Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 18


__ADS_3

“Kau sudah tau, Abang mendapatkan beasiswa S2 di sini. Jadi kemungkinan, Abang akan berkarir di sini. Dan sudah Abang putuskan, Kalila juga akan berkuliah di sini setelah lulus SMA.”


Nek Laila, Kairav dan Kalila tercengang mendengar ucapan Khalid. Pria itu benar-benar sudah menyiapkan segalanya untuk masa depan Kalila. Menyiapkannya seorang diri, tanpa melibatkan Kalila di dalamnya.


Bu Alinah hanya bisa terdiam. Wanita paruh baya itu, sudah mengetahui rencana Khalid. Walaupun tidak terlalu menyetujuinya— karena harus berpisah dengan putri semata wayangnya, namun Bu Alinah yakin, keputusan yang dibuat oleh Khalid, itu semua demi kebaikan Kalila.


Kairav melihat ekspresi keterkejutan di wajah Kalila. Pria itu yakin, jika sang adik sama sekali tidak diajak berdiskusi perihal ini. Kairav benar-benar kecewa dengan sikap Khalid kali ini.


“Kau mau berkuliah di sini?!” tanya Kairav.


“Kalila sih terserah saja.”


“Kalau kau tidak mau, katakan tidak mau,” ucap Kairav datar. Dahi Khalid berkerut, menatap Kairav dengan tajam. Kalila mengetahui hal itu, dia tidak mau membuat kedua kakak lelakinya itu bertengkar karena dirinya.


“Lila akan mencobanya. Lila akan mengikuti ujian masuk ke perguruan tinggi dengan pilihan di Bogor dan di Medan. Jika tidak lolos di sini, Kalila akan tetap melanjutkan pendidikan di Medan. Bagaimana?”


Gadis itu benar-benar tau bersikap adil. Seperti dirinya yang tidak bisa memilih, antara Khalid dan Kairav, dia akan menyerahkan segalanya kepada takdir. Seluruh anggota keluarga pun menyetujui pilihan yang diambil Kalila.


“Maka dari itu Bang. Biarkan Kalila menikmati hari libur bersama temannya. Toh, kita semua juga ikut kan, bukan hanya Dimas berdua dengan Kalila.”


Dengan berat hati, Khalid menyetujuinya. Apalagi Nek Laila terlihat lebih mendukung Kalila dan Kairav.


Khalid langsung menghubungi Ibrahim dan meminta pria itu juga turut dalam liburan Kalila kali ini. Namun, karena kesibukannya, Ibrahim terpaksa menolak keinginan Khalid.


Dan setelah hampir dua jam berselang, Dimas pun datang menjemput Kalila, Kairav, Bu Alinah dan Nek Laila. Mereka berlima berangkat menuju villa yang rencananya akan mereka tempati selama dua malam.


Jalanan menuju puncak terlihat lenggang. Tidak sampai dua jam, mobil yang dikendarai oleh Dimas, membelah jalanan hingga tiba di salah satu villa milik keluarga Adi Putra. Namun tentu saja tidak ada yang tau mengenai hal itu. Karena Dimas mengatakan jika dia memenangkan sebuah doorprize hingga bisa menginap tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.


Villa itu tidak terlalu besar. Hanya ada dua kamar di sana. Namun terdapat sebuah kolam renang pribadi di dalamnya.


Dimas memarkirkan mobilnya tepat di halaman Villa yang terdiri dari dua lantai itu.


“Villanya kecil, maaf ya calon mertua,” ucap Dimas, ketika baru saja pria itu mematikan mesin mobilnya.


“Begini juga sudah besar, Nak. Rumah Kalila di Medan bahkan lebih kecil dari ini,” ungkap Bu Alinah. Kalila dan Kairav kompak mengangguk dan membenarkan ucapan sang ibu.

__ADS_1


Satu per satu mereka keluar dari mobil dan berjalan mendekati pintu villa itu. Seorang pria paruh baya membuka pintu dan mempersilakan Dimas dan tamunya untuk masuk ke sana.


“Kecil apanya ... ini besar, Bro!” ungkap Kairav ketika memasuki bagian villa itu. Walaupun terlihat tidak terlalu besar, nyatanya begitu melangkah masuk, villa itu cukup luas.


Terdapat ruang tamu dengan hamparan karpet beserta satu set sofa bergaya minimalis di atasnya. Ada tv berukuran 55 inch tergantung di depannya. Bahkan ada sebuah kursi pijat di sana.


Dimas menggiring Nek Laila ke kursi itu, meminta wanita lanjut usia itu untuk duduk di sana. Dengan sigap Dimas menekan tombol yang ada di kursi itu, dengan posisi berlutut di depan Nek Laila. Wanita yang sudah hampir berusia 70 tahun itu tersenyum sembari menatap Dimas yang kini bersimpuh.


“Bagaimana Nek? Apakah sudah nyaman?” tanyanya. Nek Laila menganggukkan kepalanya dan tersenyum lembut. Begitu juga dengan Kairav dan Bu Alinah. Mereka ikut tersenyum lebar menyaksikan adegan itu.


Kalila berjalan cepat, mendekati neneknya. Kini dia sudah ikut bersimpuh di samping kursi pijat itu. Menyaksikan bagian dalam kursi itu bergelombang memijat sang nenek.


