
Ucapan ketidaksetujuan Khalid membuat suasana yang tadi riuh menjadi hening. Semua mata kita mengarah pada anak sulung Bu Alinah itu. Termasuk Kalila.
Gadis itu tau betul, kalau Khalid tidak pernah menyukai Dimas. Sejak dulu, Dimas selalu dianggap Khalid sebagai alasan dari kegagalan yang dialami Kalila.
Sewaktu Kalila gagal masuk perguruan tinggi negeri, Khalid menyalahkan Dimas. Menurut Khalid, karena terlalu sering berkomunikasi dengan Dimas, makanya sang adik gagal dalam ujiannya.
Begitu juga saat Kalila tidak lulus tepat waktu ketika berkuliah teknik sipil. Khalid beranggapan Dimas yang menjadi penyebabnya.
Bahkan, saat Ibrahim meninggalkan Kalila dan memilih bertunangan dengan Anneke, Khalid juga menyalahkan Dimas. Menurut Khalid, karena Dimas terlalu dekat dengan Kalila, hingga Ibrahim memilih meninggalkan adiknya.
Selalu ada saja alasan yang dimiliki Khalid untuk membenci Dimas.
Kalila benar-benar tidak habis pikir dengan kakak lelakinya itu. Padahal, bagi Kalila, Dimas adalah sumber kebahagiaannya. Pria itu bahkan rela merasa sakit demi kebahagian Kalila.
Saat ini, Kalila sadar, jika pria yang dicintainya adalah Dimas. Walau gadis itu tidak tau entah sejak kapan perasaan cinta itu datang. Apa setelah Dimas menciumnya? Atau, setelah Dimas memanggilnya dengan sebutan sayang?
Yang jelas, sejak peristiwa di rumah sakit, jantung Kalila selalu berdebar tak menentu setiap berada di dekat Dimas.
“Saya tidak mau, jika adik saya dinikahi dengan cara begini saja. Kau anggap apa Kalila?!”
Semua orang terkejut mendengar alasan yang dilontarkan oleh Khalid. Tak terkecuali Feni—istrinya.
“Bang, jangan seperti orang yang tidak beragama. Di sini sudah ada wali, ada juga saksi. Bang Dimas hanya perlu siapkan mahar, dan Lila juga pasti tidak akan memberatkan soal itu!” hardik Feni.
Kalila mengangguk, gadis itu sepenuhnya setuju dengan apa yang diucapkan oleh kakak iparnya itu. Begitu juga dengan beberapa tamu undangan. Mereka terlihat mengangguk-anggukkan kepala.
Apalah arti sebuah resepsi pernikahan. Toh, semua orang tau kapasitas keuangan Dimas. Dimas bukan pria berkekurangan secara materi. Saat ini dia bahkan menjadi kontraktor kepercayaan seorang Sanjaya. Bahkan, penghasilan dari butik sang ibunda jauh lebih banyak dari gaji Kalila selama satu tahun. Kalila tidak akan kekurangan jika menikah dengan Dimas. Begitulah yang dipikirkan oleh beberapa tamu undangan.
Tapi berbeda dengan Khalid. Pria itu menganggap, resepsi pernikahan itu sangat penting. Resepsi pernikahan Kalila harus diselenggarakan dengan mewah. Khalid berang melihat Kalila mengangguk. Padahal Khalid hanya ingin adiknya lebih dihargai. Tapi ternyata Kalila tak berpikir demikian.
“Kalau Abang tidak mau menjadi wali, bagaimana?!” Kali ini Khalid menantang Kalila. Dia tau, jika adiknya itu pasti akan menuruti inginnya. Bukan kah Kalila sejak dulu adalah seorang gadis penurut?
__ADS_1
Namun, apa yang dipikirkan oleh Khalid ternyata salah. Kalila menerima tantangannya.
“Abang Lila ada dua. Kalau Bang Alid tidak mau menjadi wali, Bang Rav pasti akan melakukannya dengan senang hati!”
Khalid shock!
Ke mana Kalila yang penurut? Kenapa adiknya itu sekarang menjadi pembangkang? Semua ini pasti karena kehadiran Dimas. Lihat saja, suatu saat nanti, Kalila pasti akan menyesal karena lebih memilih Dimas dibandingkan dirinya yang sudah banyak berkorban.
Begitulah pikir Khalid.
Khalid menatap adik perempuan kesayangannya itu dengan tajam. Namun, Kalila tetap tak gentar. Dimas melangkahkan kakinya mendekati Kalila. Dirinya tidak mau menjadi alasan rusaknya hubungan Kalila dengan Khalid. Pria itu, walau bagaimanapun akan menjadi Abang iparnya, kelak.
Dimas meraih jemari Kalila, dan mengajak gadis itu untuk berdiri tepat di hadapan Khalid.
