
Kalila yang sudah lelah mengoceh sendiri, kemudian mengambil ponsel, lalu mengirimkan pesan kepada sahabatnya.
“Bang Dim, sibuk gak? Lila lagi sedih.”
Sementara itu, seorang pria yang berada di Kota Bogor, tengah bersiap untuk menemui teman-temannya. Seperti biasanya, setiap akhir pekan, Dimas selalu berkumpul dengan teman sepermainannya.
Namun, pria itu langsung membatalkan acaranya seketika. Kembali melepas jaket dan sepatu yang telah dia kenakan, Dimas duduk di balkon kamarnya. Melakukan panggilan video kepada si pengirim pesan— calon makmum ku.
“Kok masih cantik?” tanya Dimas, begitu di ponsel miliknya terlihat wajah Kalila. Gadis itu tambah memberengut mendengar ucapan Dimas.
“Sedih kenapa calon makmum ku?” tanya Dimas lembut. Kalila pun menyeritakan apa yang dia alami dan dia rasakan sekarang. Gadis itu bahkan meneteskan air mata. Kesal dan sedih bercampur menjadi satu. Kalila meluapkan seluruh emosinya. Gadis itu memang sudah terbiasa bercerita apa saja kepada Dimas.
Nyaman. Mungkin itulah yang dirasakan Kalila ketika bercerita dengan Dimas.
“Mungkin, Bang Alid ingin memberimu kejutan Kalila.”
“Kejutan?!” pekik Kalila. “Benar Bang. Aku benar-benar terkejut sampai tidak bisa berkata apa-apa!” sambungnya kesal. Dimas tersenyum tipis. Dia tau sekali jika gadis yang kini terpampang di layar ponselnya itu, benar-benar merasa kecewa dengan keluarga dan sahabatnya.
“Aku tau kau kecewa Kalila. Tapi Bang Alid itu Abang kesayangan kau, bukan? Feni juga sahabat mu. Mungkin mereka memang ingin memberikan kejutan manis. Mereka juga pasti tidak menyangka dengan reaksi kau yang seperti itu, Lila,” jelas Dimas. Kalila mendengus kesal.
Kejutan manis?
Yang benar saja! Kalila justru merasa bahwa dirinya sama sekali tidak dianggap. Merasa terkucilkan.
Kalian bisa bayangkan, menjadi satu-satunya anggota keluarga yang tidak tau perihal acara pertunangan kakak kandungmu sendiri. Terlebih pertunangan kakak sulung Kalila itu, dengan sahabatnya. Sahabat yang selalu berbagi suka duka dengannya sejak usia mereka 12 tahun.
“Itu sama sekali tidak manis, Bang!”
Dimas tersenyum. Pria itu menganggukkan kepalanya. “Aku tau Kalila. Aku tau rasanya. Aku tau rasa tak nampak mesti kau sudah berbuat segalanya.”
Kalila tertegun. Baru kali ini dia melihat Dimas berbicara dengan ekspresi seserius ini. Senyum Dimas semakin lebar, saat dia menyaksikan Kalila tertegun di layar ponsel miliknya. “Apa kau tidak penasaran, dengan kisah hidup cucu yang tidak terlalu diharapkan kehadirannya di keluarga Adi Putra, Kalila?”
Cucu yang tidak diharapkan?
Kalila tambah tertegun. Bermonolog dengan dirinya sendiri. Kalila kembali dipenuhi dengan tanda tanya. Pertanyaan dari Dimas membuatnya penasaran. Apa mungkin, Dimas adalah cucu yang tak dianggap itu? Apa segitu beratnya menjadi cucu pewaris klan Adi Putra?
__ADS_1
Ternyata masalah yang aku hadapi tidak ada apa-apanya dibandingkan Bang Dimas. Seberat itukah hidup kau, Bang? Tak dianggap sejak dilahirkan?
“Kau penasaran tidak?” tanya Dimas. Masih dengan senyum yang terkembang. Kalila pun mengangguk cepat. Gadis yang selalu antusias itu, tentu saja sangat penasaran. Namun, Kalila tidak berani menanyakan hal-hal sesentif itu kepada Dimas.
Jika dia merasa kecewa karena tak dianggap perihal pertunangan sang kakak sulung, bukan kah lebih menyakitkan, ketika kehadiranmu di dunia saja sudah tak diharapkan? Seperti ucapan Dimas tadi— cucu yang tidak diharapkan kehadirannya.
“Nanti. Nanti akan ku ceritakan pada kau, Kalila.”
“Nanti? Kapan?”
“Saat gelar kau sudah berganti.”
Dahi Kalila berkerut. Bingung dengan ucapan Dimas. Gelar apa yang dimaksudkan pria itu.
“Gelar? Gelar apa Bang Dim? Apa tunggu gelar Alm. (Almarhum) tersemat di namaku?!” ketus Kalila. Dimas tentu saja terbahak mendengar celetukan gadis itu.
“Jangan mati dulu, Kalila. Kita belum menikah,” ucap pria itu sembari terbahak. Kalila malah mengerucutkan bibirnya. Dimas benar-benar bisa membuat suasana hatinya berubah. Pria itu selalu menyenangkan walaupun menyebalkan.
