
Kalila terus melangkahkan kakinya. Tidak memedulikan panggilan dari Dimas. Sementara Dimas berlari kecil, mengejar gadis itu. “Tidak jadi makan es krim nih,” ucap Dimas yang kini sudah mensejajarkan langkahnya dengan Kalila. Gadis itu tidak menjawab. Kalila terus melangkah dengan cepat.
“Sebagai permintaan maaf, kau boleh makan es krim sepuasnya.”
Bingo!
Kalila reflek menghentikan langkahnya. Makan es krim sepuasnya, benar-benar godaan berat bagi gadis itu. Kalila berbalik arah dan menatap Dimas dengan tatapan tidak percaya.
“Benar nih, makan es krim sepuasnya?!”
Dimas menganggukkan kepalanya. Kalila terlihat tengah memikirkan sesuatu.“Boleh pesan yang mahal juga tidak?” tanya Kalila. Dimas menganggukkan kepalanya sembari tersenyum lembut. “Kau boleh memesan apa saja hari ini. Es krim, burger, steak, crepes, nasi Padang. Bebas.”
Mata Kalila berbinar mendengar Dimas mengabsen seluruh nama makanan. Makan gratis sepuasnya, semaunya. Tentu saja gadis itu tergiur. “Tapi jangan modusin Lila lagi!”
Dimas tertawa kini. “Siap Nyonya,” ucap pria itu. Dimas mengulurkan kelingkingnya. “Sorry,” ucap pria itu. Kalila tersenyum sumringah. Gadis itu pun menautkan kelingkingnya pada kelingking Dimas.
“Sahabat selama,” ucap Kalila sumringah. Dimas hanya membalasnya dengan tersenyum lembut.
Dan kini, Dimas kembali duduk di balik kemudi. Menembus jalanan kota Medan yang cukup terik hari ini, bersama Kalila yang duduk di sampingnya. Pria itu benar-benar merasa senang. Dimas menyalakan perangkat musik yang ada di mobil itu. Mereka pun bernyanyi bersama sepanjang perjalanan.
^^^Kesedihan pun berganti tawa^^^
^^^Kebimbangan pun terhapus sirna, oh^^^
^^^Jikalau ada sahabat setia^^^
^^^Yang mampu sembuhkan luka^^^
^^^Tiada yang abadi di dunia^^^
^^^Tiada yang kekal selamanya, wo-wo^^^
^^^Coba dengarkan petuah^^^
^^^Dari mereka semua^^^
^^^Kita hidup di dunia hanya sementara^^^
__ADS_1
^^^Dan takkan ada yang sanggup^^^
^^^Untuk tetap bertahan^^^
^^^Kecuali cinta dan persahabatan^^^
^^^Let's go!^^^
Kalila dan Dimas benar-benar menikmati perjalanan mereka kali ini. Hanya berdua, bernyanyi bersama, saling menertawai ketika salah satu diantara mereka bernyanyi dengan nada sumbang, atau sekedar lupa lirik. Waktu satu jam yang mereka tempuh dalam membelah jalanan, benar-benar terasa sebentar. Karena mereka sangat menikmati perjalanan itu.
Dan kini, Kalila berada di restoran es krim. Duduk berhadapan dengan Dimas, gadis itu memesan es krim yang sangat didambakan olehnya sejak dulu. Es krim yang beberapa tahun lalu, dipesan oleh Kairav. Tapi kali ini, Kalila memesan dengan porsi double, untuk disantapnya berdua bersama Dimas.
Menyantap es krim bersama, Dimas dan Kalila layaknya sepasang kekasih yang tengah kasmaran. Terlebih aksi Dimas yang menyuapi Kalila. Pria itu bahkan sesekali terlihat menyeka sudut bibir Kalila yang berlumur cokelat. Setiap pasang mata yang menyaksikan, pasti mengira Kalila dan Dimas tengah dimabuk asmara. Romantis sekali.
“Kenapa kau selalu belepotan, calon makmum ku,” ucap Dimas gemas. Lagi-lagi pria itu menyeka sudut bibir Kalila. Gadis itu hanya tersenyum geli mendengar ucapan Dimas.
Hari itu, setelah menghabiskan es krim, Dimas mengajak Kalila menonton film. Kalila yang sudah lama tidak pergi ke bioskop pun, menyetujuinya. Melangkahkan kaki dengan serempak, Kalila dan Dimas pun berjalan ke gedung bioskop yang ada di mall itu.
Menyaksikan film selama dua jam, sembari menikmati makan siangnya, membuat Kalila begitu menikmati kegiatannya kali ini. Terlebih Dimas mengajaknya menonton film di kelas premium. Hingga gadis itu bisa menonton sambil berselonjor kaki dan memakai selimut.
