
“Makan yang banyak, Lila. Biar kuat menghadapi kenyataan,” bisik Dimas. Kalila tersenyum kecut. Gadis itu melayangkan sebuah kepalan tangan pada lengan pria itu.
“Bang Dim, jahat,” rengek Kalila. Namun Dimas menanggapinya dengan terkekeh. Pria itu mengacak gemas rambut Kalila. “Jangan pernah bersedih kalau ada aku,” ucap Dimas kemudian. Kalila menoleh, menatap tepat pada manik kecoklatan milik Dimas. Sebuah senyuman pun hadir di bibir Kalila. Tatapan dan senyuman manis Kalila, membuat Dimas sedikit salah tingkah.
“Sudah, ayo kita makan yang banyak. Kalau kurang, kau bebas pesan makanan apa saja,” ungkap Dimas. Kalila mengangguk cepat. Sepasang muda-mudi itu pun menyantap dengan sangat lahap seluruh hidangan yang mereka pesan tadi.
“Sudah kenyang atau belum?”
“Sudah Bang. Lila juga sudah bisa berpikir jernih sekarang,” ucap gadis itu. Dimas pun sumringah mendengarnya. Namun, senyum Dimas perlahan luntur mendengar ucapan Kalila.
“Lila akan menggunakan hijab seperti Kak Anne. Mungkin hal itu yang membuat Bang Ibra berpaling kepada kak Anne.”
Dimas tertegun. Tak tau lagi harus berkomentar apa. Kalila benar-benar terobsesi dengan Ibrahim, sepupunya.
“Lila tidak kalah cantik dan pintar dibandingkan Kak Anne. Bang Dim sendiri yang mengatakannya kan?” Dimas terdiam. Pria itu memang mengatakan hal itu, saat mereka tengah dalam perjalanan menuju angkringan. Pasalnya Kalila terus bertanya apa yang kurang dari dirinya? Dan menurut Dimas, jika membandingkan kecantikan dan kecerdasan, tentu saja Kalila tidak akan kalah dari Anneke. Bahkan, bagi Dimas, Kalila jauh lebih cantik dibandingkan wanita yang bernama Anneke.
“Bang Dim, ayo jawab!”
“Tentu saja. Kau tidak kalah cantik dan pintar dibandingkan Anne.”
Senyum Kalila terkembang, “kalau begitu, yang membedakan kami hanya hijab. Mungkin, jika Lila berhijab, Bang Ibra akan lebih menyukai Lila!” pekik gadis itu.
“Mungkin kau akan kelihatan lebih memesona jika menggunakan hijab. Tapi, apakah niat kau itu tidak melenceng La? Menggunakan hijab itu baik. Sangat baik. Katanya itu kewajiban seorang muslimah. Aku memang tidak banyak tau perihal agama. Aku bukan pria sholeh. Tapi, bukankah kau harus meluruskan niatmu terlebih dulu? Kau memakai hijab bukan karena perintah Tuhanmu.”
Kalila tertegun sejenak. Hal yang diungkap oleh Dimas, memang benar. Selama ini, Kalila tidak ada niat sedikitpun untuk menutup mahkotanya itu. Padahal, berulang kali kakak iparnya memeringati. Walaupun Kalila selalu menunaikan ibadah sebanyak lima waktu, tak pernah sedikitpun ada niat dalam dirinya untuk menggunakan hijab.
Namun, karena ingin menarik perhatian seorang pria yang sangat digilainya, Kalila memutuskan ingin menutup auratnya.
“Mungkin niat Lila memang salah, Bang. Tapi Lila akan tetap berhijab walaupun niat itu salah. Lila akan meluruskan niat itu, seiring berjalannya waktu. Toh, selama ini, Lila tidak pernah meninggalkan sholat. Hanya soal waktu untuk Lila menggunakan hijab. Dan mungkin, sekarang waktunya. Bisa saja ini teguran dari Allah, agar Lila segera berhijab,” ucap gadis itu. Ucapan yang terdengar seperti pembenaran diri dari Kalila, hanya membuat Dimas tersenyum tipis.
“Besok, Bang Dim, bisa kan menemani Lila berbelanja? Sepertinya Lila akan berbelanja banyak pakaian.” Dimas mengangguk sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
“As you wish,” ucap Dimas.
***
Dimas tertegun, ketika melihat Kalila muncul dari balik pintu rumahnya. Bukan pertama kali bagi Dimas melihat gadis itu menutup rambutnya. Beberapa kali Dimas menjadi imam sholat bagi gadis itu. Bahkan sejak tujuh tahun yang lalu, saat Kalila masih berseragam putih abu-abu.
