Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 20


__ADS_3

“Woii ... Jangan makan terus kau. Bantu Abang mengipasi ini,” pekik Kairav pada Kalila, yang sedari tadi hanya sibuk menyantap makanan yang sudah tersaji di sebuah gazebo, bersama Nek Laila.


Kalila menatap malas pada kakak lelakinya itu. “Dingin tau, Bang. Tubuh Lila butuh asupan biar tetap hangat! Lila juga sekalian menemani nenek di sini. Kasihan kan kalau nenek hanya sendirian duduk di sini.”


“Halah ... Memang kau paling pintar dalam mencari-cari alasan!” cebik Kairav. Kalila hanya menjulurkan lidah ke hadapan Kairav dan melanjutkan makannya. Hal itu membuat Kairav berlari kecil menghampiri Kalila, hanya untuk sekedar menarik kecil rambut gadis itu.


“Abaaang!”


Belum sempat Kalila mencengkeram tangan Kairav yang menarik rambutnya, kakak lelakinya itu sudah berlari. Kembali dengan peralatan memanggangnya.



Sementara Dimas, mendengar Kalila yang merasa kedinginan, pria itu langsung melepaskan jaketnya. Hingga kini dia hanya memakai kaos dengan motif karakter Spongebob.


Sambil menenteng jaket di tangan kanannya, Dimas berjalan menuju gazebo. Pria itu menghampiri Kalila.


Dengan tersenyum lembut, Dimas menyerahkan jaketnya kepada Kalila. Namun, gadis itu menolaknya.


“Tidak usah Bang. Lila sebenarnya punya jaket kok. Hanya saja Lila lupa memakainya. Dan sekarang, Lila malas untuk mengambilnya ke kamar,” kilahnya.


“Malam akan semakin dingin Kalila. Kalau kau tidak mau memakai jaket ini, akan aku temani kau mengambil jaket ke kamar. Bagaimana?”


Duh ... Kalila rasanya enggan sekali untuk beranjak dari tempat duduknya. Semilir angin malam di daerah Cisarua ini memang cukup dingin. Namun, untuk meninggalkan lokasi yang penuh dengan makanan lezat ini, rasanya Kalila tak rela. Tubuhnya sudah cukup menghangat karena mulutnya yang terus berolahraga.


Ya ... memang pantas jika Kairav merasa kesal dengan adik bungsunya itu. Karena sedari tadi, Kalila hanya menyantap hidangan hangat yang dihidangkan oleh Dimas dan Kairav di gazebo itu.


“Memangnya Bang Dim tidak apa-apa, tidak memakai jaket? Tidak kedinginan?”


“Aku pakai kaos lengan panjang, kau lihat?”


Tidak menjawab pertanyaan Dimas, Kalila hanya mengangguk. Gadis itu tersenyum geli ketika menatap pakaian yang dikenakan oleh Dimas.


“Abang suka Spongebob?”


Sungguh menggelitik rasanya, melihat seorang pria menggunakan kaos dengan karakter kartun Spongebob yang tengah memegang spatula kebanggaannya.


“Bukankah tema ini cocok untuk apa yang aku lakukan sekarang? Menjadi juru masak, seperti Spongebob yang sedang membuat Krabby patty. Iya kan?”


Kalila mengangguk sembari tertawa mendengar celotehan Dimas. Bahkan pria itu tau perihal Krabby patty.


“Ayo pakai jaket ini, Kalila. Aku tidak mau kau terserang flu karena kedinginan.”

__ADS_1


Menuruti keinginan Dimas, Kalila pun beranjak dari duduknya, mengambil jaket yang diberikan oleh Dimas. Dengan cekatan gadis itu memakainya. Rasanya cukup hangat ketika Kalila menggunakan jaket yang kebesaran di tubuhnya itu.


Dimas bergerak maju. tangannya meraih lengan Kalila. Pria itu menggulung lengan jaket yang terlalu panjang hingga menutupi jemari Kalila.


“Nanti kau akan kesusahan makan, jika tangannya tidak terlihat. Benar kan?”


Lagi-lagi Kalila hanya mengangguk dan tertawa kecil, karena ucapan dan perlakuan Dimas. Dan tentu saja, ada tiga pasang mata yang menyaksikan adegan itu sambil tersenyum. Entah apa yang ada dipikiran Nek Laila, Bu Alinah dan Kairav. Yang jelas, hati mereka seketika menjadi hangat melihat perlakuan Dimas kepada Kalila.


“Apakah semua makanan ini sudah cukup, Kalila? Menurut mu apakah ada yang kurang dengan hidangan makan malam kita?” tanya Dimas.


“Kalau ini hanya sekedar camilan, sudah lebih dari cukup Bang. Tapi karena Bang Dim bilang ini makan malam ... Rasanya, tokoh utama belum hadir.”


“Tokoh utama?”


Kalila mengangguk cepat. “Nasi, Bang! Orang Indonesia itu, belum makan namanya, jika tidak pakai nasi.” Nek Laila yang berada di dekat Kalila dan Dimas, hanya bisa menggelengkan kepala mendengar celotehan cucunya.


“Kalau berasnya ada, biar nenek yang memasak nasinya,” ucap Nek Laila kemudian.


