
“I love you too, suamiku.”
Dimas terdiam. Tubuhnya kaku. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Dimas bahkan lupa caranya bernapas. Pria itu mematung, menatap Kalila pada layar ponselnya.
Kalila bahkan harus memanggil Dimas berulang-ulang kali. Namun pria itu tetap mematung. Kalila pun mendadak kesal, melihat sikap Dimas. Gadis itu, lantas memutuskan secara sepihak panggilan video mereka.
“Yasudah deh, kalau Bang Dim mau jadi patung terus. Lila sudah mengantuk. Selamat jadi patung, Bang Dim. See you tomorrow,” ucap Kalila. Gadis itu seketika menekan tombol merah yang terdapat pada layar ponselnya.
Sementara itu, Dimas masih terdiam di sana. Pikirannya masih terngiang-ngiang dengan balasan ungkapan cinta dari Kalila tadi.
“Aku berharap, suatu saat kau mengucapkan kata-kata itu kembali, untukku, Kalila. Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Apa kau tau?” gumam Dimas, setelah panggilan video itu berakhir lima belas menit yang lalu.
Dimas langsung menghubungi Kairav. Tidak seperti rencana awal. Dimas menghubungi Kairav untuk meminta maaf karena sikapnya yang sudah memperolok Kairav, tadi. Rencananya pria itu akan meminta maaf kepada kakak lelaki Kalila, yang sudah dia anggap seperti kakak lelakinya sendiri.
Namun, karena kejadian tadi, malah Kairav lah yang mendengar curahan hati Dimas.
“Yasudah, kau utarakan dengan benar, perasaan kau sesungguhnya kepada Kalila. Kau ini penakut sekali. Jadi pria harus gentle donk!”
“Seperti kau gentle saja, Bang! Kau saja mengirimkan pesan kepada Anneke, tidak berani!”
“Bukannya tidak berani, aku hanya menunggu waktu yang tepat. Aku sedang memikirkan kata-kata yang bagus. Gadis seperti Anneke itu, tidak boleh diberikan kata-kata sembarangan. Harus kata-kata yang indah.”
Dimas terkekeh, “satu Minggu, Bang. Sudah satu Minggu berlalu, tapi kau belum mengirimkan satu pesan pun!” ucap Dimas yang masih terkekeh. Dimas menatap malas pada layar ponselnya. Melihat tatapan Kairav, Dimas pun meminta maaf.
“Tapi Dim, Mamak bahkan menginginkan kau yang jadi menantunya,” ucap Kairav kemudian.
Dimas tersenyum tipis, “sayangnya, Kalila menginginkan pria lain, Bang. Dan sialnya, pria itu sepupuku sendiri.”
Kali ini Kairav yang menertawakan nasib Dimas. “Sial betul kau, Dim,” ucapnya. Kedua pria itu terkekeh bersama.
__ADS_1
Dan, setelah perbincangan itu, Kairav memberanikan diri untuk kembali mengirimkan pesan kepada Anneke.
^^^“Hai Anne, aku senang sekali bisa berkenalan dengan Kau. Semoga kedepannya kita bisa saling mengenal lebih dekat. Selamat malam Anne, semoga mimpi indah.”^^^
Begitulah isi pesan yang dikirimkan oleh Kairav. Pria itu meletakkan ponsel tepat di sampingnya. Dengan jantung yang terus berdetak kencang, Kairav membisu, menatap langit-langit kamarnya. Beberapa detik kemudian, dengan tergesa-gesa, Kairav menyambar ponselnya.
Bergegas membuka laman sosial medianya, melihat pesan yang tadi dia kirimkan kepada Anneke. Pria itu bernapas lega, “syukurlah belum dibaca.” Kairav menekan pesan itu sedikit lebih lama, kemudian menekan gambar tong sampah. Pria itu menghembuskan napas panjang. Akhirnya, dia bisa tertidur dengan lelap.
Dan lagi-lagi, Kairav tidak berhasil menjalin komunikasi dengan Anneke.
***
Sudah satu bulan Kalila menjadi staff tata usaha. Sudah lima kali pula, gadis itu ikut bersama Anneke mengajar para siswa taman kanak-kanak tempatnya bekerja. Kalila teramat bahagia bekerja di sana.
