Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 40


__ADS_3

Kalila meletakkan handuk hangat pada dahi Dimas, sebelum gadis itu beranjak dari sana dan beristirahat. “Terimakasih Kalila, calon makmum ku,” ucap Dimas.


Kalila tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “cepat sembuh Bang Dim. Sahabat selamanya Kalila,” ucap gadis itu, kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu dan keluar dari sana. Dimas hanya bisa tersenyum sembari menghela napas perlahan. aada rasa nyeri di dadanya, setiap kali Kalila memanggil dirinya dengan sebutan 'sahabat selamanya.'


Haruskah dia hanya menjadi sahabat selamanya bagi Kalila? Tidak adakah kesempatan untuknya menjadi lebih dari sekedar sahabat bagi gadis itu?


Dimas terus bermonolog sembari menghela napas panjang. Sementara itu, Kairav tersenyum melihat potongan adegan Kalila dan Dimas.


Kairav memang menyukai Dimas sedari awal. Bahkan dia akan sangat mendukung, jika Kalila juga mempunyai rasa ketertarikan kepada Dimas. Namun fakta berkata lain, Kalila tidak pernah menganggap Dimas, lebih dari sekedar sahabat. Sahabat yang selalu ada untuknya, walau hanya hadir melalui virtual. Karena mereka memang terpisahkan oleh jarak.


Dimas masih menatap pintu kamar, walau bayangan Kalila telah hilang dari sana. “Bagaimana aku bisa melupakan rasa ini, Bang. Kalila terlalu istimewa,” ucap Dimas. Kairav tersenyum tipis. “Kalau begitu, perjuangkan. Nyatakan perasaan kau dengan sungguh-sungguh.”


Dimas tersenyum samar. Andai mengungkapkan perasaan bisa semudah itu, sudah pasti Dimas akan langsung melamar Kalila, bahkan saat ini juga.


Ingin rasanya Dimas berbicara serius pada gadis itu. Ingin rasanya dia memberitahukan kepada Kalila, tentang perasaannya, tentang betapa dia ingin memiliki gadis itu seutuhnya. Menikahinya, dan selalu bersama hingga surga.


Tapi ...


Dimas menggelengkan kepala, “aku takut Bang. Aku takut, jika Kalila mengetahui isi hatiku, dia akan menjauh. Aku tidak akan sanggup untuk itu. Berada di sekitarnya, cukup bagiku.”


Kairav menghela napas panjang. Dia hanya memberikan saran. Pria itu tidak mau mencampuri urusan asmara siapa pun. Walaupun itu adik kandungnya sendiri. Karena setiap orang punya pilihan sendiri-sendiri.


“Ya ... Terserah kau saja. Berarti kau termasuk dalam tim 'rela melihatnya dengan yang lain, asal dia bahagia.' Entah itu ikhlas, atau pasrah,” ejek Kairav. Dimas hanya menampilkan sebuah senyuman, mendengar ucapan Kairav.


Saat ini tepat pukul 23:00 WIB, Kairav dan Dimas memutuskan untuk beristirahat. Terlebih Dimas yang harus benar-benar menjaga kondisi tubuhnya.


Kondisi kesehatan Dimas, sebelum memutuskan untuk terlelap, Dimas membuka ponsel dan langsung mengatur ulang jadwal penerbangannya pada aplikasi pemesanan tiket pesawat. Hingga pria itu masih akan berada di kota kelahiran Kalila, tiga hari ke depan.

__ADS_1


***


Pagi ini, suhu tubuh Dimas sudah menurun.


“36,7°C Bang Dim. Sudah tidak demam. Tapi masih hangat,” ujar Kalila yang baru saja mengambil termometer dari pangkal lengan Dimas. Dimas tersenyum lembut, netranya menatap lekat Kalila yang kini berada di dekatnya. Bau parfum Kalila bahkan tercium jelas oleh pria itu.


“Iya, Alhamdulillah. Sudah tidak pusing juga kok. Hanya tinggal pegal sedikit saja,” ujar Dimas. Kalila masih duduk di samping Dimas, membalas senyum pria itu. Rasanya Dimas ingin sekali menarik wanita di hadapannya ini, ke dalam pelukannya.


Kairav yang baru saja tiba di ruangan itu, sedikit terperanjat. “Habis ngapain kalian?!” tanyanya curiga. Kalila hanya menatap malas pada sang kakak, “habis apa memangnya?” Kalila lantas menyerahkan termometer hasil pemeriksaan suhu tubuh Dimas kepada Kairav. Pria itu menatap alat pengukur suhu tubuh itu sembari mengucapkan huruf O.


