
Feni selalu mengirimkan pesan singkat kepada Kalila, setiap kali Khalid selesai menghubungi adiknya itu. Feni meminta maaf atas sikap sang suami. Feni sadar, jika Khalid terlalu menuntut banyak kepada Kalila. Berulangkali Feni menasehati, namun Khalid tetap pada pendiriannya. Khalid ingin Kalila sukses. Yang terlebih penting, Khalid ingin Kalila benar-benar berjodoh dengan Ibrahim.
“Masa depan Kalila pasti terjamin, jika dia menikah dengan Ibrahim. Kalila pasti bahagia. Ibrahim pria yang baik, sangat baik. Soleh juga.”
Begitulah yang selalu dilafazkan oleh Khalid. Ibrahim, Ibrahim, lagi-lagi Ibrahim. Padahal pria yang disebutkan olehnya tadi, tidak terlalu peduli dengan Kalila.
“Aku sudah terbiasa Fen. Kau santai saja. Aku tau, semua yang Bang Alid lakukan itu, demi kebaikanku. Mamak juga mengatakan hal serupa. Semua demi kebaikanku.”
Balasan pesan dari Kalila, membuat Feni semakin bersedih. Wanita yang tengah hamil anak kedua itu tau, jika Kalila pasti merasa tertekan dengan semua tindakan suaminya.
Sementara itu, Kalila hanya bisa termenung. Memikirkan apa setiap perkataan Khalid.
Segera ke Bogor.
Itulah inti dari percakapan Khalid dan Kalila, tadi.
Kalila tentu saja senang. Membayangkan akan bertemu kembali dengan sang pujaan hati, sedikit banyak, membuat Kalila senang. Setidaknya dia punya tujuan kali ini. Sekaligus memantau kesiapan Ibrahim untuk berumah tangga. Walaupun Kalila mulai meragu, melihat sikap cuek Ibrahim.
Perbedaan sikap Ibrahim bermula ketika Kalila dinyatakan tidak lulus tes masuk perguruan tinggi negeri. Entah mengapa, sejak saat itu, Ibrahim sedikit berbeda. Namun, itu tidak merubah apa yang dirasakan Kalila pada pria itu. Kalila masih begitu mengagumi Ibrahim. Gadis itu benar-benar tergila-gila pada cucu pertama Adi Putra.
Bahkan hanya dengan melihat kiriman Ibrahim di laman sosial media pria itu, sudah membuat begitu senang. Setidaknya dia tau jika pria itu baik-baik saja. Dimas pun tau mengenai hal itu. Dimas sudah cukup legowo jika cintanya bertepuk sebelah tangan.
***
Satu Minggu berlalu, sejak terakhir kali Dimas menanyakan apa yang menjadi keinginan Kalila? Dan gadis itu menjawab, ingin berlibur dan melakukan perjalanan wisata bersama Dimas. Sejak hari itu, Dimas terus memikirkan permintaan Kalila.
Hingga kemarin sore, pria itu mendapat sebuah kesempatan untuk mengabulkan permintaan gadis itu. Karena ada urusan mendesak, pembimbing tesis, mengatur ulang jadwal sidang meja hijau Dimas, hingga Minggu depan.
Tanpa memberitahu kepada siapapun— termasuk Kalila, pria itu memesan sebuah tiket perjalanan menuju Indonesia. Lebih tepatnya, menuju Bandar Udara Internasional Kualanamu, Sumatera Utara.
Pukul 09:30, pesawat yang ditumpangi Dimas, membelah langit, yang begitu cerah hari ini— secerah hati Dimas yang akan segera bertemu sang pujaan. Setelah hampir dua jam lamanya duduk di burung besi, pria itu pun tiba di bandar udara internasional Soekarno-Hatta.
Transit selama 2 jam 50 menit di Bandara Soekarno-Hatta, membuat Dimas berkeliling bandara agar tidak jenuh. Menikmati reflexology machine di lounge maskapai, menjadi pilihan pertama Dimas. Pria itu duduk di sana dan menikmati setiap pijatan pada telapak kaki dan tubuhnya. Hampir setengah jam Dimas menikmati pijatan mesin itu. Dimas bahkan sempat terlelap beberapa menit.
Dimas masih mempunyai banyak waktu di sana. Pria itu memutuskan untuk menikmati ragam kuliner di lounge maskapai kebanggaan Indonesia itu.
__ADS_1
Tak lupa Dimas membelikan oleh-oleh untuk Kalila dan keluarganya. Masuk ke sebuah pusat oleh-oleh khas Jakarta, Dimas membeli dua buah paket oleh-oleh.
Biji Ketapang, Telor gabus, akar kelapa,dodol Betawi, dan bir pletok. Semuanya makan khas Betawi. Sungguh lucu memang, Dimas yang datang dari Singapura, tapi membawa oleh-oleh Khas Ibukota Indonesia. Bahkan pria itu berasal dari Jawa Barat.
Sengaja Dimas membeli dua kotak oleh-oleh. Yang satu untuk keluarga Kalila, dan satu kotak lagi, rencananya, akan menemaninya berwisata bersama Kalila dan Kairav.
