Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 149


__ADS_3

Sejak bertemu dengan Kalila dan Dimas di rumah sakit, Ibrahim kembali melancarkan aksinya. Pria itu menggunakan segala cara untuk kembali memanipulasi klien perusahaan Dimas. Namun, hasilnya tidak seperti yang diharapkan olehnya.


Kebanyakan klien-klien perusahaan Dimas, merupaka klien yang begitu loyal. Mereka lebih mementingkan desain-desain unik yang diberikan oleh perusahaan Dimas, ketimbang harga murah yang ditawarkan oleh Ibrahim. Hanya sebagian kecil dari klien Dimas, yang tertarik dengan tawaran yang diberikan oleh Ibrahim. Dan itupun hanya klien-klien kecil.


Padahal PT Adi Putra, sudah menggelontorkan cukup banyak dana untuk itu. Kerugian yang dialami oleh PT Adi Putra Group, semakin bertambah dan terus bertambah.


***


Sejak vonis 'tidak subur' dari salah satu rumah sakit, Ibrahim melakukan pemeriksaan kembali di beberapa rumah sakit dan laboratorium terbaik yang ada di Jabodetabek. Namun, setelah hampir dua bulan memeriksakan diri ke beberapa tempat, pria itu mendapatkan hasil pemeriksaan yang sama.


Mandul.


Jelas, Ibrahim frustasi.


Sejak saat itu, Ibrahim jarang untuk pergi bekerja. Pria itu juga tidak lagi peduli dengan rencananya menghancurkan perusahaan milik Dimas. Pria itu juga tidak peduli dengan perusahaan keluarganya yang semakin merugi.


Hari-harinya hanya dihabiskan dengan mabuk-mabukan. Berulangkali orang tuanya datang untuk menasehati, namun Ibrahim tak mengindahkannya.


Ibrahim benar-benar terpuruk.


Sekelebat bayangan Anneke terkadang muncul di hadapannya. Ucapan saat Anneke pergi meninggalkan dirinya pun kembali terbayang.


“Asal kau tau, aku sudah melakukan pemeriksaan lengkap dan rahimku baik-baik saja. Aku sehat dan tidak mandul. Lantas kau bagaimana? Kau sudah melakukan pemeriksaan? Apa kau yakin, bukan kau yang mandul?”


“Iya! Aku memang mandul. Lantas kenapa?! Hah?! Kenapa!!!”


Ibrahim terus berteriak-teriak seperti orang gila.


“Kau senang kan, Anne! Kau pasti senang karena tau kalau aku mandul!! Ini semua salah kau, Anne. Salah Kau!!”


Pria itu terus mengumpat.


Hari berganti Minggu, dan Minggu pun berganti bulan. Kini, minuman beralkohol tinggi yang menjadi sahabat terbaik buat Ibrahim. Bukan hanya malam, Ibrahim bahkan mengawali harinya dengan menenggak minuman haram itu.


Ibrahim juga sudah tidak lagi menjejakkan kakinya ke kantor. Semua pekerjaannya diambil alih oleh Indra—asistennya. Banyak kekacauan yang ditinggalkannya di perusahaan.


Kerugian demi kerugian terus dialami oleh PT Adi Putra Group. Tentu saja itu karena ulah Ibrahim yang menawarkan harga sangat rendah kepada klien yang mereka curi dari perusahaan milik Dimas. Gilang begitu kesal dengan sang anak yang benar-benar tidak bertanggung jawab dengan ulahnya.

__ADS_1


Kakek dan kedua orang tua Ibrahim pun memutuskan untuk menghubungi pria itu, karena sudah beberapa Minggu, Ibrahim tak bisa dihubungi. Sementara kerugian yang dialami PT Adi Putra Group terus bertambah dari Minggu ke Minggu.


Menekan rangkaian angka pada tombol yang terdapat di samping pintu apartemen milik Ibrahim. Betapa terkejutnya sang ibu saat menyaksikan apartemen mewah itu begitu berantakan. Bau alkohol juga terasa begitu menyengat di setiap sudut ruangan.


“Astaghfirullah ...,” pekik Aynoor.


Gilang dan sang ayah pun sangat terkejut dengan kondisi kediaman Ibrahim. Ketiga orang itu bertambah terkejut saat mendapati Ibrahim tergeletak di lantai dapur.


“Ibra!!”


Gegas, mereka menghampiri Ibrahim dan mengguncang tubuh pria itu. Namun, Ibrahim hanya menanggapinya dengan bergumam tak jelas. Kembali Aynoor mengguncang tubuh sang anak. Wanita paruh baya itu bahkan sedikit berteriak, meminta sang anak untuk segera membuka matanya.


Bukannya bangun, cucu kesayangan Adi Putra itu hanya merubah posisi tubuhnya dan kembali tidur.


Kepala yang pusing akibat terlalu banyak minum alkohol di malam hari, membuat Ibrahim sulit terlelap. Sejak tadi malam, pria itu sibuk mengumpat. Meratapi nasib yang dialaminya. Dan kegiatan itu, hampir setiap malam dilakukannya, hingga Ibrahim baru terlelap ketika waktu subuh hampir tiba. Tentu saat ini, dirinya masih merasa sangat mengantuk.


