Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 116


__ADS_3

“Loh, Ibrahim?!” pekik wanita paruh baya itu. Ibrahim menelan salivanya. “Kau mengenal tuan rumah juga? Atau .... Temannya Kalila?” tanya wanita paruh itu, sembari menatap Kalila yang sedari tadi terus berada di samping Ibrahim.


“Iya Bu. Bang Khalid adalah sahabatku di ITB. Sedangkan Lila, dia adalah salah satu staff terbaik saya,” terang Ibrahim. Mendengar Ibrahim yang memuji Kalila, Khalid tersenyum lebar dan menepuk-nepuk pundak Ibrahim.


“Ini semua berkat kau, Ba. Kau yang memotivasi Lila,” ucap Khalid. “Benar kan, La?” Mendengar pertanyaan sang kakak sulung, Kalila tersenyum malu-malu. Hal itu tidak luput dari perhatian Bu Baskoro. Apalagi Khalid terus menggoda Kalila. Seolah memberikan sinyal-sinyal, jika ada sesuatu yang tak biasa dari hubungan Ibrahim dengan Kalila


Bu Baskoro— ibunya Anneke—hanya bisa tersenyum tipis.


Baru saja tiba dan berbincang sekedarnya dengan Khalid, Ibrahim langsung berpamitan.


“Baru datang kok sudah langsung berpamitan?” Begitulah pertanyaan yang dilontarkan setiap orang kepada Ibrahim. Termasuk oleh Bu Alinah— ibu kandungnya Kalila, yang masih sibuk berbincang dengan Bu Ghita.


“Sudah ada janji dengan papi.” Itulah jawaban yang diberikan oleh Ibrahim. Entah sejak kapan pria yang terkenal Soleh itu, pintar berbohong. Yang jelas, Ibrahim tidak menyukai situasi saat ini. Dirinya tidak menyangka akan bertemu dengan ibunya Anneke di kediaman Kalila. Pergi dari kerumunan itu akan lebih baik.


“La, antarkan Ibra ke depan.” Ucapan Khalid benar-benar membuat Bu Baskoro yakin, jika ada hubungan spesial antara Kalila dan Ibrahim.


***


Malam tadi, Anneke mengirimkan pesan kepada Ibrahim. Sebenarnya Ibrahim sudah menyangka, jika Anneke akan menghubunginya. Bu Baskoro pasti telah memberitahukan kepada gadis itu, mengenai pertemuan mereka di kediaman Kalila. Ibrahim pun sudah menyiapkan jawaban, jika Anneke menanyakan perihal itu.


Dan di sinilah sepasang muda-mudi itu berjanji. Di sebuah restoran yang menyediakan makanan khas Sunda. Anneke yang tidak mau dijemput oleh Ibrahim, kini sudah tiba lebih dulu di restoran itu. Anneke bahkan sudah duduk di sebuah saung yang berada di atas kolam air tawar, sembari memberi makan kepada ikan-ikan yang ada di bawah saung itu.


“Sudah lama?” tanya Ibrahim begitu tiba di saung itu. Sebenarnya Ibrahim tak perlu menanyakan hal itu. Karena makanan yang tersaji di meja sudah habis semua. Anneke pun hanya menjawab dengan senyuman.


“Mau aku pesankan makanan?” tanya Anneke. Ibrahim menggeleng, karena pria itu sudah memesan segelas minuman sebelum menemui Anneke di saung itu. Anneke lanjut memberi makan ikan, hingga satu bungkus makanan ikan telah habis ditebarnya.


Tak lama, minuman yang dipesan oleh Ibrahim pun tiba. Anneke mencuci tangan pada keran yang ada di depan saung.


Kini, kedua muda-mudi itu sudah duduk berhadapan. Saling tatap. “Akang punya hubungan apa dengan Lila?”


Anneke tak mau membuang waktu sedetik pun. Tanpa basa-basi, gadis itu langsung pada tujuannya.

__ADS_1


“Aku yakin, kalau ibu pasti sudah bercerita mengenai kejadian di rumah Kalila. Tapi, aku tidak ada hubungan apa pun dengan gadis itu. Lila itu karyawanku. Abangnya— Khalid— adalah sahabatku sejak aku masih duduk di bangku SMA,” terang Ibrahim.


Anneke terdiam, dan menatap tajam pada pria yang sudah melamarnya itu. Seolah mencari kebenaran pada manik kecoklatan pria itu.


Ibrahim mengembuskan napas berat.