“Ini Pak Budi, yang akan memijat kau,” ucap Kairav sembari memperkenalkan tukang pijat langganannya. Dahi Dimas berkerut, seumur hidup dirinya tidak pernah dipijat. Dia pasti akan merasakan geli di sekujur tubuhnya, jika ada yang memegangnya. Membayangkan akan dipijat saja, sudah membuat Dimas bergidik. Kalila menangkap ekspresi keengganan di wajah Dimas.


“Nenek yang suruh tadi Bang. Gak apa-apa, biar badannya enakan dan cepat pulih,” ucap Kalila. Dimas terpaksa menurut. Tukang pijat itu pun segera memijat Dimas.


Anehnya Dimas tidak merasakan geli sama sekali. Hampir satu jam Dimas di pijat. Pijatan yang terasa nikmat di badannya, membuat pria itu terlelap. Dimas bahkan tidak tau kapan tukang pijat itu selesai melakukan tugasnya. Karena dia baru terbangun ketika jam makan siang hampir tiba.


Pria itu berhenti melangkah, ketika melewati ruang keluarga. Karena Kalila dan seluruh keluarganya tengah berkumpul di sana, termasuk Khalid dan Feni yang baru saja tiba. “Maaf saya ketiduran tadi,” ucap Dimas segan.


“Santai Bro, namanya juga lagi tidak enak badan,” jawab Kairav. Seluruh anggota keluarga yang lain menganggukkan kepala, tanda mereka setuju dengan kalimat yang dilontarkan oleh Kairav.


“Kalai gitu, Dimas permisi mandi dulu ya.”


“Masih demam gak Bang? Kalau masih demam, mandinya pakai air hangat. Mau Lila buatkan?” Dimas terperangah. Bukan hanya Dimas, semua orang terperangah mendengar ungkapan rasa khawatir Kalila. Hanya Kairav yang tersenyum simpul mendengarnya.


“Sudah dicek belum, suhu tubuhnya?” tanya Kalila sekali lagi. Dimas tersadar dan menggelengkan kepalanya.


“Sudah tidak demam. Tadi aku cek 36°C kok,” ungkap Dimas kemudian. Kalila tersenyum, “alhamdulillah... Yasudah sana mandi, Bang. Bau minyak urut!” cebik Kalila. Dimas tersenyum geli. Pria itu lalu melangkahkan kakinya meninggalkan ruang keluarga, menuju kamar mandi yang terletak di antara dapur dan ruang keluarga.

__ADS_1


Sepeninggalnya Dimas, semua mata kini tertuju pada Kalila. Gadis itu pun merasa heran dengan tingkah orang-orang yang disayanginya itu. “Ada apa sih? Tidak pernah lihat bidadari ya?”


“Kau dengan Dimas, ada hubungan apa, La?”


Kalila mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Feni. Pasalnya, Feni sudah tau dengan pasti, hubungan dirinya dengan Dimas sejak dulu.


“Kau terlihat perhatian sekali dengan Dimas. Apa sekarang kau menyukai Dimas? Tidak menyukai Ibra, lagi?” Kalila menoleh, menatap Khalid dengan bingung.


“Bang Dimas itu sahabat Kalila, selama lama lamanya. Kalau bang Ibra, jodoh Kalila dunia akhirat,” ungkap gadis itu sembari menaik-turunkan alisnya. “Kalau Feni yang sakit, Lila juga akan seperti itu kok, bukan hanya karena itu bang Dimas,” jelasnya lagi.


Senyum sumringah langsung tercetak di wajah Khalid. Sedangkan Kairav hanya tersenyum tipis, menatap Kalila.


Dimas sudah menelusup dalam hati kau— Kalila. Kau hanya belum menyadarinya.


***


Mereka menikmati makan siang bersama, setelah Dimas selesai membersihkan tubuhnya. Bu Alinah sengaja memasak sop ayam, agar stamina Dimas lebih cepat pulih. Dimas makan dengan sangat lahap. Pria itu bahkan meminta maaf karena ingin menambah porsi makannya.


“Makan yang banyak, Dim. Biar kuat menghadapi kenyataan!” celetuk Kairav, ketika Dimas baru saja menambahkan nasi kembali ke piringnya.


“Yo'i Bang! Hidup itu keras, jadi harus makan yang banyak,” balas Dimas. Semua yang tengah makan bersama di ruang keluarga itu, terkekeh mendengar celetukan Kairav dan Dimas. Kedua pria itu memang mempunyai banyak kemiripan. Bukan wajah, melainkan sikap dan tingkah laku mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...

__ADS_1


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....


__ADS_2