
Sepulangnya dari kediaman Kalila dan Dimas, pasangan Ibrahim dan Anneke hanya saling diam selama perjalanan. Anneke masih belum sanggup membuka suara. Wanita itu sedang berusaha menerima keadaan, jika ada wanita lain di hati sang suami. Wanita yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri.
Menyesal Anneke tidak mendengarkan ucapan sang ibunda. Kala itu, Anneke benar-benar menutup mata dan telinga dari ucapan buruk semua orang tentang Ibrahim. Bukan hanya ucapan dari ibu kandungnya, tapi juga ucapan seorang pria yang pernah melamarnya. Pria itu adalah Kairav Nasution— kakak lelaki Kalila.
Saat itu, Anneke begitu terpesona dengan sosok Ibrahim. Hingga wanita itu hanya mendengar dan memercayai setiap kata yang terlontar dari bibir pria itu.
Andai saat itu Anneke lebih mendengarkan peringatan dari orang di sekitarnya, tentu dia tidak akan terjebak di situasi seperti sekarang.
Terpaksa dirinya harus menelan pil pahit ini, sambil berharap sang suami secara perlahan dapat melupakan Kalila.
Anneke tidak mau menjadi janda, terlebih usia pernikahannya dengan Ibrahim, baru berjalan tiga bulan. Wanita itu akan berusaha memikat hati Ibrahim.
Sedangkan Ibrahim, pria itu sibuk dengan pergolakan hatinya.
Salah satu sisi dirinya, sangat bangga memiliki Anneke sebagai istri. Prestasi wanita itu luar biasa. Anneke juga berasal dari keluarga terpandang. Terlebih bagi warga Jawa Barat.
Baskoro—ayahnya Anneke— merupakan salah satu orang berpengaruh dalam dunia pendidikan di Jawa Barat.
Sementara itu, di sisi lain dirinya, Ibrahim ingin memiliki Kalila. Bayang-bayang wanita yang kini menjadi iparnya itu, terus menari di pikirannya. Hatinya bergemuruh saat melihat kemesraan antara Dimas dan Kalila.
Mungkinkah rasa cinta pria itu terhadap Kalila masih ada?
Atau mungkin, selama ini cinta itu tidak pernah pergi dan terus ada di sana? Namun tertutup oleh obsesinya terhadap Anneke?
Ibrahim semakin bingung dengan apa yang dirasanya kini.
Alunan musik dari radio di mobil itu, membuat sepasang suami-istri itu terhanyut dengan perasaan mereka masing-masing.
Terlebih Anneke, wanita itu tak bisa lagi menahan air matanya. Kata demi kata, bait demi bait, dalam lirik lagu yang dinyanyikan oleh Tiara Andini itu, begitu menusuk hingga rasa sakit yang sejak tadi dirasanya, menyeruak begitu saja, bahkan semakin bertambah nyeri.
^^^Andai engkau bisa mengerti^^^
^^^Betapa beratnya aku^^^
^^^Harus aku tetap tersenyum^^^
^^^Padahal hatiku terluka^^^
^^^Adakah arti cinta ini^^^
^^^Bila ku tak jadi denganmu^^^
__ADS_1
^^^Jika memang ku harus pergi^^^
^^^Yakinlah, hatiku kamu ...^^^
^^^Mengapa cinta pertemukan^^^
^^^Bila akhirnya dipisahkan^^^
^^^Dan mengapa ku jatuh cinta^^^
^^^Pada cinta yang tak jatuh padaku^^^
Mengapa cinta pertemukan, bila akhirnya dipisahkan?
Saat mendengar bait lagu itu, Anneke merasa menyesal mengenal sosok Ibrahim. Karena Ibrahim muncul dihadapannya sebagai pria yang sangat sesuai dengan kriterianya.
Jauh sebelum dirinya bertemu dengan Ibrahim, cerita yang dilontarkan oleh Adi Putra— kakek pria itu— mengenai keinginan cucunya mengajar di pelosok negeri, benar-benar membuat Anneke kagum.
Hingga saat Anneke bertemu dengan Ibrahim, wanita itu seketika jatuh hati.
Bagaimana bisa, wajah setampan itu bisa mempunyai niat tulus demi membantu pendidikan di daerah tertinggal? Karena pria-pria yang Anneke kenal, lebih memilih menghamburkan uang orang tua hanya demi gaya hidup.
Anneke semakin terjerat akan cinta Ibrahim, ketika mendengar pria itu melantunkan ayat suci dengan sangat merdu. Siapa pun yang mendengar suara pria itu mengaji, pasti akan langsung jatuh hati.
Anneke terus menyeka air matanya selama perjalanan. Ibrahim, sama sekali tak memerhatikannya.
***
Ceklek!