“Maaf, jika permintaanku terlalu banyak, Bang. Tapi, aku mencintai Kalila dengan segenap hati. Aku berjanji tidak akan membuat Kalila meneteskan air mata selama pernikahan kami,” ucap Dimas mantap. Kalila seketika menoleh, menatap pria yang berjanji tidak akan membuatnya bersedih. Kalila sumringah, matanya berbinar, dirinya benar-benar yakin telah sepenuhnya jatuh hati pada sahabatnya itu. Tidak ada lagi nama Ibrahim, baik di hati maupun pikirannya.
“Kau mau, dinikahkan hanya dengan kondisi seperti ini? Kau itu adik kesayangannya Abang. Abang hanya ingin kau mendapatkan sesuatu yang layak. Bukan seperti ini!”
“Kalau begitu, nikahi adikku sesuai rencana!”
Terpaksa Dimas menganggukkan kepalanya. Bu Alinah merasa malu dengan perangai Khalid. Anak sulungnya itu benar-benar berubah. Entah sejak kapan Khalid berubah pandangan, jika kedudukan dan kekayaan adalah satu-satunya hal yang bisa membentuk kebahagiaan.
Akhirnya telah disepakati, jika pernikahan Kalila dengan Dimas, akan dilangsungkan tiga bulan lagi. Tepat dua bulan setelah pernikahan Anneke dan Ibrahim berlangsung.
***
Sehari setelah acara pertunangan Kalila dan Dimas, Khalid menghubungi calon adik iparnya itu. Mereka membuat janji temu di sebuah cafe yang tak jauh dari kediaman Khalid. Pria itu sengaja datang satu jam lebih awal, hanya untuk merenung.
Bukan merenungkan sikapnya yang menyebalkan sewaktu acara pertunangan Kalila. Tapi merenungkan mengenai Dimas yang akan menjadi adik iparnya. Karena selama ini, Khalid hanya membayangkan jika Ibrahim lah yang akan menjadi adik iparnya kelak. Namun, takdir berkata lain. Khalid berusaha menerima semuanya.
“Sudah lama, Bang? Maaf kalau Dimas datang terlambat,” ucap Dimas ketika baru saja tiba di sana. Pria itu menggeser sebuah kursi dan langsung mengambil posisi di depan Khalid. Kini kedua calon ipar itu saling duduk berhadapan dengan meja sebagai penghalang.
__ADS_1
“Aku memang datang lebih awal,” ucap Khalid setelah menyeruput americano yang sudah dipesannya sedari tadi.
“Katanya ada yang ingin Abang bicarakan, apa itu Bang?”
Khalid menghela napas berat. “Maaf jika perbuatanku membuat kau dan keluargamu tersinggung. Bahkan, mungkin sakit hati,” ucap Khalid tanpa menatap Dimas. Penglihatan pria itu terus di arahkannya ke tembok kafe yang terbuat dari kaca. Menatap hilir mudik kendaraan dan manusia yang ada di sana, karena kafe itu memang berada di pinggir jalan.
“Maksud Abang?”
Dimas berpura-pura tak mengerti dengan apa yang diucap oleh Khalid. Padahal dia tau betul maksud Khalid. Kedua ibu dan juga pamannya, benar-benar tersinggung dengan tindakan Khalid di acara pertunangannya, kemarin. Jika bukan karena seluruh keluarganya menyayangi Kalila, mereka pasti akan meminta Dimas membatalkan hubungannya dengan Kalila.
Khalid mengalihkan pandangannya. Kini pria itu menatap Dimas.
“Aku tau kalau kau itu cerdas, Dim. Kau pasti paham apa maksudku.” Khalid kembali menghela napas berat.
“Aku itu sangat menyayangi Kalila. Dia bukan hanya sekedar adik bagiku. Dia juga sudah seperti anakku. Aku yang mengazaninya ketika bayi. Aku yang turut membantu mengasuhnya.”
Dimas hanya diam. Pria itu berusaha menjadi pendengar yang baik. Dirinya benar-benar ingin punya hubungan yang baik dengan Khalid. Karena bagaimanapun, Khalid adalah salah satu orang yang sangat disayangi Kalila.
“Aku hanya ingin, Kalila mendapatkan yang terbaik. Bukannya aku tak merestui hubungan kalian. Aku sudah pasrah mengenai jodoh Lila. Aku juga lihat, jika Lila sudah mulai mencintai kau. Aku bisa apa selain merestuinya.
Aku hanya ingin ... calon suami Kalila kelak, menjadikannya bagai ratu. Lila tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Sejak kecil, dia hanya memiliki aku dan Rav. Aku ingin, calon suaminya kelak, benar-benar membuatnya seperti ratu. Aku ingin, di hari bahagianya, semua wanita iri padanya. Karena dia mendapatkan pangeran yang benar-benar memberikan dunianya untuk Kalila.”
Khalid mengusap air matanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
__ADS_1