
Saat Dimas tengah menempuh pendidikan masternya di Negara Singa, ketika Sabtu malam seperti ini, mereka selalu melakukan panggilan video sampai tengah malam.
Namun, kali ini, di Sabtu malam ini, Kalila menangis sesenggukan sepanjang malam. Menumpahkan perasaannya. Bukan hanya rasa sakit, tapi juga rasa sesal dan rasa takutnya. Kalila benar-benar takut jika Dimas akan menghindari dirinya untuk selamanya.
Kalila sudah terbiasa menjalani hidup dengan kehadiran Dimas di hari-harinya. Bagaimana dia bisa melanjutkan hari tanpa adanya Dimas di sisi?
Kalila benar-benar takut.
Hatinya sakit.
Dirinya merasa menyesal telah mengecewakan Dimas.
Kalila merindukan pria itu. Pria yang selalu ada untuknya. Pria yang selalu menemani hari-hari indahnya. Pria yang rela melakukan apa saja demi kebahagiaannya.
“Bang Dim ... Maafkan Lila.”
Hanya itu kata-kata yang terucap di sela-sela tangis Kalila.
Kalila sengaja menyembunyikan tangisnya dari Khalid. Gadis itu tak mau kalau Khalid berpikir, jika Dimas lah yang membuat adiknya itu menangis semalaman.
Sebelum subuh, Kalila sudah mandi dan menanti subuh di kamarnya. Gadis itu tidak keluar untuk sarapan dan makan siang. Kerjaan yang menumpuk, menjadi alasan Kalila karena tidak keluar kamar.
Bu Alinah yang mengerti akan kegundahan anak bungsunya itu, membawakan makan siang Kalila ke kamarnya. Namun, Kalila baru menyentuh makanannya, ketika matahari sudah tergelincir ke ufuk barat. Itupun, Kalila hanya menyentuh makanan itu sedikit saja. Sepanjang hari, Kalila sibuk mengompres matanya yang terlihat sembab.
***
Kalila yang masih belum bisa menguasai kesedihannya, memutuskan untuk tidak bekerja hari ini. Rencananya, gadis itu akan meminta izin secara langsung kepada Ibrahim. Namun, tidak seperti dua hari belakangan, hari ini Ibrahim tak datang untuk menjemputnya.
Bahkan, Ibrahim juga tak memberikan kabar soal itu sebelumnya. Karena hari Jum'at lalu, Ibrahim juga berjanji akan menjemputnya dan berangkat bersama ke kantor, pada hari Senin.
Kalila pun menghubungi ponsel pria itu. Namun, tak juga mendapatkan jawaban. Jika saja Kalila bekerja hari ini, tentu dirinya akan terlambat tiba di kantor, karena terlalu lama menanti Ibrahim.
Kalila mengirimkan pesan singkat kepada Ibrahim. Mengabarkan jika dirinya sedang tidak dalam kondisi fit untuk bekerja. Kalila juga mengirimkan pesan yang sama kepada Indra—asisten Ibrahim.
Tak lama, Indra pun membalas pesan dari Kalila. Namun Ibrahim, hingga hari menjelang siang, pria itu tak membalas pesan Kalila. Bahkan, hingga malam hari, Ibrahim hanya membaca pesan itu dan tak membalasnya. Tapi Kalila tak mau ambil pusing dengan sikap pria itu. Kalila beranggapan, jika Ibrahim pasti sedang sibuk, hingga lupa membalas pesannya.
__ADS_1
Namun yang sebenarnya terjadi adalah, Ibrahim sudah mendapatkan jawaban dari Anneke.
Hari itu, saat Kalila tengah sibuk mengompres mata karena sedih dengan menghilangnya Dimas dari kehidupannya. Ibrahim tengah menunggu kehadiran seorang wanita di tempat yang sama, saat terakhir kali mereka bertemu.
Wanita itu tiba dengan seorang pelayan yang sedang membawa dua gelas minuman hangat, karena kota Bogor tengah diguyur hujan lebat— saat itu.
“Maaf, karena aku lama memberikan keputusan,” ucap gadis itu memulai pembicaraan. Ibrahim mengangguk, senyum tipis menghiasai wajah tampan itu.
Anneke menyeritakan mengenai dirinya yang harus membujuk sang ibunda yang telah salah paham. “Tapi, Kalila yang menjalin hubungan dengan sepupu Akang, itu benar kan?”
Terdiam sejenak, Ibrahim kemudian mengangguk pelan. “Mereka memang dekat. Dan itu juga sudah sejak lama,” jawab Ibrahim. Ibrahim tidak berbohong, karena Kalila dan Dimas memang sangat dekat. Bahkan dirinya sendiri saja, tidak menyukai kedekatan yang terjadi antara Dimas dan Kalila.
