Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 59


__ADS_3

Satu Minggu berlalu, sejak Kalila menginjakkan kaki di kediaman kakak sulungnya. Hari ini, Khalid mempunyai janji temu dengan Ibrahim, di sebuah warung makan, tak jauh dari tempat bimbingan belajar, tempat mereka mengajar dulu. Tempat di mana Khalid pertama kali bertemu dengan Ibrahim.


Warung makan ini merupakan tempat makan yang sering disinggahi oleh Khalid dan Ibrahim, ketika mereka masih menjadi mentor, dulu.


Setelah berbasa-basi ringan mengenai kehidupan mereka belakangan, mengenai pekerjaan masing-masing, Khalid pun mengutarakan maksudnya.


“Lila sudah tinggal di Bogor sekarang, kau tau?”


Ibrahim menoleh, “tinggal di sini? Tinggal bersama Abang?”


“Ya harus tinggal bersama Abang lah. Tidak mungkin adik kesayanganku itu, ku biarkan ngekos seorang diri,” jelas khalid. “Memangnya kau tidak tau, kalau Lila tinggal di sini? Lila bahkan sudah satu Minggu tinggal di rumah,” lanjut Khalid.


“Ibra tau, kalau Lila sedang di Bogor. Tapi tidak tau, jika akan tinggal di kota ini. Ibra pikir, Lila hanya berkunjung saja ke rumah Abang. Berlibur, seperti waktu itu,” jelas Ibrahim. Dirinya memang belum ada berkomunikasi dengan Kalila, sejak gadis itu berada di Bogor. Ibrahim bahkan tau mengenai Kalila yang tengah berada di kota Bogor, karena melihat unggahan pada akun sosial media gadis itu.


“Tidak Ba, Lila sekarang tinggal di Bogor. Dia sedang mencari pekerjaan yang sesuai dengan perkuliahannya.” Saat ini Khalid tengah menurunkan harga dirinya. “Di perusahaan kau, apa tidak ada lowongan pekerjaan yang sesuai dengan background Lila?”


Ibrahim terdiam sejenak. Sebenarnya pria itu sedikit enggan jika harus satu kantor dengan Kalila. Entah mengapa, sejak Kalila tidak lolos saat ujian masuk Institut Pertanian Bogor, Ibrahim merasa sedikit kecewa dengan gadis itu. Terlebih ketika Kalila menempuh pendidikan diploma tiganya dan lulus dalam waktu empat tahun. Ibrahim kembali merasa kecewa dengan gadis yang dulu pernah mencuri atensinya itu.


Ternyata Kalila tidak secerdas yang kelihatannya. Tidak secerdas kisah-kisah yang diceritakan oleh Khalid selama ini.


Menerima Kalila di perusahaan keluarganya, membuat Ibrahim takut memberikan pekerjaan kepada gadis itu. Jika gadis itu bergabung di PT Adi Putra Group karena rekomendasinya, dan Kalila tidak bekerja dengan baik, nama baiknya bisa tercoreng. Dia pasti akan malu, karena merekomendasikan orang yang salah.


Jika menawarkan pekerjaan level bawah kepada Kalila, tentu saja Ibrahim merasa tak enak hati dengan Khalid. Pria yang bekerja


“Sepertinya saat ini belum ada lowongan yang pas buat Lila, Bang. Nanti, jika sudah ada lowongan pekerjaan ya pas, aku pasti akan memberi kabar kepada Abang,” ucap Ibrahim kemudian.

__ADS_1


Khalid terlihat sedikit terkejut dengan ucapan yang dilontarkan oleh Ibrahim. Bukankah pria itu salah satu direktur di sana. Bahkan salah satu pewaris tahta Adi Putra. Bagaimana mungkin, memberikan pekerjaan kepada Kalila saja, dia tidak bisa?


Begitulah arti tatapan Khalid pada Ibrahim. Pria itu sepertinya bisa membaca arti tatapan Khalid.


“Ibra tidak mungkin memberikan pekerjaan sembarangan untuk Lila, kan Bang. Ibra akan memberikan pekerjaan yang pas, untuk seorang Lila,” ucap Ibrahim kemudian. Seulas senyuman pun terbentuk di wajah Khalid. Pria itu terlihat menganggukkan kepalanya, “baiklah kalau begitu. Tapi jangan kabari Abang, kau langsung saja beri kabar kepada Kalila. Jadi kalian bisa sekalian bertemu dan membahas pekerjaannya.”


Ibrahim mengangguk, “iya Bang.”


