
Kairav masih berjarak dengan Kalila. Pria itu masih enggan mendekati adiknya. “Ayo Bang ... Kita pulang saja!” teriak Kalila yang kini sudah lebih bisa mengatur napasnya.
“Ah ... Nanti kalau Abang mendekat, lengan Abang pasti kau gigit!”
“Tidak. Ayo pulang! Lila capek,” ujarnya.
Kairav memandang Kalila dengan tatapan tidak percaya. Dengan penuh kewaspadaan, perlahan Kairav mendekati Kalila.
Gadis itu langsung menyergap lengan Kairav. Ketika Kalila hendak bergelayut pada lengan kakak lelakinya itu, Kairav spontan mendorong wajah Kalila agar menjauh dari lengannya.
“Tuh kan ... tuh kan ... mau gigit Abang, kau kan?!”
Mendengar keraguan Kairav, gadis manja itu pun menghempas kasar lengan kakak lelakinya. Kalila bahkan menghentakkan kakinya. Dia benar-benar kesal dengan Kairav. Bukan kah dia sudah mengatakan tidak akan menggigit pria itu? Lantas mengapa kakak lelakinya itu masih saja tidak memercayai dirinya? Padahal sejak dulu hingga sekarang, Kalila tidak pernah berbohong. Dia gadis yang jujur. Teramat jujur bahkan.
“Bukannya tadi sudah Lila katakan. Lila tidak akan menggigit Abang!”
“Ah ... tidak percaya Abang dengan ucapan mu.”
“Ishh ...!!”
Kalila benar-benar dibuat kesal. Gadis itu menatap tajam Kairav. Memberikan isyarat dengan matanya, jika dirinya tidak berbohong. Dia benar-benar tidak akan menggigit Kairav saat ini.
“Benar nih? Tidak berbohong kan?”
Kalila tidak menjawab. Gadis remaja itu terus saja menatap tajam, hingga Kairav menjadi tak enak hati karena tidak percaya dengan ucapan adiknya itu.
“Yasudah ... Abang minta maaf. Sekarang kita cari makan siang dulu,” ucapnya.
Senyum Kalila langsung terkembang. Gadis remaja itu kembali mengalungkan tangannya pada lengan Kairav. Kalila tersenyum lebar, hingga menampakkan deretan gigi putihnya.
Melihat senyuman itu, Kairav pun memicingkan matanya, menatap adik semata wayang yang kini bergelayut manja di lengannya.
“Jangan lebar kali senyum kau itu. Tambah hilang nanti hidungmu,” ejek Kairav sembari menahan tawa.
__ADS_1
Dahi Kairav berkerut seketika saat melihat ekspresi Kalila yang tidak berubah. Gadis remaja itu masih menampilkan deretan gigi putihnya.
“Merinding Abang, lihat senyuman kau, Dek. Tidak enak perasaan Abang.”
Senyum Kalila tambah lebar mendengar ucapan Kairav, “hehehe.”
Dahi Kairav semakin mengerut. Dia paham betul, jika Kalila pasti menginginkan sesuatu.
“Pengen es krim, Bang,” ucap gadis itu kemudian. Kairav terlihat mengangguk, “iya, nanti kita beli setelah selesai makan siang. Atau ... kita makan siang di Mc.D saja. Kau kan suka sekali tuh Mc. Flurry Oreo. Nanti Abang mu ini yang belikan. Tenang saja,” ucap Kairav sambil menepuk dada dengan bangga.
Masih dengan cengirannya, Kalila menggelengkan kepala. “Lila mau es krim di City Ice Cream atau Fountain, Bang. Hehehe.”
Kali ini mata Kairav melotot mendengar permintaan Kalila. Bisa-bisa uang yang dititipkan Khalid tadi tidak cukup untuk makan siang mereka. Padahal dia sudah berbangga hati akan mentraktir adik kesayangannya itu, walau sebenarnya menggunakan uang dari Khalid.
Khalid memang sengaja menitipkan uang seratus ribu rupiah kepada Kairav. Agar kedua adiknya itu tidak harus kelaparan dalam perjalanan pulang ke rumah.
“Kalau begitu, kita makan di rumah saja!”
“Abang kan sudah berjanji, kita akan makan siang di luar,” rengek Kalila. Mulut gadis itu pun kini tengah memberengut.