“Nanti gantian Nek,” ucap Kalila antusias. Gadis itu penasaran. Nek Laila hanya mengangguk.


“Kau ini benar-benar deh! Baru juga nenek mulai dipijat!” cebik Kairav. Kalila memberengut. Gadis itu menatap tajam pada kakak lelakinya.


“Kan aku tidak minta untuk bergantian sekarang! Nanti setelah nenek selesai. Nanti loh, NANTI!”


Nek Laila hanya tersenyum menyaksikan kedua cucunya berdebat. Wanita lanjut usia itu benar-benar menikmati pijatan lembut dari kursi pijat yang dinaikinya. Rasa lelah perjalanan selama hampir dua jam, membuat pijatan kursi itu terasa begitu menyenangkan.


Bolehkah nenek berharap, Dimas yang menjadi jodohmu kelak, Kalila. Pria ini pasti akan memperlakukan kau dengan istimewa.


Dimas Adi Putra Point of View


Kalila Nasution. Gadis itu hanya punya waktu tiga hari lagi sebelum kembali ke kota asalnya. Setelah kemarin menghabiskan waktu 12 jam bersama, rasanya aku tak rela jika dia akan meninggalkan kota ini. Meninggalkan aku di sini.


Aku tau, gadis itu tidak mempunyai rasa ketertarikan sedikit pun kepadaku. Tapi rasaku ini, entah sejak kapan begitu membuncah padanya. Gadis itu berusia 16 tahun, usianya terpaut dua tahun di bawahku. Kalila begitu ceria. Celotehan dan tingkahnya juga unik. Gadis itu benar-benar tidak bisa ditebak. Kecuali ketertarikannya dengan Bang Ibra. Terlihat jelas sekali.


Sejak kembali dari Kebun Raya Bogor, aku benar-benar tidak bisa melupakan bayangan gadis itu.


Bagaimana caranya aku bisa bertemu dengannya hari ini? Bertemu setiap hari, sebelum dia kembali ke kota Medan.


Ah ... Kalila, ayo kita bertemu.


Ku ambil ponsel pintar ku. Untung saja kemarin kami telah bertukar nomor ponsel. Aku langsung mencari namanya.

__ADS_1


Nah ... ini dia. Kalila calon makmum ku. Sengaja aku menyimpan nomor ponselnya dengan sebutan calon makmum ku, semoga itu akan menjadi kenyataan. Aku pun langsung mengirimkan sebuah pesan singkat padanya.


Hari ini, kalian liburan ke mana, Kalila sahabatku, calon makmum ku?


Tak berselang lama, gadis itu membalas pesanku.


Kalila :


Sepertinya sampai kembali ke Medan nanti, kita tidak ada rencana rekreasi lagi, Bang Dim. Karena tujuan kita ke sini kan mau melihat wisuda Bang Alid.


Padahal aku berencana ingin menjadi supir dan menghabiskan waktu menemani Kalila berlibur. Aku merindukannya. Merindukan Kalila.


Haihhh ... Gadis Medan itu benar-benar memikat. Ekspresi wajahnya terus menari-nari di pikiranku. Ekspresi wajahnya ketika kami baru saja tiba di kebun botani itu, ketika bermain gelembung sabun bersama anak-anak kecil di sana. Ekspresi terpukau Kalila saat aku mengajaknya melihat bunga bangkai raksasa. Sungguh tidak bisa ku lupakan.


Bahkan kami berlari di bawah rintik hujan dengan jemari yang saling menggenggam erat. Hal yang aku pun, baru pertama kali melakukannya.


“Ah iya benar! Bunga bangkai raksasa! Kenapa baru terpikir sekarang. Dimaaass ... kau masih punya kesempatan untuk bertemu Kalila sekali lagi.”


Aku kembali meraih ponselku. Tidak menghubungi Kalila. Aku menghubungi Pak Parman, penjaga di salah satu villa milik keluargaku. Aku menyuruhnya menyiapkan villa karena akan membawa Kalila dan keluarganya menginap di sana.


“Lengkapi dengan bahan masakan untuk dua atau tiga hari,” perintahku pada Pak Parman. Langsung ku hubungi Kalila, mengajak gadis itu berlibur bersama.


Aku menyakinkan gadis itu, dengan mengingatkan dirinya akan bunga bangkai raksasa setinggi 3,5 meter. Namun tampaknya dia tidak begitu tertarik. Bahkan menginap di villa dan menyaksikan mentari terbenam di Puncak Pass, tidak menarik minatnya.


Panggilan telepon kami sempat hening. Namun, aku teringat akan satu hal. Mungkin ini akan menarik minat Kalila. Mungkin gadis itu akan mau berlibur bersamaku.


“Bunga sakura di Kebun Raya Cibodas baru saja mekar. Dan itu hanya mekar selama tiga hingga empat hari saja. Kau tidak mau melihatnya, Kalila?”


Gadis itu masih terdiam. Aku benar-benar hampir putus asa. Namun ungkapan suka Kalila akan bunga sakura, membuatku kembali bersemangat. Gadis itu sepertinya akan membujuk keluarganya untuk ikut berlibur di villa.


Dan ... akhirnya Kalila berhasil meyakinkan keluarganya!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....


__ADS_2