Terlebih hari ini ... Karena hari ini, Kalila menerima gaji pertamanya. Sebelum azan Zuhur berkumandang, sebuah suara notifikasi terdengar dari ponselnya. Wajah Kalila seketika sumringah, ketika membaca pesan yang tertulis di ponselnya. Sejumlah uang, telah berhasil di kirim ke rekening milik Kalila. Gaji pertamanya, sudah bisa dinikmati.
Kalila pun membuka aplikasi mobile banking miliknya. Senyum Kalila semakin sumringah, saat melihat deretan angka di sana. Terlebih, uang saku bulanan yang dikirim oleh Kairav, juga sudah mendarat cantik di rekening miliknya.
Menunggu Azan, Kalila mengingat kembali saat pertama kali dirinya menginjakkan kaki di sini. Berkenalan dengan Anneke yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri, serta berkenalan dengan rekan-rekan kerjanya yang begitu ramah.
Kalila juga mengingat ketika pertama kali dirinya menemani Anneke mengajar. Disambut dengan antusias oleh para siswa, sungguh membuat hati Kalila menghangat. Gadis itu bahkan langsung menghubungi Dimas, begitu keluar dari kelas. Menyeritakan pengalaman pertamanya menjadi guru taman kanak-kanak.
“Yang dapat gaji pertama, senyumnya lebar sekali,” pekik Andri, salah satu staff tata usaha, rekan kerja Kalila. Kalila menoleh dan semakin melebarkan senyumnya, hingga matanya menyipit sempurna. Hal itu tentu saja membuat Andri tersenyum geli.
“Mau aku antarkan ke ATM? Atau aku temani kau menghabiskan gaji pertama? Barangkali kau berniat mentraktirku makan? Atau mau aku traktir makan?”
Kalila tersenyum, “bo—”
“Jangan mau La! Andri sedang modusin kau!”
__ADS_1
“Benar tuh. Bilang saja kalau kau mau mengajak jalan Kalila. Pakai alasan menemani ke ATM segala!”
Suara sorakan terdengar memenuhi ruang tata usaha. Mereka memperolok Andri yang sejak dua Minggu ini, gencar sekali mendekati Kalila. Kalila pun tidak merasa keberatan mengenai hal itu. Karena Kalila memutuskan untuk tidak lagi menunggu Ibrahim. Terlebih sudah dua bulan berlalu, dan tak pernah sekalipun Ibrahim berusaha menghubunginya. Walau, di hati kecilnya, Kalila masih sangat mengharapkan pria berdarah Pakistan itu, menghubunginya.
Siang itu, sepulang dari bekerja, Kalila menerima tawaran Andri. Dengan menaiki sepeda motor, Andri membelah jalanan dengan gesit, membawa Kalila ke sebuah mall yang tak jauh dari tempat bekerja mereka.
Tak sampai dua puluh menit, mereka tiba di sana.
Siang itu, Kalila mengambil seperempat dari nominal dari gaji pertamanya. Tak lupa gadis itu mengirimkan sedikit uang untuk ibunya. Kalila bahkan juga mengirimkan untuk Kairav. Kalila pun mengirimkan pesan kepada ibu dan kakak lelakinya, memberitahukan perihal yang yang baru saja dikirimnya.
Bu Alinah seketika menghubungi Kalila. Wanita paruh baya itu berucap syukur dan merasa senang menerima gaji pertama anak bungsunya. Terlebih, suara Kalila terdengar begitu ceria. Tak henti Bu Alinah berucap syukur. Bahkan, setelah sambungan telepon dengan anaknya terputus, wanita paruh baya itu terus berucap syukur.
Sementara Kairav, mengirimkan sebuah pesan untuk adik kesayangannya itu,
[Kairav : Gaji kau itu, hanya dua per tiga dari gaji Abang. Tak usahlah kau kirimin Abang.]
[Kalila : Hanya gaji pertama saja Lila kirimkan. Anggap saja itu traktiran gaji pertama Lila, Bang.]
[Kairav : Abang lebih bersyukur, jika kau mengirimi Abang, nomor ponsel Anneke.]
Kalila tersenyum geli membaca balasan pesan yang dikirimkan oleh Kairav. Gadis itu hanya membalas pesan Kairav dengan stiker tertawa.
“Kau mau makan apa Ndri?” tanya Kalila, pada pria yang kini berjalan beriringan dengannya.
Bersambung ....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...