Namun, kali ini berbeda. Kalila tidak memakai mukena untuk menutupi rambutnya. Gadis itu memakai hijab berwarna lavender, senada dengan gamis yang dikenakan. Paduan blazer berwarna hitam, membuat penampilan Kalila semakin elegan, pagi ini.
Masih duduk pada sofa yang terdapat di teras rumah Kalila, mata Dimas terus menatap Kalila yang melangkah semakin dekat padanya.
“Diminum dulu teh hangatnya, Bang.”
Sudah biasa bagi Kalila, menghidangkan teh hangat, setiap pria itu menjemputnya untuk berangkat bekerja. “Kau cantik sekali,” ucap Dimas, sebelum pria itu meneguk teh hangat buatan Kalila.
“Menurut Bang Dim, apakah Bang Ibra akan terpesona melihat penampilan Lila?”
Sakit.
Itu yang dirasa Dimas ketika mendengar pertanyaan Kalila. Namun, apalah arti sakit di hatinya, dibandingkan senyum Kalila. Dimas rela hatinya sakit asal bibir Kalila tetap menyunggingkan senyuman.
“Sudah pasti dia akan terpesona,” jawab Dimas kemudian.
Tidak hanya Dimas yang terpukau. Seluruh staff divisi desain dan perencanaan juga terpukau dengan penampilan baru gadis itu. Harry bahkan mengitari Kalila seperti bumi mengitari matahari.
“Bidadari surgaku,” ucap Harry. Kalila terkekeh melihat tingkah pria itu. Hal itu membuat Dimas kesal hingga mendaratkan tas kerjanya di perut Harry. Harry pun beringsut dari hadapan Kalila.
Dimas menyeret kaki menuju ruang kerjanya. Pria itu membereskan beberapa laporan yang harus diserahkan kepada Ibrahim sebelum istirahat makan siang.
Sebenarnya, Indra— asisten Ibrahim— sudah mendatangi Dimas dan meminta berkas-berkas yang membutuhkan tanda tangan Ibrahim. Namun, Dimas menolak untuk memberikan.
“Biar saya yang akan mengantar berkas ini, ke ruangan A' Ibra dan menyerahkan sendiri laporan-laporan ini,” ucap Dimas. Indra mengangguk mengerti.
__ADS_1
Setelah Indra meninggalkan ruangannya, Dimas menghubungi Kalila. Meminta gadis itu untuk ke ruangannya. Gegas Kalila ke ruangan sahabatnya itu.
Senyum Dimas sudah merekah ketika mendengar suara ketukan di pintu ruang kerjanya. Kalila mengambil posisi dengan duduk berhadapan dengan Dimas. Pria itu pun memberitahukan maksud dirinya.
Manik kehitaman Kalila seketika bersinar. Gadis itu bahkan hampir melompat kegirangan. Kalila mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Dimas.
“Pokoknya .... Bang Dim mau minta apa saja, Lila kabulkan!” ucap gadis itu sesumbar.
“Benar nih, apa saja?” Kalila mengangguk dengan cepat. Dimas benar-benar teramat baik padanya. Tentu saja Kalila harus membalas semua kebaikan Dimas padanya.
“Akan aku tagih nanti, saat aku sudah membutuhkannya. Janji kau, terhitung hutang,” ucap Dimas. Kalila pun menyetujuinya.
“Sekarang, kau serahkan berkas ini kepada A' Ibra. Kau sudah tau kan, bagian mana saja yang membutuhkan tanda tangan A' Ibra?”
Kalila mengangguk cepat. Gadis itu sudah tak sabar mengunjungi ruang kerja Ibrahim. Tujuan gadis itu hanya satu. Ibrahim melihat penampilan barunya. Seluruh rekan satu divisi, begitu terpukau pada penampilan Kalila. Bukan tidak mungkin, jika Ibrahim juga merasakan hal yang sama. Terpukau pada penampilan Kalila.
Kalila benar-benar banyak berhutang dengan Dimas. Pria itu sampai mengatur siasat seperti ini, agar dirinya bisa bertemu dengan Ibrahim.
Dengan langkah seribu, Kalila melewati koridor hingga tiba di ruang kerja Ibrahim. Gadis itu mengetok pintu dengan semangat. Terdengar suara Ibrahim yang menyuruhnya untuk masuk.
“Bismillah.”
Kalila melangkah perlahan, masuk ke ruang kerja pria pujaan hatinya.
Mendengar suara decit pintu terbuka, Ibrahim melirik sekilas ke asal suara. Namun, pria itu kembali menegaskan pandangannya.
“Kalila!”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...