Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 84


__ADS_3

Seusai mengantar Kalila, Ibrahim terus memikirkan ucapan Kalila. Ucapan mengenai Kairav dan Anneke yang saling menyapa melalui sosial media. Kairav tidak bisa dianggap remeh. Pria itu tampan, menjadi atlit basket membuat postur tubuh pria itu bagai model— tubuh tinggi dengan perut yang memiliki enam kotak.


Karir kakak lelaki Kalila itu juga terbilang bagus. Dua tahun menjadi team marketing di salah satu bank swasta terkemuka, kini pria itu sudah menjabat sebagai manager pemasaran di bank tersebut.


Kemampuan Kairav di bidang menyakinkan seseorang memang patut diacungi jempol. Berulang kali pria itu membawa teamnya, sebagai team marketing terbaik se-Indonesia.


Ibrahim menatap dirinya pada kaca spion. Dari segi wajah dan penampilan, dirinya tak kalah dengan Kairav. Begitupun dari segi pendapatan. Bahkan Ibrahim lebih unggul dibandingkan Kairav yang hanya seorang manajer. Tapi kemampuan komunikasi dengan lawan jenis, Ibrahim jauh dari kata sempurna. Satu-satunya wanita yang pernah dekat dengannya hanyalah Kalila.


Namun, jangan samakan gadis itu dengan Anneke. Anneke begitu spesial di mata Ibrahim. Gadis itu benar-benar luar biasa. Bahkan Ibrahim yang selalu dibanggakan seluruh keluarga Adi Putra, berhasil dikalahkannya. Karena itulah Ibrahim merasa rendah diri di hadapan Anneke. Pria itu bahkan tidak berani walau hanya berkenalan.


Sejak kejadian di Singapura empat tahun silam, Ibrahim menjadi pengagum rahasia Anneke. Namun informasi yang di dapat pria itu hanya nama yang tertera pada name tag nya 'Anne' dari The University of Melbourne.


Melbourne Graduate School of Education, berada di peringkat ke enam dunia di bidang pendidikan. Tak di ragukan lagi, Anneke memang sangat pantas menjadi moderator pada seminar internasional yang bertemakan pendidikan, empat tahun silam, di Singapura.


Ibrahim sungguh tidak bisa melupakan gadis itu. Namun minimnya informasi mengenai gadis itu, membuat Ibrahim tidak bisa bertemu Anneke setelah seminar internasional itu. Ibrahim yang merasa rendah diri, juga tidak terlalu berusaha mencari Anneke. Pria itu berprinsip, jika memang gadis itu jodohnya, suatu hari nanti mereka akan bertemu


Dan akhirnya, kini mereka bertemu. Dari Kalila, Ibrahim juga mengetahui jika Anneke juga masih sendiri. Dan kini Ibrahim akan berusaha agar bisa lebih dekat dengan gadis itu. Setidaknya bisa menatapnya dari kejauhan.


***


“Bagaimana kencan kau dengan A' Ibra?” tanya Dimas, begitu panggilan video dengan Kalila tersambung. Kalila hanya mengerucut bibirnya mendengar pertanyaan Dimas. Sementara pria itu hanya bisa tersenyum tipis, setelah Kalila menyeritakan mengenai Ibrahim yang tidak bisa menemaninya melakukan pemeriksaan kesehatan.


Entah apa yang dipikirkan oleh Dimas. Alih-alih merasa senang karena kencan Kalila dan Ibrahim gagal terlaksana, pria itu justru merasa kesal dengan tindakan Ibrahim. Dimas tidak habis pikir dengan sepupunya itu. Mengapa dia bisa mengorbankan janjinya dengan Kalila? Padahal gadis itu sudah teramat bahagia karena Ibrahim berjanji akan menemaninya melakukan pemeriksaan kesehatan. Tapi sepupunya itu malah membatalkan begitu saja janjinya.


Apa yang lebih penting dibandingkan janji dengan Kalila?


Begitulah yang ada di pikiran Dimas. Mungkin Dimas tidak tau, bahwa tidak semua orang menjadikan Kalila sebagai prioritas hidupnya. Atau mungkin, hanya dirinya yang menjadikan Kalila sebagai prioritas, sedangkan pria lain tak begitu.

__ADS_1


Kalila pun menyeritakan perihal pemeriksaan kesehatan yang dilakukannya. “Sewaktu pengambilan darah serem sekali, Bang. Aku sampai keringat dingin. Dokter yang mengambil sampel darahku sampai menertawai. Ini semua karena Bang Rav. Bang Rav menakutiku dengan mengatakan kalau mengambil darah itu sangat sakit. Padahal hanya sakit sedikit saja!” ucap Kalila kesal.


