Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 11


__ADS_3

“Kalila Nasution, calon makmumnya Abang, kelak,” ucap Kalila sembari menyodorkan tangannya dengan tersenyum cerah. Secerah kota Bogor siang ini. Pria itu tersentak. Menatap tak percaya pada gadis di hadapannya. Tanpa sadar pria itu tersenyum tipis.


Sementara itu, semua mata kini tertuju pada Kalila. Kairav bahkan menghampiri dan mengusap kasar wajah adiknya itu. “Taubat kau, Dek!” ucap Kairav gemas. Bisa-bisanya Kalila bereaksi secentil itu kepada seorang pria, tepat di hadapan seluruh keluarganya.


“Bang ... Lila pakai mascara, tauuu ...,” rengek Kalila.


Spontan Kalila mengeluarkan cermin kecil dari tas yang disandangnya. Memerhatikan wajah yang tadi diusap oleh Kairav, apakah mascara yang dipakainya tadi meninggalkan noda hitam atau tidak.


Kalila meneliti di area sekitar mata. Dan gadis itu bisa bernapas lega, karena make up yang dipakainya masih terlihat rapi.


Pria misterius yang ada di hadapan Kalila, kini tersenyum geli menyaksikan tingkah konyol Kalila dan Kairav.


Sementara Kalila, setelah selesai dengan cermin nya, kembali mengulurkan tangan kepada pria yang ada di hadapannya itu.


“Kalila Nasution,” ucapnya dengan tersenyum lebar. Namun, saat pria misterius itu hendak membalas uluran tangan Kalila, ada tangan lain yang menyambar uluran tangan gadis itu.


“Dimas. Dimas Adi Putra. Calon imam kamu, kelak,” ucap pria itu.


Pria yang kini diketahui bernama Dimas itu, bahkan mengedipkan sebelah matanya, menggoda Kalila. Mata Kalila langsung membulat sempurna.


Kalila paling anti dengan pria genit. Dan kini, pria di hadapannya malah mengedipkan sebelah mata di hari pertama mereka bertemu. Bahkan bisa-bisanya pria itu menggagalkan acara perkenalan dengan pria tampan di depannya.


Kesal. Sangat kesal. Itulah yang dirasakan oleh Kalila, hingga gadis itu menghempas kasar tangan Dimas yang masih menggenggam jemari tangannya. Kemudian menatap tajam pria itu dengan wajah memberengut.


Dimas terkekeh. Bukan hanya Dimas, kedua kakak lelaki Kalila pun ikut terkekeh. Dimas lalu merangkul pria yang berdiri tepat di sebelahnya.


“Dia abang sepupu gue. Namanya Ibra— Ibrahim Adi Putra.”


Kalila masih menatap tajam Dimas. Dirinya tidak terlalu memercayai ucapan pria menyebalkan yang terus menyunggingkan sebuah senyuman kepadanya. Bahkan pria itu tetap terlihat sumringah, walau Kalila menatapnya dengan tatapan tidak suka.


“Lu bukan tipenya Bang Ibra. Lu lebih cocok sama gue.”

__ADS_1


“Ogah!” hardik Kalila. Bukannya merasa tersinggung atau sakit hati dengan ucapan ketus Kalila, Dimas malah terkekeh. Entah mengapa, Dimas begitu tertarik dengan gadis yang baru saja berulang tahun ke-17 itu.


Ucapan dan tingkah laku konyol Kalila begitu menarik perhatian Dimas. Pria itu memang sudah memerhatikan tingkah Kalila sedari tadi, bahkan ketika gadis itu menangis haru melihat kelulusan kakak lelakinya.


Kalila Nasution, gadis berkulit putih dengan rambutnya yang hampir menyentuh pundak itu, memang memiliki wajah yang cukup cantik. Dengan tingkahnya yang unik itu, ternyata mampu mengusik ketenangan seorang Dimas Adi Putra.


Sebenarnya ini bukan kali pertama Dimas melihat wajah Kalila. Pria itu pernah beberapa kali melihat Khalid mengunggah foto gadis itu di laman sosial medianya. Namun kala itu, Dimas tidak terlalu memerhatikannya. Toh dia sering menemui wanita yang jauh lebih cantik dari Kalila.


Namun, ketika melihat perpaduan wajah cantik dan tingkah konyol itu, ada sedikit rasa ketertarikan di hatinya.


Pasti dirinya akan selalu merasa terhibur, jika memiliki gadis konyol itu di sisinya. Pasti bahagia sekali bisa menghabiskan banyak waktu bersama Kalila. Begitu pikir Dimas.


Namun sayang, Kalila sama sekali tak tertarik padanya. Gadis itu malah lebih tertarik dengan Ibra— sepupunya.


