Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 81


__ADS_3

Setelah membalas singkat pesan Ibrahim, gadis itu memutuskan untuk kembali mengirimkan pesan kepada Dimas.


[Kalila : Bang Dim, benar-benar tidak mau memaafkan Lila?]


Kalila terus menatap pesan yang dikirimkannya kepada Dimas, dengan wajah muram. Namun, wajah muram itu seketika cerah, ketika mendapati pesannya dibaca oleh Dimas. Wajah Kalila semakin bertambah cerah, ketika Dimas menghubunginya. Kalila berlari, keluar dari ruang kerjanya. Gadis itu melangkahkan kakinya dengan laju, hingga tiba di taman. Kalila memutuskan untuk menerima panggilan video dari Dimas, di taman itu.


“Bang Dimas sudah tidak marah lagi dengan Lila?”


***


Dimas Adi Putra, Point of View


Sejak Kalila duduk di bangku kelas tiga SMA, sejak gadis itu disibukkan dengan bimbingan belajar untuk menghadapi ujian akhir, kami— aku dan Kalila— memutuskan untuk melakukan panggilan video setiap malam. Aku yang menyarankan agar kami melakukan panggilan video setiap hari. Tujuanku adalah untuk menghibur Kalila. Agar gadis itu tidak terlalu stress menghadapi ujian akhir nanti. Kalila pun menyetujui hal itu. Melakukan panggilan video denganku, diakuinya membuat dirinya terhibur.


Menyeritakan keseharian yang kami lakukan, diselingi canda tawa. Durasi panggilan video, tergantung dari sinetron yang di tonton oleh mamaknya Kalila. Yang jelas, kami memulainya pada pukul 20:30 WIB, dan berakhir, ketika mamaknya Kalila masuk ke kamar.


Namun setiap malam Minggu, kami bisa saling bercerita hingga dua jam lamanya. Karena Kalila pasti tengah berada di kamar Bang Rav. Karena biasanya, bang Rav sibuk berkencan ataupun kumpul dengan teman-temannya.


Bahkan di saat Kalila sedang sibuk-sibuknya menyusun skripsi sekaligus tugas akhir kedua jurusan perkuliahannya. Kami tetap melakukan panggilan video, walau hanya berdurasi sepuluh hingga lima belas menit.


Tidak ada hari di mana kami tak melakukan panggilan video. Sesibuk apapun jadwal kami, selelah apapun tubuh kami, kami selalu meluangkan waktu untuk melakukan panggilan video.


Tapi kemarin malam, karena seorang pria yang sangat digilai oleh Kalila, untuk pertama kalinya, kami tidak melakukan panggilan video. Bahkan tak satu pun pesanku yang dibalasnya.


Semua itu karena kehadiran pria yang begitu didambakan Kalila sejak dulu. Pria itu tak lain adalah sepupuku, Ibrahim Adi Putra. Dugaanku tadi malam ternyata benar, Kalila tidak bisa dihubungi, karena asik bertelpon ria dengan A' Ibra.


Pagi ini, dengan santainya, Kalila menyeritakan obrolannya dengan A' Ibra, malam tadi. Padahal aku tidak bisa tidur karena berharap Kalila menghubungiku. Setidaknya membalas pesan-pesan yang aku kirimkan. Gadis itu bahkan mengatakan, jika A' Ibra akan menjemputnya sepulang bekerja. Aku tiba-tiba merasa sangat kesal, mendengar Kalila berceloteh mengenai pembicaraannya dengan A' Ibra.


Rasa kesalku yang memuncak membuatku tak dapat mengontrol ucapan. Aku bahkan memanggil Kalila dengan sebutan 'calon makmum Ibrahim Adi Putra.'. Semoga saat aku mengatakannya, tidak ada malaikat lewat dan mengamini ucapanku itu. Karena, aku masih berharap bisa menjadi calon imam gadis itu.


Tidak biasanya sepupuku itu menghubungi seorang wanita, jika bukan membicarakan sesuatu yang penting.

__ADS_1


Mungkinkah A' Ibra akan menjalin hubungan yang serius dengan Kalila?


Ku putuskan panggilan video itu secar sepihak. Aku tau, Kalila mungkin terkejut melihat sikap dan mendengar ucapanku. Tapi aku tak mau ambil pusing. Rasa kecewa, kesal, sekaligus kantuk sudah menguasai tubuhku.