Namun Dimas, tentu saja menertawai gadis itu, hingga Kalila menjadi bertambah kesal. Dimas pun semakin terbahak-bahak melihat wajah cemberut Kalila. Terlebih gadis itu terus mengomel.


Di tengah perbincangan mereka, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Kalila. Mata gadis itu membulat ketika membaca pesan itu.


“Kenapa kau?”


Kalila hanya menjawab pertanyaan Dimas dengan tersenyum lebar, dan menunjukkan deretan gigi putihnya. Mata gadis itu bahkan menyipit saking lebarnya senyuman yang diberikannya. Dimas pun ikut tersenyum sumringah melihat wajah Kalila.


“Bang Dim ...,” panggil Kalila.


“Iya ... Calon makmumku,” jawab Dimas lembut. Kalila seketika mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Dimas.


“Kemarin katanya, Kalila calon makmum Ibrahim,” cebik Kalila. Dimas pun tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Pria itu benar-benar menyesal telah menyebutkan kalimat itu. Dan berharap tidak ada malaikat lewat, yang mencatat ucapannya yang penuh emosi kala itu.


“Kalau kau sendiri, maunya bagaimana? Menjadi calon makmum Ibrahim Adi Putra, atau menjadi calon makmum Dimas Adi Putra,” goda Dimas. Kalila berpura-pura tengah berpikir keras. Dimas pun kembali tertawa terbahak-bahak melihat tingkah gadis itu.


“Tapi apa?! Apa hah?! Apa?!”


“Lila takut, kalau Dimas Adi Putra, kembali ngambek dan mengancam untuk tidak lagi menelpon Kalila Nasution lagi. Jadi ... terpaksa deh, Lila memilih Dimas Adi Putra.”


Sontak Dimas tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban yang keluar dari mulut Kalila. “Hei ... Kalila Nasution ... Aku pegang ucapan kau,” ucap Dimas sembari terkekeh.


Sementara Kalila menautkan kedua alisnya, “ucapan yang mana?!”


“Ucapan kalau kau adalah calon makmumnya Dimas Adi Putra. Kau sendiri tadi yang memilih aku. Yaa ... walaupun terpaksa kata kau tadi.”

__ADS_1


“Ya ... Ya ... Tentu saja ucapanku benar. Kalila tidak pernah berbohong! Kalila Nasution calon makmumnya Dimas Adi Putra! Dari pada orangnya ngambek lagi, bisa gawat!” tukas gadis itu.


Dimas tambah terbahak-bahak mendengarnya. “Aku aminkan ucapan kau itu! Jadi, kalau suatu saat kau menjadi makmum ku, itu adalah do'a kau sendiri! Aamiiin ....”


Mata Kalila seketika melebar mendengar ucapan Dimas. Terlebih kata 'amin' yang diucapkan Dimas dengan lantang. “Bang Dim, jangan gitu dong! Lila jadi merinding nih!”


Lagi-lagi Dimas Adi Putra tertawa terbahak-bahak. Pria itu amat bahagia karena Kalila mengucapkan sendiri bahwa gadis itu adalah calon makmum dirinya. Dimas berharap ada malaikat lewat dan mencatat ucapan Kalila. Agar ucapan gadis itu bisa menjadi nyata.


“Oh iya ... kau tadi mau mengatakan apa, Kalila Nasution, yang katanya calon makmum Dimas Adi Putra?” tanya Dimas masih dengan sisa tawanya.


“Tarik dulu kata 'amin' yang Bang Dim ucapkan tadi!”


Dimas kembali terkekeh-kekeh, “mana bisa ditarik kembali. Ucapan kau itu sudah dicatat oleh malaikat! Lagian, pria itu yang dipegang ucapannya. Pantang untuk menarik kembali apa yang sudah diucapkan!”


Kalila mengerucutkan bibirnya, “yasudah, kalau begitu, selamat penasaran!”


“Oh, jadi kau ingin aku ngambek lagi,” ancam Dimas.


“Dasar! Bang Dim sekarang pinter sekali mengancam!”


“Ayo ... cepat katakan. Kau tadi mau bicara soal apa?” tanya Dimas sekali lagi. Wajah Kalila seketika menjadi cerah. Senyum di bibirnya terkembang sempurna. Dimas bahkan ikut tersenyum karenanya.


“Bang Ibra, katanya besok akan menjemputku sepulang bekerja!” pekik Kalila riang. Senyum Dimas seketika luntur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2