bertemu.”
__ADS_1
Kalila seketika menyemburkan cairan yang ada dalam mulutnya. Gadis itu tak menyangka kalau Dimas akan mengungkapkan perasaannya. Kalila benar-benar terkejut.
Sementara Dimas ... Wajah pria itu basah karena terkena semburan dari mulut Kalila.
“Kau seperti mbah dukun saja.”
Ucapan Dimas menyadarkan Kalila. Gadis itu panik karena telah membuat wajah Dimas basah kuyup. Kalila mengambil beberapa lembar tissue dan mengelap wajah Dimas yang basah.
“Maaf ... Maaf Bang Dim, Lila tidak sengaja,” ucap Kalila panik. Dimas hanya tersenyum. Pria itu sibuk memandangi wajah Kalila yang begitu dekat padanya. Dengan telaten Kalila membersihkan wajah Dimas.
Saat wajah Dimas telah kering sepenuhnya, Kalila hendak menarik diri agar tak terlalu dekat dengan Dimas. Namun pria itu mencekal tangannya. Dimas menatap dalam manik kehitaman milik Kalila. Menatap mata yang selalu bersinar itu dengan tajam.
“Dari jarak sedekat inipun, kau terlihat sangat cantik, Kalila,” bisik Dimas. Kalila terpaku. Gadis itu merasa kerongkongannya kembali kering. Berulang kali Kalila bersusah payah menegak salivanya.
Ditatap sedemikian lekat oleh Dimas, dan dalam jarak yang begitu dekat, Kalila merasa jantungnya hendak melompat keluar. Bau tubuh pria itu bahkan tercium dengan sangat jelas. Kalila menyukainya. Bau tubuh itu seolah membuat Kalila menjadi candu.
Kalila sibuk menahan jantungnya agar tak melompat. Tanpa disadarinya, wajah Dimas sudah semakin dekat dan semakin dekat. Mereka hanya berdua di ruang makan ini.
Apakah mereka akan mengulang kembali kejadian di kamar rumah sakit, kemarin malam?
Kalila tidak berusaha menghentikan aksi Dimas yang semakin mendekat. Dimas mengelus lembut wajah Kalila dengan jemarinya. Kalila bahkan memejamkan matanya. Menikmati sentuhan demi sentuhan jemari Dimas pada wajahnya.
Kalila seakan berhenti bernapas saat jemari Dimas mulai mengusap lembut bibirnya. Gadis itu bahkan sedikit membuka bibirnya. Aksi Kalila seakan mengisyaratkan Dimas untuk segera menyesapinya.
Wajah Dimas semakin dekat. Hembusan napas mereka seolah saling bersahutan. Dimas juga sudah membuka bibirnya dan siap melahap bibir Kalila.
“Woy! Ngapain tuh!”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...