Dimas melirik saudara sepupu yang kini dirangkulnya. Dari segi fisik, Ibra memang terlihat lebih tampan dibandingkan Dimas. Berbeda dengan Dimas yang asli keturunan Indonesia. Darah Pakistan dari sang Ibu, membuat Ibra sempurna dari segi fisik. Tinggi, putih, berhidung mancung, dengan bulu halus di sekitar wajah, membuat hati Kalila mencelos melihat ketampanan itu.


Bukan hanya tampan, Ibra juga sangat pintar. Pria itu bahkan akan segera menyusul Khalid. Empat bulan ke depan, Ibra akan segera di wisuda. Padahal Ibra merupakan junior Khalid di sana.


Sepupu gue yang satu ini, memang terlalu sempurna.


Dimas pun menghela napas kasar. Pria itu kembali menatap Kalila yang kini sudah beralih memandang Ibra. Terlihat sekali gadis itu sangat tertarik pada Ibra. Bahkan gadis itu rela mengulurkan kembali tangannya ke hadapan Ibra.


Kali ini Ibra membalas uluran tangan Kalila. “Ibrahim,” jawabnya singkat.


“Bilang dong, Bang, kalau kita saudara sepupu. Sepertinya calon makmum ku ini tidak percaya dengan ucapan calon imamnya.”


Mata Kalila kembali melebar. Dia benar-benar kesal. Gadis itu kembali menatap tajam Dimas. Hingga suara lembut Ibra berhasil membuat rasa kesal Kalila sedikit terobati.


“Dimas memang sepupu saya.”


Kalila pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “iya Bang. Kalau Abang yang mengatakannya, Lila pasti percaya kok,” ucap gadis itu. Ibrahim pun ikut tersenyum bersama Kalila.

__ADS_1


Hal itu membuat wajah Khalid terlihat cerah. Sudah dari lama Khalid mengagumi sosok seorang Ibrahim Adi Putra. Khalid bahkan bermimpi menjadikan Ibrahim sebagai adik iparnya. Melihat Kalila yang langsung terpikat akan pesona Ibrahim, membuat Khalid senang.


Khalid mengajak Ibrahim dan Dimas untuk ikut makan siang bersama dengan mereka di sebuah rumah makan Sunda yang tidak jauh dari sana. Dimas sangat antusias dengan ajakan Khalid.


Namun, Ibrahim mempunyai suatu pekerjaan lain yang harus dikerjakan. Dan pekerjaan itu harus dibantu oleh Dimas. Akhirnya, kedua pria tampan itu tidak bisa ikut makan siang bersama Kalila dan keluarganya.


“Lain kali akan aku pastikan, kita bisa makan siang bersama, calon makmum ku. Bagaimana kalau kita bertukar nomor ponsel terlebih dulu?” ucap Dimas. Kalila hanya menatap tajam, tanpa memedulikan ucapan Dimas. Hingga pria itu tersenyum geli.


“Maaf Bro. Kalila Nasution memang suka jutek begitu,” celetuk Kairav. Dimas hanya mengangguk dan tersenyum. Baru kali ini, ada seorang wanita yang bersikap dingin padanya.


Setelah berbincang sebentar, mereka pun berpisah di sana.


Khalid mengajak keluarganya menuju mobil yang sudah dia sewa untuk acara hari ini. Khalid pun membawa keluarganya menuju salah satu rumah makan khas Sunda yang berada di dekat danau, tak jauh dari Institut Pertanian Bogor.


Sepanjang perjalanan pulang, Kalila terus bertanya mengenai Ibrahim. Dan Khalid dengan senang hati memperkenalkan Ibrahim kepada Kalila.


“Besok, Abang akan minta tolong kepada Ibra, untuk menemani kalian liburan ke Kebun Raya Bogor. Bagaimana menurut kau?”


Mata Kalila membulat, mulutnya bahkan menganga mendengar ucapan Khalid. Kalila mengangguk dengan cepat. “Mau Bang. Mau!” seru Kalila. Bu Alinah dan Nek Laila hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepala melihat tingkah Kalila. Sementara Kairav, pandangannya terus fokus kepada Khalid.


Kairav merasa janggal dengan sikap Khalid yang begitu antusias mengenalkan sosok Ibrahim kepada Kalila.


Bagaimana tidak, Khalid adalah orang yang selalu melarang Kalila berhubungan dengan lawan jenis. Bahkan dirinya sering menerima ocehan Khalid, karena membiarkan Kalila berpacaran. Dan sekarang, Khalid malah begitu memuji Ibrahim di depan Kalila. Hingga membuat Kalila semakin tertarik dengan pria berdarah Pakistan itu, padahal Kalila masih memiliki kekasih di Medan.


Apa yang Abang rencanakan?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...

__ADS_1


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....


__ADS_2