Ku pasang ponsel dalam mode diam. Lalu ku putuskan untuk beristirahat, setelah semalam suntuk tidak dapat terlelap.


Lama aku tertidur. Yang jelas, begitu aku membuka mata dan mengecek ponsel, sebuah pesan dari Kalila, masuk ke ponselku.


Saat ku buka aplikasi perpesanan instan itu, ternyata Kalila sudah banyak mengirimiku pesan sejak pagi tadi— selepas kami melakukan panggilan video.


Gadis itu meminta maaf tas kesalahan. Kalila meminta maaf karena tidak menghubungiku malam kemarin.


Andai kau tau Kalila, aku sebenarnya tidak memersalahkan kau tidak menghubungiku jika itu karena kau lupa, tertidur ataupun sibuk.


Tapi aku sungguh tidak bisa menolerir, ketika tau, jika kau terlupa menghubungiku karena sibuk bermesraan dengan pria lain.


Aku cemburu Kalila. Aku sangat cemburu.


Apakah kau benar-benar tidak bisa melihat cinta di mataku, Kalila?


Ku baca kembali rangkaian pesan yang dikirim oleh gadis itu, hingga pesan terakhirnya, yang baru saja dikirimkan olehnya satu menit yang lalu.


[Kalila : Bang Dim, benar-benar tidak mau memaafkan Lila?]


Apa kau sedih karena aku tidak membalas pesan-pesan dari kau, Kalila? Seperti itulah yang aku rasakan. Aku sedih ketika kau melupakanku.


Namun aku bisa apa? Cinta tak bisa dipaksakan. Sekecewa apa pun, seterluka apa pun hati ini, aku tidak boleh membuatkau bersedih. Aku ingin kau selalu bahagia. Aku ingin kau selalu tersenyum, Kalila.


Aku putuskan untuk menghubunginya. Aku tau jika Kalila pasti masih di kantor. Hari ini gadis itu tidak ada jam mengajar. Dapat mengirimkan pesan satu menit yang lalu, itu artinya Kalila tidak dalam waktu yang sibuk.


“Bang Dimas sudah tidak marah lagi dengan Lila?”

__ADS_1


Kalimat itulah yang pertama kali terlontar dari bibirnya, ketika panggilan video kami tersambung. Aku hanya bisa tersenyum tipis.


“Bang Dimas ... masih marah ya?” tanyanya lagi.


“Aku tidak marah. Aku hanya merasa, kalau kau sudah tidak membutuhkan aku.”


“Maaf ....”


Hanya itu kata yang terucap dari bibirnya. Saat aku pandang wajahnya, hatiku bertambah sakit. Gadis itu terlihat suram. Wajahnya tak lagi bersinar.


Aku menghela napas berat, “aku pikir, aku berarti buat kau. Ternyata aku hanya kege'eran sendiri.”


Kalila terlihat menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Bang Dimas sangat berarti untuk Lila. Asal Bang Dim tau, Lila tidak bisa berkonsentrasi bekerja karena terus memikirkan Bang Dim. Lila takut kalau Bang Dim benar-benar tidak mau lagi menghubungi Lila. Lila takut, jika Bang Dim tidak memaafkan Lila dan menjauhi Lila.”


Kalila ... dia menangis. Aku sungguh tidak tega melihat air matanya menetes.


“Kalila ... kau adalah satu-satunya wanita yang aku sayangi, setelah mommy. Mana mungkin aku tidak memaafkan kau. Mana mungkin aku menjauhi kau. Bukan kah kita sahabat selamanya?”


Entah ucapanku yang mana yang menyinggungnya. Tapi Kalila malah semakin terisak. Padahal aku mengatakan itu, agar dia menghentikan tangisnya. Namun yang terjadi malah sebaliknya.


“Atau ... kau yang tidak mau menjadi sahabatku lagi?”


“Tentu saja Lila mau, Bang. Lila mau Bang Dimas menjadi sahabat Lila selama lamanya!”


Walaupun hati ini sakit mendengarnya, aku tetap tersenyum sumringah. “Kalau begitu, maukah kau mengentikan tangismu? Tersenyumlah Kalila. Kau jelek sekali kalau menangis. Aku tidak marah. Aku juga sudah memaafkan kau. Maafkan aku juga karena sudah membuat kau menangis.”


Senyum Kalila mengakhiri panggilan video kami. Kalila pun berjanji akan menghubungiku nanti malam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2