
Kairav Nasution Point of View
Satu bulan yang lalu, aku menabrak seorang gadis bernama Nasya, saat aku mengunjungi adikku di Kota Bogor. Dan sekarang, gadis itu menjadi salah satu anggota team marketing di wilayah yang sama denganku.
Manis.
Itu adalah kata yang bisa menggambarkan sosok Nasya. Bukan hanya wajahnya saja yang manis, sikap gadis itu pun demikian. Tak heran jika banyak buaya-buaya kota Medan, datang untuk merebut perhatiannya. Tapi tak begitu dengan diriku.
Aku Kairav Nasution. Pria paling tampan di rumahku! Aku juga atasannya. Aku menjabat sebagai manajer marketing wilayah Medan yang membawahi tujuh cabang, sedangkan dia hanya junior marketing di salah satu cabang yang berada dalam naungan wilayahku. Gengsi dong jika aku mendekatinya. Apa kata dunia?
Apalagi hatiku masih tertulis nama seorang wanita cantik, bersahaja nan anggun seperti ibu peri.
Anneke Baskoro.
Sayangnya, wanita itu memilih untuk bersanding dengan pria lain dibandingkan denganku. Padahal, saat aku bertemu dengannya, wanita itu terlihat sendu. Entah apa yang dialaminya. Mungkinkah dia tak bahagia dalam pernikahannya?
Setiap sholat malam, selalu ku sebut namanya. Aku menunggu jandanya!
Berulang malam aku melafalkan do'a yang begitu jahat. Agar dia berpisah dengan suaminya! Tak ada wanita lain yang aku inginkan selain dia.
Sebelum mengenal Anneke, aku memang dekat dengan banyak wanita. Tapi, sejak menatap wajahnya pada potret yang dikirimkan oleh Kalila, entah mengapa aku sangat yakin, jika dialah bidadari surgaku kelak.
Tapi, setelah satu tahun aku tak henti merapalkan do'a jahat itu, mereka masih belum berpisah. Itulah menapa, kau tidak boleh berharap keburukan atas saudaramu! Itu tidak akan terkabul, kawan!
Hatiku seakan beku terhadap semua wanita. Bagai anak kecil yang menginginkan sebuah mainan, akupun tak mau, jika bukan dia yang menemani hari-hariku hingga akhir usia.
Tapi, hati ini sedikit berdesir, saat ada seorang gadis yang tengah bercerita riang bersama mamak. Mamak terlihat begitu sumringah. Sejak kapan mereka begitu akrab? Bukankah mereka baru sekali bertemu, saat aku menabraknya di kota Bogor?
“Rav! Kau seperti maling saja! Masuk rumah tidak pakai salam. Diam-diam pula!”
“Rav sudah dua kali mengucap salam. Tapi Mamak saja yang sibuk terkekeh sama si anak bawang ini!”
Anak Bawang.
Itu adalah panggilan yang aku sematkan, saat Nasya pertama kali menjadi juniorku di perusahaan. Ucapan apa lagi yang lebih tepat selain anak bawang?
Dia lima tahun lebih muda, dan karirnya juga baru dimulai sejak lima bulan yang lalu. Nasya pun tidak marah dengan panggilan itu.
__ADS_1
Sebenarnya aku sedikit kesal dengannya. Karena sejak kedatangannya, seluruh pria di kantor cabang yang ku pimpin, sibuk mencari perhatian pada gadis ini. Mulai dari security, teller, head customer service, bahkan branch support manager yang sudah memiliki istri, ikut mencari perhatian gadis itu. Sedangkan Nasya, selalu bersikap ramah kepada mereka semua.
Suka tebar pesona!
Itulah kesanku padanya, sejak awal kedatangan gadis itu. Padahal wajahnya tak secantik Anneke.
“Sejak kapan Mamak akrab dengan anak bawang itu?” tanyaku saat Nasya telah meninggalkan rumah kami. Bahkan aku yang mengantarkannya hingga ke depan komplek perumahan.
“Kan kenal sudah lama, sewaktu di Bogor.”
“Masa iya, baru ketemu satu kali itu, dan sekarang bertemu lagi, bisa langsung akrab. Sampai di bawah ke rumah lagi!”
Mamak sepertinya tak mau menjawab pertanyaanku. Terpaksa aku akan bertanya pada anak bawang itu. Hingga keesokan harinya, aku menghampirinya yang tengah duduk seorang diri di meja kerjanya.
“Sejak kapan kau akrab dengan Mamakku?”
Gadis itu tersenyum manis sekali, walaupun masih lebih manis senyum Anneke.
“Kita beberapa kali bertemu di acara amal. Pengajian Bu Alinah sering ikut acara amal yang diadakan pemilik rumah kos yang aku tempati, Pak.”