“Jelaskan dulu gelar apa?!”
Dimas semakin terbahak. Andai Kalila ada di hadapannya, tentu pipinya yang menggembung karena cemberut itu, sudah habis oleh jemari Dimas. Pria itu pasti akan mencubit gemas kedua pipi Kalila.
“Sorry Kalila— sahabatku, calon makmum ku,” ucap Dimas lembut. Pria itu benar-benar berhasil menahan tawanya, walau perutnya masih sedikit tergelitik— geli.
“Aku akan menyeritakan semua tentang ku. Nanti saat gelar mu sebagai calon makmum ku, sudah berganti menjadi makmum ku,” lanjut Dimas. Wajah pria itu begitu berbinar saat mengatakannya.
Sementara Kalila ... Gadis itu terdiam. Berusaha mencerna setiap ucapan yang Dimas sampaikan. Berubah gelar, dari calon makmum menjadi makmum. Bukan kah itu artinya setelah dia sah menjadi istri dari Dimas?
Butuh waktu tiga detik Kalila mencernanya. Gadis itu kemudian tertawa terbahak-bahak. “Itu artinya Bang Dimas tidak akan pernah menyeritakan hal itu kepada ku!” sungut Kalila kemudian. Sementara Dimas tertawa kecil mendengarnya.
“Tau tidak, kenapa tidak mungkin?” tanya Kalila. Dengan senyum lembut yang terus terkembang, Dimas menggelengkan kepalanya. Kalila terkekeh pelan, “karena aku akan jadi sepupu iparnya Bang Dim,” ucap Kalila kemudian.
Dimas terdiam dan menatap tajam Kalila, hingga membuat gadis itu kembali terkekeh. “Lantas, kenapa kau tidak berjalan-jalan saja dengan sepupuku itu. Kenapa malah menyendiri di kamar hotel dan menghubungi aku!”
“Karena sepupu Abang juga sama menyebalkan nya! Dia juga tidak memberi tau perihal ini!” Dimas kembali terkekeh-kekeh.
__ADS_1
Selalu seperti itu. Dimas selalu bisa membuat suasana hati Kalila menjadi lebih baik. Kalila tidak pernah merasa kecewa jika menghubungi Dimas ketika suasana hatinya tengah buruk. Pria itu selalu bisa membuatnya terkekeh-kekeh hingga melupakan masalahnya.
Hampir satu jam panggilan video itu berlangsung. Bahkan Kalila mengitari hotel sambil menunjukkan keindahan Danau Toba kepada Dimas, melalui layar ponselnya.
“Nanti, ketika aku berlibur ke sana, mau kah kau mengajakku mengunjungi Danau Toba, Kalila?”
“Tentu saja Bang Dim! Kita touring. Bagaimana?!” ucap Kalila antusias. Dimas pun mengangguk dengan antusias juga.
***
Sementara itu, masih di kawasan Pulau Samosir, Khalid membawa Ibrahim ke Desa Tomok. Di sana Khalid mengajak Ibrahim mengunjungi Makam Batu Para Raja Sidabutar.
Makam Batu Sidabutar hanya berjarak sekitar 2 Km dari penginapan mereka. Sepanjang perjalanan menuju makam, ada ratusan kios yang menjual aneka barang khas Samosir. Ada gelang, kaus, daster, hingga aneka ulos atau kain tenun khas suku Batak. Motifnya beragam. Semua berderet rapi, bergelantungan. Menggoda siapa pun yang lewat.
Dan wajah areal makam itu langsung menyembul saat deretan pasar wisata tersebut habis. Ada tembok batu sekitar 3 meter yang mengelilingi pemakaman. Warna tembok tampak menghitam. Beberapa bagian penuh dengan lumut. Terasa betul bahwa ia sudah setua sejarah.
Pemakaman itu berukuran sekitar 10 x 10 meter. Bentuknya persegi empat. Tapi tak sempurna. Ada dua gapura yang terletak saling berseberangan.
Ada kepercayaan, pengunjung yang masuk melalui satu pintu harus pulang melalui pintu yang lain.
Untuk masuk ke makam, setiap pengunjung wajib mengenakan kain ulos yang disediakan penunggu makam di pintu gapura. Tidak ada aturan khusus untuk memakainya. Cukup diselempangkan di pundak, pengunjung bisa langsung masuk.
Hari itu, suasana terlihat ramai. Penuh pengunjung. Mereka duduk berdempetan menghadap ke makam. Sembari bersiap mendengarkan riwayat para penghuni makam. Ada seorang pemandu yang sudah fasih menceritakan kisah tersebut.
Sebanyak 13 makam memenuhi kompleks itu. Mereka tersusun atas dua baris. Baris pertama berisi tujuh makam. Di baris kedua ada enam makam yang ukurannya relatif sama.
Makam-makam batu di Kabupaten Samosir ini bukan sekadar tetenger dan tempat wisata. Makam Batu Sidabutar itu adalah peninggalan masa megalitikum yang kaya nilai sejarah. Lagi-lagi Ibrahim menikmati wisata sejarah di hadapannya. Mengambil beberapa potret makam tua itu, Ibrahim tersenyum puas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....