
Tujuh hari Ibrahim harus membantu Dhea untuk melesakkan obat keputihan itu ke dalam tubuh wanita itu. Selama tujuh hari pula Ibrahim sekuat tenaga menahan hasratnya pada Dhea. Bukannya Ibrahim tak mau memberikan nafkah batin kepada Dhea, pria itu hanya merasa takut. Dirinya takut, jika Dhea tau masa lalunya, wanita itu akan merasa jijik terhadapnya.
Maka dari itu, Ibrahim hanya bertekad untuk membantu menyelamatkan harga diri wanita itu di mata keluarga besar dan tetangga. Agar anak yang dikandung oleh Dhea itu, memiliki ayah. Agar anak itu tidak mendapatkan julukan anak haram. Seperti yang dirinya sematkan kepada Dimas, dahulu.
Tapi, berminggu-minggu dilewatinya bersama Dhea. Benih-benih cinta itu timbul. Keinginan untuk memiliki Dhea seutuhnya, semakin hari semakin besar. Tapi, bisakah Dhea menerima masa lalunya yang begitu kotor?
“Sebaiknya, A' Ibra berterus-terang kepada Teh Dhea,” ucap Dimas, saat dirinya menghampiri Dimas di kantor sepupunya itu. Ibrahim menghela napas berat. Pria itu memang ingin sekali mengungkapkan rasa cintanya kepada Dhea. Tapi, lagi-lagi Ibrahim masih tak percaya diri. Pria itu takut akan masa lalunya yang menjijikkan.
“Jangan sampai A' Ibra menyesal di kemudian hari. Bisa saja, suatu saat Teh Dhea terpikat dengan pria lain. Apa A' Ibra mau seperti itu?”
Wajah Ibrahim seketika pucat. Membayangkan jika Dhea akan pergi dari hidupnya, membuat Ibrahim sulit bernapas.
“Lagian, Teh Dhea itu istri sah A' Ibra. Suami wajib memberikan nafkah lahir dan batin kepada istrinya. Bukan malah pisah ranjang sejak malam pertama!”
Ibrahim terdiam. Karena ucapan Dimas, pria itu merasa dirinya telah berlaku dzalim pada sang istri. Ibrahim sama sekali tak pernah memberikan nafkah itu pada Dhea. Tapi, apakah wanita itu mau, melakukan hal itu dengannya?
“Lebih baik, A' Ibra segera bicarakan hal ini dengan Teh Dhea. Cobalah membina rumah tangga yang baik. Terbuka satu sama lain. Saling menyayangi dan mengasihi. Aku ingin A' Ibra bahagia bersama Teh Dhea selamanya. Keluarga kita juga pasti berharap hal yang sama.”
Setelah berbincang dengan Dimas, Ibrahim tidak lagi kembali ke kantor. Pria itu segera pulang menemui Dhea, dan ingin mengungkapkan perasaannya kepada istrinya itu.
Ibrahim langsung menghampiri Dhea di kamarnya. Tanpa permisi, Ibrahim membuka pintu kamar itu. Dhea yang mendengar suara pintu kamarnya terbuka, seketika berteriak. Pasalnya, wanita itu sedang tak berbusana, karena baru saja selesai mandi.
Sejak perutnya bertambah besar, wanita itu kerap merasa gerah, dan sering sekali mandi. Ibrahim terpaku menatap wanita yang tengah membuncit itu. Sementara Dhea gegas membuka lemari dan mencari bajunya. Tapi karna gugup, Dhea bingung dengan apa yang harus dilakukannya.
Sementara Ibrahim, pria itu kini tengah menunduk dan mengambil handuk yang tergeletak di lantai. Ibrahim menggenggam jemari Dhea dan menuntun wanita itu hingga duduk bersandar di ranjang. Dengan perasaan yang tidak menentu, Dhea pun mengayunkan langkahnya, mengikuti sang imam. Ibrahim lalu mengeringkan rambut Dhea dengan handuk yang ada di tangannya.
Debaran jantung Dhea semakin cepat, kala Ibrahim kini tengah mengecup pundaknya. Kini, Dhea bahkan sudah meremas sprei, karena lidah Ibrahim kini sudah menari dan bermain dengan salah satu buah cerinya.
__ADS_1
Dhea pun melenguh, saat jemari Ibrahim sudah membelai area sensitifnya.
“Berbaringlah.”
Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, Dhea pun menuruti perintah itu. Sementara Ibrahim, kini melucuti pakaian, hingga tak ada sehelai benang pun di tubuhnya.