“Aku pernah menyukai Lila,” ucap Ibrahim. Anneke tertegun. Berarti benar ucapan sang ibu yang menyurigai hubungan antara Kalila dan Ibrahim.


“Tapi itu dulu, Ne. Saat Lila masih SMA. Sudah lama sekali. Sekarang, aku tidak punya perasaan seperti itu lagi dengan lila.”


“Tapi, bagaimana dengan Lila? Bagaimana dengan perasaan Lila? Apa Akang tidak memikirkan hal itu?”


“Apa semua wanita yang menyukaiku, harus ku nikahi?”


Pertanyaan Ibrahim mampu membungkam Anneke. Walaupun apa yang dimaksud oleh Ibrahim, benar. Tapi dirinya tidak mungkin untuk menyakiti seorang gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri.


“Kalila itu adikku,” ucap Anneke tercekat, wajahnya tertunduk.


“Aku tidak akan meminta kau, untuk menungguku sampai tahun depan. Bagaimana kalau acara pertunangan kita dilangsungkan bulan depan?”


Anneke terdiam. Gadis itu menjadi ragu dengan Ibrahim, sejak ucapan ketidaksukaan yang dilontarkan oleh ibu kandungnya. Terlebih gadis yang mempunyai hubungan dengan Ibrahim adalah Kalila. Gadis yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri.


“Percayalah, aku dan Kalila tidak ada hubungan yang lebih dari sekedar teman. Rekan kerja. Rasaku padanya, sudah pupus sejak dulu.”


Lagi, Ibrahim meyakinkan Anneke. Ibrahim membuat janji pada dirinya sendiri, itu adalah bujukannya yang terakhir. Jika gadis di hadapannya itu masih meragukan dirinya, Ibrahim akan berpaling pada Kalila.


“Aku akan memikirkannya. Beri aku waktu dua hari,” ucap Anneke. Ibrahim hanya mengangguk. Pria itu kemudian menghabiskan jus alpukat yang tadi dipesannya. Sepasang muda-mudi itu pun melangkah meninggalkan restoran.


Sementara itu, di kediaman Adi Putra, Dimas sedang duduk di ruang tamu rumah itu bersama sang pemilik rumah.


“Saya tetap tidak akan memberikan proyek itu kepada Kau!”

__ADS_1


“Tapi, Pak Sanjaya meminta Dimas yang mengerjakan proyek itu, Kek,” jawab Dimas. Adi Putra berang.


“Kalau kau ingin mengerjakan proyek itu, kerjakanlah. Tapi segera angkat kaki dari perusahaan saya!”


“Baiklah Kek. Karena Kakek sudah mengatakannya, Dimas akan memikirkan hal itu.”


Mendengar ucapan Dimas, Adi putra pun menatap Dimas dengan sebuah senyuman. Bukan senyum kebahagiaan, melainkan senyum yang membuat Dimas merasa diremehkan, direndahkan.


***


Dua hari berlalu ... janji yang diucapkan Anneke tidak juga terlaksana. Gadis itu tidak memberikan kabar kepada Ibrahim, mengenai jawabannya atas lamaran dari pria itu. Ibrahim juga tidak berupaya untuk menghubungi Anneke. Karena, jika wanita yang dikaguminya itu tidak menerimanya, Ibrahim masih memiliki Kalila.


Pagi itu, begitu tiba di kantor, Ibrahim langsung menemui Kalila, di meja kerjanya. “Nanti jam istirahat ke ruangan aku, ya,” ucap Ibrahim. Tentu saja Kalila sangat senang mendengarnya. Gadis itu pun tersenyum lebar dan mengangguk cepat.


Kedatangan Ibrahim, membuat Kalila semakin bersemangat mengerjakan tugasnya. Gadis itu sudah tidak sabar untuk makan siang bersama dengan sang pujaan hati.


Dan ketika waktu istirahat tiba, gegas Kalila menghampiri Ibrahim ke ruangannya. “Yuk, makan,” ajak Dimas.


“Lila mau makan siang bersama, di ruangan Bang Ibra!” pekik gadis itu riang. Dimas tersenyum kecut. Ingatannya kembali melayang ke tiga hari yang lalu, saat dirinya berkunjung ke rumah kakeknya.


“Mungkin, aku harus pergi meninggalkan kantor ini, La. Yang penting kau sekarang sudah bahagia. A' Ibra sepertinya sudah memandang kau kembali.”


Keesokan harinya, Dimas menyerahkan surat pengunduran dirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...

__ADS_1


__ADS_2