Hampir dua jam Khalid dan Ibrahim bercengkrama, mulai dari mengenang masa lalu, hingga membicarakan masa depan. “Jadi, kau belum ada rencana menikah Ba?” Ibrahim menggelengkan kepalanya, “masih banyak target yang harus dicapai, Bang,” jawabnya tegas. Khalid juga menanyakan perihal wanita yang kini dekat dengan Ibrahim, seperti pesan ibunya.


“Ibra tidak dalam satu hubungan dengan wanita manapun, Bang.”


Khalid tersenyum sumringah, pria itu bahkan menepuk pundak Khalid.


***


Rintik hujan membasahi jalanan kota Bogor sore itu. Khalid yang berada di balik kemudi, mengarahkan kendaraannya itu menuju ke salah satu mall yang cukup jauh dari kediamannya. Setelah tadi pagi mengantarkan keempat wanita kesayangannya, kini pria itu harus kembali ke mall tersebut, untuk menjemput keluarganya.


Feni dan Bu Alinah tengah duduk di depan playground ketika Khalid tiba di mall itu. “Mana Nissa?” tanya Ibrahim ketika tidak melihat anaknya di sana.


“Masih main di dalam, dengan Lila,” jawab Feni. Khalid pun mengangguk. Pria itu mengambil posisi dan duduk di samping istrinya.


Setelah menunggu satu jam, waktu bermain Nissa sudah habis. Kalila pun keluar dari arena bermain itu, bersama gadis kecil itu.


Satu Minggu tinggal di kota Bogor, Nissa sudah sangat menempel dengan Kalila. Sejak gadis kecil itu membuka mata, kaki mungilnya langsung berlari mencari Kalila. Nissa bahkan hanya mau mandi dan makan bersama Kalila. Kalila persis seperti baby sitter beberapa hari belakangan.

__ADS_1


Memandikan Nissa, menyuapi makan, bahkan bermain bersama gadis kecil itu. Dimas terus terkekeh setiap Kalila bercerita mengenai tingkah Nissa setiap hari, mulai pagi hingga tertidur. Jadilah Dimas dan Kalila seperti sepasang suami istri yang tengah menjalani hubungan jarak jauh. Biasanya sih orang-orang menyebutnya LDM— Long Distance Marriage.


Bu Alinah hanya bisa menggelengkan kepala sembari tersenyum geli, setiap mencuri dengar pembicaraan Dimas dan Kalila setiap malam. Bu Alinah selalu berpura-pura sudah tertidur agar Kalila dan Dimas lebih leluasa bercerita.


Bu Alinah juga selalu mengucapkan terimakasih di dalam hatinya, setiap Kalila mengakhiri panggilan videonya. Wanita paruh baya itu merasa bersyukur, ada Dimas yang menemani hari-hari putrinya, walau hanya secara virtual. Bu Alinah bahkan berharap, Dimas bisa mendampingi Kalila. Walaupun wanita paruh baya itu tau, jika Kalila lebih mengharapkan Ibrahim yang menjadi pendampingnya kelak.


Semoga saja doa sang ibu manjur kali ini, agar para pembaca senang, Kalila berjodoh dengan Dimas. Bukan begitu?


***


Membelah jalanan kota Bogor di malam hari, Khalid mulai menyeritakan mengenai pertemuannya dengan Ibrahim, tadi siang. Kalila mendengarnya dengan antusias. Gadis itu sudah sangat merindukan sang pujaan hati. Rasanya dia ingin sekali bertemu dengan Ibrahim.


Tapi, jangankan untuk bertemu, sekedar berbalas pesan singkat pun, sudah tidak lagi mereka lakukan. Komunikasi terakhirnya dengan Ibrahim, terjadi satu bulan lalu, ketika Ibrahim tengah meninjau sebuah proyek di Aceh. Kalila mengomentari unggahan di laman sosial media milik Ibrahim. Gadis itu berbasa-basi meminta Ibrahim mampir ke Medan. Karena jarak dari Aceh ke Medan tidak terlalu jauh, dan dapat ditempuh melalui jalur darat. Namun, saat itu, tentu saja Ibrahim menjawabnya dengan kalimat penolakan.


“Pokoknya, kalau sudah ada lowongan pekerjaan di Adi Putra Group, Ibrahim akan langsung menghubungi kau. Pastikan ponselmu selalu aktif,” ujar Khalid. Kalila pun mengangguk antusias.


Sejak saat itu, Kalila selalu menantikan Ibrahim menghubunginya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...

__ADS_1


__ADS_2