Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 108


__ADS_3

Malam ini, Kalila tidur bersama Bu Ghita. Namun, gadis itu tidak bisa terlelap. Mungkin karena Kalila terus terlelap selama perjalanan, hingga sekarang dirinya sulit tertidur. Atau mungkin karena kesempatan yang ditunggunya telah tiba.


Bisa berduaan dengan Bu Ghita, sudah diinginkan Kalila, sejak pertemuan pertamanya dengan Adi Putra. Banyak hal yang ingin Kalila tanyakan. Tapi gadis itu masih takut. Takut jika pertanyaan yang dia ajukan menyinggung perasaan wanita paruh baya yang berbaring di sampingnya.


Kalila sibuk membolak-balikkan tubuhnya. Bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Hingga suara Bu Ghita menghentikan tingkahnya.


“Kau belum tidur?”


Kalila yang saat ini tengah memunggungi Bu Ghita, seketika bangkit dan duduk di sisi Bu Ghita. Gadis itu menatap Bu Ghita yang juga tengah melihat ke arahnya.


“Apa ranjangnya kurang nyaman?” tanya Bu Ghita. Wanita paruh baya itu kini sudah duduk di samping Kalila.


Kalila menggelengkan kepalanya, “tidak Bun. Ranjangnya nyaman kok. Mungkin karena Lila sudah tidur selama perjalanan,” ucap gadis itu. Bu Ghita pun menganggukkan kepala.


“Bunda kenapa belum tidur?” tanya Kalila. Bu Ghita tidak menjawab pertanyaan Kalila. Wanita paruh baya itu hanya tersenyum tipis.


“Sebenarnya ada yang ingin bunda ceritakan dengan Lila,” ungkap Bu Ghita. Kalila seketika menggeser duduknya, hingga kini gadis itu berhadapan dengan Bu Ghita.


“Lila juga Bun! Ada sesuatu hal yang ingin Lila tanyakan. Tapi Lila ragu. Lila takut kalau Bunda akan marah.”


“Memangnya Lila mau bertanya apa?”


“Tapi Bunda janji dulu, kalau bunda tidak akan marah,” ucap Kalila. Dengan bibir mengembang, ibu kandungnya Dimas itu pun berjanji, jika dirinya tidak akan marah ataupun merasa sakit hati dengan pertanyaan yang akan diajukan oleh Kalila.


“Sebenarnya, saat Lila masih SMA. Bang Dimas pernah mengatakan, jika dirinya adalah cucu yang tak pernah dianggap.”


Kalila tidak melanjutkan kalimatnya. Gadis itu melirik pada Bu Ghita, ingin menyaksikan bagaimana reaksi dari wanita paruh baya yang ada di hadapannya. Kalila sedikit terkejut dengan reaksi Bu Ghita. Wanita paruh baya itu, masih tetap menampilkan sebuah senyuman. Masih tetap tersenyum lembut padanya. Pasalnya Bu Ghita sudah tau, jika Dimas memang ingin menyeritakan mengenai kehidupannya kepada Kalila.

__ADS_1


“Kenapa kau diam? Ayo lanjutkan ceritanya,” ucap wanita paruh baya itu. Kalila pun menyeritakan mengenai Adi Putra yang memintanya berhati-hati dengan Dimas.


“Kata Pak Adi Putra, ayahnya Bang Dim bukan pria baik. Jadi ...


bukan tidak mungkin jika Bang Dim memiliki bakat yang sama.


Merusak masa depan anak gadis orang.”


Kalila terdiam, gadis itu menjadi tak enak hati ketika melihat reaksi Bu Ghita yang kini tertunduk. Terlihat wanita paruh baya itu mengusap sudut matanya.


“Maaf Bun ... Maaf kalau ucapan Kalila menyakiti hati Bunda. Lila tidak bermaksud membuat Bunda sakit hati.”


Bu Ghita menegakkan kepalanya, menatap dalam manik kehitaman milik gadis yang begitu dicintai oleh anaknya. Bu Ghita sadar betul, jika itu bukan ucapan Kalila. Kalila hanya menyampaikan apa yang diucapkan oleh ayah kandungnya. Tapi tetap saja hati Bu Ghita merasa sakit mendengarnya.


Bu Ghita mengambil kedua telapak tangan Kalila dan menggenggamnya. “Apa kau percaya, Kalila? Apa kau percaya kalau Dimas bisa merusak masa depan kau? Apa kau percaya tuduhan itu?” tanya Bu Ghita tercekat. Kalila seketika menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tentu saja dia tak percaya dengan ucapan itu. Selama ini Dimas menjaganya dengan sangat baik. Tidak pernah sekalipun, Dimas bersikap kurang sopan padanya.