Tepat pukul 13:05 WIB, Dimas kembali melanjutkan perjalanannya, menembus barisan awan hingga tiba di Bandara Internasional Kualanamu, Sumatera Utara, tepat pukul 15:30 WIB.
***
Malam itu, seperti biasa, ponsel Kalila berdering. Kalila tentu saja menggapainya dengan antusias. Karena itu sudah pasti panggilan video dari Dimas.
“Bang Dim di mana?” tanya Kalila, begitu panggilan video itu tersambung.
Pria itu tersenyum lembut, menatap sang gadis pujaan dari layar ponselnya. “Kau tau saja, jika aku sedang tidak di apartemen,” jawab Dimas.
“Sofanya beda, warna dinding ruangan itu juga beda dengan biasanya. Wajar kalau Lila tau,” jawab gadis itu. Senyum Dimas semakin merekah.
“Ayo kita agendakan liburan berdua. Katanya, Bang Rav sudah tidak bisa mengajukan cuti lagi,” ucap Dimas. Kalila terdiam, mencerna apa yang diucapkan oleh pria yang kini di tatapnya secara virtual.
Begitulah kira-kira isi pikiran Kalila, si gadis yang selalu penasaran dan penuh tanda tanya.
Gadis itu masih terdiam, hingga Dimas kembali memanggilnya.
“Ayo cepat putuskan, Kalila. Besok pagi-pagi sekali, kita harus sudah berangkat. Aku hanya ada waktu tiga hari saja. Kau putuskan mau ke mana,” ujar Dimas. Kalila masih terdiam. Tidak tau harus berkata apa.
“Come on, Lila. Kenapa kau hanya diam saja? Bukan kah kau menginginkan kita traveling bersama?”
“Memangnya, Bang Dim mau ke sini? Kapan?”
Dimas tergelak, “Aku sudah berada di sini Kalila. Di kota kelahiran kau. Kota Medan,” jawab Dimas antusias. Dahi Kalila mengerut. Mata gadis itu bahkan menyipit, menatap pada layar ponselnya. Gadis itu tidak percaya begitu saja.
“Aku di hotel yang ada di dekat bandara, sekarang. Besok pagi, mobil yang aku sewa akan segera tiba. Dan aku akan menjemputmu. Kita traveling bersama, seperti yang kau inginkan,” ujar Dimas.
__ADS_1
Kalila masih terdiam. Masih menatap Dimas dengan tatapan tidak percaya. Pria itu lantas terkekeh-kekeh. Ekspresi bingung Kalila, sungguh menggemaskan bagi Dimas— tentu saja, setiap apa yang dilakukan Kalila, selalu menggemaskan bagi si bucin Dimas.
“Bang Dim serius tidak sih?!” Dimas pun menghentikan tawanya. Menatap gadis itu sembari tersenyum lembut. “Tentu saja aku serius Kalila. Kau boleh menanyakannya pada Bang Rav. Dia sudah aku beritahu tadi siang, ketika aku transit di Soekarno-Hatta.”
Seketika Kalila berlari menuju kamar kakak lelakinya. Menghempaskan pintu kamar Kairav, hingga membuat Kalila terkejut.
Kenapa bukan Kairav yang terkejut?
Karena Kairav sedang berdiri di belakang Kalila. Tangannya menepuk pundak gadis yang tengah terbengong karena tidak menemui sang kakak di kamarnya.
“Abang! Buat kaget saja sih!”
“Kau saja yang heboh tidak jelas. Lari ke sana ke mari, buka pintu kamar tanpa permisi!”
“Bang Dim benar-benar ada di Medan?!”
Kairav melengos, menatap malas pada sang adik. Pria itu bahkan mendorong pelan tubuh adiknya dan masuk ke kamar. Menghempaskan dirinya pada kasur.
Kalila melangkah mengikuti Kairav. Duduk persis di samping kakak lelakinya itu, Kalila langsung menyodorkan ponselnya, yang kini menampilkan wajahnya Dimas.
“Malas aku lihat wajah si Dimas!” pekik Kairav. Dimas yang berada di ujung sana, tertawa terbahak-bahak.
Tadi siang, begitu Dimas menyampaikan rencana untuk mengajak Kalila dan Kairav berlibur bersama, Kairav langsung memaki pria itu.
“Maafkan aku Bang. Ini juga mendadak,” ucap Dimas yang masih terkekeh-kekeh.
“Ada apa sih?!” tanya Kalila yang semakin bingung. “Memangnya benar, Bang Dim saat ini ada di Medan?” tanyanya lagi.
“Iya. Sahabat kau ini memang sudah sampai di Medan. Dia sengaja ke sini tanpa mengatakannya, biar hanya kau yang bisa diajaknya berlibur. Biar kalian bisa berlibur hanya berdua saja!” cebik Kairav. Lagi-lagi Dimas terkekeh.
“Kau pikir, kalian akan ku beri izin traveling berdua saja! Jangan harap!” pekik Kairav.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...