“Akang juga sudah tidak punya perasaan apapun terhadap Kalila kan?”
Ibrahim hanya menjawab dengan anggukan kepalanya. Tapi, andai Anneke menatap mata pria itu lebih lekat, tentu Anneke akan melihat keraguan di sana. Ya, Ibrahim memang bingung dengan perasaannya sendiri. Karena sebenarnya, Ibrahim juga menginginkan Kalila. Tapi jika harus memilih salah satu antara kedua gadis itu. Tentu saja dirinya akan memilih Anneke.
Anneke lulusan universitas luar negeri seperti dirinya. Anneke juga lulus dengan predikat summa cumlaude, sama seperti dirinya. Anneke juga berasal dari keluarga terpandang, pun sama seperti dirinya.
Seberapapun istimewanya Kalila, seberapapun menyenangkannya gadis itu, cinta pertamanya itu tetap tak sebanding dengan Anneke.
“Kalau begitu, kau sudah setuju jika acara pertunangan kita diadakan tiga Minggu lagi?” Anneke mengangguk. Bibir Ibrahim seketika melengkung membentuk sebuah senyuman. Akhirnya Anneke menerima lamarannya. Dan sebentar lagi, gadis yang selama ini dikaguminya, akan menjadi miliknya.
***
Sejak Anneke menerima lamarannya, Ibrahim tidak lagi menjemput Kalila untuk berangkat kerja bersama ataupun mengantarkan gadis itu setelah pulang bekerja.
Namun Kalila sama sekali tidak ambil pusing dengan sikap Ibrahim yang mendadak berubah. Kalila menjalani harinya seperti biasa. Selama dua Minggu ini, yang ada di pikiran gadis itu hanya Dimas.
Apa kabar pria itu?
Apakah dia sehat?
Apa pekerjaannya di sana lancar?
Apakah Dimas mengingatnya walau hanya sekejap?
__ADS_1
Atau, mungkinkah pria itu sudah melupakan dirinya?
Beberapa kali Kalila mengunjungi kediaman Bu Ghita hanya untuk menanyakan kabar Dimas. Biasanya Bu Ghita akan menunjukkan foto-foto Dimas terkini. Kalila hanya tersenyum setiap menatap potret Dimas.
Yang penting pria itu terlihat sehat.
Kalila benar-benar merindukan pria itu. Pria yang pernah berjanji akan menjadi sahabat selamanya.
Sejak ditinggal oleh Dimas, Kalila sulit makan dan sulit tidur. Gadis itu baru tertidur setelah lewat tengah malam. Kalila juga selalu melupakan waktu sarapan dan makan malam. Jika pun makan, gadis itu hanya mengambil dalam porsi kecil. Tidak heran jika dalam dua Minggu, Kalila kehilangan berat badannya. Gadis itu terlihat lebih kurus dari biasanya.
Dan dua Minggu setelah kepergian Dimas, Kalila mendapatkan dua berita yang membuat dia cukup terkejut. Harry yang mengajukan surat pengunduran diri.
“Kalian berdua sekongkol untuk meninggalkan aku, iya kan?!” tanya Kalila, ketika Harry memberitahukan dirinya akan mengundurkan diri dari perusahaan dan bekerja bersama Dimas di pulau Dewata.
“Sebenarnya, aku juga menanyakan kepada Dimas, kenapa dia tidak mengajak kau ikut serta di proyek ini? Tapi, kata Dimas, kau sudah menemukan kebahagiaan kau di sini.”
Kalila sangat mengerti mengenai kebahagiaan yang dimaksud oleh Dimas. Ibrahim. Pasti tentang Ibrahim. Andai saja Dimas tau, jika Ibrahim tak lagi bersikap ramah padanya. Andai saja Dimas tau, jika sudah dua Minggu dirinya tak bertegur sapa dengan pria itu.
Andai Dimas tau semua itu, akankah Dimas juga menawarkan pekerjaan itu padanya?
Kalila menghela napas panjang. Gadis itu hanya menitipkan salam, jika Harry menghubungi Dimas.
Dan berita kedua yang diterima Kalila, benar-benar membuat gadis itu terkejut. Bukan hanya Kalila, bahkan Harry, dan seluruh staff divisi desain dan perencanaan terkejut dengan berita pertunangan antara Ibrahim dengan Anneke.
“Bang Dimas ....”
Itu adalah kalimat terakhir yang terlontar dari bibir mungil Kalila, sebelum gadis itu jatuh pingsan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
__ADS_1