
Di tengah kekikukan yang terjadi, Kairav ikut bergabung bersama mereka. Kini ada tiga pasang muda-mudi yang duduk di meja berbentuk lingkaran itu.
“Wah ... pas nih, kita dapat jodoh satu-satu!” pekik Anita dengan lantang. Semua mata kini tertuju pada Anita yang berbicara dengan lantang. Rina hanya bisa menepuk dahinya sendiri sembari menggelengkan kepala, melihat kelakuan sahabatnya itu.
“Bang Rav masih jomblo kan?” tanya Anita kemudian.
“Menurut kau, Abang ini tampan tidak? keren tidak?” tanya Kairav. Pria itu malah berdiri dan berpose layaknya seorang model. Anita mengangguk dengan cepat. “Tentu saja Bang Rav itu keren. Keren banget malah,” jawab Anita yang kini sudah mengacungkan kedua jempolnya kepada Kairav.
Pria itu tersenyum angkuh dan kembali duduk di kursinya. “Apa menurut kau, pria sekeren dan setampan Abang ini, tidak punya kekasih? Banyak yang mengantri, asal kalian tau,” ungkap Kairav kemudian.
“Yaahhh ... Bang Rav sudah punya gandengan juga," ungkap Anita. Gadis itu bahkan menunjukkan ekspresi kecewanya.
“Memangnya siapa pacar Abang? Bukannya—”
“Kau tidak dengar tadi, Abang bilang banyak yang mengantri! Abang hanya lebih selektif saja sekarang. Tidak semua Abang pacari! Kalau tipe-tipe seperti kalian bertiga ini, tidak masuk hitungan,” ucap Kairav angkuh. Pria itu bahkan mengibaskan tangannya, seolah teramat sangat tidak tertarik dengan Kalila dan kedua sahabatnya.
“Halah Bang! Bilang saja kau Jomblo!” celetuk Dimas kemudian.
“Walau begitu, aku ini high quality jomblo! Aku milih-milih juga!” celetuk Kairav.
“Memang dia jomblo. Minggu lalu baru ditolak cewek!” ungkap Kalila. Sontak meja yang mereka tempati menjadi riuh dengan tawa yang mengejek Kairav. Semua mata kini memandang ke meja mereka. Bahkan sepasang pengantin baru yang tengah duduk manis di pelaminan, turut menatap ke sana.
“Heboh sekali mereka itu. Kalah pamor kita,” ungkap Khalid. Feni menganggukkan kepalanya dan tertawa geli. “Kalila kan memang seperti itu, Bang. Terlebih sekarang ada Rina dan Anita. Paket komplit kehebohan mereka,” ungkap Feni. Khalid tersenyum dan mengangguk setuju. Khalid memang kenal betul dengan Rina dan Anita yang selalu mencari perhatian padanya sejak dulu.
Acara resepsi pernikahan yang berlangsung di halaman rumah Feni, hanya diselenggarakan hingga sore hari. Saat azan Maghrib berkumandang, acara resepsi pernikahan Khalid dan Feni pun berakhir.
Sehabis menunaikan sholat Maghrib, Kalila dan keluarganya berpamitan kepada keluarga Feni. Begitu juga dengan Rina, Anita, Ibrahim dan Dimas. Dimas yang kini berada di balik kemudi, mengantarkan Rina dan Anita terlebih dahulu, baru kemudian mengantarkan Kalila dan keluarganya.
“Kalian berdua tidak mau menginap di sini saja?” ajak Kairav. Ibrahim menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
__ADS_1
“Nanti saja, jika sepupuku ini kembali ke Singapura, aku boleh kan Bang, menginap di sini. Daripada bayar hotel,” ungkap Dimas.
“Memangnya kapan bang Ibra kembali ke Singapura?” tanya Kalila penasaran. Pasalnya pria itu tidak pernah memberi tau padanya. Bahkan Ibrahim juga tidak memberitahu Kalila perihal kedatangannya. Dari mulut Dimas lah dia tau, jika Ibrahim akan datang ke acara pernikahan Khalid dan Feni.
“Lusa,” jawab Ibrahim singkat. Kalila terdiam. Gadis itu terlihat kecewa. Sementara Dimas hanya bisa menatap sang pujaan hati, tanpa bisa merengkuhnya.
Dimas dan Ibrahim pun berpamitan, setelah menikmati semangkuk mie instan spesial ala Kairav.
***
Hari ketiga berada di Kota Medan, Dimas menagih janji pada Kalila dan Kairav untuk menemaninya berkeliling kota Medan. Masih menjadi supir pribadi, Dimas kini mengendarai mobil yang telah disewanya, mengikuti arahan peta elektronik. Mereka menuju istana Maimoon.
Selain karena Dimas yang merasa penasaran dengan tempat-tempat yang telah dikunjungi oleh Ibrahim bersama Kalila tempo hari, ternyata Ibrahim juga ingin kembali menikmati kuliner kari bihun yang pernah dinikmatinya ketika berkunjung ke istana Maimoon kala itu.