Membuka lebar kaki sang istri, dengan perlahan Ibrahim memasuki tubuh Dhea, hingga wanita itu mendesis. Ibrahim melakukannya dengan sangat lembut. Pria itu takut akan menyakiti janin yang ada di rahim sang istri. Ibrahim bergerak maju mundur dengan perlahan, hingga pria itu menyemburkan laharnya di dalam sana.
Ibrahim merebahkan tubuhnya di samping Dhea, setelah pergumulan yang lembut itu. Namun, Dhea segera berbalik badan, memunggungi Ibrahim. Hal itu membuat hati Ibrahim mencelos.
“Maaf atas perbuatanku. Aku tau jika aku salah. Aku melakukan tanpa izin dari kau. Kau memang pantas marah.”
Dhea terkejut dengan ucapan Ibrahim. Dirinya sama sekali tidak merasa marah. Wanita itu malah merasa sangat bahagia saat ini. Karena akhirnya, Ibrahim mau memberikan nafkah batin padanya.
“Apa kau mau memaafkan aku Dhe?”
“Aku tau kau marah. Jangan membohongiku. Jika kau tak marah, tak mungkin kau langsung berbalik badan, setelah aku menuntaskan hasratku,” lirih Ibrahim.
“Tidur dengan posisi berbaring, lebih dari sepuluh menit, itu membuat Dhea sulit bernapas, Kang. Rasanya sesak. Dokter juga menyarankan agar aku tidur miring, agar aliran oksigen lancar. Kang Ibra pernah dengar kan, dari dokter kandungan?”
“Tapi kan kau bisa tidur miring ke arahku. Jika kau—”
“Aku malu.”
Alasan Dhea, berhasil membuat bibir Ibrahim mengembang. Pria itu lantas memeluk sang istri. “Dhea ... Aku mencintaimu,” bisik Ibrahim. Kini terdengar suara Isak tangis dari bibir Dhea. Ibrahim gegas melepaskan pelukannya.
“Maaf Dhe ... Tidak seharusnya aku memiliki perasaan itu. Tapi, aku hanya ingin mengungkap perasaanku saja. Jangan kau jadikan beban. Kau tidak perlu membalas perasaanku.”
__ADS_1
Jika dulu Ibrahim adalah pria yang penuh percaya diri. Pria yang selalu merasa dirinya adalah pria sempurna. Tapi, kini, Ibrahim menjadi pria dengan kepercayaan diri yang rendah. Perbuatan buruknya di masa lalu, membuat dia menjadi pria yang tak percaya diri. Membuatnya selalu merasa takut, jika dia akan kembali menyakiti wanita yang dekat dengannya.
Sementara itu, dengan perlahan Dhea membalikkan badannya. Kini wanita itu menatap lekat netra kecoklatan milik Ibrahim. Tanpa banyak bicara, Dhea memajukan wajahnya. Hingga bibir mungil itu mengecup singkat bibir sang suami.
“Dhea juga mencintai Akang. Sejak Akang melepaskan kaos yang Akang kenakan, dan memberikannya padaku, sejak itu Dhea sudah mencintai Akang.”
Wajah Ibrahim berbinar. Hatinya seakan dipenuhi oleh kembang api yang meledakkan cahaya-cahaya indah. Pria itu merasa sangat bahagia. Dengan rasa haru, Ibrahim mengulum lembut bibir wanita itu. Wanita yang kini dipujanya. Ibrahim sangat takut kehilangan Dhea.
Saling bertukar saliva, Ibrahim dan Dhea persis orang yang sedang dimabuk asmara. Perbedaan umur 17 tahun, tidak menghalangi rasa cinta untuk tumbuh di hati keduanya.
“Terima kasih karena sudah mencintaiku, Dhe,” ucap Ibrahim saat mereka baru saja selesai mengatur napas yang tadinya tersengal-sengal karena hampir kehabisan oksigen.
“Tapi ada yang harus kau tau tentang masa laluku. Aku tidak mengapa, jika perasaan kau berubah karenanya.”
Ibrahim pun menyeritakan masa lalunya. Tentang bagaimana dia bersikap dengan istri pertamanya. Tentang bagaimana dirinya membayangkan istri sepupunya saat tengah bergumul dengan istri pertamanya. Tentang bagaimana dirinya bertemu dengan istri keduanya. Tentang bagaimana akhirnya mereka berpisah dan menjadikannya pecandu alkohol. Dan tentang kondisinya yang tidak bisa memiliki keturunan.
Ibrahim tertunduk. Menyeritakan masa lalu yang begitu buruk, masa lalu yang sebenarnya tak ingin kau ingat lagi, adalah hal yang sangat berat. Ibrahim bahkan hingga menangis sesenggukan.
Dhea menatap tak percaya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
__ADS_1