Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 57


__ADS_3

“Apa kau mencintai Dimas?” tanya Bu Alinah, begitu Kalila baru saja menyimpan ponsel miliknya. Kalila terperangah, menatap tak percaya dengan pertanyaan yang terlontar dari bibir ibunya.


Mencintai Dimas?


Yang benar saja. Pertanyaan macam apa itu. Kenapa ibunya bertanya seperti itu? Bukankah seluruh dunia sudah tau, jika Kalila dan Dimas bersahabat baik. Terlebih keluarganya. Bukankah mereka sudah tau, jika Dimas adalah sahabat selamanya bagi Kalila. Bukankah semua orang sudah tau, jika pria yang dicintai oleh Kalila adalah Ibrahim Adi Putra. Pria pertama yang mampu meluluh lantakkan hatinya.


“Mamak kok bertanya begitu?”


Bu Alinah terdiam sejenak. Wanita paruh baya itu, bahkan menegakkan badannya dan duduk menghadap Kalila. “Karena terlihat seperti itu di mata Mamak.”


“Terlihat seperti apa?” tanya Kalila bingung.


“Kau tadi terlihat resah sekali, ketika Dimas tidak menjawab video call tadi. Kau resah sekali. Bahkan terlihat sedikit panik,” ungkap Bu Alinah. Alis Kalila bertaut, karena mendengar ucapan sang ibunda.


Apa yang salah dengan terlihat resah, ketika sahabatmu, tidak menjawab panggilan telepon berkali-kali. Ya ... walau hanya dua kali sih. Tapi, mengingat Dimas yang selalu siap sedia kapan pun dan di mana pun, jelas saja Kalila merasa resah. Gadis itu takut terjadi sesuatu dengan Dimas.


“Lila hanya takut Bang Dim, kenapa-kenapa Mak,” jawab Kalila. Bibir Bu Alinah melengkung, membentuk sebuah senyuman yang lembut.


“Segitu khawatirnya kau,” ucap Bu Alinah. Kali ini wanita paruh baya itu, bahkan mengatakannya dengan senyum mengejek. Ibunya Kalila itu benar-benar yakin, jika anaknya mencintai Dimas. Dia sendiri tidak merasa keberatan dengan itu. Dia pun sangat menyukai Dimas. Dan menurut Bu Alinah, Kalila akan sangat beruntung, jika mendapatkan Dimas sebagai pendamping hidupnya. Terlihat jelas, Dimas sangat menyayangi Kalila.


“Tentu saja Lila khawatir Mak. Bang Dimas itu sahabat Lila, dan dia tidak pernah menjawab panggilan video Lila selama itu.” lagi-lagi Bu Alinah tersenyum mengejek. Menatap tidak percaya dengan apapun yang diungkapkan Kalila.


“Lila menyayangi Bang Dimas, Mak.” Kali ini, Bu Alinah tersenyum sumringah. Akhirnya Kalila mengakuinya, mengakui jika dia menyayangi Dimas. Begitulah pikir Bu Alinah.


“Lila menyayangi Bang Dimas, sama seperti Lila menyayangi Feni. Hanya sebagai sahabat. Tidak lebih,” jelas Kalila. Bu Alinah hanya tersenyum menatap anak bungsunya.

__ADS_1


“Pria yang Lila cintai itu, Bang Ibra. Mamak tau itu kan? Lila masih mengharapkan Bang Ibra. Lila juga sudah berjanji akan menunggunya,” lanjut gadis itu.


“Apakah kau yakin, jika Ibra menyuruhmu untuk menunggunya?”


Pertanyaan Bu Alinah membuat Kalila sedikit tersentak. Namun gadis itu meyakinkan dalam hatinya, jika Ibrahim memang memintanya untu menunggu. Menunggu pria itu siap untuk melamarnya. Kalila mengangguk kecil sekarang. “Lila yakin, Mak, sangat yakin. Di tepi Danau Toba itu, tidak ada wanita lain. Hanya ada Kalila.”


“Apa dia menyebutkan nama kau— Kalila?” Lagi-lagi Kalila tersentak. Pria itu— Ibrahim Adi Putra, memang tidak pernah secara spesifik menyebutkan namanya. Pria itu, secara spesifik, tidak pernah memintanya untuk menunggu. Pria itu— Ibrahim Adi Putra, hanya mengatakan harapannya, agar wanita pujaan mau menunggu pria itu siap. Siap melamar wanita pujaannya.