Kairav menjadi tidak tega melihat ekspresi Kalila. Pria itu pun menghela napas berat. Terpaksa dia akan menggunakan uang sakunya untuk mentraktir Kalila.
“Yasudah, kita naik bus ke Plaza Medan Fair. Kita ke City Ice Cream.”
“Aaaaaaa ...,” Kalila memeluk Kairav dengan erat. Gadis itu bahkan melompat kegirangan.
Rasanya air liur Kalila hampir saja menetes, ketika membayangkan es krim yang akan melumer di dalam mulutnya. Gadis remaja itu melepaskan pelukannya pada Kairav. Lengan kiri Kalila langsung menggandeng Kairav. Sementara lengan kanan diangkatnya tinggi-tinggi sembari menunjuk langit.
“Ayo Bang, let's go!” ucap Kalila bersemangat.
Kairav menyunggingkan sebuah senyuman melihat reaksi Kalila. Sepertinya mengabulkan keinginan Kalila, benar-benar membuat gadis remaja itu bahagia. Pasalnya sejak seminggu sebelum keberangkatan Khalid, bahkan hingga mereka menatap pesawat yang ditumpangi Khalid tadi lepas landas, gadis itu sering terlihat sendu.
Ya ... tidak apalah jika aku mengorbankan uang sakuku sedikit. Demi melihat si hidung lebar ini kembali ceria.
__ADS_1
Kairav lebih mengeratkan gandengan Kalila. Pria itu bahkan mengikuti tingkah adik kesayangannya. Dengan tangan yang ikut menunjuk langit, Kairav pun berteriak, “let's goooo!” ucap pria itu tak kalah semangat.
Kedua kakak beradik itu berjalan menuju tempat bus DAMRI berada. Dengan membeli tiket seharga empat puluh ribu rupiah, mereka berdua pun menaiki bus DAMRI dengan tujuan Carrefour.
Sebenarnya mall yang akan mereka kunjungi tersebut bernama Plaza Medan Fair, namun entah mengapa sebutan Carrefour lebih dikenal sebagai pengganti nama mall tersebut.
Begitu menaiki bus, Kalila langsung menempelkan kepalanya pada jendela bus di samping tempat duduknya. Gadis remaja itu langsung memejamkan mata dan terlelap.
“Dasar *****! Tidak bisa melihat tempat bersandar, langsung molor! Mimpi apa aku, punya adik macam begini,” dengus Kairav kesal. Padahal Kairav ingin berbincang sepanjang perjalanan dengan adiknya itu. Dia ingin membuat gadis remaja itu menjadi gadis yang lebih kuat.
“Ngantuk,” cercau Kalila yang ternyata masih memiliki sedikit kesadaran, hingga dia bisa mendengarkan ocehan Kairav.
Kairav pun terpaksa bermain ponsel untuk mengurangi rasa bosannya selama perjalanan di dalam bus.
Jalanan kota Medan cukup padat siang itu, hingga butuh waktu satu jam lebih, untuk mereka tiba di tempat tujuan.
“Bangun wei, bangun!” ucap Kairav. Pria itu juga mengguncang lengan Kalila hingga gadis remaja itu terbangun ketika bus baru saja memasuki kawasan mall tersebut.
Kalila mengerjap-ngerjapkan matanya, menyesuaikan pandangan dengan cahaya matahari yang begitu menyilaukan siang ini. Bahkan ketika mereka di dalam bus, cahaya matahari hari masih terasa menyilaukan.
“Sudah puas tidurnya?!”
Kalila tidak menjawab sindirian Kairav. Gadis remaja itu hanya menampakkan deretan gigi putihnya, berharap sang kakak lelakinya itu mengerti dengan tindakannya yang terus tertidur selama perjalanan.
“Ice cream ... we're comiiing ...!” teriak Kalila dengan mengangkat kedua tangannya ke atas, ketika dirinya dan Kairav baru saja turun dari bus. Sontak tingkah Kalila itu mengundang sorot mata pengunjung mall yang ada di sana. Bahkan banyak yang menggelengkan kepala dan menahan tawa melihat tingkah gadis remaja itu.
“Ish ... kau ini,” ucap Kairav sembari menempeleng kepala Kalila. “Memang buat aku malu saja kau bisanya. Norak!” Kalila pun terkekeh. Gadis remaja itu kembali menggandeng lengan Kairav.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....