Gilang yang tak bisa mengendalikan diri, saat melihat tingkah sang anak, langsung mengguyur Ibrahim. Pria itu gelagapan. Mau tak mau, Ibrahim terpaksa membuka matanya dan menegakkan tubuhnya, setelah sebelumnya berteriak kencang.


“Bang*sat!!” teriak Ibrahim.


Ayah, ibu, dan kakeknya, tentu sangat terkejut mendengar ucapan Ibrahim. Bukannya menyambut kedatangan keluarganya dengan ucapan manis, Ibrahim justru mengawali pertemuan mereka dengan umpatan setelah berminggu-minggu tak bertemu.


Ibrahim meremas rambut. Kepalanya sangat pusing saat ini. Pria itu gegas menyeret kakinya menuju lemari es dan mengambil satu botol minuman beralkohol tinggi dan langsung menenggaknya.


Hanya istighfar yang berulang kali keluar dari bibir kedua orang tua Ibrahim. Sementara Adi Putra, menatap tak percaya. Cucu kesayangannya kini menjadi pecandu alkohol.


Gilang menghampiri dan mengambil botol minuman itu dari tangan Ibrahim dan melemparkannya.


Prangg!!


Botol kaca itu pecah. Bau alkohol terasa begitu menyengat. Gilang menarik kerah baju sang anak dan menyeretnya. Ibrahim mengikuti langkah sang ayah dengan berjalan sempoyongan. Tubuhnya kemudian terjerembab, saat Gilang menghempaskan anaknya itu di sofa.


“Setelah kau berulah di perusahaan, sekarang kau malah mabuk-mabukan di apartemen! Harusnya kau mempertanggungjawabkan perbuatanmu!” teriak Gilang pada anak semata wayangnya.


Ibrahim hanya tersenyum sinis dan menatap orang tua, dan kakeknya, bergantian. Pandangan matanya pun berhenti pada sosok pria lanjut usia.


“Bukankah Kakek menyetujui rencanaku untuk menghancurkan perusahaan Dimas?! Kakek bahkan menggelontorkan dana pribadi untuk mendukungku.”

__ADS_1


Adi Putra terdiam. Pria itu memang sangat setuju dengan rencana Ibrahim kala itu. Terlebih perusahaan milik Dimas, sempat dinyatakan pailit. Adi Putra sangat senang mendengarnya, saat itu.


Namun, hal itu tidak berlangsung lama, karena perusahaan milik Dimas, perlahan bangkit. Bahkan kini perusahaan itu bertambah besar.


Dan kini, saat Ibrahim kembali mengulang pola yang sama untuk menjatuhkan perusahaan milik Dimas, perusahaan itu tak terpengaruh sedikit pun. Sementara PT Adi Putra Group terancam pailit.


Melihat kondisi Ibrahim yang cukup kacau, Gilang dan Adi Putra menyadari, jika mereka tak lagi bisa mengharapkan Ibrahim untuk menyelamatkan perusahaan. Gilang dan Adi Putra bukannya tidak berusaha menangani hal ini, tapi mereka tak cukup mampu.


“Kita harus menjual sebagian saham perusahaan,” ucap Gilang saat mereka dalam perjalanan.


“Lang ... Perusahaan kita sedang pailit. Harga saham kita sangat anjlok. Menjual saham tidak akan menyelesaikan masalah. Yang ada, kita akan kehilangan perusahaan!” amuk Adi Putra. Pria lanjut usia itu tidak mau, jika perusahaan yang dengan sudah payah dirintisnya, hilang begitu saja.


“Kita jual kepada keluarga, Dad. Setidaknya mereka pasti akan membantu kita dengan memberikan harga yang tinggi. Atau kita biarkan mereka yang mengelola perusahaan,” usul Gilang.


“Saudara-saudaraku tidak ada yang bisa dipercaya. Kau tau kan, sejak dulu, Daddy selalu bersaing dengan mereka. Menjual saham kepada mereka, sama saja dengan menyatakan jika perusahaan kita bangkrut. Dan mereka akan dengan luas menertawai kita semua.”


“Ada satu orang yang pasti akan dengan tulus membantu kita, Dad.”


“Kakak-kakakku beserta anak cucunya, tidak ada yang tulus!” pekik Adi Putra. Dan Gilang memang mengakui hal itu. Karena sejak dulu, mereka tidak pernah akur dan saling memamerkan kejayaan setiap bertemu.


“Ada satu orang, Dad. Dan aku yakin, dia bisa membantu kita.”


“Siapa?”


“Dimas,” jawab Gilang. Adi Putra bergeming.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mohon maaf ya baru bisa update


soalnya sudah 3 tahun gak pulang kampung, dan sekarang baru bisa lebaran di kampung halaman (Medan)


Jadi hampir setiap hari keliling ke rumah keluarga, kecapean dan gak sempat update 🙏


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...

__ADS_1


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2