Pintu ditutup. Semua tamu kini telah pergi. Hanya ada Dimas dan Kalila di ruang apartemen mewah seluas 112m² itu. Begitu menutup pintu, Dimas langsung mengungkung wanitanya. Memberikan kecupan-kecupan kecil di seluruh wajah Kalila. Spontan wanita itu mengalungkan lengannya pada leher Dimas.
Dan mereka kembali melakukannya. Bahkan dalam satu hari, mereka melakukannya di ruangan berbeda. Ruang tamu, ruang keluarga, kamar mandi, bahkan hingga di kamar tamu.
“Ini semua demi bunda dan mamak. Biar mereka cepat punya cucu.”
Seperti itulah Dimas berdalih. Dan Kalila pun hanya bisa menuruti sang suami. Karena begitu Dimas menyentuhnya, Kalila langsung bertekuk lutut. Pasrah ... dan menyerahkan diri seutuhnya pada permainan pria itu.
Satu Minggu sudah usia pernikahan Dimas dan Kalila. Kini wanita itu harus kembali bekerja di PT. Adi Putra Group. Sementara Dimas sibuk mempersiapkan perusahaan barunya. Dengan bantuan Junior Faresta dan Reinaldo, pendirian perusahaan milik Dimas tidak memiliki kendala sedikit pun. Bahkan, bulan depan, perusahan itu mulai mengerjakan proyek pertamanya.
*
__ADS_1
Sudah tiga Minggu Kalila pergi bekerja. Setiap pagi, Dimas selalu membuatkan sarapan untuk istrinya itu. Nasi goreng, roti telur, sandwich, omelette, bahkan Dimas juga meminta kepada Feni, resep bubur ayam kuah soto yang merupakan makanan kesukaan Kalila.
Pria itu benar-benar membuat Kalila bagai ratu. Tak pernah sekalipun istrinya yang sudah lelah bekerja itu, melakukan pekerjaan rumah tangga. Segala hal yang berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga, akan dikerjakan oleh Dimas.
Tugas Kalila hanyalah melayani kebutuhan biologis Dimas. Selebihnya, Dimas yang akan melakukan semuanya.
Pria itu juga mengantarkan Kalila ke kantor serta menjemputnya pulang.
Sejak mendapati Ibrahim menatap istrinya, ada rasa khawatir di diri Dimas setiap melepaskan Kalila pergi bekerja. Selama tiga bulan pernikahan, berulang kali Dimas meminta sang istri untuk melepaskan pekerjaannya. Namun sepertinya Kalila masih enggan. Wanita itu masih ingin berdiri di atas kakinya sendiri.
“La ... Kau tercatat sebagai pemegang saham di perusahaan kita. Kau mendapatkan persenan keuntungan perusahaan. Kau tidak perlu lagi bekerja untuk menghasilkan uang,” pinta Dimas. Pria itu sudah mulai kesal. Pasalnya, semakin hari Ibrahim semakin menunjukkan gelagat mencurigakan. Ibrahim bahkan terang-terangan menunggu Kalila setiap pagi kemudian menaiki elevator bersama.
“Bang ... kita sudah membicarakan hal ini, bahkan dari sebelum menikah. Bang Dim bahkan sudah tau, jika Lila ingin menjadi wanita karir seperti mamak.”
“Kau bisa mengurus perusahaan kita, Sayang.”
Namun Kalila malah menggelengkan kepalanya. “Bang ... kalau Lila kerja di perusahaan Bang Dim, orang-orang akan memandang Lila dengan sebelah mata. Mereka pasti berpikir, jika Lila mendapatkan kesempatan bekerja di sana karena Lila istrinya Bang Dim.”
“Aku rasa kau hanya mencari-cari alasan saja! Sebenarnya kau masih ingin dekat-dekat dengan dia kan?!” geram Dimas. Padahal selama tiga bulan pernikahan, dirinya sudah memberikan yang terbaik untuk Kalila. Pria itu membuat Kalila bagai ratu. Namun menuruti satu keinginannya pun Kalila tak mau.
“Alasan apa sih Bang?” rengek Kalila. Jika biasanya dengan rengekan Kalila berhasil meluluhkan hati Dimas, namun tidak untuk kali ini.
“Bilang saja kalau kau masih ingin dekat dengan pria itu!”
“Pria siapa?” tanya Kalila.
“Siapa lagi? Ya cinta pertama kau itu!”
Kalila tercekat. Baru kali ini dirinya melihat Dimas semarah ini. Sejak kenal dengan pria itu, Dimas selalu bersikap lembut padanya. Tak pernah Dimas membentaknya seperti ini.
Wanita itu sedikit gemetar.
“Aku pergi!”
Gegas Dimas mengambil kunci mobil dan meninggalkan Kalila begitu saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...