“Dia menyebutkan nama kau, Kalila?” tanya Bu Alinah sekali lagi. Kalila menggeleng pelan. Gadis itu bahkan terlihat sendu sekarang.


“Kau mencintai Ibra?” Kalila mengangguk pelan, “Lila benar-benar menyukainya Mak. Lila ... Bahkan tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya. Lila tidak pernah sesuka ini terhadap pria, sebelumnya. Bang Ibra, cinta pertama Kalila.”


Bu Alinah menghela napas perlahan. Menatap Kalila yang kini menjadi sendu akibat ucapannya tadi. “Kau yakin itu cinta?” Kalila mengangguk mantap. Dia yakin itu cinta. Itu memang cinta. Kalila memang begitu mencintai Ibrahim Adi Putra. Gadis itu bahkan rela terus memantau sosial media sang pujaan hati. Menurunkan harga dirinya untuk terus menghubungi pria itu lebih dulu. Walau, tidak setiap hari. Tapi setidaknya, dalam kurun satu atau dua Minggu sekali, Kalila pasti menghubungi Ibrahim.


“Tapi, Mamak tidak pernah melihat kau menghubungi Ibra,” ucap Bu Alinah heran. Kalila pun mengaku, jika dirinya dan Ibrahim memang jarang berkomunikasi, dikarenakan kesibukan Ibrahim yang tengah mengurus perusahaan sebagai direktur perencanaan. Bu Alinah hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Kalila.


Dahi bu Alinah berkerut. Jelas sekali anaknya tadi mengatakan, jika Ibrahim tidak pernah secara spesifik menyebutkan nama Kalila, ketika memintanya untuk menunggu. “Maksud Lila, Bang Ibra berharap gadis pujaannya akan menunggunya untuk siap. Bang Ibra langsung mengatakan itu kepada Lila. Setelah dia mengatakan, kalau dia ke Medan tempo hari, hanya untuk melihat senyum ceria Lila,” ucap Kalila. Gadis itu benar-benar ingin meyakinkan sang ibunda, jika Ibrahim benar-benar memintanya untuk menunggu.


Bu Alinah lagi-lagi hanya mengangguk-angguk. “Tapi kau juga perlu memastikan sesuatu Kalila.”


“Memastikan sesuatu?”


Bu Alinah mengangguk, menatap lekat manik kehitaman milik Kalila. “Kau perlu benar-benar memastikan, jika wanita pujaan yang dimaksud Ibrahim adalah kau. Setidaknya sampai saat ini. Siapa tau dia sudah berganti wanita pujaan,” jelas Bu Alinah.


Kalila bersusah payah menelan salivanya. Tidak pernah terpikirkan olehnya, jika wanita pujaan Ibrahim, bisa saja berganti. Bisa saja, jika sekarang, wanita pujaannya itu bukan dirinya lagi. Atau, bahkan dirinya tidak pernah menjadi wanita pujaan Ibrahim, sama sekali?

__ADS_1


Bisa saja, jika selama ini, Kalila hanya gede rasa sendiri. Merasa percaya diri, jika wanita pujaan yang dimaksud Ibrahim saat itu adalah dirinya.


“Kau itu wanita, Kalila. Kau perlu memastikannya. Jangan sampai, kau menunggu sesuatu yang sia-sia. Menunggu sesuatu yang bahkan, bukan untuk kau.”


Pesan sang ibunda begitu menancap di hati Kalila.


Sakit.


Baru mendengar ucapan sang ibunda saja sudah membuatnya seakan hancur. Bahkan sulit bernapas. Dadanya seakan sesak.


Bagaimana jika hal itu menjadi kenyataan?


Bagaimana jika dirinya bukan wanita pujaan Ibrahim?


Bagaimana jika dirinya bukan wanita yang diharapkan oleh Ibrahim untuk menunggu pria itu siap?


Banyak sekali keresahan dalam diri Kalila, sekarang. Gadis itu berulang kali terlihat menghela napas berat.


“Yasudah, kau tidurlah. Jangan sampai kau tidur lagi setelah subuh. Bisa-bisa kau akan dimarahi lagi.” Kalila mengangguk pelan. Sejak tadi, dirinya memang sudah berencana untuk terlelap. Namun, pertanyaan-pertanyaan dari ibunya tadi, kembali membuat Kalila memikirkan banyak hal.


Dan, malam ini pun, Kalila tidak dapat tidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2