Acara amal? Gadis ini ternyata dermawan juga.
Sejak itu, kami bertambah dekat. Hampir setiap akhir pekan, Mamak selalu mengundang Nasya ke rumah. Memasak makanan yang enak buat Nasya. Bahkan terkadang mereka masak bersama. Kehadiran Nasya membuat mamak kembali merasakan memiliki anak perempuan yang bisa diajak bertukar cerita. Hal yang selalu mamak rindukan, sejak hijrahnya Kalila ke kota Bogor.
Seolah Nasya adalah gadis yang dikirimkan oleh Tuhan, sebagai pengganti Kalila, di rumah ini.
“Orang tua kau, disuruh menginap di sini saja. Nanti biar Mamak siapkan kamar buat mereka.”
Ide itu begitu saja keluar dari mulut mamak. Aku pun terkaget mendengar. Sementara Nasya menyambutnya dengan gembira.
Tentu saja dia gembira. Karena tak perlu mengeluarkan biaya menginap untuk orang tuanya.
***
Pak Azzam dan Bu Aya, datang dan menginap di rumah kami, selama tiga malam. Dan bukan hanya mereka, Nasya pun turut menginap. Gadis itu bahkan tidur di kamar Mamakku. Aku dan Nasya pun sama-sama mengajukan cuti, untuk menemani orang tuanya mengelilingi kota Medan, dan menginap satu malam di sekitaran Danau Toba.
Sejak itu, hubunganku dan Nasya menjadi sangat dekat. Tak ada pernyataan cinta, baik dariku ataupun Nasya. Tapi aku selalu menjemput dan mengantarnya pergi dan pulang bekerja. Setiap akhir pekan, aku pun menjemput gadis itu untuk ku bawa ke rumah dan bertemu Mamak. Walau tak menghabiskan waktu selama dua puluh empat jam bersama. Setidaknya, kami hanya tak bertemu ketika malam tiba.
__ADS_1
Hal itu terus berlangsung selama beberapa bulan. Dan akhirnya, setelah delapan belas bulan gadis itu tinggal di Kota Medan, aku pun melamarnya. Memintanya untuk mendampingiku hingga ajal menjemput.
“Kenapa baru sekarang melamarku?”
Bukannya jawaban, gadis itu malah balas memberiku pertanyaan.
“Sebenarnya, Nasya tidak mau berpacaran seperti yang kita lakukan sekarang. Nasya maunya, setelah kita saling mengenal, Bang Rav segera melamar!”
Aku menatapnya heran. “Sejak kapan kita pacaran?”
Gadis itu tampak melebarkan matanya. Bahkan matanya itu seolah ingin melompat keluar. Sepertinya dia terkejut dengan pertanyaan itu.
“Aku tidak pernah mengatakan cinta pada kau. Aku juga tidak pernah mengajak kau berpacaran. Bagiku, selama ini kita hanya berteman baik.”
“Apa?! Te-teman? Jadi selama ini Abang hanya menganggap Nasya sebagai teman? Abang selalu antar dan jemput Nasya saat bekerja, itu Abang bilang hanya sekedar teman?!”
Rasanya aku ingin terkekeh mendengar celotehnya. Terlebih melihat ekspresi kesalnya. Entah kenapa bagiku gadis itu terlihat semakin manis.
“Waaah ... Jangan-jangan, selama ini kau menganggap aku itu kekasih kau, ya? Hah? Iya? Begitu?”
Ku lihat wajahnya bertambah merah. Dan tampaknya bukan hanya malu, Nasya sepertinya juga merasa sangat kesal.
Gadis itu bahkan hendak meninggalkanku. Dia bangkit dari duduknya. Tapi, tanganku meraih jemarinya. Aku berlutut di hadapannya.
“Nasya ... Mau kah kau menikah denganku. Mendampingiku, menemani hari-hariku, hingga ajal menjemput?”
Tentu saja dia tak bisa berkata tidak. Pesona seorang Kairav Nasution saja sudah begitu menyilaukan. Apalagi pesona seorang Kairav yang berlutut di hadapannya?
Jawaban ya dari Nasya, membawaku dan Mamak terbang ke Ibukota, melamar Nasya secara resmi. Tanggal pernikahan kami pun telah ditentukan. Tapi, saat aku hendak kembali ke kota asalku. Diriku bertemu secara tak sengaja dengan Anneke. Kami hanya saling melemparkan senyuman, lalu saling menjauh. Melangkah ke tujuan kami masing-masing.
Dan, dari Kalila akhirnya aku tau, jika Anneke sudah resmi bercerai dari Ibrahim. Anneke telah menjadi janda. Apakah ini adalah jawaban atas setiap do'aku dulu?
Anneke Baskoro. Wanita itu masih menempati salah satu sudut hatiku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...