Dimas terlihat memikirkan sesuatu. Pria itu memang sudah meminta Pak Parman untuk menyiapkan satu karung beras untuk makan mereka selama dua malam di villa itu, tapi tentu saja beras itu belum berubah menjadi nasi. Karena Dimas pikir sudah cukup hanya dengan menyiapkan menu barbeque yang banyak malam ini, walau tanpa karbohidrat di antaranya.


Namun, gadisnya kini meminta nasi sebagai pelengkap makan malam mereka. Jika harus memasak nasi lebih dulu, pasti membutuhkan waktu yang lama. Kalila pasti sudah merasa lapar. Begitulah pikir Dimas.


“Tidak perlu, Nek,” ucap Dimas. Pria itu mengambil ponsel di sakunya dan berjalan menjauh dari Kalila dan Nek Laila.


Dan lima belas menit kemudian, Pak Parman datang dengan membawa rantang susun empat yang semua berisikan nasi. Kebetulan sekali, istrinya baru saja selesai memasak nasi, kala Dimas menghubunginya.


Kini, semua bahan masakan sudah selesai di masak dan tersaji di gazebo. Saatnya bagi Dimas, Kalila, Kairav, Bu Alinah dan Nek Laila, menyantap makan malam mereka. Di bawah langit yang bertabur bintang, dengan semilir angin malam. Di halaman belakang villa milik keluarga Adi Putra.


Sungguh syahdu bukan?


Itulah yang dirasakan oleh Dimas Adi Putra.


***


Kalila makan dengan sangat lahap. Nasi hangat dan daging bakar dengan saos barbeque, membuat gadis itu begitu bersemangat menyantapnya. Dimas sampai terkesima melihat mulut Kalila yang menggembung karena penuh dengan nasi beserta lauknya. Kairav hampir terkekeh melihat ekspresi Dimas.


“Lila memang seperti itu, Dim. Rakus!” celetuk Kairav. Namun Kalila tidak mengindahkan ucapan Kairav. Gadis berusia 16 tahun itu terus menikmati hidangan di hadapannya. Kalila bahkan mendongakkan kepalanya kemudian memasukkan irisan terong bakar ke dalam mulutnya yang masih berisi nasi.


Tidak pernah disangkanya, jika cita rasa terong bisa seenak itu jika dibakar dan disajikan dengan saos barbeque.


“Tapi sewaktu di Kebun Raya, tidak terlalu begitu,” tanya Dimas heran.

__ADS_1


“Joim loh, Bong! Kon odo Bong Ibro (Jaim lah, Bang! Kan ada Bang Ibra).”


Dimas hanya tersenyum kecil dan mengangguk pelan. Dia tidak merasa kecewa atau bersedih karena pernyataan Kalila. Dimas justru bersyukur. Karena setidaknya dia jadi lebih mengenal gadis itu.


“Sampai rumah langsung masak mie instan dia, Dim. Makan tuh jaim!”


Lagi-lagi Kalila tidak memedulikan ucapan Kairav. Gadis itu tetap saja asyik dengan makanan di hadapannya. Hingga Dimas memberikan satu tusuk sate aneka lauk bakar, ke piring Kalila.


“Makan yang banyak, Lila. Biar kuat menghadapi kenyataan,” ungkap Dimas sembari tersenyum geli.


“Kenyataan apa Bang? Kenyataan kalau Lila itu secantik bidadari,” ucap gadis itu diselingi oleh tawa renyahnya. Kairav bahkan menggumpal beberapa lembar tissue dan melemparkannya ke wajah Kalila, hingga membuat gadis itu menatap sinis pada kakak lelakinya.


“Kenyataan kalau jodoh kau itu bukan Bang Ibra, tapi aku.”


Celetukan Dimas berhasil membuat Kalila hampir tersedak. Kairav bahkan terkekeh. Kalila segera meletakkan piring dan meneguk minumannya.


“Jahat ih!” ungkap gadis itu sembari memukul lengan Dimas. Kalila yang menatap dengan wajah cemberut, malah membuat Dimas semakin gemas dengan gadis itu. Dimas bahkan mencubit gemas pipi Kalila.


“Bang Ibra tidak suka dengan wanita yang sering cemberut,” ungkap Dimas kemudian. Kalila langsung menyibakkan rambut pendeknya ke belakang.


“Kalau di depan Bang Ibra, Kalila mana bisa cemberut. Yang ada tuh, Lila akan membuka mata lebar-lebar. Menatap dan mengagumi maha karya sang pencipta. Ibrahim Adi Putra,” ucap Kalila. Gadis itu bahkan menarik turunkan alisnya, dan bergantian menatap Dimas dan Kairav.


Semua orang tertawa melihat tingkah gadis itu. “Kalau kau buka matamu itu lebar-lebar, si Ibra itu bakalan takut.”


Dahi Kalila berkerut. Kenapa Ibra harus takut melihat seorang bidadari sepertinya? Begitu juga dengan yang lainnya, mereka belum mengerti maksud omongan Kairav.


“Kenapa Bang Ibra takut?”


“Coba kau lihat Abang. Buka mata kau lebar-lebar!”


Kalila langsung mempraktekkan apa yang diminta oleh Kairav. Gadis itu menatap kakak lelakinya dengan mata yang terbuka lebar.


“Mirip Gerandong!” ucap Kairav santai. Dimas, Bu Alinah dan Nek Laila terkekeh-kekeh mendengar penuturan Kairav.


“Abaaang ....!!”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...

__ADS_1


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....


__ADS_2