Sebelum memasuki gedung pertunjukan, Kalila telah memesan beef black paper pasta sebagai hidangan utama dan churros sebagai hidangan penutup. Dan lychee tea yang selalu jadi pilihan Kalila, jika membeli minuman di kafe bioskop itu. Kalila menghabiskan seluruh makanan itu dalam kurun waktu hampir dua jam, persis durasi film yang mereka saksikan. Gadis itu benar-benar merasa dimanjakan oleh Dimas.
“Kau ini, punya ponsel tapi diabaikan!” gerutu Khalid. Kalila hanya tertawa kecil mendengar ocehan kakak lelakinya itu. Khalid saat ini tengah berada di kediaman orang tuanya. Mengambil beberapa pakaian tertinggal, karena besok pagi dirinya dan Feni akan melakukan perjalanan bulan madu mereka ke daerah Berastagi.
“Lagi main Bang, jadi tidak dengar suara ponsel,” elak Kalila. Khalid berdecak kesal dan menggelengkan kepalanya. Jika tidak ada Feni yang menahannya, Khalid tentu akan memarahi Kalila.
Kalila melangkahkan kakinya, berjalan keluar dari pusat permainan, karena suara Khalid tidak terdengar. “Kenapa tadi Bang?” tanya kalila.
“Kenapa kau tidak memberitahukan kepada Abang, jika Ibrahim kembali ke Singapore hari ini?”
“Lila juga baru tau tadi malam Bang. Dan paginya, Lila dan bang Dim yang mengantarkan Bang Ibra ke bandara,” jawab Kalila.
“Ibra sama sekali tidak memberitahukannya?”
“Tidak Bang. Bahkan kedatangan Bang Ibra ke Medan saja, Lila tau dari Bang Dimas,” jawab gadis itu. Khalid terdiam, kemudian memutuskan untuk mengakhiri panggilan telepon itu. Pria itu langsung menghubungi Kairav, agar adik lelakinya itu, segera menyusul Kalila.
Dan tepat pukul sembilan malam, Kairav pun tiba di mall itu, menyusul Kalila, sesuai perintah Khalid. Tidak langsung mengajak Kalila kembali ke kediaman mereka, Kairav mengajak Dimas ke suatu tempat.
__ADS_1
“Suka durian tidak, Bro?”
“Banget, Bang!” jawab Dimas.
“Ayo, kita ke surga,” ajak Kairav. Mata Dimas langsung berbinar. Begitu juga dengan Kalila. Mendengar Kairav yang menanyakan perihal durian, Kalila tau, jika kakak lelakinya itu akan mengajak mereka menikmati raja buah itu. Sewaktu Ibrahim ke kota Medan, mereka memang tidak mengunjungi tempat itu, karena Ibrahim tidak menyukainya.
Tidak jauh dari Plaza Medan Fair, tempat Kalila menghabiskan waktu seharian dengan Dimas tadi, Mereka beranjak menuju tempat makan durian yang paling populer di Kota Medan. Hanya butuh waktu sepuluh hingga lima belas menit berkendara, mereka pun tiba di sana.
“Welcome to the paradise, Bro!”
“Woaaah ...,” ucap Dimas kagum. Sejauh matanya memandang, terhampar si raja buah. Salah satu buah yang menjadi kesukaan Dimas. Durian.
Kalap. Itulah yang terjadi pada diri Dimas. Pria itu memakan banyak sekali buah durian malam itu. Hari ini benar-benar hari yang membahagiakan buat Dimas. Satu harian berkencan dengan Kalila, ditutup dengan menikmati buah kesukaannya.
Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dusta kan, Dimas. Kau benar-benar di surga sekarang!
Bahkan pria itu kini akan menginap di rumah Kalila. Bukan hanya malam ini, tapi untuk empat malam ke depan. Mereka juga sudah merencanakan melakukan perjalanan wisata selama tiga hari dua malam. Mulai dari menjelajah Kota Siantar, kemudian menelusuri jalan hingga ke Danau Toba, dan menginap satu malam di pulau Samosir. Menjelajahinya bahkan hingga melihat air terjun Si piso-piso.
Dan kembali ke kota Medan, melalui jalur Berastagi dan menginap di satu malam di sana. Pagi harinya mereka menikmati pemandangan di Bukit Gundaling.
[dokumentasi pribadi, terakhir kali ke Gundaling 🤭]
Selepas dari Bukit Gundaling, mereka menikmati pemandian air belerang. Baru kemudian kembali ke kota Medan. Perjalanan yang sedikit melelahkan, namun begitu banyak menyimpan kenangan bagi Dimas, Kalila dan Kairav.
Dimas terlalu lelah karena terus berada di balik kemudi selama perjalanan wisata mereka. Dan kini Dimas harus mengatur ulang jadwal penerbangannya. Karena kini, pria itu tengah sakit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....