Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 142


__ADS_3

“Lila buat nasi liwet kesukaan Bang Dim. Tapi Lila belum bisa mengolah ayam gorengnya, jadi hanya ada tempe goreng saja. Tidak apa-apa kan? Besok-besok Lila akan belajar lagi dari Bunda dan Ibu.”


Seketika Dimas merasa haru. Kalila yang tidak pernah memasak selain mie instan dan nasi goreng, kini membuatkannya nasi liwet.


Dimas terus memerhatikan Kalila yang kini tengah mengisi piring dengan nasi liwet dan jajarannya. “Ayo makan, Bang. Enak kok. Tadi Lila sudah mencicipinya,” ucap Kalila. Dengan senyum terkembang, Dimas mengangguk cepat.


“Terima kasih Sayang.” Pria itu lantas menyuapkan satu sendok nasi liwet lengkap ke dalam mulutnya.


Senyum Dimas pun bertambah sumringah. Karena ternyata, nasi liwet buatan Kalila benar-benar enak.


“Bagaimana? Enak kan?!”


“Enak sekali, Sayang,” jawab Dimas.


Pria itu pun makan dengan lahap. Bahkan dua kali Dimas meminta Kalila menambahkan nasi liwet itu di piringnya. Kalila tentu saja sangat bangga dengan hasil masakannya.


Melihat Dimas makan dengan lahap seperti itu, Kalila merasa sangat bahagia. Bahkan bahagia yang dirasakannya, melebih dari rasa bahagia saat Kalila mendapatkan bonus dari kantor.


Kalila pun semakin yakin, jika keputusannya untuk berhenti bekerja adalah pilihan yang tepat.


Selesai makan, Dimas dan Kalila membereskan meja makan berdua.


“Sayang, biar aku saja yang mencuci piring. Kau sudah membuat masakan sebanyak ini. Kau pasti lelah. Beristirahatlah. Sisanya biar aku yang membereskan.”


Namun, Kalila menggelengkan kepalanya. “Bang Dim saja yang istirahat. Bang Dim kan baru saja pulang. Kalau Lila sih sudah dari siang.”


Karena Kalila masih bersikeras akan membersihkan sisa makan malam mereka, akhirnya Dimas dan Kalila membersihkannya bersama-sama.


Dan keesokan paginya, Kalila kembali memasak untuk Dimas. “Maaf ya Bang, Lila hanya buat sandwich goreng. Isinya kornet dan keju,” jelas Kalila sembari memberikan dua buah sandwich goreng itu kepada Dimas. Kalila juga menyuguhkan teh hangat kepada suaminya. Mereka pun sarapan bersama.


Selesai sarapan bersama, Kalila terlihat ingin membereskan dapur yang terlihat cukup berantakan pagi itu. “Kau bersiaplah, biar aku yang membereskan ini semua,” ucap Dimas.


“Lila sudah mengajukan surat pengunduran diri, Bang.”


“Berarti, bulan depan, kau resmi keluar dari Adi Putra Group?!” tanya Dimas antusias. Kalila menggelengkan kepalanya, “begitu Bang Ibra mengaprove surat pengunduran diri Lila, saat itu juga Lila disuruh angkat kaki dari sana.”


Penjelasan Kalila membuat Dimas terdiam sejenak. Ada sedikit rasa amarah di hatinya.


Mengapa Kalila harus merasakan hal yang sama dengannya? Mengapa istrinya itu juga diusir dari perusahaan seperti dirinya dulu? Apa yang membuat Ibrahim begitu kesal dengan Kalila, hingga pria itu langsung mengusirnya saat itu juga.


Tapi, Dimas tak mau amarah menguasai hatinya. Dengan keluarnya Kalila dari perusahaan itu, artinya tidak ada kesempatan bagi Ibrahim untuk menatap istrinya. Ada rasa syukur yang juga terselip di hatinya.


Pria itu mengalungkan lengannya di kedua pundak Kalila.

__ADS_1


“Jadi, kau sekarang free dong, Sayang?”


Kalila mengangguk sembari tersenyum. Kalila tau, jika sang suami pasti sangat senang dengan pengunduran dirinya dari Adi Putra Group. Sejak mereka menikah, entah sudah berapa kali Dimas meminta dirinya untuk mengundurkan diri dari Adi Putra Grup. Dan sekarang hal itu sudah terwujud, tentu saja saat ini Dimas merasa sangat senang. Begitulah pikir Kalila.


Namun, ternyata niat Dimas berbeda. Pria itu membawa Kalila dalam gendongannya.


“Mau di mana Sayang? Meja makan? Ruang tamu? atau Ranjang?”


Kalila tersenyum geli mendengar pertanyaan sang suami.


“Bang Dim tidak ke kantor?”


“Cih ... Biar saja Harry yang mengurusi. Boss punya urusan penting dengan istri,” ucap Dimas. Kalila tak dapat lagi menahan tawanya.


“Yasudah, kalau begitu urusan kita di kamar saja. Lila capek abis masak. Jadi tidak mau gaya yang aneh-aneh.”