“Apa Bang Dimas sering menerima ucapan-ucapan kasar seperti itu Bun? Apa Pak Adi Putra selalu bersikap seperti itu kepada Bang Dimas? Bukannya cucu Pak Adi Putra hanya ada dua, Bang Ibra dan Bang Dim? Kenapa Pak Adi Putra bisa bersikap seperti itu kepada Bang Dim? Kenapa perlakuannya beda sekali, antara Bang Ibra dengan Bang Dim? Dari jabatan di kantor saja sudah sangat berbeda. Bang Ibra diberikan jabatan sebagai direktur, sedangkan Bang Dim hanya manajer. Kenapa begitu Bun? Kenapa Pak Adi Putra terlihat begitu membenci Bang Dim?”


Banyak sekali pertanyaan yang diajukan oleh gadis itu, hingga membuat Bu Ghita tersenyum geli.


Seperti inikah gadis yang katanya tidak menyemburui Dimas?


Seperti inikah gadis yang katanya hanya menganggap Dimas sebagai seorang sahabat?


Kalila bahkan kini menangis di hadapan Bu Ghita. Tangis yang sudah dia tahan, sejak Pak Adi Putra mengucapkan kata demi kata yang menyakiti Dimas. Saat itu, Kalila juga merasa tersakiti oleh sikap dan ucapan Pak Adi Putra.


Bu Ghita mencubit gemas pipi Kalila. “Bunda mau bercerita, tapi takut kau akan menangis lebih dari ini. Kalau begitu, ceritanya Bunda tunda saja ya,” ucap wanita paruh baya itu. Kalila seketika menegakkan wajah, menghapus air mata yang sedari tadi mengalir di pipinya.

__ADS_1


“Maaf Bun. Lila hanya sedih melihat perlakuan Pak Adi Putra kepada Bang Dim.”


Bu Ghita membantu Kalila menghapus air mata gadis itu. “Terima kasih Kalila. Terima kasih karena kau begitu menyayangi Dimas. Terima kasih karena sudah berada di sisi Dimas.”


“Seharusnya Lila yang berterima kasih kepada Bang Dim, Bun. Karena Bang Dim sudah berbuat banyak di hidup Lila.” Bu Ghita membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Berharap mata hati gadis itu terbuka, hingga bisa menyadari perasaannya kepada Dimas. Gadis itu sudah terlalu buta karena obsesinya pada Ibrahim yang tampan, pintar dan soleh itu.


Malam itu, dengan ditemani suara rintik hujan, Kalila yang kini berada di dekapan Bu Ghita, mendengarkan kisah kelam wanita paruh baya itu. Walaupun di tengah rintik hujan, isak tangis gadis itu masih terdengar jelas di telinga Bu Ghita. Wanita paruh baya itu terus melanjutkan ceritanya sembari mengelus lembut rambut Kalila.


“Bunda mohon, jangan pernah menjauh dari Dimas, La. Karena, selain Bunda dan Bu Asih, Dimas hanya memiliki kau.” Kalila mengangguk dengan tangis yang masih belum reda. Hati gadis itu teramat sakit ketika mendengar kisah pilu Bu Ghita dan Dimas.


“Lila tidak akan pernah menjauh dari Bang Dim, Bun. Karena kami sudah berjanji akan menjadi sahabat selamanya. Sahabat yang akan selalu ada dalam kondisi apapun.” Bu Ghita hanya tersenyum menanggapinya.


Kalila pun melepaskan diri dari dekapan wanita paruh baya itu. “Lagian, Lila juga mempunyai kisah yang hampir sama dengan Bang Dimas.” Bu Ghita melebarkan matanya.


“Cerita yang hampir sama?” tanya wanita paruh baya itu. Kalila mengangguk.


“Ayah Lila, meninggalkan kami semua, saat Lila masih di dalam kandungan. Lila tidak pernah sekalipun melihat wajahnya secara langsung. Bahkan Lila tidak pernah mendengar suaranya. Kadang Lila berpikir, apakah karena kehadiran Lila di rahim mamak, membuat ayah meninggalkan kami semua? Apakah Lila ini anak pembawa sial?”


Bu Ghita kembali membawa gadis itu ke dalam dekapannya. “Jangan pernah berpikir seperti itu. Kau itu pembawa kebahagiaan, Kalila.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...

__ADS_1


__ADS_2