Perjalanan Kalila hari ini, benar-benar seperti mengulang perjalanan kala itu bersama Ibrahim. Mengunjungi istana Maimoon dan mesjid raya Al Mashun, makan siang dengan menu kari bihun. Dan makan malam dengan santapan kuliner khas India.
“A' mau juga teu?” tanya Dimas.
Ibrahim sebenarnya masih merasa kenyang. Namun pria itu juga ingin makan mie instan yang disebut Kairav sebagai mie instan ala anak Medan. Mie instan yang disuguhkan oleh Kairav kemarin malam, benar-benar enak. Dan malam ini, Ibrahim akan mencicipi mie instan buatan Kalila.
Ibrahim menganggukkan kepala, “iya boleh,” jawab Ibrahim. Dimas menoleh, menatap Kalila dengan gigi yang masih menyeringai. “Tuh, Bang Ibra juga mau,” ucap Dimas. Pria itu benar-benar berharap mendapat asupan saat itu. Terlebih itu buatan Kalila. Dimas sangat antusias. Persetan dengan motivasi Kalila memasak mie itu karena Ibrahim atau bukan. Yang jelas dia akan menyantapnya dengan penuh kebahagiaan.
Kalila pun bergegas ke dapur, mengambil tiga bungkus mie instan dari lemari penyimpanan. “Abang juga mau Dek,” teriak Kairav. Kalila mendengus kesal. Mau tidak mau, gadis itu memasak empat bungkus mie instan.
Kalila mulai mengupas kulit bawang merah dan bawang putih, lalu mengirisnya. Tidak lupa juga, mengiris beberapa cabai rawit untuk menambah cita rasa pedas pada mie instan itu. Kalila juga mengeluarkan persediaan sambel goreng buatan ibunya dari kulkas.
Kalila yang tidak terbiasa memasak, memang bekerja dengan sangat lambat. Seumur hidupnya, gadis itu hanya bisa memasak mie instan dan nasi goreng saja, itu pun berbekal persediaan sambel goreng buatan ibunya. Hampir satu jam gadis itu sudah berkutat di dapur, hanya untuk memasak mie instan. Dimas yang sudah merasa lapar, meminta izin kepada Kairav untuk menghampiri Kalila di dapur.
Dimas bergegas, melangkahkan kakinya dengan cepat menuju dapur. Menghampiri Kalila.
__ADS_1
“Ada yang bisa dibantu, calon makmum ku?”
Kalila menoleh dan tersenyum, “tolong buka semua bumbunya Bang Dim,” ujar Kalila. Gadis itu menunjukkan letak gunting kepada Dimas. Dimas pun menggunting satu per satu kemasan bumbu mie instan. Sesuai arahan dari Kalila, pria itu menuangkan bumbu-bumbu tersebut ke dalam panci yang berisikan mie instan yang telah matang.
“Bumbunya tidak di letakkan di masing-masing mangkok ya?” Kalila menggeleng, “Langsung diaduk di panci,” Jawab Kalila. Dimas hanya mengangguk dengan mulut membentuk huruf O. Sementara itu, Kalila memutar knop pada kompor, tanda bahwa hidangan yang dimasaknya siap untuk dihidangkan.
Kalila membagi hidangan itu ke dalam empat mangkok, sementara Dimas meletakkan sendok dan garpu ke dalam mangkok yang sudah berisikan mie instan.
Dimas merasa adegannya bersama Kalila saat ini, sungguh romantis. Bagai sepasang pengantin baru yang siap menyajikan makanan untuk keluarganya yang datang berkunjung. Senyum lebar terus merekah di wajah Dimas. Bahkan saat pria itu membawakan nampan berisi empat mangkok mie instan itu ke teras rumah Kalila. Mereka semua pun menyantap mie itu bersama.
“Bagaimana mie buatan Lila? Gak kalah kan, dari buatan Bang Rav!” seru Kalila. Dimas yang makan dengan lahap mengangguk-angguk. Pria itu meletakkan mangkok yang tadi dipegangnya, kemudian mengacungkan dua jempolnya untuk Kalila. Gadis itu pun tersenyum angkuh.
Kalila menatap Ibrahim yang makan dengan anggun. “Enak kan Bang?” tanya Kalila lembut. Ibrahim tersenyum tipis. “Iya, enak. Tapi kalau menurut aku, mie nya terlalu matang. Selain itu, sisanya enak sih,” ucap Ibrahim.
“Kalau menurut aku sih, enak-enak saja,” ucap Dimas. Pria itu bahkan menyeruput kuah mie instan langsung dari pinggir mangkoknya.
“The Best,” ungkap Dimas sembari mengacungkan kembali dua jempolnya. Pria itu bahkan telah selesai menyantap mie instan miliknya.
“Jadi rencananya, kau akan berkuliah di mana, Lila?”
Kalila yang tengah menyeruput mie instan, langsung tersedak hingga terbatuk-batuk. Gadis itu benar-benar sedang tidak ingin membahas masalah itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....
__ADS_1