“As you wish, my lady.”


Gegas Dimas menggendong Kalila, dan membaringkan istrinya itu di ranjang. Pria itu langsung menaiki Kalila dan mereka memulainya dengan ciuman panas.


Pagi itu, mereka pun melakukannya.


***


“Apa kau mau membantuku di perusahaan kita?”tanya Dimas, sembari mengelus-elus puncak kepala Kalila. Saat Kalila memberitahukan perihal pengunduran dirinya, Dimas berpikir jika wanitanya itu akan membantunya di perusahaan mereka.


Namun, tak seperti bayangan Dimas. Kalila menggelengkan kepalanya.


“Lila memutuskan akan menjadi ibu rumah tangga, Bang. Mengurusi rumah, mengurusi Bang Dim, dan mengurusi anak kita, nantinya.”


Dimas bergeming. Pria itu menatap tak percaya pada Kalila. Menjadi wanita yang bekerja adalah impian Kalila. Apa mungkin Kalila mengorbankan impiannya karena dirinya?


“Sayang,” panggil Dimas, Kalila menengadahkan kepala hingga kini menatap suaminya.


“Maafkan sikapku yang meninggalkan kau, kemarin. Aku mohon, kau lakukan apa saja yang bisa membuat kau bahagia. Aku akan mendukung apapun itu. Aku tidak mau kau memendam keinginan hanya demi aku.”


Kalila menatap Dimas dengan dahi mengerut.


“Aku tidak melarang kau bekerja, Sayang. Jika bekerja membuat kau bahagia, lakukan itu. Jangan hanya karena aku, impian kau terabaikan. Aku bahagia jika kau bahagia, Sayang.”


“Dan Lila bahagia, melihat Bang Dim makan masakan Lila dengan lahap,” balas wanita itu. Perasaan haru seketika menyeruak di hati Dimas. Dipeluknya erat Kalila. Sebuah kecupan pun didaratkan pria itu di pucuk kepala Kalila.


Cukup lama Dimas mendaratkan kecupan itu. Kalila benar-benar membuatnya bahagia.

__ADS_1


***


Setelah resmi menyandang predikat ibu rumah tangga, Kalila pun menjalani hari-harinya dengan belajar memasak. Hampir setiap hari Kalila melakukan panggilan video dengan mertuanya. Terkadang Dimas juga mengantarkan Kalila ke rumah ibunya dan belajar memasak secara langsung dengan Bu Ghita dan Bu Asih.


Wanita itu benar-benar semangat belajar memasak. Terlebih Dimas selalu memakan dengan lahap semua masakan yang dibuat oleh Kalila. Wanita itu menjadi semakin antusias.


Dan kini, sudah hampir dua bulan Kalila menjadi ibu rumah tangga. Namun, pagi ini, Kalila malas sekali beranjak dari ranjang.


Sehabis sholat subuh, tak seperti biasanya, Kalila kembali bergelung dalam selimut.


“Abang buat sarapan sendiri, ya. Lila rasanya malas sekali hari ini.”


Mendengar ucapan Kalila, Dimas segera memeriksa kondisi istrinya. Menempelkan telapak tangan pada dahi Kalila, Dimas merasa cukup lega. Karena suhu tubuh Kalila terbilang normal.


“Kau sakit, Sayang? Apanya yang sakit?”


“Lila juga tidak tau, Bang. Badan Lila rasanya tidak enak saja. Mau apa-apa juga malas. Kepala Lila sedikit pusing dan agak mual.”


Mendengar keluhan sang istri, Dimas membatalkan seluruh agenda pekerjaannya. Pria itu memutuskan untuk merawat Kalila. Dimas tidak mau terjadi apa-apa dengan istrinya.


Dua hari Kalila terus bergelung dalam selimut. Selera makannya juga menurun. Dimas berupaya memesan semua masakan yang biasanya sangat disukai Kalila. Namun, istrinya itu masih juga tidak berselera.


Kalila juga enggan dibawa ke rumah sakit. Wanita itu hanya meminum air seduhan jahe buatan Bu Ghita. Sejak semalam, wanita paruh baya itu memang menginap di kediaman Dimas dan Kalila.


“Kalau kau tidak mau makan, kita ke rumah sakit sekarang,” ancam Dimas. Namun, Kalila tidak memedulikan ucapan sang suami. Gadis itu terus bergelung dalam selimut.


“Lila hanya ingin makan, masakan mamak,” rengek wanita itu.


“Sayang ... Mamak baru saja kembali ke Medan dua Minggu lalu. Masa iya, kita minta datang ke sini lagi,” ucap Dimas. Kalila hanya diam. Wanita itu bahkan memunggungi Dimas.


“Nanti aku hubungi mamak, dan minta resep masakannya. Setelah itu biar bunda yang masak, ya,” bujuk Dimas. Namun, Kalila tetap bergeming.


Bu Ghita yang sejak tadi mendengar rengekan Kalila, langsung menghampiri Dimas, ketika anaknya itu keluar dari kamar.


“Beli testpack.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...

__ADS_1


__ADS_2